Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 69


__ADS_3

“Aku hanya memakaikan sabuk pengaman. Sejak tadi aku sudah mengatakan padamu tapi kamu diam saja.” Ucap Billal dan segera meraih sabuk pengamannnya pada Lidya.


“Ma..maaf Tuan. Saya kira anda tadi sopir taksi.” Ucap Lidya gugup saat mendapati tubuh Billal dekat dengannya.


“Apa? Kamu bilang aku sopir taksi?” tanya Billal terkejut masih dengan posisi yang sama.


Lidya semakin gugup. Dia memejamkan matanya sambil membuang pandangannya ke samping. Dia tidak mau melihat wajah pria itu dalam jarak yang sangat dekat seperti itu. Sementara Billal tampak heran melihat tingkah aneh Lidya. Namun sejurus kemudian dia baru sadar bagaimana posisinya saat ini. Billal pun juga ikut terkejut.


“Ehm, aku sudah selesai memakaikan sabuk kamu.” Ucap Billal dan sudah kembali ke posisi semula.


“Maaf. Kenapa Anda menjemput saya?” tanya Lidya.


“Aku nggak jemput kamu. Aku tadi hanya kebetulan lewat saja.” Jawab Billal datar.


Sumpah demi apapun Lidya sangat malu telah bertanya seperti itu. Terlalu percaya diri sekali melontarkan pertanyaan yang sangat merendahkan dirinya.


“Maaf.” Lagi-lagi hanya itu yang bisa diucapkan oleh Lidya.


Keduanya pun terdiam. Mobil Billal telah sampai di depan rumah Jenny. Dan Lidya belum menyadari akan hal itu. Karena sebenarnya dia harus pergi ke bandara. Jenny dan Brigita sudah menunggunya sejak tadi.


“Apa kamu masih betah di dalam mobil ini?” tanya Billal.


“Hah? Kenapa turun disini?” ucap Lidya bingung.


“Memangnya kamu mau turun dimana? Mau kamu ikut ke apartemenku?” tanya Billal sedikit jengkel.


“Maaf, Tuan. Harusnya saya pergi ke bandara karena Nyonya Jenny sudah menunggu saya disana. Terima kasih atas tumpangannya. Saya akan naik taksi saja.” Ucap Lidya dan bergegas keluar dari mobil.


“Tunggu! Kembali lah duduk. Biar aku antar saja.” Ucap Billal sambil mencekal pergelangan tangan Lidya.


Lidya pun tidak berani menolaknya dan akhirnya Billal mengantarnya ke bandara. Dalam perjalanan sesekali Billal melirik Lidya yang sejak tadi menurutnya sedang memikirkan sesuatu. Tapi dia pun enggan bertanya.


Sesampainya di bandara, Lidya segera menghampiri Jenny. Dan tanpa Lidya sadari, Billal sejak tadi mengikutinya dari belakang.


“Om? Ada apa Om ikut kesini?” tanya Jenny bingung.


“Nggak ada. Aku hanya ingin bertemu Gita saja. Aku sangat kangen dengannya. Pasti kamu perginya lama kan?” ucap Billal lalu menggendong Gita yang sejak tadi sedang asyik bermain.

__ADS_1


Jenny pun hanya diam dan membiarkannya saja. Memang benar mungkin dirinya akan keluar kota selama kurang lebih satu minggu. Dan itu pasti akan membuat anaknya mencari keberadaan Gita. Sementara Lidya hanya diam saja sambil sesekali mencuri pandang kebersamaan Billal dan Brigita.


***


Setelah acara pernikahan Farah dan Galang selesai, keesokan harinya pasangan pengantin baru itu langsung pergi berbulan madu. Oleh sebab itu selama mereka pergi berbulan madu, otomatis pekerjaan Iqbal sangat banyak dan harus ia kerjakan sendiri.


Hari berganti hari. Iqbal semakin sibuk dengan beberapa pertemuan penting dengan partner bisnisnya. Seperti hari ini, dia sedang meeting dengan salah satu kliennya yaitu Tuan Marvin yang tak lain ayah dari Danisa. Dalam meeting itu Tuan Marvin hadir bersama Danisa. Dan hal itu membuat Iqbal tampak malas.


“Saya sangat senang dengan kinerja anda di perusahaan. Sepertinya mendiang Nyonya Sarah tidak salah memilih anda sebagai Ceo di perusahaannya.” Ucap Tuan Marvin.


“Terima kasih. Anda tidak perlu berlebihan, Tuan. Saya hanya bekerja sesuai dengan kemampuan saya.” Jawab Iqbal.


Sementara Danisa yang sejak tadi duduk di samping Papanya tampak kagum dengan Iqbal. bahkan sejak tadi dirinya terus memandangi Iqbal dan tampak tidak fokus dengan topik pembahasan.


