
Mengetahui wajah anak buahnya tertangkap rekaman cctv, Malik memilih untuk menon aktifkan anak buahnya menjalani tugas. Karena dia juga tidak mau kasus itu sampai terseret ke ranah hukum. Dia akan membiarkan Marvin alias Andreas menjalankan rencananya yaitu masuk ke dalam perusahaan Iqbal. setelah itu, dia akan bertindak.
***
Rumah tangga Axel dan Gita berjalan pasif. Tidak ada kegiatan yang berarti seperti pasangan pengantin baru pada umumnya. Bahkan Gita menolak bulan madu dengan alasan bisa melakukannya lain waktu. Karena dia masih tergolong karyawan baru dan tidak enak jika baru bekerja sudah minta cuti. Walau dia anak pemilik perusahaan.
Sementara Axel juga sudah kembali ke perusahaan milik Papanya untuk bekerja lagi. Tapi setiap hari sebelum dia berangkat, terlebih dulu dia mengantar Gita ke kantor. pulangnya pun Axel juga menjemputnya. Gita sempat menolaknya, tapi dengan sedikit paksaan dan demi keamanan, akhirnya Gita mau.
Sikap Axel pada Gita kini sudah tampak seperti biasanya. Dia begitu perhatian pada Gita, walau tidak pernah sedikitpun dihargai olehnya. Mulai dari perhatian kecil, selalu ia tunjukkan pada istrinya. Berharap suatu saat mata hati Gita terbuka kembali untuknya. Bukan sebagai kakak, melainkan sebagai suaminya.
“Nanti malam, Mama meminta kita pulang. mereka mengajak kita makan malam bersama untuk merayakan ulang tahun pernikahan Mama dan Papa.” Ucap Axel saat mengantar Gita ke kantor.
“Iya.” Jawab Gita singkat.
Sesampainya di depan kantor, Gita segera turun dari mobil. Tidak ada salam ataupun mencium tangan sang suami atau bahkan sekadar cipika-cipiki. Dan hal itu sudah biasa Axel rasakan. Tapi sayangnya dia masih memiliki stok sabar yang melimpah.
Axel belum menyalakan mesin mobilnya. Dia masih ingin memastikan istrinya masuk ke dalam perusahaan itu. Tapi saat Axel akan pergi meninggalkan perusahaan milik mertuanya, ada seorang laki-laki mempercepat langkahnya dan menghampiri Gita. Siapa lagi kalau bukan Dimas.
Ingin sekali Axel berada di tengah-tengah mereka agar Dimas tidak lagi berani dekat dengan istrinya. Axel menjalankan mobilnya pelan dan masih bisa meelihat istrinya berjalan berdua dengan Dimas.
“Sampai kapan kamu akan membenciku, Gita? Harus dengan cara apa agar aku bisa meluluhkan hatimu?” gumam Axel sambil menjalankan mobilnya menuju kantor.
*
Sore harinya, Axel menjemput Gita. Mereka berdua langsung menuju rumah orang tua Axel, agar tidak terlambat untuk pergi makan malam yang akan dilakukan di salah satu restaurant yang cukup terkenal di kota B.
Sebelum Axel sampai rumah orang tuanya, dia membelokkan mobilnnya terlebih dulu ke sebuah toko asesoris. Axel meminta Gita turun untuk menemaninya membeli kado.
“Menurutmu, kado apa yang cocok untuk Mama dan Papa?” tanya Axel.
Gita diam tidak menjawab. Namun langkahnya menuju ke outlet penjual jam tangan. Axel pun mengikutinya. Dia membiarkan istrinya memilih jam tangan couple untuk diberikan kepada orang tuanya.
“Terima kasih.” Ucap Axel setelah membayar jam tangan yang dipilih oleh Gita.
__ADS_1
“Hmm” Jawab Gita.
Beberapa saat kemudian, Axel dan Gita sudah berada di restaurant bersama kedua orang tuanya. Pesta pernikahan Felix dan Nia yang ke 23 itu memang tidak diperingati dengan acara pesta yang mewah. Hanya acara sederhana saja seperti ini, dengan mengundang anak dan menantunya.
“Selamat, ya Ma Pa! semoga Mama dan Papa selau diberi kebahagiaan.” Ucap Axel memeluk Mama dan Papanya bergantian.
“Terima kasih, Sayang.” Jawab Nia.
Setelah itu kini giliran Gita yang memberikan selamat kepada mertuanya. Kemudian dia memberikan kado yang tadi sudah ia beli bersama Axel.
“Terima kasih banyak ya Sayang kadonya. Sebenarnya Mama tidak terlalu menginginkan kado yang berupa barang.” Ucap Nia terjeda, dan membuat Felix, Axel dan Gita bingung.
