
Nyonya Ambar, ibu dari Danisa juga terkejut saat mendengar ucapan anaknya. dia sendiri masih bingung apa maksud dari ucapan Danisa itu.
“Apa maksud kamu, Nis?” tanya Nyonya Ambar.
“Apa Mama masih ingat saat hadir di pesta pernikahan Iqbal dua bulan yang lalu? Iya, ini dia istri Iqbal yang seharusnya aku berada di posisi itu. Sayangnya wanita murahan ini yang merebut Iqbal dariku.” Jawab Danisa dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.
Seketika gerombolan teman sosialita Nyonya Risma berbisik-bisik setelah mendengar ucapan tak terduga dari Danisa. Namun Jenny masih berusaha bersikap tenang.
“Apa Mama juga tahu, padahal wanita ini dulu pernah berselingkuh dari Iqbal dan kini dia kembali lagi dengan membawa anak hasil perselingkuhannya untuk dimintai pertanggung jawaban pada Iqbal.” ucap Danisa lagi.
Jenny mendengar bisik-bisik dari dari beberapa orang berada di dekatnya. Sebagian ada yang mempercayai ucapan Danisa, sebagian tidak.
“Apa sudah cukup Nona? Apa masih ada lagi yang ingin anda sampaikan kepada semua orang? Maksud saya untuk mempermalukan saya?” tanya Jenny, dan membuat Danisa tampak kesal.
“Untuk apa saya berbuat seperti itu pada Mas Iqbal kalau hanya demi materi dan popularitas? Bahkan kedua orang tua saya jauh lebih terpandang dari suami saya. Kalau anda merasa saya merebut Mas Iqbal dari tangan anda, kenapa Mas Iqbal sama sekali tidak keberatan, dan lebih memilih saya daripada wanita yang tak bermartabat seperti anda. Sebelum berbicara, pastikan dulu kalau anda sedang tidak melakukan pembohongan publik dan akan beresiko terhadap karir anda dan keluarga anda.” Ucap Jenny dan langsung meninggalkan kerumunan itu.
“Dan perlu anda semua tahu, saya dan suami saya tidak pernah bercerai. Sejak dulu kami masih sah sebagai suami istri.” Ucap Jenny lagi sebelum melanjutkan langkahnya pergi.
Jenny memilih menunggu suaminya di luar hotel. Dia tidak mau memberitahu suaminya tentang Danisa yang kembali merendahkannya, walau hatinya masih sangat sakit.
“Kamu tenang saja. Aku akan mengurus wanita licik itu.” Ucap Billal tiba-tiba.
“Om? Bagaimana Om bisa ada disini?” tanya Jenny terkejut.
“Menantu Tuan Jordi, salah satu rekan bisnisku. Dan aku tadi mendengar semua yang diucapkan wanita itu. Kamu jangan khawatir.” Ucap Billal.
Jenny yang tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya, dia menangis tersedu di pundak Billal. Dan Billal pun membiarkannya. Namun tiba-tiba saja Iqbal datang dengan wajah penuh amarah saat melihat istrinya berada di pelukan pria yang berstatus sebagai Omnya.
“Apa yang kalian lakukan disini?” ucap Iqbal dengan suara dinginnya.
“Mas, ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan.” Ucap Jenny terkejut sambil mengusap air matanya.
Iqbal tak menjawab ucapan istrinya. Dia segera menarik tubuh Jenny lalu membawanya pergi menjauh dari Billal.
“Ingat, aku akan melakukan perhitungan dengan kamu.” Ucap Iqbal pada Billal.
Billal pun bingung mau menjelaskan semuanya, karena melihat Iqbal sudah pergi membawa Jenny.
__ADS_1
Sesampainya di dalam mobil, Iqbal masih marah dengan Jenny. Jenny sudah berusaha menjelaskan tapi Iqbal tidak mempedulikannya. Di tengah-tengah kekalutan hatinya, tiba-tiba Jenny kembali merasakan kram pada perutnya. Bahkan kali ini rasanya sangat sakit dan menyiksanya.
“Mas, maafkan aku. kamu jangan berpikiran buruk tentang Om Billal.” Ucap Jenny lirih dengan suara bergetar.
Iqbal yang mendengar suara istrinya tampak beda, sejenak
dia menoleh ke samping. Dan sungguh terkejutnya dia saat samar-samar melihat wajah istrinya sangat pucat sambil memegangi perutnya.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Iqbal lalu menepikan mobilnya.
“Mas, Om Billal tadi hanya menenangkanku saat Danisa kembali merendahkanku. Tolong jangan salahkan dia.” Ucap Jenny lalu pandangannya kabur dan akhirnya pingsan.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Iqbal panik sambil menepuk-nepuk pipi istrinya.
