
Malam harinya setelah pulang kerja, Dimas bergegas menuju café dimana Inez mengajaknya bertemu. Entah kenapa dia merasakan rindu pada gadis yang akhir-akhir ini sedang dekat dengannya. Namun Dimas merasa ada sesuatu hal yang sedang disembunyikan oleh Inez selama beberapa hari ini menghilang.
Dimas mencoba berpikir keras. Apakah itu semua berhubungan dengan calon suami Inez yang ia ketahui sering melakukan kekerasan fisik terhadap Inez. Ya, Inez sudah menceritakan semua pada Dimas kalau calon suaminya sering melakukan kekersan fisik.
Berdasarkan cerita Inez, calon suami Inez adalah laki-laki dulu yang pernah ia tolak cintanya semasa masih duduk di bangku kuliah. Inez tidak menyangka kalau ia akan dijodohkan oleh Jerry. Mau menolak pun tak kuasa, karena Jerry mengancam akan membuat perusahaan milik orang tuanya bangkrut. Jadi terpaksa Inez menerima perjodohan itu. Dan mengenai kekerasan fisik yang dilakukan oleh Jerry itu lantaran Inez yang sering menolaknya untuk diajak bertemu.
Inez tidak menceritakan secara gamblang pada Dimas tentang ajakan Jerry jika bertemu yaitu ingin mengajaknya bercinta.
Dari situlah Dimas berusaha membantu Inez untuk keluar dari jeratan laki-laki baj***n itu. Walau Dimas sendiri sadar kalau dirinya bukan lawan yang kuat buat Jerry.
“Maaf, aku telat.” Ucap Dimas saat baru saja duduk di kursi depan Inez.
Inez hanya mengangguk sebentar, setelah itu ia kembali menundukkan kepalanya. Namun Dimas masih belum menyadari perubahan wajah Inez. Dia masih sibuk memesan minuman sebelum menanyakan perihal keberadaan Inez yang selama dua hari ini tidak ada kabar.
“Kamu kemana saja, Nez? Aku selalu menghubungimu tapi ponsel kamu tidak aktif.” Tanya Dimas.
“Ada apa Kak Dimas mencariku?” tanya Inez balik dengan memberanikan diri menatap mata Dimas.
Jujur saja Inez sangat senang mendengar Dimas telah menghubunginya. Dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Dimas. Hanya saja keduanya sama-sama tidak ada keberanian untuk mengungkapkan perasaan masing-masing. Dan kini harapan Inez untuk selalu dekat dengan Dimas telah sirna, lantaran sebentar lagi dirinya akan menikah.
“Ah, itu ehm… nggak ada apa-apa. Hanya ingin tahu kabar kamu saja. Apakah kamu baik-baik saja?” Jawab Dimas.
Inez kembali terdiam. Kemudian dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Dimas. Dimas terkejut menerima undangan pernikahan Inez yang akan diadakan minggu depan. Mungkinkah masih ada kesempatan untuk mendapatkan hati gadis itu.
“Kamu akan menikah?” tanya Dimas tak percaya.
“Iya, Kak. Doakan acaranya lancar. Maaf beberapa hari aku sangat sibuk, sampai aku lupa kalau ponselku kehabisan daya.” Jawab Inez.
“Apakah kamu yakin akan menikah dengan laki-laki yang selalu menyakitimu, Nez?” tanya Dimas dengan sendu. Dia sungguh tidak rela kalau Inez akan menikah dengan Jerry.
“Jerry sebenarnya laki-laki baik, Kak. Aku yakin setelah menikah nanti pasti sifatnya berubah.” Jawab Inez lalu kembali menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Nez, sampai kapanpun seorang laki-laki yang suka main fisik tidak akan pernah bisa berubah. Mungkin hanya ucapannya saja, tapi percayalah, suatu saat pasti dia akan melakukan hal itu lagi. Tolong, Nez pertimbangkan lagi keputusanmu untuk menikah dengannya.” Dimas berusaha mempengaruhi Inez.
“Maaf, Kak tapi ini sudah keputusan final.” Jawab Inez lalu bergegas pergi meningalkan Dimas.
Dengan cepat Dimas membayar minuman yang sudah ia pesan. Setelah itu ia berlari mengejar Inez yang berjalan dengan cepat sambil mengusap air matanya. Dimas sangat yakin kalau Inez sedang tidak baik-baik saja.
