
“Beneran kamu nggak apa-apa, Bal?” tanya Galang.
“Iya. Aku baik saja.” Jawab Iqbal.
Galang sangat tahu sikap sahabatnya yang tidak mudah mencurahkan isi hatinya. Dari gelagatnya saja dia sudah tahu kalau Iqbal sepertinya sedang ada masalah yang sedang disembunyikan. Tapi Galang juga tidak berani mengorek informasi lebih dalam mengenai kehidupan pribadi sahabatnya.
“Bagaimana kehidupan rumah tangga kamu Bal?” tanya Galang tiba-tiba.
Iqbal mendapat pertanyaan dari Galang hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Sebenarnya dia memang sedang butuh seseorang untuk memberikan solusi dari masalah yang sedang dihadapinya tapi dia juga tidak tahu harus memulai dari mana.
“Kita hanya sedang berdua, katakan jika kamu memang sedang ingin bicara sesuatu. Walau aku sendiri juga belum pernah hidup berumah tangga.” Ucap Galang.
“Entahlah Lang. aku nggak tahu bagaimana rumah tanggaku saat ini.” jawab Iqbal akhirnya.
Akhirnya Iqbal menceritakan pada Galang tentang Jenny yang meminta cerai setelah satu tahun usia pernikahannya nanti. Awalnya Galang sangat terkejut dan tidak percaya bahwa Jenny bisa mengajukan permintaan seperti itu.
“Dia nggak cinta sama aku Lang. kamu tahu sendiri kan kalau pernikahanku hanya untuk menutupi aib keluarga besar Tuan Vito. Jenny juga sudah memiliki kekasih.” Ucap Iqbal.
“Ya aku tahu itu. Apa kamu nggak cinta sama Jenny?” tanya Galang dan Iqbal terdiam.
“Apa kamu sama sekali nggak cinta Jenny, Bal?” Galang mengulang pertanyaannya.
“Bukankah aku sudah bilang kalau Jenny sudah memiliki kekasih. Bahkan dia juga berasal dari keluarga yang sepadan. Rasanya Jenny memang sangat sulit digapai.” Jawab Iqbal sambil pandangannya menerawang jauh.
Dari jawaban yang diberikan Iqbal, Galang sudah bisa menyimpulkan kalau sahabatnya itu sudah jatuh cinta pada perempuan yang berstatus sebagai istrinya sendiri.
“Waktu satu tahun bisa kamu gunakan dengan baik Bal. jika kamu memang tidak menginginkan perceraian itu, kamu bisa mengambil hati Jenny secara perlahan. Aku yakin hati seseorang bisa berubah.” Ucap Galang.
“Tidak mungkin, Lang. dia hanya menganggapku sebagai Kakak. Tidak lebih dari itu.” Ucap Iqbal.
“Yakinlah dulu. Jangan pesimis gitu. Meskipun dia meminta hubungan hanya sebatas adik kakak, setidaknya kamu bisa memberikan perhatian lebih padanya. Lama-lama juga Jenny akan tertarik sama kamu.” Ucap Galang.
Iqbal hanya diam. Tapi dia membenarkan ucapan sahabatnya. Dia akan memberikan perhatian pada Jenny. Biarlah gadis itu menganggap dirinya sebagai seorang kakak. Iqbal juga tidak peduli dengan Xavier.
“Kalau demi cinta, bersikap egois terkadang memang diperlukan.” Ucap Galang.
***
__ADS_1
Sudah beberapa hari ini kehidupan rumah tangga Iqbal dan Jenny berjalan seperti biasa. Tapi kini ada yang sedikit berubah. Iqbal sudah tidak melarang Jenny melakukan pekerjaan rumah. dia membiarkan Jenny melakukan apapun sesuka hatinya. Termasuk memasak. Bahkan terkadang Jenny meminta pada Iqbal untuk diajari membuat nasi goreng yang katanya sangat enak.
Iqbal tidak lagi peduli jika statusnya sebagai suami yang tak dianggap. Karena Jenny masih menganggapnya sebagai seorang kakak, tidak lebih. Tapi Iqbal tetap memberikan perhatiannya seperti yang pernah dikatakan oleh Galang.
***
“Kebetulan besok weekend, apa kamu mau pergi ke suatu tempat?” tanya Iqbal saat sedang sarapan bersama Jenny.
“Ehm, sepertinya kita butuh belanja bahan makanan deh Kak. Karena akhir-akhir ini bahan makanan yang Kak Iqbal beli aku habiskan untuk belajar memasak, maaf.” Ucap Jenny tak enak.
“Nggak masalah. Lakukan apapun yang membuat kamu senang. Ya sudah besok kita belanja saja.” Jawab Iqbal.
Setelah sarapan, Iqbal langsung berangkat bekerja. Sedangkan Jenny membereskan sisa-sisa makanan dan mulai membersihkan rumah. kegiatan itu sudah mulai terbiasa Jenny lakukan. Dia juga sangat menikmati pekerjaan itu.
