Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 49


__ADS_3

Grep


Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perut Jenny hingga membuatnya hampir memekik.


“Kenapa lama sekali, hmm?” tanya Iqbal dengan mata terpejam.


“Itu Kak, aku, aku tadi masih ambil-“


“Sudah tidurlah. Ini sudah malam.” ucap Iqbal cepat.


Akhirnya Jenny menurut. Namun posisinya masih membelakangi Iqbal, karena laki-laki itu masih setia memeluknya dari belakang. Jenny yang awalnya sulit memejamkan mata karena degupan jantungnya yang menggila, akhirnya perlahan rasa kantuk menyerang. Terlebih setelah mendengar dengkuran halus dari Iqbal.


Keesokan paginya Jenny bangun terlebih dulu. Dia mencoba melepas tangan Iqbal yang sejak semalam betah memeluknya. Setelah itu Jenny keluar dari kamar Iqbal hendak membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang ada di kamarnya sendiri.


Kini Jenny sudah ada di dapur. Dia memasak untuk menu sarapannya dengan Iqbal. sementara Iqbal yang baru bangun dan menydari bahwa Jenny sudah tidak ada di sampingnya, dia bergegas masuk ke kamar mandi.


“Selamat pagi!” sapa Iqbal saat memasuki dapur.


"Pagi juga, Kak. Kak Iqbal mau kemana kok sudah rapi?” tanya Jenny.


“Hari ini aku akan mulai bekerja. Kamu juga harus kerja bukan?” jawabnya.


“Iya, Kak. Tapi apa keadaan Kak Iqbal sudah benar-benar sehat?” tanya Jenny khawatir.


“Sudah. Justru aku bosan kalau di rumah terus. Lagi pula kamu juga tidak di rumah.” jawab Iqbal.


Setelah itu mereka berdua segera sarapan. Dan pagi ini adalah pagi yang istimewa untuk Iqbal dan Jenny. Karena hari ini adalah hari pertama mereka sarapan dengan status yang sudah jelas. Bukan lagi sebagai adik kakak, melainkan pasangan suami istri seperti pada umumnya.


Selesai sarapan, Jenny masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian dan segera bersiap pergi ke butik. Lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil memulai aktivitasnya setelah beberapa hari cuti.


Kini mobil Iqbal sudah berhenti di depan butik. Sebelum Jenny keluar dari mobil, dia meraih tangan Iqbal dan menciumnya dengan takzim. Iqbal sungguh terenyuh melihat tindakan Jenny. Sekarang dia sangat yakin kalau Jenny benar-benar mencintainya dan mau belajar membina rumah tangga yang sesungguhnya.

__ADS_1


Cup


Iqbal mengecup kening Jenny lalu menyunggingkan senyumnya.


“Ya sudah, aku bekerja dulu, Kak.” Pamit Jenny.


“Iya. Selamat bekerja. Nanti aku jemput seperti biasa.” Jawab Iqbal dan Jenny mengangguk.


Setelah memastikan mobil Iqbal menjauh, Jenny baru melangkahkan kakinya masuk ke butik. Beberapa tidak masuk kerja membuatnya rindu dengan pekerjaannya. Untung saja pemilik butik tempatnya bekerja sangat baik dan pengertian saat dirinya ijin beberapa hari lantaran suaminya sedang dirawat di rumah sakit.


“Hai Jen, sudah masuk nih? Gimana kabar suami kamu?” tanya Lila yang kebetulan juga ada di butik.


“Sudah Mbak. Ehm, suamiku sudah baikan Mbak.” Jawab Jenny dengan nada lirih saat menyebut kata “suami”.


“Sepertinya ada yang sedang bahagia nih.” Goda Lila dan Jenny tersenyum malu.


“Aku masuk dulu ya Mbak.” Pamit Jenny akhirnya.


Lila sejak tadi melihat Jenny terus menyunggingkan senyumnya setelah keluar dari mobil. Dia memang tidak tahu pasti apa yang membuat Jenny terlihat bahagia. Tapi Lila bisa menyimpulkan kalau hubungan Jenny dengan suaminya sepertinya sudah mengalami kemajuan. Jujur saja dia juga ikut bahagia melihatnya. Walau Xavier adalah teman baiknya sekaligus laki-laki yang mempunyai hubungan dengan Jenny.