“Oh iya, mungkin selama beberapa minggu ke depan Danisa yang akan mewakili saya meeting dengan anda. Karena saya akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.” Ucap Tuan Marvin dan Iqbal hanya mengangguk samar.


“Iya, Pa. lagipula kita sudah saling mengenal kok Pa. beberapa hari yang lalu kita juga sempat makan malam bersama.” Ucap Danisa.


“Benarkah? Kalau Papa ikut senang mendengarnya.” Ucap Tuan Marvin.


Usai meeting, Iqbal memtuskan untuk langsung pulang karena waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor. entah kenapa akhir-akhir ini Iqbal sangat merindukan sosok gadis kecil yang tinggal di sebelah rumahnya. Setiap hari Iqbal naik ke lantai 2 kamarnya hanya untuk bertemu dengan gadis kecil itu. Tapi beberapa hari ini Iqbal tidak bisa menemuinya, karena pintu kamar gadis itu selalu tertutup rapat.


Sesampainya di rumah, Iqbal tidak lantas membersihkan tubuhnya. Dia langsung naik ke lantai 2 berharap bisa bertemu dengan gadis kecil itu. Namun lagi-lagi dia tidak bisa menemuinya karena pintu kamarnya masih tertutup rapat seperti hari-hari sebelumnya.


***


Hari berganti hari. Farah dan Galang sampai saat ini belum pulang berbulan madu. Iqbal hanya bisa mendengus kesal. Hampir satu minggu mereka menghabiskan waktu berdua di luar negeri. Memangnya apa saja yang mmereka lakukan. Kalau hanya sekadar memadu kasih, mereka kan bisa melakukannya di rumah. Iqbal kesal karena pekerjaannya begitu banyak.


Dan semenjak saat itu Danisa terus saja mendekati Iqbal. bahkan di luar jam kantor, danisa sering mengajak Iqbal jalan, namun Iqbal terus menolaknya dengan alasan sibuk. Tapi Danisa pun tidak menyerah. Hari ini dia meminta bantuan Iqbal untuk mengantar Mamanya ke bandara. Mama Danisa akan ke luar negeri menyusul Papanya.


“Senang brtemu dengan Nak Iqbal. Tante sering mendengar Danisa bercerita tentang Nak Iqbal.” ucap Ambar mama Danisa.


Iqbal hanya tersenyum samar menaggapi hal itu. Dan selang beberapa saat Nyonya Ambar sudah menaiki pesawat yang akan membawanya ke luar negeri. Iqbal memilih duduk di kursi tunggu. Dan membiarkan Danisa saja yang mengantarnya.


“Halo Om!” sapa anak kecil yang sedang duduk di sebelah Iqbal.


Iqbal yang sejak tadi memainkan gedgetnya terkejut setelah mendengar suara anak kecil yang sangat dia kenali, bahkan sangat dia rindukan.

__ADS_1


“Hai! Kamu disini sama siapa?” tanya Iqbal sambil menengok kanan kiri tapi tak ada satu orang pun yang terlihat sedang mencari gadis kecil itu.


“Siapa nama kamu?” tanya Iqbal karena sejak tadi anak itu diam saja dan asyik memainkan bonekanya.


“Perkenalkan nama Om, Om Iqbal.” ucap Iqbal sambil mengulurkan tangannya.


“Gita” jawab anak itu sambil menyambut uluran tangan Iqbal lalu menciumnya dengan takzim. Hati Iqbal sangat tersentuh melihatnya.


“Non Gita, ayo kita pulang. Mama sudah menunggu di mobil.” Ucap Lidya yang baru saja datang.


“Lain kali jangan biarkan anak kecil sendirian di tempat umum.” Ucap Iqbal pada Lidya.


“Maaf Tuan.” Jawab Lidya dan dia pun sangat terkejut saat kembali bertemu dengan pria yang dulu ia temui di pesta pernikahan Farah.


Lidya segera mengajak Gita pergi menghampiri Mamanya. Namun saat sudah di dalam taksi, Gita menangis karena bonekanya tertinggal.


“Ya sudah kamu tunggu disini dulu, Lid. Biar aku saja yang mengambilnya.” Ucap Jenny.


Jenny pun keluar dari taksi dan kembali masuk ke bandara bersama Gita.


“Dimana tadi kamu main bonekanya, Sayang?” tanya Jenny.


“Di cana, Ma. Cama om. Itu Omnya Ma!” Ucap Gita sambil menunjuk Iqbal yang sedang berjalan ke arahnya.


Deg


.


.


.


*TBC


Jedag jedug jedag jedug😂😂😂


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2