Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 62


__ADS_3

“Ya sudah istirahatlah dulu pasti kamu capek. Iqbal sedang pergi ke pantai.” Ucap Desy kemudian.


Farah mengabaikan ucapan Desy yang memintanya untuk beristirahat. Dia segera meletakkan tasnya ke dalam kamar lalu pergi ke pantai yang letaknya di belakang rumah.


Ya, selama kurang lebih tiga tahun keluarga Iqbal tinggal di luar negeri. Mereka menempati rumah milik Farah yang memang tidak ada yang menempati sejak dia sudah menyelesaikan studinya.


Keluarga Iqbal sangat berterima kasih pada Farah. Terlebih tentang status Iqbal sebagai seorang Ceo yang baru diketahui oleh Bram dan Desy setelah dua bulan Bram dirawat di rumah sakit. Semenjak saat itu Bram dan Desy sudah menganggap Farah sebagai anaknya sendiri. Karena Farah juga kini hidup sendirian.


Farah telah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai dan segera pergi ke pantai menemui Iqbal. selama kurun waktu 3 tahun Farah hampir tiap 2 bulan sekali pergi ke luar negeri untuk melihat keadaan Iqbal yang sudah dia anggap saudaranya sendiri.


“Jangan melamun terus, nanti kesambet setan pantai loh!” ucap Farah yang kini sudah duduk di atas bebatuan pantai di samping Iqbal.


Iqbal hanya melirik Farah sebentar lalu pandangannya kembali menatap hamparan pasir pantai yang terbentang luas.


Farah hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan melihat reaksi Iqbal yang masih sama dan tidak ada perubahan. Farah tahu, semenjak ingatan Iqbal sudah kembali sepenuhnya setahun yang lalu, laki-laki itu selalu memikirkan seseorang yang sangat dicintai yaitu Jenny.


Selama pengobatan Iqbal 3 tahun yang lalu, hampir satu tahun dia masih mengalami koma. Meski fasilitas rumah sakit sangat memadai namun masih tak mampu membuat Iqbal bangun dari komanya.


Desy semakin sedih meilhat keadaan anaknya. dan karena doa yang selalu ia lantunkan akhirnya keajaiban itu tiba. Iqbal membuka matanya untuk pertama kalinya. Bram dan Desy sangat senang melihat keadaan anaknya sudah pulih kembali.


Dokter pun segera melakukan observasi secara menyeluruh. Dan keadaan fisik Iqbal sepenuhnya sudah sembuh. Namun satu hal yang membuat Desy dan Bram lagi-lagi bersedih setelah mendengar pernyataan dokter bahwa Iqbal sedang mengalami amnesia.


Dokter sudah menyarankan untuk membantu Iqbal mengingat kembali tentang kehidupannya sebelumnya. Hanya saja dokter melarang menceritakan tentang kejadian pahit yang dialami oleh Iqbal. dan akibat kesabaran dari Bram dan Desy, dalam waktu satu tahun Iqbal sudah bisa sembuh dari amnesianya.


Lagi dan lagi, Bram dan Desy tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat pertama kalinya Iqbal menanyakan keberadaan istrinya. Desy tidak mampu menjawab pertanyaan Iqbal akhirnya meminta suaminya mengatakan semuanya.


“Jenny sudah menikah dan hidup bahagia. Ikhlaskanlah!” ucap Bram singkat.


Selama itu Iqbal kembali menjadi pribadi yang dingin tak tersentuh. Iqbal masih belum bisa menerima takdir yang menimpanya. Terlebih saat melihat bukti akta cerainya dengan Jenny. Memang sampai saat ini dirinya tidak pernah mengucapkan kata cerai, tapi kedua orang tuanya yang mnegurus semuanya, mengingat saat itu Jenny akan segera menikah dan diketahui telah berselingkuh.


Iqbal masih belum mempercayai sepenuhnya kenapa istrinya tega meninggalkannya dan menikah dengan pria lain. Walau dia tahu kalau pria itu adalah pria yang sempat menjadi kekasih istrinya.


“Kapan kalian menikah?” tanya Iqbal tiba-tiba.


“Nggak tahu.” Jawab Farah singkat.

__ADS_1


“Kamu jangan sekali-kali mempermainkan perasaan orang sangat mencintaimu.” Ucap Iqbal lagi.


“Aku nggak mempermainkan perasaan Galang. Kami sudah sepakat menikah jika kamu mau pulang dan menjalankan perusahaan lagi.” Ucap Farah.


“Kamu mengancamku?” tanya Iqbal dingin.


