Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 107


__ADS_3

Pagi ini Iqbal bangun tidur merasakan tempat tidur di sampingnya tampak kosong. Biasanya dia selalu memeluk sang istri terlebih dulu sebelum benar-benar beranjak. Namun dia ingat kalau semalam istrinya sedang marah tidak jelas dan membiarkannya tidur sendirian.


Iqbal bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Untung saja sekarang sedang weekend. Jadi dia tidak terburu-buru pergi ke kantor.


Setelah itu Iqbal keluar kamar untuk mencari keberadaan istrinya. Karena di dalam kamar Gita tidak ada Jenny, dan gadis kecil itu juga masih terlelap dalam mimpinya. Jadi bisa dipastikan kalau saat ini istrinya sedang sibuk di dapur.


“Bi, kemana istriku?” tanya Iqbal pada Bi Lasmi saat tidak menemukan istrinya di dapur.


“Nyonya tadi bilang mau jalan-jalan pagi di depan kompleks, Tuan.” Jawab Bi Lasmi.


Iqbal segera keluar rumah mencari keberadaan istrinya yang sedang jalan-jalan pagi. dia melangkahkan kakinya mencari Jenny. Dan benar istrinya kini sedang duduk santai di tepian taman yang tidak jauh dari kompleks perumahan. Namun wajah Iqbal seketika memerah setelah menyadari ada seorang pria tengah jongkok sambil memegang kaki istrinya.


“Jauhkan tangan anda dari kaki istri saya!” ucap Iqbal dengan suara tegasnya.


“Maafkan saya, Tuan. Saya tadi hanya ingin meno-“


“Cepet anda tinggalkan tempat ini. saya tidak butuh alasan anda.” Jawab Iqbal cepat.


Pria berwajah tampan itu akhirnya memilih pergi meninggalkan dua sejoli itu. Padahal tadi dia tidak sengaja melihat Jenny sedang kesakitan kakinya setelah terkilir. Dan dia berniat ingin membantu Jenny dengan mencoba memberi pijitan pada tumit Jenny.


“Apa yang kamu lakukan disini bersama pria asing itu?” tanya Iqbal pada Jenny yang masih terduduk di kursi taman.


Jenny hanya mencebik kesal, tidak menjawab pertanyaan sang suami. Dia juga masih marah dengan sikap suaminya semalam.


“Ayo pulang! jangan lagi keluar sendirian seperti ini.” ajak Iqbal dan segera berlalu.


Iqbal sudah berjalan kembali menuju rumahnya. Namun dia merasa istrinya tidak ada di belakangnya, lalu dia menoleh ke belakang ternyata Jenny masih duduk di kursi taman itu sambil memijit pelan tumitnya. Iqbal pun menghampiri istrinya.


“Kenapa kamu masih diam disini? Apa kamu masih ingin bertemu dengan pria asing itu tadi?” tanya Iqbal.


Jenny masih diam. Namun kemudian berdiri dan mencoba berjalan mendahului Iqbal, walau dengan kaki sedikit pincang. Iqbal sangat terkejut melihat cara jalan istrinya. Ternayata sejak tadi kaki Jenny sakit hingga membuatnya tidak beranjak dari duduknya. Dengan cepat Iqbal menyusul istrinya dan segera menggendongnya.


Beberapa saat kemudian Iqbal sudah sampai rumahnya dan mendudukkan istrinya ke sofa. Lalu tangannya memijat tumit Jenny yang terlihat merah.


“Jangan dipegang! Ada bekas tangan pria asing tadi.” Sindir Jenny dengan menjauhkan kakinya dari tangan Iqbal.


“Maaf!” lirih Iqbal dan kembali meraih kaki istrinya.

__ADS_1


“Jangan sentuh!! Aku benci kamu, Mas!” teriak Jenny dengan berderai air mata.


Iqbal segera mendekati istrinya dan memeluknya dengan erat. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilannya, membuat Jenny sangat sensitif terhadap sikap suaminya yang berubah sejak semalam.


“Sayang, maafkan aku. maaf, aku nggak tahu kalau kaki kamu sakit.” Ucap Iqbal.


“Pergi! Aku benci kamu, Mas. Aku tahu kalau kamu tidak suka dengan kehamilanku yang kedua ini. jangan mencoba untuk mencari simpatiku lagi.” Teriak Jenny.


“Sayang, jangan bilang seperti itu. Aku sangat senang dengan kehamilan kamu yang kedua ini. maaf, sikapku yang semalam. Karena aku sangat cemburu melihat kamu memeluk Om Billal. Ditambah lagi tadi ada seorang pria asing yang dengan berani memegang kaki kamu.” Ucap Iqbal mengakui kecemburuannya.


