
“Gita, calon menantu Mama.” Ucap Nia.
Axel hanya berdecak. Dia sudah terbiasa mendengar Mamanya mencalonkan dirinya dengan Gita. Bukannya Axel tidak mau, hanya saja Gita yang tidak pernah peka dengan perhatiannya selama ini. Perempuan itu hanya menganggapnya kakak. Tidak lebih.
“Kenapa diam? Apa karena Gita menganggapmu Kakak?” Tanya Nia lagi seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh anaknya.
Dania Estella, wanita berusia 43 tahun yang akrab disapa Nia itu sudah sejak dulu menginginkan Gita menjadi menantunya kelak. Bahkan dia juga membicarakannya langsung dengan Jenny, Mama Gita. Jenny pun juga setuju jika nanti Gita bisa bersanding dengan Axel. Mengingat mereka berdua sejak kecil sudah sangat akrab dan serng menghabiskan waktu bersama.
Namun berbeda dengan Papa mereka masing-masing, yang tak lain Felix dan Iqbal. Mereka berdua tidak ingin memaksakan kehendak anak mereka. Biarkan mereka memilih pasangannya sendiri. Kalaupun nanti anak-anak mereka ditakdirkan berjodoh, kedua pria matang itu hanya bisa mendoakan saja untuk mereka.
“Bukan seperti itu, Ma. Gita saat ini masih fokus dengan kuliahnya yang sebentar lagi akan menjalani sidang skripsi. Selain itu, Gita juga sedang dekat dengan laki-laki lain. Bahkan laki-laki itu sangat baik pada Gita dan juga keluarga Om Iqbal.” Jawab Axel.
“Tapi, tidak ada salahnya juga berusaha.” Ucap Nia lalu berdiri meninggalkan Axel duduk sendri di ruang keluarga.
Sejenak Axel memkirkan ucapan Mamanya baru saja. Memang tidak ada salahnya berusaha. Tapi apakah Gita akan nyaman jika dirinya memberi perhatian lebih pada perempuan itu bukan sebagai kakak. Entahlah.
Setelah cukup lama berdiam diri di ruang keluarga, akhirnya Axel memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Dia juga sudah merasa lelah setelah seharian bekerja.
Axel merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang hampir tdak pernah ia tempati. Sebelum menutup matanya, laki-laki itu kembali bangun dan mengambil sebuah foto yang tersimpan di laci nakasnya. Foto berbingkai figura kecil dimana ada seorang gadis kecil yang sangat cantik dengan memakai seragam sekolah. Senyum mengembang dari gadis kecil itu selalu membuat hati Axel berdegup. Bahkan saat gadis kecil itu sudah dewasa, Axel masih saja merasakan degupan jantung yang sama saat berada di dekatnya.
“Aku mencintaimu, Brigita!” ucap Axel lalu kembali memasukkan foto itu ke dalam laci.
***
Hari ini sudah bersiap pergi ke kantor Papanya. Dan har ini juga hari terakhir dia menyelesaikan tugasnya. Dia datang hanya untuk memastikan beberapa data apa sudah akurat apa belum, dan meminta tanda tangan.
“Terima kasih ya, Kak. Selama ini sudah banyak membantuku.” Ucap Gita pada Dimas.
“Eits, tapi semua itu tidak gratis loh!” seloroh Dimas diiringi tawa.
“Mentang-mentang orang divisi keuangan, jadi perhitungan begini.” Jawab Gita pura-pura cemberut.
“Hei, aku nggak minta imbalan uang!” ucap Dimas sambil memencet hidung Gita dengan gemas.
__ADS_1
“Ish, lalu minta imbalan apa?” Tanya Gita memicingkan matanya.
“Bagaimana kalau imbalannya makan malam saja?” Tanya Dimas kemudian.
Gita pun akhirnya mengangguk setuju. Lagi pula hanya makan malam saja apa susahnya. Dia juga sering jalan dengan Dimas berdua. Dimas pun sangat senang ajakannya disetujui oleh Gita. Dan mereka berencana akan pergi makan malam besok.
Setelah itu Gita pergi dari kantor Papanya. Karena dia akan pergi ke kampus untuk menemui dosbingnya. Dan ini adalah hari terakhir dia bimbingan sebelum melakukan sidang.
