
Semalaman Iqbal tidur di rumah sakit menemani istrinya. Dan semalaman juga mata Iqbal sulit terpejam karena Jenny sering terbangun dari tidurnya dan kembali merasakan nyeri dan kram pada perutnya. Dia juga sudah memanggil perawat jaga dan hanya diberi obat Pereda nyeri sementara saja sebelum besoknya akan dilakukan tindakan operasi.
Sementara itu Billal kini tidur di rumah Iqbal untuk menemani Gita. Benar yang yang dikatakan oleh Iqbal tadi, saat Billal baru datang, dia sudah mendengar tangis Gita mencari Mamanya. Dan disana juga terlihat Lidya kesusahan menenangkannya walau sudah dibantu oleh ART.
Billal melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam dan Gita baru saja tidur setelah sempat minta ditemani bermain. Lalu Billal melihat wajah lelah Lidya yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
“Kamu tidurlah di kamar tamu, biar aku tidur sama Gita di kamarnya.” Ucap Billal.
“Tapi, Tuan. Bagaimana jika nanti Non Gita terbangun dan membutuhkan sesuatu. Kamarnya kan ada di lantai dua?” tanya Lidya.
“Sudah, kamu jangan khawatir soal itu.” Ucap Billal lalu menggendong Gita dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Akhirnya Lidya mau tidak mau menuruti perintah Billal untuk tidur di kamar tamu. Karena matanya sudah sangat mengantuk, Lidya pun tertidur dengan cepat.
Sedangkan Billal sampai saat ini belum bisa memejamkan matanya. ingatannya masih terbayang dengan Danisa yang telah mempermalukan Jenny saat di pesta tadi. kemudian dia mengirim pesan pada seseorang untuk mencari tahu tentang siapa Danisa. Billal tidak menyangka melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Jenny sedang dipermalukan di depan banyak orang. Dia sangat murka dengan wanita bernama Danisa.
Billal kembali melirik jam dinding dan sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Dia masih belum bisa memejamkan matanya. dan tiba-tiba saja pikirannya teringat dengan Lidya. Terlebih dengan kejadian minggu lalu saat dirinya diam-diam mengikuti Lidya pulang ke kampung halamannya.
Billal mengetahui dan mendengar semua pembicaraan Lidya dengan kedua orang tuanya. Termasuk rencana perjodohan Lidya yang akan dinikahkan oleh pria beristri 2. Entah kenapa ada rasa tidak rela di hati Billal jika nanti Lidya menikah.
“Tidak. Aku hanya kasihan saja dengannya.” Gumam Billal.
Setelah itu dia memutuskan untuk keluar dari kamar Gita dan turun ke lantai 1. Billal berjalan mendekati kamar tamu dimana Lidya tidur. Dan perlahan dia memasuki kamar itu setelah dapat memastikan penghuni kamar itu sedang terlelap.
“Maafkan aku, Lidya!” gumam batin Billal.
***
Sementara itu pagi ini Jenny sudah tidak merasakan nyeri lagi di area perutnya, setelah mendpatkan suntikan pereda nyeri. Bahkan menjelang pukul 4 pagi dia baru saja bisa tidur dengan nyenyak.
Mata Jenny perlahan mengerjap. Dia melihat suaminya sedang tertidur sambil duduk di samping brankarnya dengan kepala ditelungkupkan. Jenny mengusap lembut kepala Iqbal. ada rasa haru saat merasakan suaminya yang begitu peduli dan perhatian terhadapnya.
“Aku sangat mencintaimu, Mas!” ucap Jenny lirih.
“Aku lebih dari itu.” Jawab Iqbal sambil memegang lembut tangan Jenny.
“Mas, kamu sudah bangun? Sejak kapan?” tanya Jenny terkejut.
__ADS_1
“Sejak kamu mengusap rambutku tadi. bagaimana? Apa masih sakit?” tanya Iqbal yang kini sudah duduk tegap sambil membelai pipi istrinya.
“Tidak, Mas. Aku merasa lebih baik.” Jawab Jenny.
Setelah itu Iqbal masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Lalu dia mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat kemudian dia menyeka tubuh istrinya.
Jenny tampak terdiam saat suaminya menyeka tubuhnya yang terasa sangat lengket. Iqbal melakukannya dengan sabar, seperti saat Jenny melakukan hal yang sama padanya waktu kecelakaan dulu.