Iqbal segera menyalakan mesin mobilnya dan langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Rasa bersalah menyeruak mengisi hati Iqbal karena tanpa sengaja mendiamkan Jenny. Dan kini Iqbal menyesal karena pada kenyataannya, Billal tadi hanya menenangkan istrinya.
Beberapa saat kemudian, Iqbal sudah tiba di rumah sakit. Jenny pun segera mendapatkan penanganan intensif dari dokter.
Cklek
Seorang dokter baru saja keluar dari ruang pemeriksaan Jenny dengan diikuti oleh seorang perawat wanita. Dokter itu meminta Iqbal mengikutinya masuk ke ruangannya.
“Setelah saya melakukan beberapa pemeriksaan secara intensif, istri anda mengalami gejala Polycystic Ovarian Syndrome. Gejala itu disebabkan karena adanya kista ovarium dalam rahim istri anda.” Jawab Dokter.
“Apakah itu berbahaya, Dok?” tanya Iqbal yang memang tidak mengerti sama sekali.
“Gejala itu akan menghambat istri anda untuk hamil. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan, istri anda sering mengalami kram perut saat datang bulan. Jadi, kista itu harus segera dihilangkan dengan melakukan tindakan operasi.” Jawab Dokter.
“Baiklah, Dok. Lakukan saja asal istri saya kembali sehat.” Jawab Iqbal pasrah.
Dokter itu mengangguk, lalu Iqbal memutuskan untuk keluar melihat keadaan istrinya. Ternyata di luar sudah ada Billal yang menunggunya. Billal tahu kalau Jenny dilarikan ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Lidya.
“Bagaimana keadaan Jenny?” tanya Billal.
“Istriku terkena kista ovarium, dan harus segera dioperasi.” Jawab Iqbal singkat, lalu meninggalkan Billal.
“Maafkan aku.” ucap Iqbal pada Billal sebelum memasuki ruangan istrinya.
__ADS_1
“Kamu tenang saja. Sekarang fokuslah untuk kesembuhan Jenny. Biar aku yang mengatasi wanita itu.” Jawab Billal dan ikut memasuki ruangan Jenny dirawat.
Iqbal menggenggam lembut tangan Jenny yang maatnya masih terpejam. Wajah pucat itu membuat Iqbal semakin sedih. Selama ini dia sering melihat istrinya mengalami kram perut tapi selalu mengabaikannya lantaran Jenny sendiri tidak mau diajak untuk periksa.
“Aku yakin Jenny adalah wanita kuat. Dia pasti bisa melampaui ini semua. Kita berdoa saja.” Ucap Billal dan Iqbal mengangguk.
“Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu. Besok aku akan kesini lagi.” Pamit Billal.
“Tunggu, apakah kamu bisa tidur di rumahku saja? Aku takut Gita akan menangis mencari keberadaan Mamanya. Dan aku yakin dia akan tenang jika bersama kamu.” Ucap Iqbal meminta tolong.
“Baiklah. Aku akan kesana sekarang.” jawab Billal.
Iqbal malam ini memutuskan untuk tidur di rumah sakit menemani istrinya. Dia tidak pulang lebih dulu, karena tidak mau meninggalkan istrinya sendirian. Dan beberapa saat kemudian mata Jenny perlahan terbuka.
“Mas, aku sedang dimana?” tanyanya pada sang suami yang sejak tadi duduk di sampingnya.
“Sayang, kamu sedang di rumah sakit setelah kamu tadi pingsan. Apa yang kamu inginkan?”
“Aku haus, Mas.”
Iqbal segera mengambilkan segelas air putih untuk istrinya. Lalu membantunya untuk duduk.
“Terima kasih. Maafkan aku, Mas. Tadi itu hanya salah paham.” Ucap Jenny.
“Stt… aku sudah tahu semuanya. Justru aku yang minta maaf. Sekarang jangan dipikirkan lagi. Fokus untuk kesembuhan kamu saja.” Ucap Iqbal lalu menceritakan padaa Jenny tentang penyakitnya dan harus segera melakukan tindakan operasi.
“Aku takut, Mas!” ucap Jenny setelah mendengar kata operasi.
“Jangan seperti itu, Sayang. Aku ingin kamu segera sembuh. Ingat ada aku suami kamu dan Gita anak kita.” Ucap Iqbal menguatkan istrinya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Mohon bersabar ya untuk kelanjutan Billal dan Lidya. karena memang masih fokus sama Iqbal dan Jenny👌👌🤗🤗
Happy Reading‼️