Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 149


__ADS_3

Marco mendekati Gita lalu memplester mulutnya dengan lakban, agar tidak lagi berteriak. Setelah itu dia melanjutkan tugasnya.


Tubuh Gita semakin bergetar tak karuan. Bahkan keringat dingin sudah sejak tadi membasahi seluruh tubuhnya.


“Brigita Putri Ganendra. Nama yang sangat cantik sesuai dengan orangnya.” Ucap Andreas.


“Tahukah kamu tentang cerita nasib anakku? Ya, aku tadi sudah menceritakan kalau anakku meninggal karena depresi bahkan gila, dan itu semua ulah dari kekasihnya yang lebih memilih wanita lain. Dan apa kamu tahu siapa laki-laki yang berstatus sebagi kekasih anakku? Dia adalah Ganendra Iqbal Bramantyo.” Ucap Andreas dengan suara lantang.


Gita membelalakkan matanya. dia terkejut kalau pria dihadapannya itu sedang menaruh dendam pada Papanya. Namun apakah semua cerita yang dikatakan oleh Andreas benar? Gita tidak percaya dengan itu semua. Kemudian Andreas menyeringai sambil mendekati wajah Gita. Gita semakin ketakutan. Dalam hatinya hanya memanggil nama Axel agar segera menolongnya.


“Dan perempuan lain yang lebih dipilih oleh kekasih anakku itu adalah Jenny. Apa kamu kenal dengan wanita itu nona Gita?” lanjut Andreas.


“Hahaha….. sekarang aku sangat bahagia, karena kamu sudah ada disini. Aku juga ingin kamu merasakan apa yang anakku rasakan dulu. Agar orang tuamu juga merasakan sakit yang sama sepertiku.” Andreas kemabli berucap dengan penuh amarah.


Gita menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang bisa dilakukan saat ini. apakah setelah ini hidupnya akan seperti anak Andreas. Sungguh dia tidak mau.


“Seperti yang pernah aku katakan padamu, Vin. Perempuan ini akan kita berikan pada pelanggan setiaku. Setelah itu, pasti dia akan merasakan seperti Danisa dulu. Apalagi sepertinya dia sedang mengalami gangguan mental, jadi kan lebih mudah.” Ucap Malik dan Andreas menyetujuinya.


Tanpa mereka bertiga sadari, ternyata di luar Villa sedang ada pertarungan sengit antara orang-orang Malik dengan Axel, Iqbal, dan juga Dimas. Mereka bertiga cukup kualahan dengan anak buah Malik yang jumlahnya lebih banyak. Namun tak lama kemudian datanglah Mikko dan Jendra. Jadi Axeldan Iqbal bisa menyelinap untuk mencari jalan masuk dan meyelamatkan Gita.


Sedangkan Chandra dan Sean sedang dalam perjalanan setelah tadi dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Iqbal. butuh waktu lama Sean mengatasi masalah perusahaan Iqbal yang dalam waktu cepat hampir dibuat bangkrut oleh rekan bisnisnya yang bernama Andreas.


Akhirnya Sean bisa mengatasi masalah di perusahaan Iqbal. setelah itu dia mengajak Chandra menyusul ke tempat dimana Gita sedang disekap. Chandra menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sedangkan Sean masih dengan gadgetnya untuk mencari tahu siapa pria yang bernama Andreas yang sebenarnya.


“Bagaimana, Yah?” tanya Chandra.


“Sepertinya Andreas adalah dalang dibalik semua ini. tapi Ayah masih kesulitan mengungkap jati dirinya.” Jawab Sean dengan tatapan masih fokus pada gadget yang ada di tangannya.


Sedangkan di dalam Villa, Andreas masih saja meracuni otak Gita dengan menceritakan berita bohong tentang Papanya. Namun Gita tetap tidak mempercayainya.


“Gawat, Tuan. Di luar sedang terjadi keributan antara anak buah Tuan dengan orang-orang Tuan Iqbal.” Marco berseru saat dia sedang mengecek kamera cctv.


Malik dan Andreas juga tak kalah terkejutnya. Meski dia sudah memperketat penjagaan dengan menyuruh semua anak buahnya, namun dia tetap wasapada.


“Lebih baik segera lanjutkan rencana kita. Setelah Marco menyuntikkan obat itu, aku akan membawanya keluar lewat pintu rahasia.” Ucap Malik dan Andreas setuju.


“Marco cepat suntikkan obat itu sekarang juga!” perintah Andreas.


Gita mendengar itu semua. Dia sangat yakin kalau Axel pasti datang menyelamatkannya dengan Papanya juga. namun Gita semakin ketakutan saat melihat pria yang bernama Marco tampak mengambil jarum suntik lalu memasukkan obat ke dalamnya. Dia sendiri tidak tahu itu obat apa.

