Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 90


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke empat pasca Jenny melakukan operasi kista ovarium. Dan hari ini juga Jenny sudah diperbolehkan untuk pulang, karena kondisinya sudah membaik. Luka bekas jahitannya juga sudah mengering.


“Mas, aku sudah tidak sabar ingin bertemu Gita.” Ucap Jenny saat melihat suaminya sedang memberekan beberapa baju kotor istrinya.


“Iya, sabar ya. Tunggu dokter visit dulu, setelah itu baru kita pulang.” jawab Iqbal.


Dan tak lama kemudian dokter datang memeriksa keadaan Jenny sebelum memastikan keadaannya benar-benar sudah sembuh.


“Keadaan Nyonya sudah membaik. Dan setelah ini sudah diperbolehkan pulang. tapi saya harap anda jangan dulu melakukan pekerjaan berat selama masih dalam tahap pemulihan.” Ucap dokter dan Jenny mengangguk.


Setelah dokter bersama perawat itu keluar, Iqbal juga ikut keluar karena dia harus menebus obat untuk istrinya dulu di apotek rumah sakit. Sambil menunggu, Jenny tampak melakukan panggilan dari Farah untuk menanyakan keadaannya. Jenny mengatakan kalau sebentar lagi akan pulang. Farah pun sangat senang mendengarnya.


Cklek


Iqbal sudah kembali dari apotek sambil membawa kursi roda yang tadi sudah dia minta pada pegawai rumah sakit. Setelah itu dia membantu istrinya turun dari brankar dan duduk di kursi roda.


Kini Jenny sudah berada di dalam mobil bersama Iqbal. Jenny merasa sangat lega setelah bisa keluardari rumah sakit dengan kondisi tubuhnya yang lebih baik.


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Iqbal kini sudah memasuki gerbang rumah. Jenny keluar dari mobil dengan dibantu suaminya dan jalan perlahan memasuki rumah. dari dalam Jenny sudah bisa mendengar teriakan anaknya seperti sedang bermain. Dan benar saja, disana ada Billal dan Lidya yang sedang menemani Gita bermain.


“Kalian sudah pulang? bagaimana keadaan kamu, Jen?” tanya Billal.


“Aku sudah sehat, Om. Terima kasih sudah menjaga Gita.” Jawab Jenny dan Billal mengangguk.


Setelah itu Gita yang sudah menyadari kedatangan Mama dan Papanya, gadis kecil itu berlari cepat menghampiri orang tuanya. Iqbal segera menangkap anaknya yang sedang berlari lalu menggendongnya dengan cepat, karena dia sangat khawatir kalau saja anaknya akan berlari dan menabrak mamanya.


“Papa…papa…mama…mama…!” celoteh Gita dalam gendongan Iqbal.


Jenny segera duduk di sofa disusul dengan Iqbal yang menggendong Gita. Billal pun ikut duduk bersama mereka. Sementara Lidya menuju dapur untuk membuatkan minuman.


Iqbal dan Jenny menciumi pipi gembul Gita secera bergantian. Mereka berdua sangat merindukan anaknya, terutama Jenny. Gita pun semakin menggemaskan saat kegelian diciumi papa dan mamanya.


“Jangan melakukan pekerjaan apapun dulu selama proses pemulihan.” ucap Billal.

__ADS_1


“Iya, Om. Nanti aku akan istirahat total dan tidak mendesign dulu.” Jawab Jenny.


“Kamu nggak usah khawatirkan Gita. Lagi pula ada Lidya juga yang ikut menjaga Gita.” Ucap Billal sambil melirik Lidya yang baru saja meletakkan minuman di atas meja.


Jenny hanya tersenyum tipis mendengarkan nasehat dari Billal. Setelah itu mereka meminum minuman yang telah dibuatkan oleh Lidya lalu Iqbal mengajak istrinya masuk ke kamar karena Jenny masih membutuhkan istirahat. Gita pun ikut bersama mama dan papanya.


Sementara itu, Lidya langsung keluar dari rumah Jenny. Dia akan kembali ke rumah sebelah, yaitu rumah Jenny yang lama. Karena Lidya juga masih mempunyai pekerjaan yang harus diselesaikan.


Tanpa Lidya sadari, Billal mengikutinya masuk ke dalam rumah itu. Jujur saja, selama Jenny dirawat di rumah sakit, dan selama dia ikut menjaga Gita, Billal melihat raut wajah yang tampak berbeda dari Lidya. Meskipun Lidya berusaha terlihat biasa saja di depan Gita, namun raut kesedihan sangat jelas terlihat oleh Billal.


