
Pagi itu juga selesai sarapan bersama, semua keluarga pulang ke rumah masing-masing. Termasuk Gita yang ikut pulang ke rumah mertuanya.
“Nanti sebelum pulang ke apartemen, jangan lupa pulang ke rumah Mama dulu ya, Sayang?” ucap Jenny sembari memeluk Gita.
“Iya, Ma. Gita pasti pulang. baju-baju Gita juga masih ada di rumah.” jawab Gita.
Setelah itu Gita dan Axel pulang ke rumah Felix dengan dijemput mobil pribadi, karena Mamanya tidak memperbolehkan Axel mengendarai mobil sendiri.
Dalam perjalanan pulang, Gita duduk di jok belakang bersama suaminya. Mereka berdua saling diam. Sedangkan Axel sibuk dengan gadgetnya, walau luka di perutnya masih terasa perih.
Axel berbalas pesan dengan Mikko untuk melakukan tindakan selanjutntnya dari kejadian semalam. Sedangkan Jendra masih membutuhkan istirahat karena luka di wajahnya cukup parah.
Beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpangi Axel dan Gita sudah tiba di halaman rumah Felix. Begitu juga dengan mobil yang dikendarai Felix sudah tiba. Setelah itu Axel dan Gita segera turun dari mobil masuk ke dalam rumah.
“Ayo Sayang, Mama tunjukkan kamar Axel!” ajak Nia menuju kamar Axel.
Sementara itu Axel mengikuti Papanya masuk ke ruang kerjanya. Dia ingin membahas tentang kejadian semalam. Karena Axel tidak ingin orang-orang itu kembali melakukan niat jahatnya untuk menculik Gita.
“Pa, bagaimana tindakan selanjutnya?” tanya Axel.
“Kamu tenang saja, kemarin Papa sudah membicarakannya dengan Iqbal. yang terpenting Mikko sudah mendapatkan barang bukti itu. Sepertinya memang mereka komplotan orang yang sangat ahli. Jadi kita harus bermain pintar juga.” jawab Felix.
“Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, Papa beritahu Axel.” Ucap Axel.
“Pasti. Yang terpenting sekarang kamu harus menjaga Gita. Karena memang Gita yang menjadi incarannya, walau Papa dan Iqbal belum tahu apa motif mereka ingin menculik istri kamu.” Ucap Felix.
“Baik, Pa.” setelah itu Axel keluar dari ruang kerja Papanya.
Sementara itu saat ini Gita sedang berdiri di balkon kamar Axel. Hatinya berkecamuk. Disaat rasa bencinya terhadap Axel masih mendominasi, justru laki-laki itu sikapnya tiba-tiba berubah. Gita menekan kuat dadanya dari rasa sesak. Meski dia sudah menutup hatinya untuk semua laki-laki terutama Axel yang berstatus suaminya sendiri, tapi apakah hati nuraninya sebagai manusia juga ikut tertutup. Terlebih melihat ada yang tidak beres dengan dengan Axel semalam.
Ingin rasanya mulut Gita bertanya tentang noda darah yang ada di kemeja suaminya semalam. Tapi melihat sikap Axel yang dingin, membuatnya urung bertanya.
__ADS_1
Cklek
Pintu kamar terbuka, menampakkan laki-laki tampan si pemilik asli kamar itu. Axel berjalan pelan lalu membuka lemarinya untuk mengambil baju. Gita yang sejak tadi berdiri di balkon tidak menyadari kalau Axel sudah masuk ke kamar.
Saat Gita masuk ke dalam kamar, dia sangat terkejut saat pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Dan Axel keluar dari sana. Namun Gita mencoba untuk abai.
“Ini! pakailah untuk kebutuhan kamu.” Axel memberikan kartu ATM pada Gita.
“Tidak perlu! Aku masih punya uang.” Tolak Gita.
“Terimalah. Meskipun kamu tidak menganggapku sebagai suami, tapi yang tertulis status kita adalah suami istri. Dan ATM ini adalah bukti kalau aku adalah suami yang bertanggung jawab memberi nafkah pada istriku.” Ucap Axel tegas dengan meraih tangan Gita sedikit kasar.
Deg
Tiba-tiba dari sentuhan tangan Axel yang kasar itu membuat Gita terkejut dan teringat kejadian itu di benaknya. Dimana dia yang memaksa Axel melayaninya. Dan juga Axel yang menggenggam tangannya dengan kasar saat melakukan penyatuan.
