Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 148


__ADS_3

Gita dan Dimas sudah tiba di tempat dimana dia akan melihat langsung perkembangan proyek yang sedang dikerjakan oleh perusahaan milik Papanya dengan Tuan Andreas. Seperti biasa Tuan Andreas bersikap hangat pada Gita dan juga Dimas. Namun Gita masih saja menjaga jarak karena menurutnya Andreas tetap orang asing. Dan akhirnya Gita berusaha bersikap biasa pada Dimas.


“Beruntung sekali Tuan Iqbal memiliki putri yang sangat pintar seperti Nona Gita.” Puji Andreas.


Gita hanya mengangguk samar. Dan lebih fokus dengan pekerjaannya. Sedangkan Dimas juga sejak tadi berada di sisi Gita saat Andreas mengajak mengelilingi bangunan dan melihat beberapa pekerja yang sedang sibuk.


Andreas mulai menjalankan rencananya. Dia sudah meminta seseorang untuk mengalihkan perhatian Dimas agar tidak selalu dekat dengan Gita. Seperti saat ini saja, Dimas sedang melihat keadaan salah seorang pekerja yang tidak sengaja mengalami kecelakaan kecil.


“Kamu lanjutkanlah dulu dengan Tuan Andreas, Git. Aku mau lihat pekerja itu dulu, siapa tahu membutuhkan perawatan lebih lanjut. Sebentar lagi aku akan menyusul.” Dimas meyakinkan.


Awalnya Gita kurang setuju, tapi mau bagaimana lagi, yang dikatakan Dimas memnag benar. Setelah itu Gita melanjutkan langkahnya mengikuti Andreas.


“Kalau melihat sosok Nona Gita, saya jadi ingat dengan mendiang putri saya. Dia juga perempuan pintar dan sangat pekerja keras.” Ucap Andreas.


Gita hanya mendengarkan saja. Karena jujur saja dia tidak suka pada Andreas yang bersikap sok akrab dengannya. Dan dia juga tidak peduli dengan kehidupan pribadi Andreas.


“Apa Nona Gita tahu kenapa anak saya meninggal?” tanya Andreas dan membuat Gita semakin bosan. Namun dia berusaha tetap sopan, dengan menjawab hanya dengan gelengan kepala.


“Anak saya meninggal karena disakiti oleh kekasihnya. Padahal anak saya sangat mencintai laki-laki itu. Tapi sayangnya ada perempuan lain yang datang merebut kekasih anak saya. Dan karena itulah anak saya depresi hingga meninggal dunia.” Andreas berucap dengan dramatis. Bahkan Gita yang mendengarkan saja tiba-tiba ikut iba.


“Saya turut simpati mendengarnya, Tuan.” Ucap Gita.


Andreas megangguk sambil mengusap kedua sudut matanya yang sudah berair. Dan tanpa sadar langkah Gita sudah berada agak jauh dari bangunan proyek itu. Dan ternyata disana sudah ada sebuah mobil yang menunggunya. Perasaan Gita semakin tidak enak setelah tidak lagi mendengar Andreas berbicara. pria itu terlihat seperti membalas pesan seseorang. Kemudian Gita melihat dua orang pria bertubuh kekar baru saja keluar dari mobil yang berada tidak jauh dengannya.


Dengan cepat Gita mengambil ponselnya yang ada dalam tas secara sembunyi-sembunyi walau tubuhnya sudah gemetar. Dia mengetik pesan singkat pada Axel. “Kak, tolong!” belum sempat memasukkan kembali ponsel ke dalam tas, dua pria itu sudah berlari mendekati Gita. Lalu Gita menyimpan ponselnya di dalam saku jas dengan cepat.


Gita melangkah mundur, ternyata badannya menabrak Andreas yang pura-pura tidak tahu apa-apa.


“Maaf, Tuan. Hmmm-“ ucapan Gita terpotong saat salah satu pria itu sudah membungkamnya dengan sapu tangan kemudian pingsan.


Sementara itu Dimas yang tadi sedang melihat kondisi pekerja yang mengalami kecelakaan kecil dan sudah memastikan bahwa baik-baik saja, dia kembali menyusul Gita. Namun dia ingin mencuci tangan terlebih dulu.

__ADS_1


Kebetulan tempat cuci tangan itu terlihat sepi. Dimas buru-buru ingin menyusul Gita. Namun tidak sengaja dia mendengar percakapan dua orang pria yang sangat mencurigakan.


“Bos meminta kita agar laki-laki yang bernama Dimas itu kita tahan dulu, sampai perempuan itu berhasil dibawa masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di belakang gedung ini.” ucap salah satu pria.


