
Sedetik kemudian rasa keterkejutan Gita perlahan mulai hilang. Seperti sebelumnya, dia juga pernah melihat kejadian seperti ini. maklum saja, Axel dari dulu memang terkenal playboy. Jadi wajar saja dia banyak digandrungi oleh beberapa perempuan cantik.
“Mona, please jangan seperti ini!” perlahan Axel menurunkan tangan Mona yang sedang bergelayut manja di pundaknya.
Akhirnya perempuan yang bernama Mona itu terpaksa menurunkan tangannya, kemudian mengambil duduk tempat di samping Axel. Sedangkan Gita masih terlihat santai saja sambil memilih menu makanannya.
“Siapa perempuan itu, Xel?” Tanya Mona.
“Aku adiknya Kak Axel. Perkenalkan namaku Gita.” Ucap Gita sebelum Axel menjawab pertanyaan Mona. Lalu Gita mengulurkan tangannya.
"Oh adik? Syukurlah, aku kira sainganku." jawab Mona acuh tak membalas uluran tangan Gita.
Gita pun akhirnya menurunkan tangannya. Setelah selesai memilih menu makanan, Gita memainkan gadgetnya daripada melihat keasyikan pasangan yang sedang duduk di depannya.
Axel merasa tidak enak dengan Gita. Rencananya mengajak Gita makan siang berdua gagal karena kedatangan Mona secara tiba-tiba.
Mona adalah salah satu teman Axel. Bukan teman sekolah maupun kuliah dulu, melainkan teman nongkrong di club.
Perlu diketahui, meskipun Axel terkenal playboy dan sering main di club, namun laki-laki itu sama sekali tidak pernah yang namanya menjalin cinta satu malam atau bahasa kerennya sekarang one night stand.
Namun tidak menutup kemungkinan, laki-laki itu sering dikerubungi beberapa wanita cantik saat sedang nongkrong bersama teman-temannya. Kebanyakan wanita cantik itu lah yang menginginkan lebih pada Axel, namun Axel selalu menghindar.
Makan siang mereka bertiga berlangsung cukup singkat. Axel lah yang berbohong sedang ada urusan pekerjaan, jadi dia memilih cepat pergi dari tempat itu.
"Ya sudah, sampai bertemu lagi ya, Xel. Aku senang sekali bisa makan bareng kamu. Kesempatan langkah loh ini." ucap Mona sebelum pergi.
"Ya udah, yuk pulang Git!" ajak Axel tanpa mempedulikan Mona.
Mona tidak terlalu peduli. Baginya yang terpenting dia sangat senang mendapatkan kesempatan makan siang bersama Axel. Laki-laki yang paling diincar para wanita.
Sedangkan saat ini Axel dan Gita sudah berada dalam mobil. Axel akan mengantar Gita pulang ke rumahnya walau dia masih ingin menikmati moment berdua dengan Gita.
"Beneran kamu mau pulang?" tanya Axel dan membuat Gita bingung.
"Bukannya tadi Kak Axel bilang buru-buru?" tanya Gita.
"Ehm, tadi aku hanya berbohong pada Mona." jawab Axel.
Kemudian Axel menceritakan pada Gita kalau dirinya tidak ada hubungan apa-apa dengan Mona. Bahkan dia sangat risih dengan keberadaan Mona tadi. Gita yang mendengarnya bukannya prihatin, tapi malah menertawakan Axel.
__ADS_1
"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?" tanya Axel kesal.
"Sorry, Kak. Aku hanya tidak menyangka saja, sejak kapan seorang playboy sangat risih dengan kehadiran wanita cantik? Lucu tau nggak sih, Kak." jawab Gita masih cekikikan.
"Perlu kamu tahu, aku bukan playboy. Mereka sendiri yang mendekatiku." ucap Axel dengan mendekatkan wajahnya pada Gita.
Seketika tawa Gita hilang berganti dengan degupan jantung yang tak beraturan. Bahkan hembusan hangat nafas Axel yang menyapu wajahnya dapat ia rasakan.
"Kak, jangan begini!" ucap Gita mencoba menghindar.
"Kenapa hemm?" tanya Axel tak merubah posisinya.
"Nanti ada yang lihat. Siapa tahu tiba-tiba ada kekasih Kak Axel." jawab Gita asal.