Sementara itu Iqbal kini sudah berada di ruang kerjanya. Tampak Olivia masuk memberikan beberapa berkas. Iqbal selalu memasang wajah datar pada perempuan yang pernah mendekatinya itu. Sedangkan Olivia sendiri juga sudah tidak berani lagi untuk mencoba mendekati Iqbal.


“Tuan Iqbal nanti ada meeting jam 10 pagi dengan karyawan di divisi keuangan.” Ucap Olivia.


“Kenapa Nona bilang ke saya? Bukankah Nyonya Sarah yang seharusnya memimpin meeting itu?” tanya Iqbal bingung.


“Tadi pagi Nona Farah menelepon saya dan memberitahukan bahwa semalam Nyonya Sarah dirawat di rumah sakit. Maka dari itu Nona Farah berpesan jika hari ini anda sudah masuk kerja, anda diharap menghadiri meeting.” Jawab Olivia panjang lebar.


“Nyonya Sarah dirawat di rumah sakit? Beliau sakit apa?” tanya Iqbal khawatir.


“Saya kurang tahu. Ya sudah saya pamit keluar dulu.” Ucap Olivia.

__ADS_1


Iqbal terlihat sangat cemas saat mendengar kabar bahwa atasannya sedang dirawat di rumah sakit. Padahal semalam Farah juga datang ke rumahnya dan tidak mengatakan apa-apa. Setelah itu Iqbal memulai pekerjaannya dan mempersiapkan meetingnya. Dan nanti sepulang kerja dia akan menjenguk atasannya.


Kini Iqbal sudah bersiap untuk ke ruang meeting. Dia sudah terbiasa memimpin meeting dengan beberapa karyawan perusahaan semenjak Nyonya Sarah memintanya. Dan para karyawan juga sangat senang dengan pembawaan Iqbal saat sedang berdiskusi maupun mempresentasikan beberapa materi.


Jam sudah menunjukkan waktu pulang kerja. Iqbal akan menjemput Jenny dulu ke butik sebelum pergi ke rumah sakit menjenguk Nyonya Sarah.


“Kita ke rumah sakit dulu, ya?” ucap Iqbal saat Jenny baru saja masuk mobil.


“Siapa yang sakit, Kak?” tanya Jenny.


“Nyonya Sarah. Aku juga belum tahu beliau sakit apa.” Jawab Iqbal.


Akhirnya Jenny mengangguk. Setelah itu Iqbal melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Nyonya Sarah dirawat. Tadi Iqbal juga sudah menanyakan pada Farah alamat rumah sakitnya.


Sesampainya di rumah sakit, Iqbal segera menuju ruang rawat Nyonya Sarah setelah bertanya pada resepsionis. Iqbal sangat terkejut saat mengetahui atasannya sedang dirawat di ruang ICU. Dengan langkah cepat dia segera menuju ke sana.


Dari jauh Iqbal melihat Farah sedang duduk seorang diri. Raut wajahnya terlihat sangat sedih. Entah kenapa terbesit rasa iba dalam hati Iqbal saat melihat Farah tampak rapuh seperti itu.


“Farah!” paanggil Iqbal lirih.


Farah mendongak saat mendengar suara seseorang yang tidak asing. Setelah itu dia berdiri dan tiba-tiba saja berhambur ke pelukan Iqbal. Farah menangis tersedu dalam pelukan Iqbal. sepertinya memang dirinya sangat membutuhkan sandaran di saat seperti ini.


Sementara itu Jenny yang sejak tadi berdiri di belakang Iqbal terperangah saat melihat perempuan lain memeluk suaminya. Hati Jenny terusik. Dia tidak tahan melihat itu semua. Meski dia sangat tahu kesedihan yang tengah dirasakan Farah saat ini. perlahan kakinya melangkah mundur dan pergi menjauh dari Iqbal dan Farah.


“Mungkin ini semua karma untukku. Dulu Kak Iqbal melihat aku berduaan dengan Kak Xavier. Ternyata rasanya sangat sakit.” Lirih Jenny sambil mengusap kedua sudut matanya yang berair.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2