Dan selama ini hubungan Jenny dan Xavier juga baik-baik saja. Sampai saat ini mereka masih bertukar kabar melalui sambungan telepon atau terkadang video call. Pekerjaan Xavier yang sangat sibuk membuatnya harus mengurungkan niatnya berkunjung ke kota B. Jenny pun tidak keberatan kan hal itu.
***
Sementara itu Iqbal yang baru saja sampai di tempat kerjanya, dia langsung disuruh menemui Pak Halim ke ruangannya. Iqbal masih berusaha tenang walau perasaannya tidak enak. Apakah dirinya melakukan kesalahan fatal sampai menyebabkan Pak Halim memanggilnya.
Hati Iqbal sedkit lega walau dia belum tahu apa maksud Pak Halim memanggilnya. Karena dari raut wajah pria itu tampak tersenyum padanya, sepertinya memang tidak ada kesalahan yang dia lakukan.
“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu kesini?” tanya Pak Halim dan Iqbal menggeleng.
“Setelah ini kamu datanglah ke ruangan Ceo yang ada di lantai 7. Kamu temui Nyonya Sarah. Beliau sudah menunggu kamu sekarang.” ucap pak Halim.
“Untuk apa saya menemui Nyonya Sarah, Pak?” tanya Iqbal bingung.
“Nanti kamu akan tahu jawabannya. Sekarang pergilah kesana sekarang. saya tahu yang terbaik buat kamu.” Ucap Pak Halim.
Dan setelah keluar dari ruangan Pak Halim, Iqbal segera menuju lantai 7 untuk menemui Ceo perusahaan. Dalam perjalanan Iqbal masih berpikir keras, kenapa dirinya harus menemui Nyonya Sarah. Dan apa maksud ucapan Pak Halim kalau dia tahu yang terbaik.
Ting
Iqbal sudah sampai di lantai 7. Lantai dimana hanya ada dua ruangan saja. Lalu Iqbal bertanya pada seseorang yang dia yakini seorang sekretaris dari Nyonya Sarah.
“Maaf, Nona. Apa benar disini ruangan Nyonya Sarah?” tanya Iqbal pada seorang perempuan seusia Jenny.
__ADS_1
“Benar. Apa anda yang bernama Tuan Iqbal?” tanya perempuan bername tag Olivia.
“Iya, saya Iqbal.” Jawab Iqbal.
“Mari saya antar masuk ke ruangan Nyonya Sarah.” Ucap Olivia sopan.
Akhirnya Iqbal mengikuti langkah Olivia memasuki ruangan Nyonya Sarah. Sesampainya di dalam ruangan itu tampaklah seorang wanita paruh baya seusia Desy, sedang memakai kacamatanya sambil meneliti sebuah berkas yang ada di tangannya.
“Selamat pagi Nyonya. Ini Tuan Iqbal sudah datang.” Ucap Olivia.
Nyonya Sarah menghentikan sejenak pekerjaannya. Lalu melepaskan kecamatanya.
“Baiklah. Terima kasih Oliv. Tuan Iqbal silakan duduk.” Ucap Nyonya Sarah.
Setelah Olivia keluar dari ruangan Nyonya sarah. Kini tinggallah Iqbal dan Nyonya Sarah yang berada dalam ruangan itu. Iqbal masih penasaran kenapa dirinya harus menemui wanita itu.
“Ganendra Iqbal Bramantyo atau Tuan Iqbal?” ucap Nyonya Sarah dan Iqbal mengangguk.
“Saya sudah membaca CV anda. Dan saya juga sudah mendapat laporan dari kepala gudang atas insiden yang terjadi beberapa hari yang lalu. Saya sangat berterima kasih atas perbuatan anda yang berhasil membongkar kejahatan di perusahaan saya.” Ucap Nyonya Sarah.
“Sama-sama Nyonya.” Jawab Iqbal singkat.
“Dan sebagai penghargaan anda, mulai sekarang anda tidak lagi saya tempatkan di gudang. Anda saya angkat menjadi asisten saya. Tugas anda membantu pekerjaan saya. Nanti anda akan bekerjasama dengan Olivia, sekretaris saya.” Ucap Nyonya Sarah.
Iqbal sangat terkejut sekaligus senang. Dia tidak menyangka kalau akan mendapatkan kenaikan jabatan secepat ini. lalu dia menjabat tangan Nyonya Sarah untuk mengucapkan terima kasih. Setelah itu Nyonya Sarah memanggil Olivia agar memberitahukan ruangannya.
Setelah Iqbal keluar dari ruangan itu, Nyonya Sarah tampak tersenyum. Dia akhirnya menemukan orang yang tepat untuk membantu pekerjaannya. Sebelumnya, wanita paruh baya itu sudah mencari informasi tentang Iqbal. Ternyata Iqbal pernah menjadi seorang asisten pribadi seorang ceo di perusahaan yang cukup terkenal. Jadi Nyonya Sarah tidak meragukan kemampuan Iqbal lagi.
.
.
.
*TBC
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya.....🤗🤗😘😘
__ADS_1