
Beberapa hari setelah mengatakan bahwa dirinya akan tetap menjaga Jenny, Iqbal mencoba untuk bersikap seperti biasa pada perempuan itu. Dia juga masih seperti biasa, akan mengantar Jenny berangkat ke butik sebelum pergi ke kantor.
***
Sesuai dengan yang sudah dibicarakan sebelumnya bahwa hari ini kedua orang tua Iqbal akan datang berkunjung ke kota B. mungkin Bram dan Desy akan menginap selama beberapa hari disana. Iqbal dan Jenny pun sudah mempersiapkan semuanya. Jenny sudah memindahkan baju-bajunya ke kamar Iqbal. bahkan Iqbal sudah menyiapkan kasur lipat untuk dia tidur selama kedua orang tuanya akan menempati kamar Jenny.
“Mama dan Papa akan tiba di bandara nanti sore sekitar jam 4. Kamu sudah keluar bukan? Nanti aku jemput dan kita langsung ke bandara untuk menjemput Mama dan Papa.” Ucap Iqbal setelah sampai depan butik.
“Iya, Kak.” Jawab Jenny.
Setelah itu mereka berdua mulai menjalani aktivitasnya masing-masing. Iqbal yang jabatannya sebagai asisten Ceo, kinerjanya semakin bagus. Nyonya Sarah sudah sangat percaya pada Iqbal. bahkan wanita paruh baya itu seringkali meminta Iqbal mewakilinya meeting dengan beberapa kliennya. Sedangkan Farah juga banyak belajar dari Iqbal selama membantu Maminya di kantor.
Iqbal melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah empat. Dia melihat notif pesan dari mamanya yang mengatakan baru saja sampai bandara. Iqbal pun membalas pesannya untuk menunggu sebentar lagi. Setelah itu Iqbal meminta ijin pada atasannya untuk pulang lebih awal. Kebetulan pekerjaannya juga sudah selesai.
Iqbal melakukan panggilan pada Jenny untuk segera bersiap karena sebentar lagi akan ia jemput. Panggilan pertama tidak mendapat jawaban. Dan panggilan kedua Jenny menolaknya. Iqbal heran kenapa Jenny menolak panggilannya. Namun saat Iqbal akan melakukan panggilan yang ketiga, Jenny mengirim pesan.
“Kak, maaf aku tidak bisa ikut jemput Mama dan Papa. Aku sangat sibuk. Nanti aku pulangnya naik taksi saja.” Tulis Jenny.
Iqbal hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Dia segera berangkat ke bandara karena tidak enak jika kedua orang tuanya terlalu lama menunggu.
Beberapa saat kemudian, Iqbal sudah sampai di bandara. Dia melihat kedua orang tuanya sudah duduk menunggunya.
“Ma, Pa maaf menunggu lama.” Ucap Iqbal sambil mencium tangan Mama dan Papanya dengan takzim.
“Nggak apa-apa. Kemana istri kamu?” tanya Desy.
“Jenny tidak bisa ikut menjemput Ma. Dia tadi bilang mendadak banyak kerjaan. Ya sudah ayo kita langsung pulang.” Ajak Iqbal kemudian. Desy dan Bram pun hanya mengangguk.
“Dimana taksinya?” tanya Desy.
“Kita nggak naik taksi Ma. Tapi naik mobil Iqbal.” jawab Iqbal.
“Kamu beli mobil baru?” tanya Bram.
“Nggak Pa. nanti Iqbal beritahu semuanya kalau sudah di rumah.” jawab Iqbal.
Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan pulang, Iqbal tampak berpikir tentang Jenny. Kenapa Jenny tiba-tiba saja membatalkan janji dan tidak ikut menjemput kedua orang tuanya. Bahkan selama ini dia tidak pernah lembur.
__ADS_1
Sambil menyetir, Iqbal melihat ponselnya sebentar. Ternyata ada pesan masuk disana dan dia mengabaikannya karena buru-buru menjemput orang tuanya. Iqbal melihat pesan itu terkirim beberapa menit sebelum dirinya menelepon Jenny tadi.
“Jangan lama-lama, ya. Aku sudah sangat merindukan kamu.”
