
Keesokan harinya Iqbal datang memenuhi permintaan Marvin. Iqbal langsung menuju klinik Lapas dimana Marvin sedang dirawat. Awalnya Iqbal mengira kalau Marvin hanya sakit biasa dan ingin meminta bantuannya agar meringankan hukumannya. Namun itu semua salah. Iqbal sangat terkejut melihat keadaan Marvin yang sangat lemah. Bahkan tubuhnya sangat kurus. Pria tua itu sedang tidur dengan memaksi selang oksigen.
Iqbal yang ditemani oleh pengacara Marvin masih diam dan menunggu sampai Marvin bangun. Dan tak lama kemudian, pria tua itu mulai mengerjapkan matanya. pandangan mata Marvin tertuju pada sosok Iqbal yang sedang berdiri disamping brankarnya.
Entah kenapa Iqbal sangat kasihan melihat kondisi Marvin yang seperti itu. Memang dia sudah memaafkan semua kejahatan Marvin. Karena pria itu sudah mendapatkan hukuman yang setimpal.
“Iqbal!” panggilnya dengan suara nyaris tak terdengar.
“Ada apa, Tuan ingin bertemu saya?” tanya Iqbal.
“Aku hanya ingin minta maaf atas semua perbuatanku terhadap kamu dan keluarga kamu.” Ucap Marvin dengan nafas tersengal.
Iqbal sungguh tidak tega melihatnya. “Tak perlu anda meminta maaf, saya sudah memaafkan kesalahan anda sejak putusan pengadilan saat itu.” Ucap Iqbal.
“Terima kasih. Tapi ini memang balasan yang pantas aku terima. Sebelum ajalku menjemput, bolehkan aku titip sesuatu padamu, dan meminta bantuanmu?” ucap Marvin.
Iqbal semakin bingung dengan permintaan Marvin. Terlebih dengan ucapannya yang seolah-olah pria itu sebentar lagi akan pergi dari dunia ini.
“Katakan saja, kalau saya mampu akan saya lakukan.” Jawab Iqbal.
“Kamu tahu sendiri kan kalau semua hartaku sudah habis tak tersisa. Namun aku masih punya tanggung jawab besar merawat cucuku. Dan selama aku di penjara, aku sudah tidak bisa lagi menemuinya.” Ucap Marvin dengan berlinang air mata.
Iqbal terkejut mendengar kalau Marvin mempunyai seorang cucu. Yang berarti itu adalah anak Danisa. Namun dimana keberadaan cucunya saat ini.
“Cucuku satu-satunya, anak mendiang Danisa sekarang usianya 18 tahun. Sejak kecil dia aku titipkan di sebuah panti asuhan khusus anak berkebutuhan khusus karena dia mengalami keterbelakangan mental sejak masih bayi. Namanya Cantika. Aku minta belas kasih kamu untuk menjadi donatur di panti asuhan itu. Karena itu sama saja membantu kelangsungan hidup Cantika.” Ucap Marvin.
Tanpa terasa Iqbal ikut menitikan air matanya. dia tidak menyangka kalau Danisa meninggalkan seorang anak. Bahkan anak itu seusia dengan Daniel. Bagaimana pun juga Iqbal hanya manusia biasa. Tidak mungkin dia menolak permintaan terakhir Marvin. Karena menurutnya itu juga perbuatan yang baik. Meskipun Marvin terkenal akan perbuatan kejinya, setidaknya dia masih memiliki jiwa kepedulian yang tinggi dengan tidak menelantarkan cucunya begitu saja, terlebih cucunya mengalami keterbelakangan mental.
“Anda tidak perlu khawatir. Dengan senang hati saya akan menjadi donatur di panti asuhan itu. Sekarang lebih baik anda fokus dengan kesehatan anda.” Ucap Iqbal dan Marvin tersenyum lega.
Setelah menjenguk Marvin, Iqbal memutuskan untuk kembali ke kantor. sebelumnya dia juga sudah meminta alamat panti asuhan dimana Cantika dibesarkan. Iqbal berjanji kalau ada waktu luang akan berkunjung langsung ke panti asuhan itu.
__ADS_1
***
Sudah satu bulan Axel dan Gita tinggal di luar negeri. dan sudah enam minggu usia kandungan Gita. beberapa hari setelah mereka tiba saat itu, keadaan Gita setiap hari selalu mengeluhkan pusing dan mual-mual. Namun dia akan sembuh jika menciumi baju suaminya yang belum dicuci dan menyisakan bau keringat. Awalnya Axel merasa heran saja dengan sikap aneh istrinya. Dan tiap kali Gita diajak untuk periksa ke rumah sakit, dia selalu menolak.
Dan berkat informasi dari salah satu teman kuliahnya, kemungkinan gejala yang dialami Gita adalah gejala awal kehamilan. Axel masih tidak percaya karena dia merasa istrinya belum telat datang bulan. Namun temannya kembali meyakinkan agar mengetesnya terlebih dulu menggunakan testpack sebelum memeriksakannya langsung ke rumah sakit.
Axel pun mengikuti saran temannya. Dia membeli testpack saat pulang dari kantor. setelah itu meminta Gita mengetesnya. Gita awalnya menolak karena tidak mungkin dia sedang hamil. Namun apa salahnya juga dites terlebih dulu. Dan ternyata hasilnya posistif. Antara senang dan terkejut bercampur jadi satu. Gita dan Axel sangat senang melihat hasil testpack itu. Gita pun demikian. Sebelumnya dia memang belum siap jika harus diberi momongan lebih awal, namun siapa sangka dengan melihat hasil tes itu Gita sangat senang dengan hadirnya makhluk kecil dalam rahimnya.