Beberapa saat setelah konsultasi dengan dosbingnya, Gita tidak sengaja bertemu dengan beberapa temannya satu angkatan yang rencananya mereka akan lulus di tahun ni juga. Karena kesibukannya mengerjakan skripsi, hingga membuat Gita tiidak punya banyak waktu untuk sekadar berkumpul dengan teman-temannya.
“Hai Git! Jadii kapan kamu sidangnya?” Tanya Inez, teman Gita.
“Dua minggu lagi. Tadi Bu Diana bilang seperti itu setelah aku nyelesaiin bimbngan terakhir.” Jawab Gita.
“Wah sama dong. Aku juga dua minggu lagi.” Sahut Inez.
“Selamat ya buat kalian. Kalau aku nggak tahu sih bisa lulus tahun ini apa nggak. Beberapa kali bimbingan selalu banyak keslahan dan lagi-lagi aku harus mengulang penelitian.” Keluh Fathia dengan wajah ditekuk.
“Terima kasih ya guys.” Jawab Fathia.
Setelah tu mereka bertiga menuju kantin kampus untuk makan siang bersama. Karena mumpug ada kesempatan, jadi mereka akan menghabiskan waktunya seharian di kantin, daripada pergi ke mall.
“Oh iya Git, aku lupa ngasiih tahu. Minggu depan ulang tahun Patricia. Rencananya da akan merayakan ulang tahunnya dii salah satu club terkenal yang ada di kota. dan kita semua diundang.” Ucap Inez.
“Kenapa harus di Club sih?” Tanya Gita sedikit kurang setuju.
“Katanya sekalian menyambut kepulangan kakaknya yang baru datang dari luar negeri sih. Nggak apa-apa kita datang barengan saja. Lagi pula kalau ke Club kan nggak harus minum minuman beralkohol. Patricia pasti pahamlah dengan kita-kita.” Inez meyakinkan.
“Lihat nanti saja deh.” Jawab Gita akhirnya.
Memang ini bukan pertama kalinya ada teman Gita yang merayakan pesta ulang tahun di sebuah Club. Dulu Gita juga pernah mengahadiri pesta ulang tahun temannya di club juga dan aman-aman saja. Hanya saja Gita sedikit kurang nyaman dengan suara dentuman musik yang memekakkan telinga.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di kantin kampus, mereka bertiga memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
__ADS_1
***
Malam ini seorang laki-laki tengah duduk santai di sebuah café dengan masih menggunakan setelan baju kerjanya.laki-laki yatim piatu itu telah lama hidup sendirian. Semenjak dia memutuskan tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil, dia sering menghabiskan waktunya sendiri seperti saat ini seusai pulang kerja. Namun hal itu tidak membuatnya lupa dengan adik-adik pantinya yang terkadang masih membutuhkan dirinya.
“Hei Dim! Sudah lama disini? Sorry tadi masih ada urusan sebentar.” Sapa seseorang yang diketahui teman akrab Dimas.
“Nggak juga. Belum menghabiskan dua bungkus rokok.” Seloroh Dimas dan mendapat sambutan gelak tawa dari Elvan.
Tak lama kemudian Elvan memanggil pelayan café untuk memesan secangkir espresso kesukannya. Setelah itu mereka berdua berbincang-bincang sepert biasa.
“Bagaimana? Apa kamu sudah mengungkapkan perasaan kamu padanya?” Tanya Elvan tibia-tiba.
“Belum.” Jawab Dimas singkat lalu kembali menghisap rokonya.
“Kenapa? Kamu masih minder dengan status sosial kalian yang berbeda?” Tanya Elvan.
“Bukan. Dari dulu aku nggak pernah minder dengan status sosialku. Aku hanya menunggu waktu yang tepat saja. Aku berencana akan langsung melamar Gita setelah dia wisuda nanti.” Ucap Dimas dengan mantap.
“Good job brother!” ucap Elvan sambil mengacungkan dua jempolnya.
Tanpa Dimas dan Elvan sadari ternyata sejak tadi Axel juga berada di café itu. Bahkan Axel duduk di kursi yang ada di belakang Dimas. Dan Axel mendengarkan semua pembicaraan Dimas dengan temannya tentang Gita.
.
.
.
*TBC
Nahhh othor tambahin satu eps lagi nihhhh... jangan lupa vote, like, dan komennya ya🤗😁
Happy Reading‼️
__ADS_1