
Kay dan Vito awalnya sangat terkejut saat melihat Lidya sudah menggendong Gita dan memasuki mobil Billal. Namun saat mendengar jawaban Lidya bahwa Gita badannya sedang hangat dan akan dibawa ke rumah sakit. Kay sudah bisa tenang. Sebenarnya cukup memberikan obat penurun panas saja pasti badan Gita tidak panas lagi. Kay mengerti akan kekhawatiran Billal terhadap cucunya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Gita masih saja tidur dalam pangkuan Lidya. Baik Lidya maupun Billal sama-sama terdiam. Billal yang masih cemas dengan keadaan Gita, sementara Lidya yang masih merasakan shock setelah dibentak oleh Billal tadi.
Sesampainya di rumah sakit, Billal segera mengambil Gita dari gendongan Lidya dan membawanya masuk ke IGD. Disana Gita diperiksa dulu oleh dokter sebelum dipastikan akan menjalani rawat inap atau tidak.
“Putri anda tidak apa-apa Tuan. Hanya demam biasa. Lain kali kalau mendapati kejadian seperti ini tidak perlu panik. Cukup diberi obat penurun panas saja dulu, kalau panasnya belum turun juga baru dibawa ke rumah sakit.” Ucap dokter menjelaskan
Billal hanya mengangguk paham. Dia merasa lega setidaknya Gita sudah mendapat penanganan dokter. Setelah itu dia melirik Lidya yang sejak tadi menundukkan kepalanya saja saat dirinya melihatnya.
Gita tidak perlu dirawat inap. Dokter hanya memberikan resep obat penurun panas dan antibiotik saja. Kemudian Billal membawa Gita pulang. sebelumnya dia menebus obatnya dulu ke apotek.
“Maaf!” ucap Billal saat sudah berada dalam mobil bersama Lidya dan Gita.
“Iya, Tuan. Saya yang salah karena saya bukan ibunya.” Jawab Lidya.
“Bukan. Bukan seperti itu. Aku tadi sangat panik. Maafkan aku sudah membentak kamu.” Lanjut Billal.
Lidya hanya mengangguk samar namun sejak tadi dia masih menunduk dan tidak berani menatap wajah Billal.
Sesampainya di rumah, Lidya langsung membawa Gita masuk. Para oma dan opa Gita yang sejak tadi menunggu kepulangan cucunya merasa sangat lega karena Gita tidak perlu dirawat inap.
“Aku pulang ke apartemen dulu. Karena hari ini ada meeting.” Pamit Billal pada Vito.
“Baiklah. Terima kasih kamu sudah menjaga cucuku dengan baik.” Ucap Vito tulus.
“Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Kamu tenang saja.” Jawab Billal lalu pergi. Namun langkahnya terhenti saat Kay memanggilnya.
“Ada apa?” tanya Billal.
“Apa kamu nggak ingin menikah lagi dan mempunyai anak?” tanya Kay.
“Aku sudah tidak berkeinginan untuk menjalin sebuah hubungan.” Jawab Billal singkat dan bergegas pergi.
“Tapi menurutku Lidya adalah gadis yang baik. Kamu bisa mempertimbangkannya.” Ucap Kay.
__ADS_1
Billal menghentikan langkahnya namun dia tidak memberikan respon sama sekali tentang ucapan sepupunya itu. Kemudian dia melanjutkan langkahnya memasuki mobil dan pulang ke apartemennya.
***
Sementara itu Jenny saat ini sedang menikmati sarapannya bersama suaminya di dalam kamar. Jenny merasakan tubuhnya remuk setelah digempur beberapa kali oleh suaminya semalam. Padahal mereka berdua sudah memutuskan tidur setelah mengakhiri pertempuran panasnya. Namun tiba-tiba saja menjelang pagi, Iqbal terbangun dan ingin mengulangi kegiatan panasnya saat melihat tubuh polos istrinya.
“Makan yang banyak biar kuat, Sayang.” Ucap Iqbal menggoda.
Jenny hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Dia bertekat setelah mengahabiskan makanannya, dia akan kembali tidur lagi seharian. Dia tidak peduli jika suaminya merengek minta jatah lagi.
Makanan Jenny sudah habis. Setelah itu dia langsung beranjak dari duduknya dan bergegas menaiki ranjang.
