
“Ehm…”
Jenny berdeham karena tidak tahan melihat kebersamaan Iqbal dengan Farah. Bahkan sepertinya Farah sengaja melakukan itu semua.
“Kamu sudah bangun, Jen?” tanya Iqbal saat melihat Jenny berjalan ke arahnya.
“Bagaimana keadaan Kak Iqbal?” tanya Jenny tak menjawab pertanyaan Iqbal.
“Aku keluar dulu beli sarapan.” Pamit Farah kemudian.
Kini hanya tinggal Iqbal dan Jenny saja yang ada di ruangan itu. Jenny masih setia berdiri di samping brankar Iqbal. keduanya saling terdiam dan bingung harus bicara apa.
“Maaf merepotkan kamu.” Ucap Iqbal memecah keheningan.
“Kak Iqbal jangan bilang seperti itu. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Justru aku sangat khawatir dengan keadaan Kakak.” Jawab Jenny dan membuat Iqbal tersenyum tipis.
“Apa ada yang Kak Iqbal butuhkan? Bagaimana luka di perut kakak?” tany jenny.
“Sudah lumayan. Tinggal rasa nyerinya saja. Ehm, aku butuh ke kamar mandi. bisakah aku minta bantuan kamu?” tanya Iqbal ragu.
Jenny menganggukkan kepalanya lalu membantu Iqbal untuk bangun dan memapahnya berjalan ke kamar mandi. jenny seperti sudah terbiasa melakukan itu, mengingat dulu saat Iqbal mabuk, dialah yang memapah Iqbal untuk berjalan.
Jenny ikut masuk ke kamar mandi untuk menggantungkan selang infus Iqbal. setelah itu dia keluar lagi dan membiarkan Iqbal buang air. Dan tak lama kemudian Iqbal memanggilnya lalu Jenny kembali masuk dan membantu Iqbal kembali ke brankarnya.
“Apa ada lagi yang Kak Iqbal butuhkan?” tanya Jenny dan Iqbal menggeleng.
Setelah itu Jenny memutuskan untuk masuk kamar mandi dan mencuci mukanya. Dia sadar kalau Iqbal belum mengganti bajunya. Jadi Jenny akan memutuskan keluar sebentar untuk membelikan baju untuk Iqbal setelah selesai dari kamar mandi.
Saat Jenny baru saja keluar dari kamar mandi ternyata di dekat brankar Iqbal sudah ada Farah berdiri di sana dan terlihat mereka berdua sedang bicara sambil sesekali melempar senyum.
“Kak, aku keluar dulu sebentar.” Pamit Jenny tiba-tiba.
“Mau kemana? Bisakah kamu membantu aku ganti baju dulu, karena Farah baru saja membawakan tasku kesini.” Ucap Iqbal dan berhasil menghentikan langkah Jenny.
“Ya sudah Bal, aku ke hotel saja nemenin Mami. Nanti hubungi aku jika ada apa-apa. Dan itu sarapan buat kamu Jen.” Ucap Farah lalu meninggalkan Iqbal dan Jenny.
“Terima kasih.” Jawab Jenny.
__ADS_1
Setelah itu Jenny mengambil tas Iqbal yang diletakkan di atas meja. Dia mengambil baju ganti Iqbal dan juga pakaian dalamnya. Jantung Jenny berdegup kencang saat mengambil benda keramat milik Iqbal. sebenarnya dia ragu untuk mengambilnya, tapi mana mungkin Iqbal tidak mengganti pakaian dalamnya.
“Tunggu sebentar, Kak.” Ucap Jenny lalu pergi ke kamar mandi.
Jenny membasahi handuk kecil dengan air hangat. Dia akan menyeka tubuh Iqbal terlebih dulu sebelum mengganti pakaiannya. Kini Iqbal sudah bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek saja. Muka Jenny memerah karena dihadapkan dengan Iqbal dalam kondisi seperti itu.
Perlahan Jenny menyeka tubuh Iqbal bagian atas dengan handuk yang sudah ia basahi dengan air hangat itu. Mereka berdua saling membuang pandangannya karena sama-sama canggung. Namun Jenny berusaha hati-hati agar tidak mengenai luka di bagian perut Iqbal. Setelah tubuh bagian atas selesai, kini Jenny mulai menyeka bagian paha dan kaki Iqbal. Jenny melakukannya dengan cepat.
