Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 81


__ADS_3

Galang sangat khawatir melihat wajah Farah tiba-tiba pucat. Dengan cepat dia menelepon dokter keluarga agar segera memeriksa keadaan istrinya. Dan tak menunggu lama akhirnya dokter pun datang.


“Apa yang terjadi dengan istri saya, Dok?” tanya Galang cemas.


“Anda tidak perlu khawatir. Saya hanya memberikan beberapa vitamin saja untuk istri anda. Dan setelah sadar nanti ajaklah istri anda ke rumah sakit untuk memastikan kalau istri anda tengah hamil.” Jawab Dokter Alya.


“Apa? Hamil, dok?” tanya Galang tak percaya. Dan dokter Alya mengangguk tersenyum.


Galang sangat bahagia mendengar kabar ini. walau kata dokter Alya dirinya masih disuruh memeriksakan kandungan Farah, namun dia sudah sangat yakin kalau Farah benar-benar sedang mengandung calon buah hatinya.


***


Pagi ini Iqbal dan Jenny sedang menyiapkan beberapa baju mereka ke dalam koper yang akan dibawa untuk berbulan madu. Sejak tadi Gita juga ikut membantu Mamanya, walau cenderung membuat rusuh.


Tok tok tok


Kay masuk ke dalam kamar Jenny. Dia tersenyum melihat Gita asyik mengacak-acak pakaian yang sudah dimasukkan ke dalam koper. Dan Jenny juga membiarkannya saja.


“Sayang, Om Billal baru saja datang. Nanti kamu dan suami kamu biar diantar Billal saja ya ke bandaranya.” Ucap Kay.


“Kenapa, Ma? Apa Om Billal nggak sibuk? Jenny nggak enak kalau merepotkannya.” Ujar Jenny merasa tak enak.


“Mama dan Papa ada urusan sebentar dengan mertua kamu. Jadi nanti Lidya juga ikut agar bisa membujuk Gita kalau dia nangis.” Jawab Kay.


“Ya sudah Ma, kalau begitu. Biar Jenny hubungi Lidya dulu.”


Setelah beberapa saat, Jenny sudah menyiapkan semua baju-bajunya. Dia juga sudah tampak rapi. Pukul 10 paagi Iqbal dan Jenny pergi ke bandara dengan diantar oleh Billal.


“Om, sekali lagi terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk mengantar kita ke bandara. Bahkan paket honeymoonnya juga dari Om.” Ucap Jenny.


“Nggak masalah. Lagi pula aku juga sedang nggak ada kegiatan. Siapa tahu nanti Gita nangis saat melihat kamu pergi.” Jawab Billal sambil mengusap kepala Gita.


Sedangkan Iqbal tampak sibuk dengan gadgetnya. Dia duduk di sebelah istrinya di jog belakang. Sementara Lidya duduk di depan di samping Billal sambil memangku Gita.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai bandara. Jenny menggendong Gita dan menciuminya sampai puas sebelum pesawat yang ditumpanginya lepas landas. Begitu juga dengan Iqbal.


“Terima kasih, selama ini sudah menyayangi Gita.” Ucap Iqbal pada Billal.


“Ya. Gita sudah aku anggap seperti anakku sendiri.” Jawab Billal.


“Kenapa kamu nggak berniat memiliki anak sendiri?” tanya Iqbal dan Billal hanya terdiam.


“Sorry, kalau pertanyaanku salah.” Tambah Iqbal.


“Hmm.. sudahlah kalian berangkat saja. Selamat bersenang-senang.” Jawab Billal kemudian.


Setelah itu Iqbal mendorong kopernya. Sedangkan Jenny memberikan Gita pada Lidya. Gadis kecil itu tidak menangis sama sekali. Mungkin dia belum mengerti kemana dan berapa lama Mama dan Papanya akan pergi. Gita juga melambaikan tangannya saat melihat kedua orang tuanya menaiki pesawat.


Namun saat peswat yang ditumpangi oleh Iqbal dan Jenny sudah take off, tiba-tiba saja Gita menangis mencari Mama dan Papanya. Lidya tampak kesusahan menenangkan Gita yang menangis sambil memukul-mukul.


“Gita, sttt.... diam Sayang. Nanti kita beli mainan ya? Atau kita beli boneka? Mau yang mana Sayang.” Bujuk Lidya.


“Mama…mama….Papa…papa!” teriak Gita sambil terisak.


