
Iqbal kini sudah pulang ke rumahnya. Hari ini dia sangat bahagia akhirnya bisa kembali bertemu dengan anak dan istrinya. Iqbal terus mengucapkan syukur atas kebahagiaannya ini. dia berjanji setelah ini akan membina kehidupan rumah tangganya dengan baik.
Iqbal masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Papanya agar meluangkan waktunya pulang ke Indonesia.
Tutttt
“Halo, Pa!”
“Ya, ada apa malam-malam begini telfon Papa?”
“Pa, ada yang ingin Iqbal bicarakan sama Papa dan Mama. Dan ini sangat penting. Bisakah Papa meluangkan waktu untuk pulang?”
“Hal penting apa?”
“Maaf, Pa Iqbal ingin membicarakannya langsung. dan Iqbal mohon Papa usahakan untuk pulang.”
“Baiklah. Nanti akan Papa atur waktu untuk pulang dengan Mama kamu.”
“Terima kasih, Pa.”
Selesai melakukan panggilan dengan Papanya, Iqbal masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Dia ingin segera tidur agar bisa segera bertemu dengan hari esok, pastinya akan bertemu dengan anak dan istrinya.
Sementara itu Jenny kini sedang berada di dalam kamarnya. Setelah melihat dan memastikan anaknya tidur, dia juga segera tidur. Namun matanya sejak tadi belum juga terpejam. Dia masih terbayang pertemuannya tadi dengan sang suami yang telah lama berpisah. Jenny sebenarnya ingin menolak usul Iqbal yang meminta tinggal terpisah sementara waktu. Tapi dia juga tidak boleh egois. Karena itu semua demi kebaikan bersama.
Keesokan paginya Jenny sudah terbangun dari tidurnya. Meski semalam tidur sangat larut. Tapi dia tetap harus bangun pagi untuk membiasakan putrinya bangun pagi juga.
Hari ini dia akan santai saja di rumah seperti biasa. Hanya saja kalau setiap hari dia selalu disibukkan dengan mendesign gaun-gaun pengantin, kali ini dia memutuskan untuk istirahat.
Selesai memandikan Gita, Jenny lantas mengajak gadis kecil itu turun untuk sarapan pagi. namun sebelum kakinya menginjak lantai bawah, dia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sejak semalam membuatnya sulit tidur.
“Selamat pagi, princess-nya Papa!” sapa Iqbal.
“Papa..papa…papa” ucap Gita sambil melompat-lompat kegirangan.
Iqbal lalu menggendong Gita dan menciumi pipinya yang penuh dengan bedak dan aroma khas minyak telon semakin membuat Iqbal gemas. Jenny hanya tersenyum melihat anak dan suaminya tampak bahagia.
“Kak Iqbal masih bekerja di kantor Farah?” tanya Jenny.
__ADS_1
“Iya. Tapi hari ini aku sengaja ijin. Aku ingin menikmati waktuku bersama kalian.” Jawab Iqbal.
“Apa nggak apa-apa Kak Iqbal tidak ke kantor?” tanya Jenny lagi.
“Nggak apa-apa. Lagi pula Galang dan Farah semalam sudah pulang dari berbulan madu.” Jawab Iqbal.
Setelah itu Jenny mengajak Iqbal menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Dan pagi ini Iqbal yang akan membantu menyuapi Gita makan. Dia tidak memperbolehkan Jenny yang menyuapinya.
Gita tampak senang disuapi oleh Papanya. Bahkan makanannya sangat belepotan. Hal itu semakin membuat Iqbal tertawa, begitu juga dengan Gita.
Jenny yang melihat keseruan anak dan suaminya sangat terharu. Tanpa sadar dia meneteskan air matanya. lalu dia membantu suaminya untuk membersihkan makanan yang tumpah mengenai wajah dan baju Gita.
“Apa kamu selalu mengajaknya makan seperti ini?’ tanya Iqbal.
“Iya, Kak. Aku membiasakan Gita untuk ikut makan bersama orang tuanya.”
“Apa kamu tidak kerepotan? Kamu juga bekerja. Bagaimana membagi waktu kamu dengan Gita?”
“Sama sekali nggak, Kak. Aku memprioritaskan Gita. Walau terkadang memang dibantu Lidya. Tapi aku tidak pernah menomor duakan Gita. Dan untuk pekerjaan, aku selalu mengerjakan dari rumah. aku sama sekali tidak pernah datang ke butik.”
