
Iqbal dan Jenny sama-sama terkejut saat tiba-tiba Gita sudah berada di dekatnya sambil memanggil nama Papanya. Alhasil kegiatan intim mereka gagal. Walau anak kecil seperti Gita belum paham, namun tetap membuat Jenny sangat malu. Bahkan wajahnya memerah bak kepiting rebus. Sementara Iqbal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Untuk menghilangkan kecanggungan, akhirnya Iqbal mengajak Jenny dan Gita pergi jalan-jalan. Iqbal mengajak mereka pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. Dia ingin membelikan beberapa mainan untuk Gita sekaligus mengajaknya bermain.
Gita tampak senang saat Papanya mengajaknya masuk ke sebuah outlet penjual mainan. Gadis kecil itu sangat antusias memilih berbagai macam mainan kesukaannya. Iqbal pun membiarkannya saja. Dan Gita telah memasukkan banyak mainan ke dalam keranjang.
“Sayang, sudah ya jangan banyak-banyak.” Ucap Jenny sambil mengembalikan beberapa mainan ke tempatnya semula.
Bukannya nurut, Gita justru menangis karena tidak mau mainannya diambil. Padahal menurut Jenny, Gita sudah mempunyai mainan seperti di rumah.
“Kenapa? Biarkan saja dia mau mainan yang seperti apa.” Ucap Iqbal yang baru menghampiri keduanya.
“Tapi ini terlalu banyak Kak. Di rumah juga punya mainan yang seperti ini.” jawab Jenny.
Iqbal pun mencoba memberi pengertian pada putrinya. Dia membujuk Gita agar mengambil mainan secukupnya dan tidak mengambil mainan yang sudah dia punya. Akhirnya Gita pun menurut walau dengan iming-iming akan diajak bermain ke time zone.
Setelah puas memilih mainan, Iqbal mengajak Gita ke time zone. Gadis kecil itu bersorak senang saat memilih bermain mandi bola. Iqbal dan Jenny sangat senang melihat anaknya berbaur dengan anak kecil lainnya sambil bermandikan bola-bola. Jenny pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia mengambil beberapa tangkapan gambar Gita saat sedang bermain.
Puas bermain, kini saatnya pulang. namun sebelum pulang Iqbal mengajak anak dan istrinya makan ke foodcourt yang ada di mall itu. Gita yang sejak tadi kelelahan bermain, akhirnya anak itu tertidur lelap sebelum makanannya datang.
“Sini, biarkan Gita aku yang gendong. Kamu makanlah dulu.” Ucap Iqbal.
Jenny pun langsung memberikan Gita ke dalam pangkuan Iqbal. setelah itu dia makan, lalu bergantian dengan Iqbal.
Selesai makan, mereka bertiga langsung pulang. karena Gita juga sejak tadi sangat nyenyak tidurnya.
“Tadi malam aku sudah menghubungi Mama dan Papa. Aku meminta mereka agar pulang ke Indonesia.” Ucap Iqbal.
Jenny hanya mengangguk. Namun dalam hatinyab sedikit takut saat nanti menghadapi mertuanya. Karena terakhir dia bertemu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Iqbal melihat perubahan wajah iastrinya mendadak heran.
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?” tanya Iqbal.
“Aku takut Kak. Bagimana nanti Mama dan Papa saat bertemu denganku. Apakah mereka masih menerimaku sebagai menantunya?” tanya Jenny cemas.
“Kamu jangan khawatir. Nanti akan aku jelaskan semuanya pada Papa dan Mama.” Jawab Iqbal.
Setelah sampai rumah, Iqbal menggendong Gita dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Lalu Iqbal menyelimutinya dan memberikan kecupan lembut sebelum keluar dari kamarnya.
Saat Iqbal keluar dari kamarnya, dia melihat Jenny sedang duduk di sofa yang ada di lantai dua dekat dengan kamar Gita. Jenny terlihat sangat sibuk karena tangannya sedang memegang ponsel.
__ADS_1
“Apa kamu sedang sibuk?” tanya Iqbal yang sudah duduk di samping Jenny.
“Nggak, Kak. Hanya membalas pesan Lidya saja mengenai butik.” Jawab Jenny lalu meletakkan ponselnya.
Iqbal tiba-tiba saja merebahkan tubuhnya dengan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Jenny. Jenny yang belum siap, jantungnya dibuat mendadak berdegup kencang. Tapi Iqbal tidak peduli. Bahkan dia mencari tangan Jenny agar mengusap rambutnya.
Jenny mengusap lembut kepala Iqbal. dan akhirnya pria itu tertidur pulas di atas pangkuan istrinya. Jenny memandangi wajah teduh suaminya yang sedang tertidur. Dia mengulas senyum saat bisa merasakan kehangatan dari Iqbal yang telah lama tidak dia dapatkan. Akhirnya Jenny pun ikut tertidur dengan kepala menyandar pada sandaran sofa.