Selesai menyeka tubuh Iqbal, Jenny mulai memakaikan kemeja Iqbal dengan hati-hati. Iqbal sejak tadi memandangi wajah Jenny yang tampak serius dan telaten saat melayaninya.
“Kak, ehm bagiamana cara menggantikan cellana dalamnya?” tanya Jenny ragu dengan suara lirih.
“Ya tinggal ganti aja.” Jawab Iqbal tanpa beban dan seketika mata Jenny melotot tak percaya.
“Eh kamu tadi tanya apa?” tanya Iqbal setelah sadar salah bicara.
“Itu, bagaimana cara ganti cellana dalam kakak?” tanya Jenny lagi dan kini wajah Iqbal yang memerah karena malu.
Akhirnya Iqbal memberikan saran dengan menutupnya pakai selimut. Setelah itu meminta Jenny melepasnya dengan menyusupkan tangannya di balik selimut itu. Sungguh perjuangan besar Jenny melakukan itu semua. Dalam hati dia merapalkan banyak doa agar dia selamat tanpa hambatan saat melepas dan memakaian cellana dalam suaminya.
“Arrgghhhh!!!” teriak Jenny saat merasa tangannya menyentuh sesuatu.
“Ssstt…! Kamu jangan takut, ini tanganku. Aku coba bantu kamu biar cepat selesai.” jawab Iqbal.
Muka Jenny bertambah merah ternyata dia telah salah sangka. Namun hatinya sangat lega karena tidak menyentuh sesuatu yang sejak tadi sudah dia bayangkan. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Jenny telah menyelesaikan pekerjaannya.
“Terima kasih, Jen.” Ucap Iqbal.
Tak lama kemudian datang seorang dokter dan perawat yang akan memeriksa kondisi Iqbal. Jenny pun menungguinya di samping brankar Iqbal. dan dokter menyarankan agar Iqbal dirawat selama tiga atau empat hari lagi sampai keadaannya benar-benar pulih.
Siang harinya Nyonya Sarah dan Farah datang menjenguk Iqbal. keadaan Nyonya Sarah sudah membaik. Iqbal pun ikut senang mendengarnya.
“Iqbal, nanti sore saya akan pulang terlebih dulu. Karena saya tidak bisa meninggalkan kantor terlalu lama.” Ucap Nyonya Sarah.
“Maafkan saya Nyonya, gara-gara saya anda harus meninggalkan perusahaan.” Ucap Iqbal.
“Kamu jangan bilang seperti itu. Justru saya sangat berterima kasih karena kamu telah menyelamatkan saya. Saya punya banyak hutang budi sama kamu. Semoga kamu segera pulih dan bisa kembali lagi bekerja.” Ucap Nyonya Sarah.
__ADS_1
“Aku akan ikut Mami pulang, Bal. kamu nggak apa-apa kan?” tanya Farah dan membuat Jenny lagi-lagi terusik.
“Nggak apa-apa.” Jawab Iqbal.
“Ya sudah kalau gitu kami kembali lagi ke hotel, dan kamu tolong jaga Iqbal dengan baik.” Ucap Farah pada Jenny.
Setelah itu Farah dan Nyonya Sarah berpamitan dan kembali ke hotel. Sedangkan Jenny memasang wajah murung setelah mendengar pernyataan Farah tadi.
“Jangan diambil hati, Farah memang seperti itu orangnya.” Ucap Iqbal.
“Sepertinya Kak Iqbal sangat dekat dengannya.” Ucap Jenny masam.
“Ya karena kami selalu banyak waktu berinteraksi.” Jawab Iqbal, namun membuat Jenny semakin panas.
“Tunggu, kenapa kamu marah Jen?” tanya Iqbal saat berhasil mencekal lengan Jenny.
“Aku nggak marah. Ya sudah terserah Kak Iqbal saja mau dekat dengan siapa. Mungkin saat itu ucapan kakak hanya kebohongan belaka.” Jawab Jenny.
“Ucapan apa?” tanya Iqbal semakin bingung.
“Sudahlah Kak lupain saja. Lebih baik sekarang Kak Iqbal makan dulu setelah itu minum obatnya.” Jawab Jenny mengalihkan pembicaraan.
“Tidak. Aku mohon, apa yang sudah aku katakan padamu hingga kamu menganggap aku hanya berbohong.” Tanya Iqbal.
“Saat Kak Iqbal mabuk, kakak bilang mencintaiku.”
.
.
.
*TBC
Cie cie.... suit...suit...😂😂
Happy Reading‼️
__ADS_1