Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 186


__ADS_3

Gita keluar dari toilet pesawat setelah memuntahkan isi perutnya. Meskipun badannya terasa lemas, setidaknya dia sudah merasa lega dan tidak mual lagi. Namun Axel tetap khawatir dengan kondisi istrinya.


“Setelah ini kita istirahat sebentar ya sebelum pulang ke rumah?” ajak Axel.


“Terserah Mas saja.” Jawab Gita.


Kini mereka berdua sudah menuruni pesawat dengan Axel yang membawa kopernya. Gita berjalan sambil menggandeng tangan suaminya menuju salah satu café yang masih berlokasi di bandara. Kemudian Axel memesan minuman untuknya dan juga untuk Gita.


“Sayang, nanti kita ke rumah sakit ya untuk periksa?” ajak Axel.


“Nggak usah, Mas. Aku sudah baik-baik saja.” Lagi-lagi Gita menolak. Axel pun hanya bisa pasrah.


Setelah menghabiskan waktu untuk istirahat sejenak di café, Axel segera memesan taksi untuk mengantarnya pulang. Gita juga sudah tidak sabar untuk sampai rumah. karena dia ingin segera tidur. Mungkin efek jet lag.


Kini taksi yang mengantar mereka berdua sudah sampai di depan rumah dengan bangunan minimalis. Gita tampak berbinar saat merasakan hawa berbeda pada rumah yang akan ia singgahi bersama suaminya.


“Mas, ini rumah Mama dan Papa?” tanya Gita.


“Iya. Dulu rumah ini selalu Papa singgahi jika sedang meninjau perusahaan yang ada disini.” Jawab Axel.


Kemudian Axel mengajak istrinya masuk setelah membayar ongkos taksinya. Gita melihat-lihat seisi ruangan. Rumah berlantai satu itu hampir mirip dengan apartemen yang pernah Axel dan Gita tempati dulu. Disana ada tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, ruang kerja, dan dapur yang menjadi satu dengan ruang makan.


Puas melihat isi rumah, Axel menunjukkan kamarnya pada Gita agar istrinya bisa segera istirahat. Kamar itu adalah kamar yang Axel tempati saat dirimnya sedang menjalani perawatan dulu.


Gita berjalan menuju sebuah meja dimana disana ada beberapa tumpukan buku. Mungkin buku tentang bisnis, Gita pun tidak tahu. Namun yang menarik atensi Gita menghamipri meja itu adalah, dia melihat sebuah pigora dalam keadaan terbalik. Gita mengangkat pigora itu yang ternyata kacanya sudah pecah. Dan yang membuat Gita terkejut adalah foto yang ada dalam pigora itu adalah foto dirinya dan Axel saat masih berseragam sekolah.


Entah kenapa Gita sangat sedih saat melihat foto itu dalam keadaan terbalik. Seolah si pemiliknya tidak ingin lagi memajang foto itu.


“Sayang! Maaf, maaf!” ucap Axel saat menyadari keterdiaman istrinya sambil memegang pigora.


“Duduklah! Aku akan menjelaskan semuanya.” Ucap Axel lalu menuntun istrinya agar duduk di bibir ranjang.


“Mas nggak usah cemas begitu. Aku paham kok.” Gita memaksakan senyum, agar suaminya merasa tidak bersalah.

__ADS_1


Namun Axel tetap cemas. Dia tidak ingin membuat istrinya sedih. Lalu menjelaskan tentang kronologi pigora foto yang pecah itu.


“Saat itu memang aku sedang benar-benar emosi. Setelah mendapat email dari seseorang yang berisi foto-foto kamu dengan dokter Julian. Maafkan aku. setelah ini aku akan mengganti pigoranya dan mengganti foto terbaru kita.” Ucap Axel.


Gita menarik sudut bibirnya. “Nggak apa-apa, Mas. Aku paham. Ya sudah kalau begitu aku mau istirahat dulu. Aku lelah.” Ucap Gita kemudian.


Axel mengangguk dan membiarkan istrinya istirahat. Sedangkan dia memilih masuk ke ruang kerjanya untuk memulai pekerjaannya yang sudah siap menunggu. Rencana Axel besok dia akan datang ke kantor. dan untuk kuliahnya yang akan dimulai minggu depan, Axel tak terlalu memikirkannya. Karena jadwalnya memang tak sepadat seperti saat mengambil strata satu. Bahkan dia juga bisa kuliah jarak jauh kalau memang sedang dalam keadaan terdesak.