Axel juga terkejut melihat perubahan wajah Gita. Kemudian Gita menghindari tatapan Axel dan tangannya seolah ingin meraihnya.
“Gita, ada apa?” tanya Axel.
Axel bingung, ada apa dengan Gita. Kenapa tiba-tiba dia berubah seperi itu. Dia ingin menghampiri dan bertanya pun tidak jadi, karena Gita masih merasa seperti ketakutan.
Harusnya Axel dan Gita menginap di rumah Felix. Tapi setelah ada kejadian aneh tadi, mendadak Gita minta langsung pulang ke apartemen. Felix dan Nia juga sedikit heran kenapa menantunya tidak mau tinggal di rumahnya. Tapi setelah Axel meyakinkan kalau Gita ingin tinggal berdua saja akhirnya kedua orang tua Axel mengerti.
Berbeda dengan Nia. dia tahu alasan Gita ingin pulang ke apartemen, yaitu tidak ingin tidur berdua dengan suaminya. Sungguh miris sekali Nia melihat rumah tangga anaknya yang baru satu hari berlangsung.
“Ya sudah, nanti Mama akan sering-sering main ke apartemen kalian. Atau Mama juga akan menginap disana.” Ucap Nia.
“Ii..iya Ma.” Jawab Gita gugup.
Dan sore itu juga Axel menuruti kemauan Gita untuk pulang ke apartemen. Jarak rumah ke apartemen membutuhkan waktu tiga puluh menit. Tapi tidak jauh dari kantor milik Iqbal.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen yang sangat elit itu, Gita segera masuk dengan membawa bajunya yang ada dalam tas kecil. Sedangkan Axel membawa koper yang berisi bajunya. Dalam apartemen itu terdapat dua kamar tidur, satu ruangan untuk ruang kerja.
Axel melihat Gita memasuki sebuah kamar. dan tanpa disuruh, dia pun memasuki kamar yng berada di sebelah kamar Gita. Karena tidak mungkin dia akan tidur satu kamar dengan Gita.
***
Sementara itu di kediaman Iqbal, dia sedang tampak berbicara serius dengan Chandra. Putra sulung Lidya. Iqbal meminta bantuan Chandra untuk ikut mencari tahu komplotan penjahan yang tertangkap kamera cctv hotel.
“Dilihat dari potongan rekaman itu yang tidak penuh dan ada sebagian rekaman yang hilang, sepertinya orang itu adalah orang yang sama saat akan menusuk Gita di bandara tempo hari, Uncle.” Ucap Chandra.
“Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa langsung melaporkan ke polisi?” tanya Iqbal.
“Jangan dulu, Uncle. Kalau masalah seperti ini, Ayah ahlinya. Uncle tahu sendiri kan dengan kejadian yang menimpa keluarga Chandra beberapa tahun silam? Dan Ayah sendiri lah yang berhasil mengungkap pelakunya.” Ucap Chandra.
“Tapi saat ini Papa masih berada di luar negeri. Dan kata Mama masih belum tahu kapan pulangnya. Yang terpenting saat ini, rekaman itu masih aman. Sambil menunggu Ayah pulang, kita bisa melakukan antisipasi dan memperketat penjagaan Gita.” Lanjut Chandra.
“Baiklah.” Jawab Iqbal.
***
Sementara itu saat ini Andreas sedang marah-marah di rumah Malik, sahabatnya. Bagaimana tidak marah, lagi-lagi anak buahnya sekaligus anak buah Malik telah gagal menculik Gita. Padahal dia tidak menyuruh satu orang yang bekerja. Apalagi anak buah Malik sampai ada yang teledor belum sempat meretas rekaman cctv bagian dapur hotel.
“Tenanglah, Vin! Aku akan berusaha mengabulkan keinginanmu.” Ucap Malik.
“Kalau terus begini, aku juga tidak bisa tinggal diam. Sekarang juga aku akan masuk ke perusahaan Iqbal. dengan perlahan aku akan memainkan perusahaan itu. Entah yang mana yang akan berhasil duluan. Perusahaannya yang bangkrut, atau anak perempuannya mati mengenaskan.” Ujar Andreas ddengan senyum devilnya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️