“Tuan!!” teriak Lidya terkejut saat melihat Billal sudah duduk di sofa ruang tengah.


Billal sendiri pun tampak diam. Dia justru menatap mata Lidya dengan intens. Namun Lidya segera mengalihkan pandangannya, karena jujur saja dia sangat gugup saat menatap wajah Billal. Setelah itu Lidya segera beranjak dan berniat pergi meninggalkan Billal.


“Tunggu!! Kamu mau kemana?” tanya Billal.


“Maaf, Tuan saya masih ada pekerjaan.” Jawab Lidya.


“Apa maksud anda? Maaf saya tidak bisa menerimanya. Karena saya sudah nyaman bekerja dengan Nyonya Jenny.” Tolak Lidya dan segera pergi meninggalkan Billal. Namun tangan pria itu dengan cepat mencekal lengan Lidya, hingga membuat Lidya ketakutan.


“Apa kamu yakin masih bertahan bekerja dengan Jenny setelah nanti Jenny tahu kebohongan kamu?” tanya Billal dengan seringai tipis di bibirnya.


Lidya mengerutkan keningnya. Dia sungguh tidak mengerti dengan kebohongan apa yang dimaksud oleh Billal.


“Apa maksud Tuan? Saya tidak mengerti.” Tanya Lidya.


“Kamu jangan pura-pura tidak tahu. Kamu mengambil gaji kamu dengan alasan untuk pengobatan ayah kamu yang sakit, padahal kenyataannya uang itu untuk membayar hutang. Dan Jenny pun iba akhirnya dia memberikan uang untuk kamu secara cuma-cuma.” Jawab Billal.


Lidya sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa Billal mengetahui semua itu. Namun Lidya tetap tidak terpengaruh oleh ucapan pria itu. Bagaimanapun caranya dia tidak akan mau bekerja dengan Billal. Pria yang selalu menampakkan sorot mata tajam terhadapnya hingga sering membuat jantung Lidya berdegup tak beraturan.


“Maaf, Tuan. Saya tetap tidak mau bekerja dengan anda. Silakan lakukan saja apa yang membuat anda puas.” Jawab Lidya lalu menghempaskan tangannya dari cekalan tangan Billal.


Billal mengusap wajahnya dengan kasar saat mendapatkan penolakan dari Lidya. Entah kenapa perempuan itu sama sekali tidak takut dengan ancamannya. Rencana apa yang akan dilakukan Lidya setelah ini. walau sebenarnya ancamannya tadi hanya sebuah gertakan saja karena dia sangat menginginkan Lidya terus berada di dekatnya.

__ADS_1


Ya, selama Jenny dirawat di rumah sakit. Billal merasakan kenyamanan saat dekat dengan Lidya. Meski dia selalu menampakkan wajah datar di depan perempuan itu. Tapi jujur saja Billal sangat nyaman.


***


Seminggu berlalu. Kini keadaan Jenny sudah pulih seperti sedia kala. Diagnosis dokter yang mengatakan harus istirahat total selama kurang lebih 1-2 minggu, dalam waktu satu minggu Jenny sudah sembuh total. Namun seperti biasa, dia akan mulai mendesign di rumah saja sambil menemani Gita bermain.


“Permisi, Nyonya. Saya ingin berbicara penting dengan Nyonya.” Ucap Lidya yang baru saja datang setelah pulang dari butik.


“Ada apa, Lid? Katakan saja!” jawab Jenny.


“Mohon maaf sebelumnya Nyonya. Saya mau resign dari pekerjaan ini.” ucap Lidya sambil memberikan sebuah amplop yang diyakini berisi surat pengunduran diri.


“Kenapa, Lidya? Apa gaji yang saya berikan tidak cukup?” tanya Jenny kecewa.


“Bukan soal itu, Nyonya. Saya resign karena dua minggu lagi saya akan menikah.” Jawab Lidya sambil menundukkan kepalanya.


Lalu tak lama kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop berisi uang pemberian dari Jenny dulu yang ia gunakan untuk membayar hutang orang tuanya.


“Maafkan saya, Nyonya. Uang ini saya kembalikan karena sebenarnya uang itu bukan untuk mengobatkan ayah saya.” Ucap Lidya lalu bergegas pergi saat Jenny belum sempat mengatakan sesuatu.


.


.


.


*TBC


Like, komen, vote jangan lupa guys😁😁✌️✌️😘


Happy Reading‼️


 

__ADS_1


__ADS_2