
Hari ini Iqbal sudah berada di kantor. dia yang sudah terbiasa duduk di kursi ruangan asisten, kini harus terbiasa menempati ruangan khusus Ceo. Sebenarnya sampai sekarang Iqbal masih kurang nyaman menerima jabatan penting ini, namun dukungan dari Jenny rasa kurang percaya dirinya semakin pupus.
Siang itu juga Iqbal meminta Galang untuk datang ke kantornya. Dia akan memeberitahukan pekerjaan apa saja yang harus dia lakukan nanti. Tidak hanya itu, Iqbal juga meminta Galang agar menemani Farah kemana saja saat meeting khususnya saat dirinya pergi nanti.
“Aku senang kamu mau bekerja denganku.” Ucap Iqbal menjabat tangan Galang.
“Iya, aku juga senang. Aku janji akan bekerja dengan baik.” Jawab Galang.
“Terima kasih Nona Farah, sudah mengijinkan saya untuk bekerja di perusahaan ini.” ucap Galang beralih mengulurkan tangannya pada Farah.
Farah menyambut uluran tangan Galang dengan perasaan gugup. Begitu juga dengan Galang. Namun dia bisa bersikap tenang menutupi kegugupannya.
“Ehm, jangan panggil Nona. Panggil Farah saja.” Ucap Farah tapi tangannya belum lepas dari genggaman tangan Galang.
“Sepertinya tidak sopan jika saya memanggil anda hanya nama saja.” Jawab Galang.
“Nggak apa-apa. Justru aku tidak nyaman jika dipanggil formal seperti itu.” Ucap Farah.
“Ehm, baiklah terserah kalian berdua saja mau memanggil apa. Bicarakan di ruangan kalian saja. Dan, sampai kapan kalian akan saling menggenggam tangan seperti itu?” tanya Iqbal dengan memperhatikan tangan Galang dan Farah yang masih bertaut.
Keduanya sama-sama terkejut dan langsung melepaskan tautan tangan masing-masing. Farah benar-benar sangat malu dan memilih keluar dari ruangan Iqbal begitu saja.
“Kenapa kamu masih diam disini?” tanya Iqbal pada Galang.
Setelah tersadar, Galang pun akhirnya keluar mengejar Farah. Mungkin dia akan menanyakan beberapa pekerjaan yang harus dia lakukan.
Sore harinya saat jam pulang kantor tiba, seperti biasa Iqbal akan menjemput Jenny terlebih dulu. Dan tampaknya Jenny memang sudah menunggunya sejak tadi.
“Kita makan di luar saja ya?” ajak Iqbal dan Jenny mengangguk.
Iqbal dan Jenny sangat bahagia dengan kehidupan rumah tangganya yang sudah semakin membaik. Mereka berdua sudah merencanakan kepulangannya nanti untuk membahas pesta pernikahannya dengan orang tua masing-masing. Iqbal memberikan saran agar pesta pernikahannya diadakan di kota B saja, karena beberapa rekan kerja Iqbal banyak dari kota ini. dan Jenny pun sama sekali tidak keberatan.
__ADS_1
Setelah makan malam, keduanya langsung pulang ke rumah barunya. Jenny memilih memakai kamar yang ada di lantai dua. Karena di samping kamar tersebut ada sebuah ruangan yang rencananya akan dia gunakan sebagai ruang pribadinya untuk membuat design-design baju.
Jenny baru saja keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrope dan rambutnya masih basah. Iqbal yang masih setia duduk sambil memainkan gadgetnya tiba-tiba mencium aroma wangi dari tubuh istrinya, membuat sesuatu di balik celananya bergejolak.
“Kenapa harum sekali baunya?” tanya Iqbal yang kini sudah memeluk Jenny.
“Kan aku mandinya pakai sabun Kak” jawab Jenny.
“Iya tahu. Tapi harum baumu sudah membangunkan sesuatu.” Ucap Iqbal yang sudah menempelkan ekor depannya tepat di pan**t Jenny. Dan Jenny bisa merasakan itu.
“Kak Iqbal mandi dulu sana!” ucap Jenny gugup.
“Nanti saja mandinya. Aku mau minta sesuatu dulu.” Jawab Iqbal dengan mata yang sudah menahan gairrah.
Akhirnya Iqbal dan Jenny kembali mengarungi indah dan nikmatnya surga dunia di kamar baru mereka. Iqbal merasakan tubuh istrinya sudah seperti candu, hingga tak bosan-bosannya terus meraih dan meberi kenikmatan untuk Jenny. Sedangkan Jenny juga semakin terbuai dengan permainan lembut suaminya.