***


Saat ini Iqbal dan Jenny masih dalam pesawat. Mereka berdua akan menhabiskan bulan madu mereka di sebuah tempat yang sangat bagus dan kaya akan keindahan pantainya. Mereka berencana akan menghabiskan waktu kurang lebih selama 3-4 hari saja. Selain Jenny tidak bisa meninggalkan Gita terlalu lama, Iqbal juga harus kembali ke kantor.


“Apa kamu bahagia?” tanya Iqbal menggenggam tangan Jenny.


“Iya, Mas. Tanpa pergi berbulan madu pun aku sudah bahagia asal ada kamu di sisiku.” Jawab Jenny.


Iqbal tersenyum. Dia juga membenarkan ucapan istrinya. Sebenarnya kegiatan bulan madunya tidak terlalu penting. Mengingat dirinya bukan lagi pengantin baru seperti pada umumnya. Dia pun bisa melukukan kegiatan panasnya di rumah tanpa harus jauh-jauh pergi. Karena ada anaknya yang ia tinggalkan di rumah. selain itu dia juga tidak enak jika menolak kado pemberian Billal.


Memang dulu sebelum acara pesta itu digelar, baik Iqbal maupun Jenny sangat antusias ingin pergi berbulan madu. Namun ternyata keduanya sama-sama memikirkan Gita. Karena selama ini Jenny tidak pernah meninggalkan anaknya dalam waktu beberapa hari.


Perjalanan udara kurang lebih selama dua jam setengah, akhirnya sudah membawa mereka ke tempat dimana mereka akan berbulan madu. Iqbal dan Jenny segera memesan taksi untuk menuju resort dimana mereka akan menginap.

__ADS_1


Jenny sangat takjub dengan keindahan resort yang berada di pesisir pantai itu. Lalu Iqbal segera mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar dulu beristirahat sebelum nanti malam menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan dan tentunya diakhiri dengan enak-enak di dalam kamar.


“Mas, aku tidur dulu ya. Aku sudah sangat ngantuk.” Ucap Jenny langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengganti pakaiannya terlebih dulu.


Iqbal hanya mengangguk. Dia segera mengganti pakaiannya dan mencuci mukanya sebelum ikut menyusul istrinya tidur siang.


Sore harinya Jenny terbangun lebih dulu. Dia melihat suaminya yang tampak tertidur pulas disampingnya. Jenny menarik sudut bibirnya tersenyum. Lalu dia mengecup sekilas kening suaminya lalu segera beranjak dan masuk ke kamar mandi.


Setelah beberapa saat, Jenny sudah menyelesaikan kegiatan mandinya. Iqbal yang sudah terbangun kini bergantian mandi. karena mereka berdua sebentar lagi akan keluar resort untuk jalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati indahnya langit saat matahari terbenam.


“Apakah Gita baik-baik saja?” tanya Iqbal pada istrinya.


“Iya. Lidya tadi bilang dia baru saja pulang dari mall mengajak jalan-jalan Gita bersama Om Billal.” Jawab Jenny.


“Ya sudahlah kalau begitu. Anak itu sangat menggemaskan sekali. Belum ada sehari kita berpisah, aku sudah merindukannya.” Ucap Iqbal.


“Jangankan kamu, Mas. Aku saja yang setiap hari bersamanya juga merindukannya. Karena baru kali ini aku meninggalkannya pergi jauh.” Ucap Jenny.


“Ya sudah, kita nikmati saja dulu waktu kita disini untuk membuat adiknya Gita.” Goda Iqbal sambil tersenyum smirk.


Jenny tidak mempedulikan ucapan suaminya. Dia memilih segera keluar dari kamar dan akan pergi ke restaurant dulu untuk melakukan makan siang yang tertunda.


Kini Iqbal dan Jenny sudah berada di tepian pantai. Mereka berjalan bergandengan tangan sambil melihat langit senja yang sangat bagus. Iqbal tak hentinya mengucap syukur atas kebahagiaannya saat ini.


“Jangan lagi kalian pergi dari hidupku. Kita hadapi semua masalah yang akan hadir dalam perjalanan rumah tangga kita nanti. Dan hati kamu jangan pernah goyah. Percayalah kalau aku sangat mencintaimu.” Ucap Iqbal sambil memeluk erat tubuh Jenny dengan menikmati indahnya pantai.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Jangan lupa selalu tinggalkan like, komen, vote, dan giftnya ya guys😉😘😘


Happy Reading‼️


__ADS_2