Tanpa sadar Axel berada di ruang kerjanya cukup lama hingga waktu hampir malam. dia mengira istrinya masih menikmati istirahatnya di kamar, ternyata salah. Dan kini Gita menghamiri suaminya yang sedang sibuk di ruang kerjanya. Axel menoleh saat mendengar pintu dibuka. Setelah itu dia mencium aroma wangi dari tubuh istrinya.


“Mas, aku cari ternyata kamu disini. Sibuk banget ya?” tanya Gita an dia langsung duduk di pangkuan Axel.


“Sayang, jangan seperti ini. nanti kamu membangunkan sesuatu. Aku masih bau keringat dan belum mandi.” ucap Axel sambil menahan sesuatu yang sudah mulai bangun akibat ulah istrinya.


“Nggak usah mandi dulu, aku suka dengan bau keringatmu.” Jawab Gita dan beralih mengendus bau keringat pada ceruk leher Axel.


Meskipun Axel tidak mengeluarkan keringat karena ruangannya ber ac, namun tetap saja dia merasa tak nyaman jika belum mandi dan istrinya bergelayut manja seperti ini.


Axel juga heran dengan sikap istrinya yang tak biasa. Bahkan sejak kapan Gita menyukai bau keringatnya seperti ini.


Gita tak mendengarkan ucapan suaminya. Dia justru sibuk membuka kemeja yang Axel kenakan dan itu semakin membuat Axel heran. Setelah melepas kemeja suaminya hingga menampakkan tubuh sixpacs nya, Gita berdiri dengan membawa kemeja suaminya.


“Mas mandilah dulu, aku akan menciumi bau kemeja kamu ini. setelah itu kita jalan ya sekaligus makan malam.” ucap Gita tanpa dosa.


Axel melongo tak percaya. Dia pikir setelah istrinya berhasil melucuti pakaiannya pasti akan ada kegiatan panas-panas. Namun ternyata Gita hanya mengambil kemejanya saja.


“Kenapa masih diam? Ayolah, aku sudah sangat lapar nih!” ucap Gita dengan posisi duduk sambil menciumi kemeja Axel.


“Oh, iya sebentar. Kamu tunggu dulu ya?” ucap Axel kemudian dan segera berlalu ke kamar mandi.


***


Saat ini Iqbal sedang sibuk di kantornya. Setelah Dimas tidak lagi menjadi asisten pribadinya, membuat pekerjaan Iqbal sedikit sibuk. Untung saja ada Chandra yang bisa membantunya saat dia sedang tidak ada jadwal kuliah.

__ADS_1


“Uncle ada seseorang yang ingin bertemu.” Ucap Chandra setelah memasuki ruang kerja Iqbal.


“Baiklah, suruh masuk saja.” Jawab Iqbal.


Tak lama kemudian seorang pria seusia Iqbal masuk. Pria itu memperkenalkan diri sebagai pengacara Marvin. Iqbal mengernyit heran saat mendengar nama Marvin. Bukankah sudah tidak ada urusan lagi dengan pria itu. Namun kenapa pengacaranya datang menemuinya.


“Katakan saja, apa maksud anda menemui saya?” tanya Iqbal.


“Mohon maaf sebelumnya, Tuan Iqbal. saya datang kesini karena perintah Tuan Marvin. Tuan Marvin meminta bertemu dengan anda. Karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dan itu sangat penting.” Ucap pria itu.


“Saya rasa sudah tidak kepentingan lagi antara saya dengan Tuan Marvin. Bukankah putusan hukuman sudah ditentukan. Jadi untuk apa lagi?” Tanya Iqbal.


“Maaf Tuan. Ini tidak ada hubungannya dengan hukuman Tuan Marvin. Saat ini Tuan Marvin sedang dirawat di klinik yang ada di Lapas. Beliau meminta saya untuk menyampaikan pesan ini langsung pada Tuan.” Jawabnya.


Iqbal pun merasa ada yang aneh. Namun apa salahnya jika dia menemui pria itu.


“Baiklah. Saya akan datang kesana besok.” Jawab Iqbal kemudian.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️


Yuk guys mampir ke karya baru othor tentang kisah Sean yang menjadi suami keduanya Lidia. Pasti pada penasaran kan???😂😂😂 #pede


nih judul n covernya bisa langsung cuz baca. meski masih dikit upnya, tp insyallh akan up rutin kok🤗😁


__ADS_1



__ADS_2