Cup
“Ayo mandi lagi.” Ucap Iqbal setelah mengakhiri drama percintaannya dan langsung menggendong Jenny masuk ke dalam kamar mandi.
Di kota J tampak seorang perempuan dan laki-laki sedang berdua menikmati makan siangnya. Mereka berdua makan sambil berbincang-bincang. Keduanya terlihat sangat akrab karena memang mereka sudah berteman sejak masih duduk di bangku kuliah dulu.
“Kamu rencananya akan tinggal disini terus atau bagaimana Lil?” tanya Xavier.
“Sepertinya menetap disini, Xav. Karena kerjaanku di kota B sudah selesai.” jawab Lila.
“Oh iya bagaimana hubungan kamu dengan Jenny?” tanya Lila pura-pura.
“Baik. Hubunganku baik-baik saja dengan Jenny.” Jawab Xavier.
“Oo baguslah kalau begitu. Kemarin aku dengar dia sepertinya mau pulang ke kota ini. tapi aku nggak tahu kapan.” Ucap Lila membaritahu.
__ADS_1
Xavier terkejut mendengarnya. Tapi dia berusaha menutupi keterkejutannya. Jujur saja dia sangat senang mendengarnya. Dan mungkin dengan kepulangan Jenny nanti dia akan sedikit memaksa perempuan itu untuk segera mengakhiri hubungannya dengan Iqbal lalu menikahinya. Biarkan dia egois walau saat itu Jenny sudah mengatakan hubungannya dengan dia sudah berakhir.
“kamu kenapa, Xav?” tanya Lila.
“Nggak apa-apa. Aku senang saja. Nanti kalau Jenny sudah pulang ke kota ini, aku akan segera melamarnya lalu segera menikahinya.” Jawab Xavier.
Lila tidak percaya mendengar ucapan Xavier. Namun dia tidak mau ikut campur terlalu jauh dalam masalah temannya. Tapi yang pasti Lila sebisa mungkin akan berpihak pada Jenny dan suaminya.
Tanpa Xavier dan Lila sadari ternyata sejak tadi di samping meja mereka ada seseorang yang mendengar perbincangan itu dengan jelas. Pria paruh baya itu tidak menyangka mendengar kenyataan yang ada. Bagaimana jika nanti istrinya mengetahui kenyataan pahit ini. khususnya melihat nasib rumah tangga ankanya.
Ya, pria yang sedang duduk di samping meja Xavier adalah Bram. Sudah lama Bram mencurigai hubungan rumah tangga anaknya tidak baik-baik saja. Mulai saat dirinya datang berkunjung ke kota B beberapa bulan yang lalu.
Saat itu Bram tanpa sengaja melihat Xavier yang baru saja turun dari pesawat waktu dirinya dan Desy sedang menunggu Iqbal menjemputnya. Dan saat istrinya pergi ke toilet, Bram tanpa sengaja melihat Xavier bersama seorang perempuan yang baru saja datang dan sepertinya memang sengaja menjemputnya.
Bram melihat gestur perempuan yang berdiri membelakanginya itu mirip dengan Jenny yang tak lain adalah menantunya. Namun Bram tidak mau menduga-duga terlalu jauh. Dan kebetulan juga yang menjemputnya hanya Iqbal sendiri tanpa Jenny.
Bram masih bersikap tenang dan tidak meberitahukan pada istrinya. Namun selama tinggal beberapa hari bersama anak dan menantunya, Bram melihat hubungan Iqbal dan Jenny terkesan kaku seperti ada yang ditutupi. Hal itu semakin terbukti saat tiba-tiba melihat istrinya menangis.
Desy menangis setelah keluar dari kamar Iqbal untuk meminjam charger ponselnya. Di sana desy melihat ada sebuah kasur lipat yang baru saja dipakai dan masih diletakkan di bawah beserta dengan selimutnya. Lalu Bram dapat menyimpulkan kalau hubungan rumah tangga anaknya tidak baik-baik saja.
Setelah beberapa bulan berlalu tidak mendengar kabar dari Iqbal, Bram mengira hubungan anak dan menantunya sudah semakin membaik. Dan perempuan yang ia temui menjemput Xavier di bandara itu kemungkinan bukan Jenny.
Tapi sebuah kenyataan pahit baru saja ia dengar dengan gamblang. Bahwa selama ini menantunya telah menjalin hubungan dengan Xavier. Bram bertekat akan mengatakan semua ini pada istrinya dan meminta Iqbal mengakhiri pernikahannya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Waduhhhh gaswatttt gaesss😱😱😂✌️
Happy Reading‼️