__ADS_1


Brakkk


Terdengar pintu didobark dengan cukup keras namun tidak terbuka. Andreas, Malik, dan juga Marco semakin terkejut. Sedangkan Marco sendiri belum selesai memasukkan beberapa cairan yang akan disuntikkan ke dalam tubuh Gita.


Brakkk


Pintu itu akhirnya terbuka. Dan muncullah Axel yang sedang mencari keberadaan istrinya.


“Marco, cepat lakukan sekarang!” perintah Andreas.


Marco berjalan cepat mendekati Gita. Kemudian dia menggunting jas bagian lengan yang dikenakan oleh Gita dengan kasar, karena Gita terus bergerak. Setelah berhasil, dengan cepat Marco menyuntikkan obat itu ke lengan Gita. Obat itu sudah berhasil masuk, namun belum sepenuhnya karena Gita terus saja bergerak.


Bugh


Malik dan Andreas masih fokus melihat kerjaan Marco. Dia tidak melihat seseorang yang sudah masuk ke dalam ruangan itu dan berhasil mendorong tubuh Marco sampai jarum suntik itu lepas dari lengan Gita dengan menyisakan sedikit cairan.


“Berengsekkkk!!” umpat Axel setelah berhasil menggagalkan tindakan Marco. Setelah itu dia memukuli Marco dengan membabi buta.


Tak lama kemudian Iqbal juga sudah masuk. Dia juga segera menghajar dua pria yang lainnya yaitu Malik dan Andreas.


Jika Andreas kurang pandai dalam bertarung, berbeda dengan Malik. Meski usianya sudah tua, namun pria itu masih tampak gesit mengimbangi serangan yang diberikan oleh Iqbal.


Dimas berhasil masuk ke dalam ruangan itu. Dia segera membantu Iqbal yang hendak dihantam balok kayu oleh Malik.


Brukk


Suara kayu itu terjatuh bersama dengan tubuh Malik yang tersungkur karena tendangan dari Dimas. Dimas juga menghajar Malik tanpa ampun.


Sedangkan Iqbal kini sudah mendapati tubuh lemah Andreas. Dia mencengkeram kuat kerah baju Andreas.


“Katakan! Apa maksud kamu melakukan semua itu, hahh?” tanya Iqbal.


“Hahaha…. Akhirnya dendamku terlaksana juga padamu Iqbal. kamu yang telah membuat Danisa menderita.” Ucap Andreas dengan nafas tersengal.


Deg


Iqbal merasa sesak dalam dadanya setelah mendengar ucapan orang di hadapannya. Dia mencurigai sesuatu lalu dengan cepat meraih wajah Andreas hingga sesuatu yang menempel pada wajahnya terlepas begitu saja. Iqbal terkejut ternyata pria itu adalah Marvin.


“Baji***n!!” umpat Iqbal.

__ADS_1


Bugh bugh bugh


Berulang kali Iqbal memberikan bogeman mentah pada wajah Marvin. Marvin pun sudah tidak bisa lagi berkutik.


“Kamu harus membayar semuanya. Danisa meninggal karena gila dan itu semua adalah karena ulahmu.” Ucap Marvin dengan suara lemahnya.


Sedangkan Axel yang sudah berhasil membuat Marco tergeletak. Dia segera menyelamatkan Gita yang sedang terikat. Gita sudah pingsan, dan Axel melihat ada jarum suntik di lantai dengan masih tersisa cairannya. Axel dengan cepat membuka lakban yang menutupi mulut Gita dan melepaskan talinya.


Dorrrr


“Axelllll!!” teriak Iqbal saat melihat Axel tergeletak setelah Marvin menembaknya.


Iqbal tidak sadar ternyata tangan Marvin mengambil pistol dari balik sakunya. Iqbal sangat murka, dia segera membuang pisto itu dan menghajar Marvin kembali.


Dimas yang sejak tadi sedang baku hantam dengan Malik, mendengar suara tembakan akhirnya menghentikan aksinya sejenak. Lagi pula Malik sudah babak belur dihajar oleh Dimas. Kemudian Dimas segera berlari menyelamatkan Axel dan juga melepaskan ikatan tali yang membelit tubuh Gita.


“Axel, bangunlah!” ucap Dimas.


Malik yang sudah tidak bisa berkutik lagi, dengan sisa tenaganya, dia juga mengambil pistol dari dalam sakunya. Lalu menembakkannya pada ketiga orang yang berada tak jauh darinya.


“Awas, Dimas!!!”


Dorr


Dorr


.


.


.


TBC


Dah lah mati semua biar beres🤣🤣✌️✌️✌️


Selamat menanti buka puasa guys🤗🤗 dilarang mengumpat othornya😂✌️✌️


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2