“Terserah kamu menganggap apa. Aku sudah bosan melihatmu lemah seperti ini. dan entah aku harus membujuk kamu seperti apalagi karena kedua orang tuamu juga sudah angkat tangan. Jadi aku memakai cara ini. kalau kamu memang sudah bertekat tidak mau pulang, aku juga tidak akan menikah dengan Galang.” Ucap Farah sengit.


Farah terpaksa melakukan cara itu untuk mengancam Iqbal agar mau kembali pulang ke Indonesia. Farah sangat kasihan melihat keadaan Iqbal yang semakin terpuruk memikirkan wanita yang sudah hidup bahagia dengan keluarganya.


“Akan aku pikirkan nanti.” Jawab Iqbal singkat lalu pergi meninggalkan Farah.


Farah menyunggingkan senyumnya saat mengetahui ancamannya ternyata berhasil membuat Iqbal berpikir pulang ke Indonesia. Ya, selama kurang lebih tiga tahun, Farah menjalin hubungan dengan Galang. Pria yang berstatuss sebagai sahabat Iqbal itu telah jatuh hati pada sosok Farah yang selama ini sering ia temui di perusahaan tempat ia bekerja yang tak lain perusahaan milik Farah sendiri.


Setelah itu farah meraih ponselnya untuk melakukan panggilan pada seseorang. Siapa lagi kalau bukan Galang. Farah akan memberitahukan kabar gembira ini.


“Ya halo Far? Kenapa kamu baru menghubungiku?” tanya Galang di balik sambungan teleponnya.


“Sorry, aku lupa. Aku mau memberi kabar gembira untuk kamu, ehm khususnya buat kita.” Ucap Farah.


“Rencanaku telah berhasil. Ancamanku berhasil membuat Iqbal berpikir mau pulang ke Indonesia.” Ucap Farah senang.


“Akhirnya kita akan menikah juga.” jawab Galang tak kalah bahagia.


“Ish kamu ini malah bahas nikahnya. Harus senang dulu dong Iqbal mau pulang.” ucap Farah.


“Iya-iya Sayang. Ya sudah aku tunggu kabar baiknya lagi. Aku tutup dulu ya, aku mau meeting sebentar lagi.”


“Ya, baiklah.”


Jujur saja Farah juga sangat senang kalau dirinya dan Galang sebentar lagi akan menikah. Farah benar-benar sangat bersyukur memiliki kekasih seperti Galang yang sangat sabar dan selalu mendukungnya.


Selama kurang lebih satu minggu di luar negeri, Farah juga masih setia menunggu kabar selanjutnya dari Iqbal. Farah berharap Iqbal mau ikut pulang bersamanya.


“Ma, Pa maaf besok Farah harus pulang karena di kantor sangat sibuk.” Ucap Farah saat makan malam.

__ADS_1


“Iya sayang, nggak apa-apa.” Jawab Desy.


“Bisa tidak kepulangannya kamu tunda dulu sampai lusa. Maksudku setidaknya sampai pasporku jadi.” Ucap Iqbal tiba-tiba.


Semua orang yang ada di ruang makan itu sangat terkejut sekaligus bahagia. Itu tandanya Iqbal sudah bertekat mau pulang kembali ke Indonesia.


“Maksud kamu, kamu juga ikut aku pulang?” tanya Farah.


“Bukankah kamu juga akan segera menikah?” tanya Iqbal balik.


Farah dan kedua orang tua Iqbal sangat senang mendengarnya. Mereka sangat bersyukur akhirnya Iqbal sudah bisa mengikhlaskan semua kepahitan yang menimpa hidupnya.


“Tapi aku akan tinggal di kota B saja Ma, Pa. aku juga akan kembali ke kantor membantu Farah.” Ucap Iqbal.


“Tidak masalah. Kamu mau tinggal dimana pun asal kamu senang, Mama dan Papa juga ikut senang. Tapi sepertinya Mama dan Papa tidak bisa ikut pulang. kami akan menunggu sampai Arsha lulus kuliah satu tahun lagi. Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Desy.


“Nggak apa-apa, Ma. Masa depan Arsha juga sangat penting.” Jawab Iqbal.


Akhirnya setelah keputusan Iqbal untuk kembali pulang ke Indonesia, hari itu juga Bram segera mengurus paspornya. Dan tidak membutuhkan waktu lama, keesokan harinya Iqbal dan Farah sudah bersiap terbang ke Indonesia.


“Kalian hati-hati ya. Kabari Mama dan Papa jika sudah tiba.” Ucap Desy sambil memeluk Iqbal dan Farah bergantian.


“Iya Ma, Pa. ya sudah kami berangkat dulu.” Ucap Farah.


.


.


.


*TBC


Huftt yg mulai bosan dg cerita ini silakan mundur alon², daripada bikin darting😉😉 yg masih bertahan terima kasih, tp jgn lupa like, komen, dan vote nya🤗😘😘


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2