Axel pun akhirnya menjauhkan tubuhnya dari Gita. Tanpa menjawab Gita, laki-laki itu segera menghidupkan mesin mobilnya dan segera pergi meninggalkan parkiran.
Keduanya saling terdiam selama perjalanan pulang. Entah apa yang sedang mereka pikirkan saat ini. tak seorang pun tahu.
Sesampainya di rumah Gita, perempuan itu segera keluar dari mobil tanpa mengucapkan sesuatu pada Axel. Begitu juga dengan Axel, dia langsung mengemudikan mobilnya pulang.
***
Hari berganti. Gita masih sibuk menyelesaikan skripsinya. Karena targetnya tahun ini harus lulus. Setelah itu dia akan bekerja di perusahaan milik Papanya.
"Sidang kapan, Git?" tanya Dimas saat mereka berdua sedang duduk santai di kantin karyawa.
"Doakan bulan depan ya ,Kak! Biar aku ikut wisuda tahun ini juga." jawab Gita.
"Pasti. Semoga sidangnga lancar! Semangat ya!" ucap Dimas menyemangati.
Gita tersenyum tipis mendapatkan semangat dari Dimas. Begitu juga dengan Dimas. Laki-laki itu ikut senang mendengar kalau Gita sebentar lagi akan sidang skripsi.
Tanpa sepengetahuan Gita dan Dimas, ternyata sejak tadi Axel melihat mereka berdua. Axel juga berada dalam kantin setelah tadi dirinya menemui Papa Gita untuk memberikan beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan Iqbal.
Lagi-lagi hati Axel sesak saat melihat kedekatan Gita dan Dimas. Axel pun tahu kalau sosok Dimas memanglah sosok laki-laki sempurna. Pantas saja Iqbal juga sangat percaya dengan kinerjanya.
Akhirnya Axel memutuskan untuk kembali ke kantornya. Daripada melihat kebersamaan Gita dengan Dimas.
Sesampainya di kantor, Axel memberikan berkas itu ke Papanya dengan wajah yang ditekuk. Papanya pun heran melihat anaknya yang seperti sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Kenapa? Apa ada masalah dengan berkas ini?" tanya Felix.
"Ehm, nggak kok Pa. Nggak ada apa-apa." jawab Axek lalu keluar dari ruangan Papanya.
"Nanti malam pulanglah ke rumah. Kasihan Mama kamu merindukan kamu." ucap Felix menghentikan langkah Axel.
"Iya, Pa!" jawab Axel singkat.
Memang selama ini Axel ebih sering tinggal di apartemennya daripada tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia tidak ingin dimarahi sama Mamanya jika terkadang pulang dari club dalam keadaan mabuk. Jadi Axel memilih tinggal di apartemen.
Malam harinya, seperti yang dikatakan oleh Papanya tadi siang. Saat ini Axel sudah berada di rumah kedua orang tuanya. Lebih tepatnya saat ini dia sedang makan malam bersama Mama dan Papanya.
"Mama senang akhirnya anak Mama ingat jalan pulang." ucap Nia menyindir anak laki-lakinya.
"Ya, Ma maaf. Akhir-akhir ini Axel sibuk." jawab Axel sekenanya.
"Sibuk dengan dunia kamu maksudnya?" Nia kembali bertanya.
"Sudah sudah, lebih baik selesaikan dulu makannya!" potong Felix cepat karena tidak ingin mendengar perdebatan antara istri dan anaknya.
Akhirnya anak dan ibu itu terdiam dan memilih menyelesaikan makan malamnya. Nia sebenarnya ingin protes pada suaminya yang selalu membela Axel, namun ia urungkan.
Selesai makan malam, kini Axel sudah duduk santai bersama Mama dan Papanya. Namun beberpa saat kenudian Felix mendapatkan telepon dari temannya dan meninggalkan ruang tengah.
"Kapan kamu mengenalkan calon menantu Mama?" tanya Nia tiba-tiba.
"Axel belum mempunyai calon, Ma. Lagi pula umur Axel masih 23 tahun. Masih jauh memikirkan pernikahan." jawab Axel.
"Yakin? Kalau nanti calon menantu Mama keburu diambil orang, kamu nggak kecewa?" tanya Nia lagi.
"Maksud Mama apa sih?" tanya Axel bingung.
"Gita. Calon menantu Mama."
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️