***
Sementara itu saat ini di ruang kerja Farah, tampak seorang perempuan dengan wajah tertekuk karena tidak bisa bertemu dengan Iqbal.
“Kamu masa nggak tahu sih Far, kemana Iqbal sampai tidak masuk kantor?” tanya Danisa.
Farah hanya memutar bola matanya malas karena entah sudah berapa kali Danisa mengulang pertanyaan yang sama. Farah sendiri pun tidak tahu karena Iqbal hanya menyampaikan kalau hari ini tidak bisa datang ke kantor.
“Ngapain juga sih kamu cari Iqbal? tahu sendiri kan kalau dia itu sangat dingin dan kaku sama siapa saja.” Tanya Farah.
“Justru itu yang membuat aku semakin tertantang. Aku sangat tertarik dengannya.” Jawab Danisa.
Farah bingung bagaimana cara memberitahukan pada Danisa agar berhenti mengejar Iqbal. dia juga merasa menyesal telah mendekatkan Danisa dengan Iqbal. namun melihat sifat Danisa yang seperti ini, Farah kesulitan mencari cara bagaimana agar Danisa tidak lagi mendekati Iqbal.
“Kamu kok jadi seperti ini sih, Far. Bukannya dulu kamu yang ingin ngenalin aku sama Iqbal?” ucap Danisa kesal.
“Iya. Tapi sepertinya akan susah. Iqbal juga belum bisa move on dari mantan istrinya.” Jawab Farah.
“Aku nggak peduli. Justru aku yang akan membuat Iqbal move on dari mantan istrinya.” Ucap Danisa lalu pergi meninggalkan ruangan Farah.
Farah menghembuskan nafasnya kasar. Dia juga semakin takut pada Iqbal dan juga suaminya jika Danisa masih tetap kukuh pada pendiriannya. Namun akan lebih baik jika Farah menceritakannya pada Galang, siapa tahu mendapatkan solusi.
Malam harinya Farah dan Galang berniat pergi ke rumah Iqbal. selain menanyakan kabar Iqbal, dia juga ingin tahu kenapa hari ini Iqbal tidak datang ke kantor.
Sesampainya di rumah Iqbal, Farah dan Galang mendengar celotehan anak kecil yang sedang asyik bermain dengan seseorang. Farah yang sangat penasaran, dia langsung menuju sumber suara dimana anak kecil itu berada.
“Bal, siapa dia?” tanya Farah tak percaya saat melihat Iqbal sedang bermain dengan anak kecil.
“Eh kalian kesini. Ayo silakan duduk.” Ucap Iqbal megabaikan pertanyaan Farah.
Sementara Galang yang baru saja memasuki ruang tengah juga sama terkejutnya saat melihat Iqbal sedang bersama anak kecil. Setelah itu Farah mendekati anak kecil itu.
__ADS_1
“Bukankah anak ini yang menumpahkan es krim ke celana kamu waktu itu?” tanya Farah.
“Ya. Namanya Brigita Putri Ganendra.” Jawab Iqbal.
“Apa hubungannya anak ini sama kamu, Bal?” tanya Farah yang masih belum paham.
“Dia anakku.” Jawab Iqbal.
Farah tergelak saat mendengar jawaban Iqbal. dia mengira Iqbal bercanda saat mengakui anak kecil itu adalah anaknya.
“Kamu kalau bercanda jangan kelewatan deh, Bal. memangnya anak dari mana?” tanya Farah.
“Memang benar dia anakku. Anak yang dikandung Jenny, istriku.”
“Kamu semakin ngelantur saja. Mana mungkin Jenny mengandung anak kamu? Yang ada anak hasil perselingkuhannya.” Ucap Farah sambil tersenyum mengejek.
Jenny yang sudah berada dalam ruangan itu menangis dalam diam saat mendengar semua ucapan Farah.
“Jenny??” panggil Galang terkejut.
.
.
.
*TBC
***************************
Reader: "Thor, please jgn ada pelakor/pebinornya dong. bosan tahu, nanti ceritanya kurang seru, bla...bla....bla..."
Othor: "bentar deh, emang ada masalah hidup apa sih kalian ttg pelakor & pebinor?"🤣🤣🤣🤣🤣. ingat, ini cuma fiksi loh! ikutin saja alurnya. kalau jantung dan hati kalian jedag jedug pas baca cerita ini, itu tandanya masih hidup🤣🤣🤣🙏🙏 sorry maksud othor, berarti kalian ikut terbawa arus😁😁✌️✌️
Reader: " Thor, jangan ada masalah lagi dong. buat Iqbal dan Jenny bahagia terus. mereka sudah cukup lama menderita."
Othor: "Kalau dibuat bahagia terus berarti ceritanya END dong😢😢😢"
Apa yg harus othor lakukan fergusooo???😂😂
__ADS_1
Ah sudahlah, Happy Reading aja lah‼️