
Malam ini adalah malam kedua bagi pasangan pengantin baru yaitu Iqbal dan Jenny. Mereka berdua sedang larut dalam indahnya kasih dan sayang yang selama ini tertahan oleh keduanya karena terpisah setelah sekian lama.
Iqbal memperlakukan istrinya begitu lembut dalam setiap sentuhannya. Sama halnya yang dulu pernah ia lakukan sebelumnya. Keduanya sama-sama larut dalam buaian gelora cinta yang semakin memabukkan dan sulit untuk diakhiri.
Erangan demi erangan yang keluar dari bibir keduanya, mengisi keheningan kamar pengantin yang temaram itu. Meski cuaca sangat dingin dan pendingin ruangan sedang menyala, namun peluh keringat tak pernah surut dari tubuh pasangan pengantin itu.
Setelah melewati beberapa kali penyatuan dan diakhiri desahaan panjang, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu letih. Selimut tebal berwarna putih itu telah membungkus tubuh tanpa busana yang saling berpelukan.
“Terima kasih, Sayang. I Love You!” ucap Iqbal sebelum matanya terlelap.
“I Love You too” jawab Jenny dengan mata terpejam.
Keesokan paginya, kedua pasangan itu masih tampak nyenyak dalam mimpi indahnya. Mereka berdua tidak menyadari kalau matahari sudah terbit tinggi. Bahkan suasana ramai di luar kamar mereka tak mampu membuat keduanya terbangun.
“Gita!!!” teriak Jenny saat samar-samar mendengar tangisan anak kecil di depan pintu kamarnya.
Jenny terkesiap. Dia lupa tidak memakai baju sama sekali. Lalu dia mengambil bajunya dan segera membuka pintu kamarnya. Benar saja disana ada Gita yang sedang menangis dalam gendongan Omanya, Desy.
“Dari tadi dia nangis cariin kamu.” Ucap Desy.
“Maaf Ma!” Jenny segera menggendong Gita lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Iqbal merasa tidurnya terganggu akhirnya perlahan mengerjapkan matanya. lalu dia melihat sosok gadis kecil sedang berada di atas tempat tidurnya.
“Mas, buruan bangun. Setelah itu mandinya bergantian.” Ucap Jenny.
“Kenapa nggak mandi bersama saja sekalian?” tanya Iqbal tanpa beban.
“Ihh… kamu ini nggak lihat Gita sedang disini. Sana buruan mandi dulu, setelah ini aku yang mandi dan kamu jaga Gita.” Perintah Jenny.
Bukannya bergegas bangun dan mandi, Iqbal justru sibuk menciumi Gita yang sedang asyik bermain di atas kasur. Bahkan anak kecil itu terlihat sangat senang sambil lompat-lompat. Jenny lalu mengambilkan bathrope untuk suaminya agar segera pergi ke kamar mandi, mengingat dirinya saat ini tidak memakai baju.
Kini Iqbal dan Jenny sama-sama sudah selesai mandi. mereka berdua lantas turun untuk sarapan sekaligus makan siang. Sedangkan Gita sejak tadi sangat betah dalam gendongan Papanya.
“Kalian makanlah dulu, biar Gita sama Papa.” Ucap Bram menghampiri Iqbal.
__ADS_1
Lalu Iqbal memberikan Gita pada Papanya. Namun gadis kecil itu justru menangis dan tidak mau lepas dari gendongan Papanya. Alhasil Iqbal tetap menggendongnya sambil makan. Mungkin Gita yang sudah dibiasakan ikut makan bersama, jadi anak itu seolah ingin ikut Papa dan Mamanya makan.
Selepas sarapan, Iqbal dan Jenny duduk santai di ruang keluarga. Disana juga ada Bram dan Desy. Mereka berempat melihat Gita bermain sambil sesekali minta ditemani oleh Mama dan Papanya.
“Besok, Papa dan Mama akan kembali ke luar negeri. Kalian nggak apa-apa kan? Nanti sebelum hari H pesta pernikahan kalian, kami akan pulang lagi bersama Arsha. Kasihan dia sendirian di sana.” Desy memberitahu.
“Iya Ma nggak apa-apa.”
“Papa dan Mama minta maaf tidak bisa ikut membantu persiapan pernikahan kalian. Karena pekerjaan Papa tidak bisa ditingalkan terlalu lama.” Kali ini Bram yang menimpali.
