Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 100


__ADS_3

Iqbal memasuki ruangannya dengan jas yang sudah ia lepas. Dia sangat risih karena bau dari tubuh Danisa masih menempel di jasnya.


“Ada apa pagi-pagi muka sudah ditekuk seperti itu?” tanya Galang yang baru saja masuk ruangannya.


“Selama aku tidak masuk, apa kamu tidak pernah tahu keributan yang terjadi setiap pagi di depan gerbang kantor?” tanya Iqbal.


“Apa kamu sudah tahu semuanya?” tanya Galang yang mengerti maksud pertanyaan sahabatnya.


Iqbal hanya berdecak kesal. Dia menceritakan pada Galang bahwa Danisa baru saja berhasil masuk dan mengejar mobilnya yang menuju dapur. Bahkan wanita gila itu sampai memeluknya dengan erat. Galang terkejut mendengarnya. Karena beberapa kali dia melihat Danisa setiap pagi di depan gerbang kantor, dia sudah meminta satpam untuk mengusirnya. Dan hari ini dia tidak menyangka kalau Danisa berhasil menemui Iqbal.


“Maafkan aku, Bal. nanti biar aku urus dan meminta orang untuk membawanya ke rumah sakit jiwa.” Ucap Galang.


Iqbal membuang jasnya ke dalam tong sampah, lalu duduk di kursi kerjanya. Suasana hatinya pagi ini masih berantakan setelah bertemu dengan Danisa. Padahal niatnya pagi ini akan mengajak Galang dan Farah berbicara membahas perusahaan.


“Baiklah, kamu boleh keluar dulu dari ruanganku. Nanti siang, aku mengajak kalian makan siang bersama di restaurant yang ada di seberang kantor.” ucap Iqbal.


“Maksud kamu, aku sama Farah? Ada apa?” tanya Galang penasaran.


“Sudah, nanti saja. Sekarang moodku benar-benar rusak gara-gara Danisa.” Jawab Iqbal.


Galang pun mengerti, akhirnya dia memutuskan keluar dari ruangan Iqbal dan akan memberitahu istrinya tentang makan siang bersama Iqbal nanti.


Iqbal meraih ponselnya dan mencari nama istrinya. Mungkin dengan melakukan panggilan video dengan istri dan anaknya bisa mengembalikan moodnya yang berantakan itu.


“Iya, Mas ada apa?” tanya Jenny saat sesaat sambungan teleponnya terhubung.


“Kamu sedang apa? Dimana Gita?” tanya Iqbal.


“Ini Gita sedang bermain. Ada apa, kenapa wajah kamu cemberut begitu, Mas? Apa ada masalah?” tanya Jenny khawatir.


Iqbal menarik nafasnya panjang setelah itu menceritakan kejadian yang baru saja dia alami. Jenny terkejut sekaligus tidak percaya setelah Iqbal mengatakan kalau Danisa sudah mulai gila. Sebenarnya dalam hati Jenny sangat iba dan kasihan mendengar keadaan Danisa seperti itu. Namun itu semua adalah hukuman dari perbuatan yang ia lakukan.


“Apa Mas yakin kalau dia tidak akan kembali lagi ke kantor?” tanya Jenny.


“Tadi Galang sudah bilang akan mengatasi itu semua. Dan akan mengirim Danisa ke rumah sakit jiwa.” Jawab Iqbal.

__ADS_1


“Oo syukurlah kalau begitu. Aku juga ikut tenang. Lalu bagaimana tadi saat dia memelukmu, Mas? Apakah pelukannya sangat nyaman?” tanya Jenny sengaja menggoda suaminya.


“Ck, kamu ini ngasih pertanyaan nggak masuk akal sekali. Yang ada aku membuang jasku karena baunya sangat menyengat.” Jawab Iqbal.


“Sekarang bau menyengat, tapi dulu sangat harum kan Mas?” Jenny kembali menggoda suaminya.


“Mana aku tahu. Aku nggak pernah tahu bagaimana bau parfumnya dulu. Kamu jangan aneh-aneh ya, Sayang pertanyaannya.” Muka Iqbal bertambah jutek.


“Nah gitu dong jutek, malah terlihat semakin menggoda. Uhhh andai saja ada di dekatku, pasti-“


“Pasti apa?” potong Iqbal dengan cepat.


“Pasti akan aku kecup bibir jutek itu.” Jawab Jenny dengan nada sedikit sensual.


Bukannya Iqbal terhibur, pria itu justru membayangkan bibirnya sedang dilumatt istrinya. Dan terpaksa membuat Iqbal menahan gairahhnya karena sedang berjauhan dengan sang istri. Jenny justru tertawa puas melihat suaminya seperti menahan sesuatu. Dan dengan cepat dia memutuskan sambungan teleponnya.