“Mas, jangan bilang ke Mama dan Papa kalau aku sedang dirawat di rumah sakit.” Ucap Jenny pelan.
“Kenapa?”
“Aku nggak mau membuat mereka khawatir.”
“Baiklah terserah kamu kalau begitu.”
“Mas, aku sangat kangen Gita. Bagaimana dia semalam tidurnya?” tanya Jenny lagi.
“Gita baik-baik saja. Semalam aku meminta Om Billal tidur disana.” Jawab Iqbal.
“Operasinya akan dilakukan nanti siang pukul 1, Nyonya.” Ucap Dokter setelah selesai melakukan pemeriksaan menyeluruh.
“Baik, Dok.” Jawab Jenny sambil mengangguk.
Setelah kepergian dokter dan perawatnya, Iqbal menyuapi istrinya untuk sarapannya sebelum nanti diminta untuk puasa selama kurang lebih 6 jam sebelum dilakukan operasi.
“Kamu yang tenang, ya Sayang. Jangan takut. Aku akan selalu mendoakan kamu.” Ucap Iqbal seolah mengerti ketakutan yang sedang dirasakan oleh istrinya.
“Iya, Mas. Terima kasih.” Jawab Jenny.
Setelah menyelesaikan sarapannya, tak lama kemudian pintu ruangan itu diketuk dan muncullah Galang dan Farah. Mereka berdua terkejut saat mendengar kabar bahwa Jenny sedang dirawat di rumah sakit. Maka pagi ini sebelum pergi ke kantor, Galang dan Farah menyempatkan diri untuk ke rumah sakit dulu.
“Bagaimana kabar kamu, Jen? Maaf aku baru bisa kesini.” Ucap Farah cemas.
“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang.” Jawab Jenny.
Setelah itu Iqbal memberitahu pada Galang dan Farah kalau istrinya sedang terkena gejala Polycystic Ovarian Syndrome karena terdapat kista ovarium dalam rahimnya. Dan siang nanti akan dilakukan tindakan operasi.
__ADS_1
“Semoga nanti operasinya lancar, Jen. Aku dan Farah hanya bisa mendoakanmu saja.” Ucap Galang tulus.
“Terima kasih, Kak.” Jawab Jenny.
Setelah itu Galang dan Farah pamit untuk pergi ke kantor. Iqbal juga mengucapkan terima kasih pada mereka dan meminta waktunya untuk cuti beberapa hari menemani istrinya di rumah sakit.
Waktu pun berlalu. Sebentar lagi Jenny akan segera melakukan operasi pengangkatan kista di rahimnya. Sejak tadi wajahnya sedikit murung. Lalu sebelum dibawa ke ruang operasi, dia meminta suaminya agar melakukan panggilan video dengan Gita. Iqbal pun menyetujuinya.
Jenny menteskan air matanya saat melihat wajah lucu anaknya yang sedang berceloteh di balik sambungan video call itu. Gita yang masih belum mengerti dengan keadaan Mamanya sekarang hanya bisa memanggil-manggil mamanya seolah ingin bertemu secara langsung.
“Sudah ya, Sayang. Doakan Mama cepat sembuh biar bisa main bareng lagi sama Gita.” Pamit Iqbal setelah mengambil ponselnya dari genggaman istrinya.
Dan tak lama kemudian Jenny dibawa masuk ke dalam ruang operasi.
***
Sementara itu, saat ini Billal sedang bertemu dengan seseorang yang semalam dia hubungi untuk mencari informasi tentang Danisa. Billal tampak melakukan pembicaraan serius dengan orang itu.
“Aku minta, hari ini juga buat saham perusahaan Tuan Marvin anjlok.” Ucap Billal.
“Baik, Tuan.” Jawab orang suruhannya.
“Setelah itu, besok siapkan kejutan untuk Danisa di perusahaan Papanya sendiri. Dan siapkan sekalian wartawan yang akan meliput berita heboh itu.” Perintah Billal dengan seringai tipis di bibirnya.
.
.
.
*TBC
Nihhh.... hari ini othor kasih up 3 eps loh. jgn pelit like dan komennya ya😁😁✌️
oh iya, ada revisi sedikit di eps 85 ya guys, maapkan othor ketikannya ada yg hilang🙏🙏
Happy Reading‼️
__ADS_1