“Sudahlah Kak jangan dibahas lagi. Bukankah kemarin kita sudah membicarakannya.”
Setelah sarapan, Iqbal menggendong Gita ke ruang tengah. Lalu dia mengajak anaknya bermain dengan beberapa mainan yang Gita miliki. Mungkin pagi ini Iqbal akan menghabiskan waktu dengan bermain di rumah saja. Nanti siang dia akan mengajak anak dan istrinya keluar jalan-jalan.
Di saat Iqbal sedang asyik menemani Gita bermain, Jenny pamit ke kamar dulu. Dia akan menghubungi kedua orang tuanya untuk menyampaikan perihal hubungannya dengan Iqbal.
“Halo, Ma! Mama dan Papa apa kabar?”
“Iya, Sayang. Mama dan Papa sehat. Bagaimana kabar cucu Mama? Kemana dia?”
“Gita sehat Ma. Dia sedang bermain dengan Papanya.”
“Oh, Billal disana?”
“Bukan, Ma. Papanya Gita, Kak Iqbal.”
“Apa? Apa Mama nggak salah dengar?”
__ADS_1
Akhirnya Jenny menjelaskan semuanya dengan Mamanya mengenai pertemuannya dengan Iqbal kemarin. Jenny menceritakan bahwa Iqbal juga baru pulang ke Indonesia satu bulan yang lalu, hingga akhirnya dipertemukan di bandara kemarin sore.
Lalu Jenny meminta kedua orang tuanya untuk datang ke kota B. Jenny meminta bantuan orang tuanya dalam menyelesaikan hubungannya dengan Iqbal. mengingat status keduanya telah bercerai.
“Mama sangat senang mendengarnya. Nanti akan Mama sampaikan pada Papa untuk segera datang kesana. Kalian baik-baik ya disana.” ucap Kay.
Jenny sangat lega setelah mengabarkan pada kedua orang tuanya tentang Iqbal. setelah itu Jenny kembali turun untuk bergabung dengan anak dan suaminya di ruang tengah.
Jenny duduk di samping Iqbal sambil melihat anaknya yang sedang asyik bermain dengan beberapa bonekanya.
“Bagaimana kehidupan Kak Iqbal selama tinggal di luar negeri?” tanya Jenny.
“Kata Mama setelah aku dibawa ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan inensif di rumah sakit, aku belum juga bangun dari koma. Entahlah kata Mama hampir satu tahun aku terbaring di brankar rumah sakit. Dan aku baru ingat saat pertama kali bangun, aku mendengar tangisan seorang bayi. Apakah itu anak kita lahir?” tanya Iqbal.
Jenny meneteskan air matanya dan mengangguk samar. Dia juga masih ingat jelas saat proses melahirkan Gita, dia terus memanggil nama suaminya. Hingga setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, bayi mungil nan cantik itu akhirnya lahir ke dunia.
“Namun setelah itu, aku tidak lantas mengingat semuanya. Dokter memvonisku amnesia. Dan dalam kurun waktu satu tahun aku tidak bisa mengingat apa-apa. Dalam ingatanku saat itu hanya terdengar tangisan seorang bayi saja. Keluargaku juga selalu berusaha membantu aku untuk kembali mengingat semuanya. Dan di saat perlahan ingatanku kembali, aku langsung mencari keberadaan kamu. Aku sangat kecewa saat mengetahui fakta bahwa kamu telah meninggalkan aku dan menikah dengan pria lain.” Ucap Iqbal.
“Maafkan aku, Kak. Semuanya itu hanya keslah pahaman yang tak berkesudahan. Saat itu aku sudah meyakinkan pada kedua orang tuaku kalau hubungan kita baik-baik saja. Tapi mereka justru memilih percaya dengan kebohongan Kak Xavier.” Jawab Jenny.
“Iya, aku paham. Yang penting sekarang kita sudah bisa bersatu lagi. Aku sangat bahagia sekarang.” ucap Iqbal.
Iqbal mengusap lembut kepala Jenny. Keduanya saling pandang. Bahkan tubuh mereka tidak berjarak. Perlahan Iqbal mendekatkan wajahnya pada Jenny dan ingin mencium bibirnya.
“Papa…papa…mama…mama…mama….”
.
.
.
*TBC
🤣🤣🤣🤣🤣✌️✌️
Happy Reading‼️
__ADS_1