Setelah itu Gita dan Axel pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Gita. dan benar saja saat itu usia kandungannya sudah 2 minggu. Ternyata yang ia Gita kira datang bulan itu ternyata flek awal gejala kehamilannya. Lantas dokter memberikan resep obat penuat kandungan, karena usia kandungan Gita masih sangat rentan.
“Sayang, kamu nggak apa-apa aku tinggal ke kantor? atau ikut saja ya?” ucap Axel khawatir.
“Nggak apa-apa, Mas. Aku di rumah saja. Kamu nggak perlu khawatir keadaanku. Jika aku merasa lemas dan mual, kan sudah ada obatnya, ini!” ucap Gita sambil memegang baju suaminya yang belum dicuci.
Axel hanya mendengus pelan. Dia sungguh heran dengan kemauan bayi dalam kandungan istrinya yang sangat menyukai bau keringatnya.
“Ya sudah, kalau begitu akub berangkat dulu. Kalau ada apa-apa hubungi aku, ya?” pamit Axel kemudian dan mencium perut Gita yang masih datar.
Gita menjalani kehaamilannya dengan baik. Tidak ada keluhan sama sekali. Sekalipun dia merasa pusing dan mual, dia sudah mempunyai penangkalnya. Jadi Axel juga tidak khawatir saat ia sedang bekerja maupun sedang kuliah.
Waktu pun berlalu dengan cepat. Sekarang usia kandungan Gita sudah empat bulan. Dan hari ini juga kedua orang tua Axel dan Gita akan datang untuk menikmati liburan akhir tahun.
Sejak tadi Gita sudah menyiapkan segela sesuatu untuk menyambut kedatangan orang tua dan mertuanya. Sedangkan Axel juga sudah bersiap untuk menjemput mereka ke bandara.
Beberapa saat kemudian Iqbal, Jenny, Felix dan Nia sudah tiba di rumah. Axel segera mengajaknya masuk, sedangkan Gita masih sibuk menata makanan di meja makan. Posisi Gita membelakangi, jadi Jenny dan Nia tidak bisa melihat perut buncit Gita.
“Duhhh anak Mama rajin banget sudah nyiapin makanan.” Ucap Jenny yang baru saja memasuki ruang makan bersama Nia.
“Iya nih. Pantas saja sekarang Axel terlihat lebih gemuk, istrinya saja pandai melayani seperti ini.” Nia menyahuti.
Tak lama kemudian Gita menoleh ke arah Jenny dan Nia lalu merentangkan tangan untuk minta dipeluk.
__ADS_1
Jenny dan Nia melongo saat melihat perut buncit Gita. setelah itu Gita yang berjalan mendekati Jenny dan Nia lalu berhambur ke pelukannya.
“Sayang, kenapa kalian menyembunyikan ini semua?” tanya Jenny dengan berlinang air mata.
“Iya, apa kalian sengaja menutupi kabar bahagia ini?” ucap Nia.
Gita mengurai pelukannya lalu mengatakan pada Mama dan Mama mertuanya. Dia dan suami sengaja tidak memberitahu kehamilannya karena tidak ingin membuat mereka khawatir sekaligus Gita tidak ingin disuruh pulang ke Indonesia. Nia dan Jenny hanya menggelengkan kepalanya dengan alasan Gita. namun tidak dipungkiri kedua wanita paruh baya itu sangat bahagia dengan kabar ini.
Setelah itu Jenny dan Nia mengajak Gita ke ruang tamu untuk memberi kejutan pada para calon Opa.
“Mas, coba lihat!” ucap Jenny tiba-tiba.
Iqbal dan Felix yang sedang asyik berbincang dengan Axel kini perhatiannya teralih pada suara Jenny. Memang Iqbal dan Felix belum sempat menemui Gita karena mereka pikir Gita masih sibuk di dalam. Dan sekarang Iqbal dan Felix menatap sosok perempuan cantik dengan perut buncit yang sedang berdiri di antara Jenny dan Nia.
“Papa!!” teriak Gita sambil merentangkan tangannya dan berhambur ke pelukan Iqbal dan Felix.
“Gita? kamu hamil, Nak?” tanya Felix tak percaya.
Gita mengangguk dan tersenyum. Axel pun ikut bahagia melihat orang tua dan mertuanya senang dengan kabar kehamilan istrinya. Hidup Axel kini terasa sempurna. Setelah rumah tangganya sempat dihantam badai yang hampir memisahkan dirinya dengan sang istri.
Kini semuanya sudah bergabung di ruang tamu. Iqbal, Jenny, Felix dan Nia sangat bahagia dengan hadirnya calon cucu di Rahim Gita. tak henti-hentinya mereka mengucap syukur atas segala kenikmatan yang Tuhan berikan untuk keluarga mereka. Para orang tua itu berdoa agar rumah tangga Axel dan Gita senantiasa diberi kebhagiaan sampai maut memisahkan.
Axel memeluk Gita sambil mengaminkan doa dari orang tua masing-masing.
...*****T A M A T*****...
Akhirnya tamat juga... Terima kasih buat semua readers yang telah mendukung othor berupa like, komen, vote, dan giftnya.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya othor yg baru ya, Suami Kedua. ceritanya nggak kalah seru dengan novel ini. sekali lagi othor ucapkan terima kasih banyak. dan mohon maaf bila ada salah kata. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin, selamat hari raya idul fitri buat semua yang menjalankan🙏🙏🙏🙏😘😘😘😍😍😍😘😍