“Mama mintanya cucu dari kalian.” Lanjut Nia.
Felix tersenyum dan menyetujui pernyataan istrinya. Tapi berbeda dengan Axel dan Gita. Jika Axel hanya mampu berdoa semoga keinginan Mamanya segera terkabul. Sedangkan Gita tidak menginginkan seorang anak. Bahkan beberapa hari ini hatinya dilanda kecemasan. Dia berharap dari kejadian yang dilakukan bersama Axel saat itu tidak membuahkan hasil. Dia tidak ingin hamil, yang nantinya akan membuat ikatan antara dirinya dan juga Axel semakin kuat, terlebih dengan hadirnya janin dalam rahimnya.
“Kalian nggak mau ya mengabulkan permintaan Mama?” tanya yang wajahnya kini berubah murung.
Selesai makan malam itu, Axel memutuskan untuk mengajak istrinya pulang dan tidak menginap di rumah orang tuanya. Padahal Nia sudah memaksa untuk tinggal sehari saja di rumahnya tapi Gita lagi-lagi pandai beralasan.
“Ya sudah hati-hati di jalan. Minggu depan Mama akan menginap di apartemen kalian.” Ucap Nia.
“Iya, Ma. Maaf!” jawab Gita.
Setelah itu Axel mengajak Gita pulang ke apartemen. Dalam perjalanan, Gita membuka pembicaraan dengan Axel mengenai rencana Mamanya yang akan menginap minggu depan. Gita meminta untuk sementara waktu baju-baju dan barang pribadinya dipindahkan ke kamar Axel, agar nanti saat Mamanya datang tidak mencurigainya. Namun tempat tidurnya masih terpisah sebelum Mamanya datang.
“Terserah kamu saja. Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan mengikuti alurmu.” Jawab Axel menyindir.
Gita mendengus kesal mendengar ucapan Axel baru saja. Tapi setelah itu dia kembali cuek. beberapa saat kemudian, mobil Axel sudah sampai basement. Namun Axel tidak lekas turun dari mobilnya.
“Masuklah! Aku mau pergi.” Ucap Axel.
“Kemana? Ini sudah malam?” tanya Gita.
__ADS_1
Axel terkejut mendapati pertanyaan Gita yang menurutnya itu sebuah perhatian. Apakah itu tandanya hati Gita sudah mulai terbuka untuknya.
“Maaf, ya sudah pergilah. Aku akan masuk.” Lanjut Gita dan segera keluar dari mobil.
Perasaan Axel seperti dihempaskan dari ketinggian. Sepertinya Gita tadi menyesali pertanyaan yang diberikan untuknya.
Setelah memastikan Gita masuk, Axel melajukan mobilnya menuju ke rumah Jendra. Karena kedua sahabatnya sudah menunggu disana.
Semenjak kejadian di Club malam itu, Axel sudah tidak lagi pergi ke Club malam. Jendra dan Mikko terkadang mengajaknya, tapi Axel selalu menolak.
“Sorry telat, habis ada acara.” Ucap Axel pada dua sahabatnya.
“Ya pahamlah, yang pengantin baru. Selalu ada acara berduaan.” Seloroh Jendra.
Axel hanya berdecak mendengar candaan sahabatnya. Sebenarnya Jendra dan Mikko sudah mengetahui bagaimana biduk rumah tangga Axel yang sebenarnya. Mereka berdua ikut miris melihatnya. Pernah suatu ketika, Mikko meminta Axel agar melepaskan Gita saja. Tapi Axel menolaknya. Jadi, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Bagaimana perkembangannya?” tanya Axel.
“Orang-orang yang ada dalam rekaman cctv itu memang sepertinya anak buah dari salah satu bos mafia yang cukup terkenal di dunia gelap. Dan orang-orang itu kini sudah tidak lagi muncul. Aku juga belum tahu pasti siapa boss mereka yang sebenarnya. Karena kamu tahu sendiri kan, sulit sekali mengakses keberadaan mereka, kecuali kita mempunyai orang yang ahli juga. aku juga hanya bisa memantau sampai disitu saja.” Jawab Mikko.
“Lebih baik sekarang kamu perketat pengawasan kamu terhadap Gita. Dan pasanglah GPS pada ponsel Gita yang terhubung dengan ponsel kamu. Buat jaga-jaga saja jika terjadi sesuatu dengannya.” Sahut Jendra memberi saran.
“Baiklah. Memang jauh-jauh hari aku sudah mempunyai rencana seperti itu.” Jawab Axel.
.
.
.
TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1