“Inez tunggu!” panggil Dimas. laluInez menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
“Pikirkan sekali lagi tentang keputusanmu yang akan menikah, Nez. Aku nggak mau kamu menderita di tangan laki-laki berengsek itu.” Ucap Dimas.
“Maaf, Kak aku tidak bisa, karena aku-“
“Aku mencintaimu, Nez!” teriak Dimas dan membuat Inez sangat terkejut. Tapi percuma saja, karena hari pernikahannya sudah ditentukan. Andai saja Dimas mengungkapkan perasaannya sejak dulu, mungkin kejadiannya tidak seperti ini.
Inez mengabaikan ungkapan cinta Dimas. Dia melanjutkan langkahnya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Dimas merasakan sakit hatinya saat mengetahui kenyataan bahwa gadis yang dicintainya akan menikah dengan laki-laki lain. Bahkan ungkapan cintanya tidak mendapat sambutan baik dari Inez.
Akhirnya Dimas memutuskan untuk pulang. dengan membawa luka di hatinya. Entah siapa yang akan mengobati luka itu, dia sendiri pun tidak bisa.
Bugh
Tubuh Dimas tersungkur di bawah motornya setelah ada seseorang yang menendangnya. Kemudian dia mencoba bangkit untuk melihat siapakah orang yang dengan berani mendangnya. Namun belum sempat bangun, Dimas kembali mendapatkan serangan. Dan kali ini kepalanya membentur setir motornya.
“Siapa kamu?” tanya Dimas saat dia menjauh dari laki-laki yang akan memberikan tendangan lagi. Ternyata laki-laki itu adalah laki-laki yangh sejak tadi menatapnya dengan sengit.
“Justru aku yang bertanya pada kamu. Siapa kamu berani-beraninya mendekati calon istriku?” ternyata laki-laki itu adalah Jerry. Sejak tadi ia sudah mengintai Inez yang sedang ada janji temu dengan Dimas. Bahkan Jerry juga mendengar sendiri ungkapan cinta Dimas pada Inez, dan membuatnya semakin meradang.
“Jauhi Inez! Apa kamu mau hidup menderita karena telah mengganggu calon istri orang?” Jerry berbicara dengan nada penuh ancaman.
“Aku nggak peduli. Aku tidak akan membiarkan Inez jatuh ke tangan laki-laki berengsek seperti kamu.” Jawab Dimas.
__ADS_1
Jerry kembali meradang. Dengan cepat dia memukuli Dimas. Dimas pun melawannya, namun tenaganya tidak cukup kuat, karena Jerry sudah terlebih dulu menendang Dimas. Namun saat Jerry akan menghantam kepala Dimas dengan menggunakan helm yang ada pada motor Dimas, tiba-tiba saja tubuh Jerry tersungkur setelah mendapat serangan mendadak dari seseorang.
Orang itu pun menyerang Jerry sampai tak berdaya. Hingga akhirnya Jerry memilih kabur dari tempat itu.
“Axel?” ucap Dimas saat melihat yang menolongnya adalah Axel.
“Ayo, luka kamu perlu diobati.” Axel segera membantu Dimas berdiri dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Gita sejak tadi menunggu suaminya di dalam mobil, karena Axel ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di meja café.
Setelah itu dia sangat terkejut saat melihat suaminya kembali dengan memapah Dimas dengan wajah yang penuh lebam.
“Kak Dimas kenapa?” tanya Gita khawatir.
“Sayang, kamu tahu rumah Dimas? Lebih baik kita segera antar dia pulang dan mengobati lukanya.” Tanya Axel mengabaikan pertanyaan istrinya.
“Tapi motorku?” tanya Dimas sambil menahan perih pada lukanya.
“Biar nanti diambil oleh temanku.” Jawab Axel lalu segera membantu Dimas masuk ke dalam mobil dan pergi menuju rumah Dimas.
Dalam perjalanan, Gita menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Dimas yang menurutnya begitu mengenaskan.
“Minum, Kak!” Gita memberikan air mineral pada Dimas yang sedang duduk bersandar.
Sedangkan Axel hanya melirik istrinya yang begitu peduli dengan Dimas.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️