“Awas kamu nanti kalau sudah di rumah. nggak bakal selamat.” Gumam Iqbal dengan senyum smirk.


Meskipun harus menahan gejolak itu, setidaknya mood Iqbal perlahan membaik setelah berbincang dengan istrinya. Setelah itu dia memulai pekerjaannya dengan memeriksa beberpa dokumen yang baru saja dikirim oleh Galang melalui emailnya.


Jam makan siang pun tiba. Iqbal sudah menyelesaikan pekerjaannya. Lalu dia keluar dari ruangannya dan pergi menyusul Galang dan Farah yang sudah pergi ke restaurant terlebih dulu.


“Kenapa buru-buru? Bukankah setelah makan siang masih bisa dilanjutkan?” tanya Galang heran.


“Nggak. Setelah ini aku akan pulang.” jawab Iqbal.


Beberapa saat kemudian makanan mereka datang. Iqbal sengaja membicarakan maksudnya sambil makan agar tidak terkesan santai. Karena dia juga tidak mau membuat Farah bersedih setelah mendengar perkataannya nanti.


“Bagaimana kandungan kamu, Far? Apakah keponakanku baik-baik saja?” tanya Iqbal.


“Iya. Dia sehat. Aku sangat bersyukur karena kehamilanku ini tidak terlalu menyiksaku juga Galang.” Jawab Farah sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.


“Sykurlah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya. Kalian jagalah amanat dari Tuhan itu dengan baik.” Ucap Iqbal tulus.


“Iya, pasti Bal. aku doakan istri kamu juga segera hamil.” Ucap Galang dan diangguki oleh Iqbal.

__ADS_1


“Far, kamu masih ingat wasiat dari Mami kamu bukan? Sepertinya aku tidak bisa lama-lama duduk di kursi kepemimpinan perusahaan ini. Galang lah yang lebih cocok. Kalian sebentar lagi juga akan mempunyai anak, tanggung jawab kalian juga sangat besar jika anak itu sudah lahir ke dunia ini.” ucap Iqbal.


“Kamu jangan seperti itu, Bal. aku sama sekali tidak masalah jika perusahaan ini kamu pimpin.” Ucap Galang.


Sementara Farah tidak bisa berkata-kata, karena dia sudah bisa menangkap maksud ucapan Iqbal yang akan menyerahkan jabatannya pada sang suami.


“Tidak. Aku tidak mau berada di posisi seperti ini terus. Kamu lah yang lebih pantas, Lang. Aku sudah membicarakan semua ini dengan Jenny. Aku akan membangun perusahaan kecil sendiri dari hasil jerih payahku selama ini. aku mohon, kamu jangan menolaknya, Lang. karena itu sama saja kamu menentang wasiat yang telah diberikan oleh mendiang Nyonya Sarah.” Ucap Iqbal.


Farah mengusap sudut matanya yang berair. Memang benar yang dikatakan oleh Iqbal. Galang laah yang berhak dengan prusahaannya. Tapi entah kenapa dia merasa tidak rela kalau nanti Iqbal akan pergi jauh darinya. Mengingat Iqbal sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.


“Apakah kamu akan pergi dan menjauhi kami?” tanya Farah yang sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.


“Astaga Farah! Kamu jangan berpikir seperti itu. Aku akan membangun usahaku di kota ini juga. bahkan nanti kita bisa menjalin kerjasama. Bukankah aku juga memiliki saham di perusahaan kamu?” ucap Iqbal.


Galang memeluk istrinya yang medadak mellow. Mungkin karena bawaan ibu hamil yang perasaannya sangat sensitif.


“Bagaimana? Apa kamu rela melepas aku? dan kepemimpinan perusahaan akan berganti ke tangan suami kamu.” Tanya Iqbal.


“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan kamu.” Ucap Farah.


“Tapi aku kurang percaya diri jika jabatan Ceo berganti tangan padaku.” sahut Galang.


“Lalu bagaimana? Apakah kamu ingin aku mencari suami lagi agar mau menjadi Ceo perusahaan ini?” tanya Farah menggoda dengan muka dibuat cemberut.


Galang pun menjewer telinga istrinya, karena menurutnya ucapan Farah sangat tidak masuk akal.


“Iya-iya aku mau.” Jawab Galang akhirnya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Alur slow ya guys, dan konflik ringan. semoga masih setia mengikuti cerita ini sampai akhir😁🤗😘


Happy Reading‼️


__ADS_2