Jenny terkejut tidak percaya dengan perkataan suaminya. Hanya karena semalam dirinya memeluk Omnya, membuat sang suami cemburu bahkan samapi mengacuhkannya.


Sungguh Jenny tidak menyangka kalau suaminya sekarang jadi seorang pencemburu akut. Padahal pelukan yang diberikan pada Omnya itu tidak memiliki makna lebih.


“Cemburumu tidak jelas, Mas. Lagi pula aku memeluk Om Billal tidak ada maksud lain. Dan mengenai pria asing tadi, dia hanya berusaha menolongku saat kakiku terkilir.” Ucap Jenny.


“Iya, Sayang. Maafkan aku ya, please!” Iqbal memohon.


Jenny pun akhirnya mengangguk dan memaafkan sikap suaminya.


Sementara itu Lidya menjalani kehamilannya dengan sangat bahagia. Karena dirinya sama sekali tidak merasakan mual ataupun menginginkan sesuatu yang tidak masuk akal seperti yang dialami oleh kebanyakan ibu hamil. Namun, justru suaminya lah yang mengalami hal itu. Tapi bedanya, jika Billal sedang menginginkan sesuatu, dia sama sekali tidak repot untuk menuruti kemauannya sendiri, karena ada Sean yang harus selalu siaga jika sang boss sedang ngidam.


“Sayang, hari ini aku pulang lebih awal. Karena Iqbal, Jenny dan juga Gita akan bermain kesini. Jadi aku minta tolong siapkan makan malam untuk mereka, ya?” pinta Billal sebelum berangkat ke kantor.


“Iya, Mas. Jangan khawatir, nanti aku akan memasak untuk menyambut kedatangan mereka.” Jawab Lidya.


Setelah itu Billal berpamitan pada istrinya. Seperti biasa, Lidya mencium tangan suaminya dengan takzim lalu Billal menunduk mencium perut rata Lidya.


“Sehat-sehat ya anak Papa!” ucap Billal dengan mengusap lembut perut istrinya.


**


Kini Iqbal, Jenny dan Gita sudah tiba di apartemen Billal. Lidya sangat senang melihat Gita setelah beberapa hari tidak bertemu. Billal yang juga baru saja pulang dari kantor, dia masih menyelsaikan mandinya dan belum tahu kedatangan Gita.


“Mas, temani Gita bermain dulu. Aku mau membantu Lidya memasak.” Ucap Jenny dan diangguki oleh Iqbal.


Jenny dan Lidya akhirnya menuju dapur. Kedua wanita itu tampak asyik memasak sambil bercerita tentang kehamilan masing-masing. Sungguh Jenny tidak menyangka bisa hamil bersamaan dengan Lidya. Bahkan usia kandungannya hanya selisih satu minggu.

__ADS_1


“Lid, rencananya aku akan pulang ke kota J. karena Mama dan Papa sangat merindukan Gita. Apa kamu mau ikut? Siapa tahu Om Billal juga mau pulang ke rumahnya.” Tanya Jenny.


“Aku nggak tahu. Coba nanti aku tanyakan dulu sama Mas Billal.” Jawab Lidya.


Mereka kembali melanjutkan masaknya. Jenny membuat cemilan untuk Gita, lalu membawanya ke ruang tengah agar Gita bisa memakannya langsung.


Jenny masuk ke ruang tengah seketika hidungnya mencium bau parfum maskulin milik suaminya. Jenny meletakkan piring yang berisi cemilan itu di atas meja. Lalu dia berjalan mendekati suaminya yang sedang berdiri di dekat jendela. Harum parfum itu semakin menusuk indra penciuman Jenny.


Grep


Jenny memeluk tubuh suaminya dari belakang sambil mengendus bau parfum dalam tubuh Iqbal. pelukan Jenny semakin erat, entah kenapa dia kembali menyukai parfum milik suaminya yang telah lama tidak dipakai itu.


“Mas!”


“Jenny!”


Seketika mata Jenny membulat saat mendengar suara suaminya dari belakang. Lalu siapa pria yang kini dalam pelukannya. Lalu Jenny mengurai pelukannya, pria yang dia peluk pun akhirnya menoleh dengan wajah yang tak kalah terkejutnya.


“Om Billal?”


“Jenny?” ucapnya bersamaan.


Sementara itu Lidya yang menyaksikan itu semua, air matanya perlahan menetes. Entah kenapa dia merasa sangat sakit saat melihat suaminya berada dalam pelukan Jenny yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Dia masih teringat kisah masa lalu suaminya bersama Jenny yang pernah diceritakan oleh Billal.


“Sayang!” panggil Billal saat melihat Lidya masuk ke dalam kamarnya.


.


.


.


*TBC


Wah...wah..wah... ada-ada saja sih Jenny🤦🤦😂😂😂😂


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2