“Tenang saja, Papa nggak perlu khawatir soal itu. Kami akan menyerahkan semuanya pada WO. Jadi tidak perlu repot-repot.” Ucap Iqbal.
Hari ini Iqbal dan Jenny menghabiskan waktunya cukup di rumah saja. Mereka berdua ingin menikmati kebersamaan bersama anaknya tanpa pergi kemana pun. Iqbal tampak duduk di sofa panjang dalam kamarnya, dengan Jenny berada tepat didepannya sambil bersandar pada dada bidang suaminya. Sedangkan Gita sedang menikmati acara film anak sambil sesekali mengikuti gerakannya.
“Sayang, nanti setelah pesta pernikahan kita, kamu mau pergi berbulan madu kemana?” tanya Iqbal sambil menautkan jemarinya.
“Terserah Mas saja, tapi di dalam negeri saja.” Jawab Jenny.
“Kenapa? Bukankah lebih bagus di luar negeri saja?”
“Baiklah kalau begitu. Terserah kamu saja.”
Iqbal semakin mengeratkan pelukannya. Akhirnya sudah tidak ada pembatas lagi antara dirinya dan Jenny. Karena sekarang mereka berdua telah sah menjadi pasangan suami istri lagi.
***
Keesokan paginya Iqbal dan Jenny mengantar Bram dan Desy kembali ke luar negeri. Dan ternyata Kay dan Vito juga memutuskan untuk pulang. mereka semua kini sedang berada di bandara namun dengan tujuan pesawat yang berbeda.
Kedua pasangan orang tua itu memberikan beberapa wejangan pada Iqbal dan Jenny dalam membina rumah tangganya. Mereka juga senantiasa mendoakan kebahagiaan anak menantunya dan cucunya.
“Hati-hati Ma, Pa!” ucap Jenny pada orang tua dan mertuanya bergantian sambil memeluknya.
“Jaga cucu Oma dan Opa dengan baik. Jangan terlalu fokus membuat adiknya Brigita.” Ucap Vito sontak membuat Jenny sangat malu.
“Iya benar apa yang dibilang Papa kamu. Hamilnya nanti saja setelah acara pesta pernikahan kalian.” Sahut Desy.
__ADS_1
“Iya deh iya. Kalian tidak perlu khawatir akan hal itu.” Jawab Iqbal kali ini setuju dengan saran Mamanya.
Setelah memastikan kedua pasang orang tua itu menaiki pesawat, Iqbal dan Jenny segera pulang ke rumah. namun sebelumnya mereka singgah dulu ke restaurant untuk makan siang.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Iqbal sambil memegang buku menu.
“Terserah Mas saja. Aku ke toilet sebentar ya Mas. Titip Gita dulu.” Ucap Jenny.
Jenny masuk ke toilet untuk buang air kecil. Setelah keluar dari toilet, dia berdiri di depan cermin untuk membenahi rambutnya yang sedikit berantakan. Setelah itu Jenny keluar dan kembali ke meja dimana suaminya sedang menunggunya.
Saat langkahnya sudah mendekati meja dimana suaminya berada. Jenny melihat seorang perempuan sedang duduk disana. Jenny juga sepertinya pernah melihat perempuan itu tapi lupa dimana.
“Masa iya sih Bal itu anak kamu? Bukankah kamu sudah lama berpisah dengan istri kamu?” tanya Danisa penasaran.
“Tolong hargai privasiku. Jangan terlalu ikut campur urusan orang.” Ucap Iqbal datar.
“Tapi apa kamu lupa Bal, kalau Papaku sangat menyukaimu dan berniat menjodohkan kita?” ucap Danisa.
Jenny yang mendengar dengan jelas seketika kakinya lemas. Dia juga baru ingat kalau perempuan itu adalah yang ia temui saat di bandara dulu. Dan perempuan itulah yang menggandeng tangan Iqbal.
“Kamu jangan mengada-ada Nis. Aku sudah menikah dan mempunyai anak. Silakan kamu pergi dari sini jika tidak ada lagi keperluan.” Usir Iqbal.
“Mas!” panggi Jenny lirih.
“Sayang, sini ayo kita makan.” Ucap Iqbal tanpa mempedulikan Danisa.
“Oh, ini istri kamu. Kata Farah juga kalian baru saja menikah lagi kemarin? Yakin kamu Bal kalau dia nggak akan berselingkuh lagi dari kamu?” Danisa tersenyum sinis menatap Jenny.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️