“Baiklah. Sepertinya laki-laki itu masih berada di tempat tadi setelah kita berhasil mengalihkan perhatiannya.” Jawab salah satunya.


Dimas sangat terkejut saat mendengarnya. Diam-diam dia segera mencari keberadaan mobil yang akan membawa Gita, sambil menghubungi atasannya untuk memberitahu kalau Gita sedang dalam bahaya. Sayangnya, Iqbal tidak bisa dihubungi. Dengan langkah tergesa, Dimas akhirnya menemukan mobil yang diduga membawa Gita. Bahkan mobil itu baru saja keluar dari area proyek.


Dimas berlari cepat untuk mencari taksi dan mengejar mobil yang ada di depannya. Untung saja ada sebuah taksi yang melintas. Kemudian dia kembali menghubungi Iqbal.


“Halo Tuan! Nona Gita sedang dalam bahaya. Ada yang menculiknya dan sekarang saya sedang mengejarnya.” Ucap Dimas sebelum Iqbal bertanya.


“Kamu dimana sekarang posisinya? Tolong kirim lokasinya sekarang.” tanya Iqbal lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Tak lama kemudian, ponsel Iqbal berdering lagi. Dan itu panggilan dari Axel. Axel memberitahu kalau sekarang sedang mencari keberadaan Gita yang sedang dalam bahaya. Axel juga berkata singkat kalau kemungkinan itu adalah ulah pria yang bernama Andreas. Iqbal belum begitu mengerti maksud Axel. Karena menantunya itu sudah mengakhiri panggilannya.


Iqbal juga bergegas pergi menuju tempat sesuai loksai yang dibagikan oleh Dimas beberapa detik yang lalu. Dia juga menghubungi Sean untuk mencari tahu tentang rekan bisnisnya yang bernama Andreas.


“Gita, semoga kamu baik-baik saja. Aku akan berusaha menyelamatkanmu.” Gumam Axel sambil mencengkeram kuat setirnya.


**


Mobil yang dikendarai oleh anak buah Marvin alias Andreas kini sudah melaju sangat jauh, bahkan sudah keluar dari kota. Dalam perjalanan itu pun Gita masih pingsan karena pengaruh obat bius.


Beberapa menit kemudian mobil itu sudah tiba di sebuah Villa terpencil dan sangat jauh dengan kawasan penduduk. Anak buah Marvin menggendong Gita dan membawanya masuk ke dalam dengan diikuti oleh Marvin.


Di dalam Villa itu ternyata sudah ada Malik beserta asistennya yang sudah menunggunya sejak tadi. senyum sumringah ia tunjukkan pada sahabatnya yang sebentar lagi berhasil membalaskan dendamnya.


“Ikat di kursi itu!” perintah Marvin.


“Apa kamu sudah memastikan kalau tidak ada orang yang mengikutimu ke Villa ini?” tanya Malik.

__ADS_1


“Aku sangat yakin. Lagi pula Villa ini sudah dilengkapi cctv di tiap sudutnya,” jawab Marvin.


Setelah Gita berhasil duduk di sebuah kursi dengan badan terikat, kini hanya menunggunya siuman dari pingsannya. Setelah itu Marvin sudah menyiapkan seseorang yang akan melaksanakan tugas selanjutnya.


Sementara itu Dimas menghentikan taksi yang ditumpanginya di tepi jalan. Dia memilih menunggu Iqbal atau siapapun yang akan menyelamatkan Gita. Karena akan sangat berbahaya jika dia datang seorang diri terlebih dengan tangan kosong.


Dimas juga sudah mengetahui keberadaan tempat itu dari map. Jadi dia yakin kalau Gita sudah berada dalam sebuah tempat yang tidak jauh dari posisinya. Karena kawasan itu berada di ujung pesisir.


*


“Siapa kalian??” tanya Gita ketakutan saat baru saja sadar dari pingsannya.


Gita baru saja membuka matanya setelah kurang lebih selama dua puluh lima menit terikat. Tubuhnya sudah bergetar hebat. Dia sama sekali tidak ingat bagaimana bisa berada di tempat ini dengan posisi badan terikat.


“Anda lupa dengan saya, Nona Gita?” tanya Andreas yang kini mendekati Gita.


Seketika Gita berteriak histeris. Bukannya minta tolong, Gita justru berteriak dan mengancam akan membunuh orang-orang yang ada dalam ruangan itu. Andreas sangat terkejut melihat sikap aneh Gita yang seperti itu.


“Sepertinya ada yang tidak beres dengan mental perempuan itu.” Ucap Malik.


“Marco! Segera lakukan tugasmu!” perintah Malik kemudian.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2