“Sayang, jangan langsung tidur setelah makan. Tidak baik loh buat kesehatan.” Ucap Iqbal.
Jenny tidak menjawab. Dia memang sudah di atas tempat tidur, namun dengan posisi bersandar pada headboard. Lalu tangannya meraih ponsel di atas nakas. Jenny ingin menghubungi Lidya untuk menanyakan putrinya.
“Apa? Dibawa ke rumah sakit?” tanya Jenny terkejut.
“Tidak Nyonya. Hanya diperiksa saja. Badan Non Gita juga sudah turun panasnya.” Jawab Lidya.
Wajah Jenny seketika berubah cemas setelah mendapat kabar bahwa anaknya sedang sakit. Iqbal yang melihat perubahan wajah istrinya akhirnya mendekat dan menanyakannya.
“Ada apa?” tanya Iqbal.
“Gita sedang sakit, Mas. Kata Lidya semalam dia tidur bersama Om Billal karena mencari keberadaan kita.” Jawab Jenny sendu.
“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”
“Panasnya sudah turun. Tadi Om Billal sempat membawanya ke rumah sakit karena takut Gita kenapa-napa. Aku ingin pulang hari ini, Mas. Aku sangat khawatir dengan keadaan Gita.” Ucap Jenny yang kini sudah menangis.
“Sttt, tenanglah. Iya hari ini kita pulang. tapi kamu istirahat dulu ya. Bukankah badan kamu masih lelah? Kalau sudah lebih baik, nanti sore kita pulang.” ucap Iqbal dan Jenny mengangguk.
Akhirnya sore itu Iqbal dan Jenny memutuskan untuk pulang. Mereka tidak peduli meski waktunya untuk berbulan madu masih tersisa dua hari. Baginya yang terpenting sekarang adalah Gita.
Pukul 4 sore Iqbal dan Jenny sudah berada di bandara. Dan sebentar lagi pesawatnya akan membawanya pulang untuk bertemu dengan sang buah hati. Dalam perjalanan, Jenny terlihat begitu cemas. Dia ingin sekali segera sampai rumah dan memeluk anaknya.
__ADS_1
“Sabarlah. Aku yakin Gita sudah baik-baik saja.” Iqbal mencoba menenangkan istrinya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama dua jam setengah akhirnya Iqbal dan Jenny sudah tiba di kota B. mereka berdua segera memesan taksi untuk mengantarnya pulang.
Perasaan Jenny sangat lega saat memasuki rumahnya dia melihat anaknya sudah tampak ceria dan bermain bersama Oma dan Opanya. Jenny langsung berlari dan memeluk Gita.
“Gita!! Anak Mama, Mama sangat kangen, Sayang.” Ucap Jenny.
“Loh kalian sudah pulang bulan madunya?” tanya Kay terkejut.
“Iya, Ma. Setelah mendapat kabar bahwa Gita sedang sakit, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.” jawab Iqbal.
Setelah itu bergantian Iqbal memeluk Gita. Dia juga sangat merindukan putrinya. Walau hanya dua hari saja.
***
Sementara itu malam ini Billal tidak datang ke rumah Jenny. Dia sangat yakin kalau keadaan Gita sudah baik-baik saja. Jadi malam ini dia memutuskan untuk tidak lagi tidur menemani Gita.
Tiba-tiba saja Billal teringat saat membentak Lidya tadi pagi. entah kenapa dia masih dihantui rasa bersalah walau sudah meminta maaf secara langsung. terlebih saat dia tidak sengaja melihat Lidya mengusap sudut matanya yang berair setelah mendapatkan bentakan darinya.
Kemudian Billal teringat dengan ucapan Kay mengenai Lidya.
“Tapi menurutku Lidya adalah gadis yang baik. Kamu bisa mempertimbangkannya.”
Billal mennggelengkan kepalanya pelan. Dia sudah menutup hatinya untuk perempuan. Setelah dihianati dua kali rasanya membuat Billal cukup jera untuk menjalin sebuah hubungan lagi. Selama ini dirinya dekat dengan Gita dan menganggapnya seperti anak sendiri, menurutnya sudah cukup. Dia tidak perlu lagi memikirkan hidup berumah tangga kalau nanti ujung-ujungnya akan dikecewakan lagi.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1