Wajah Iqbal seketika memerah menahan amarahnya. Dia juga melupakan satu hal bahwa Xavier juga akan datang ke kota ini bersamaan dengan orang tuanya. Namun yang membuatnya marah adalah karena Jenny. Bisa-bisanya dia lebih mementingkan Xavier daripada mertuanya.
“Hubungan kamu dan Jenny baik-baik saja kan?” tanya Desy tiba-tiba.
“I..iya Ma. Kami baik-baik saja.” Jawab Iqbal sedikit gugup.
“Syukurlah kalau begitu.” Ucap Desy kemudian.
Setelah sampai rumah, Iqbal mempersilakan kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar yang biasanya ditempati oleh Jenny. Iqbal juga masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
Iqbal memantau GPS dari ponsel Jenny. Saat ini perempuan itu sedang berada di dalam restaurant sebuah hotel yang cukup terkenal di kota B. entah kenapa perasaan Iqbal tidak tenang, mengingat Jenny sedang berdua bersama Xavier. Lalu dia memutuskan untuk menjemput Jenny.
“Mau kemana?” tanya Bram yang sedang duduk santai di ruang tengah.
“Ehm, aku mau jemput Jenny, Pa. katanya sudah selesai pekerjaannya.” Jawab Iqbal.
“Ya sudah hati-hati di jalan. Mama juga sudah sangat merindukan menantu Mama.” Ucap Desy sambil melirik suaminya.
Iqbal masuk ke dalam restaurant untuk mencari keberadaan Jenny. Lalu matanya kini sudah berhasil menemukan Jenny yang terlihat sedang asyik berbincang dengan Xavier. Bahkan mereka berdua duduk sangat dekat. Sesekali tangan Xavier mengacak rambut Jenny dengan gemas.
Iqbal dari jauh melihat itu semua tampak mengepalkan tangannya kuat. Tapi dia harus tetap bersabar agar tidak meluapkan emosinya saat melihat kemesraan istrinya dengan pria lain. Lalu Iqbal mengirim pesan pada Jenny agar segera keluar dari restaurant.
Jenny yang sedang asyik dengan Xavier pun tampak terkejut saat mendapat pesan dari Iqbal yang sudah menunggunya di parkiran.
“Kak, maaf aku harus pulang sekarang.” ucap Jenny.
“Kenapa buru-buru sekali?” tanya Xavier kecewa.
“Maaf, Kak. Tapi mertuaku. Maksudku orang tua Kak Iqbal juga baru saja datang ke kota ini.” jawab Jenny.
“Ya sudah, besok jangan lupa kita betemu lagi ya?” ucap Xavier dan Jenny mengangguk.
Jenny mempercepat langkahnya menuju parkiran. Ternyata Iqbal sudah menunggunya sambil duduk di atas jog motornya. Jenny sangat penasaran kenapa Iqbal bisa mengetahui keberadaannya. Apa Iqbal juga tahu kalau dirinya sedang bersama Xavier.
__ADS_1
“Kak, bagaimana Kak Iqbal bisa-“
“Naiklah! Mama dan Papa sudah menunggumu.” Potong Iqbal cepat.
Jenny pun langsung naik, dan Iqbal segera melajukan motornya pulang. Mereka berdua saling terdiam. Jenny merasa sangat bersalah karena telah membohongi Iqbal, bahkan mertuanya.
Sesampainya di rumah, Iqbal dan Jenny masuk ke dalam rumah. Desy dan Bram sedang berada di dapur menyiapkan makan malam yang baru saja dia pesan.
“Ma, Pa.. maaf Jenny baru pulang.” Ucap Jenny sambil mencium kedua tangan mertuanya bergantian.
“Sayang, apa kabar kamu? Mama sangat merindukan kamu.” Tanya Desy sambil memeluk Jenny.
“Jenny sehat Ma.” Jawab Jenny.
“Ya sudah nanti lagi kangen-kangenannya. Sekarang kita makan malam dulu.” Sahut Bram.
Mereka berempat langsung duduk. Jenny bingung, karena tadi sudah makan bersama Xavier. Mau menolak pun tidak tidak berani.
Desy melihat anaknya mengambil makanan sendiri tanpa diambilkan oleh istrinya, hatinya sedikit kecewa. Bahkan dirinya saja mengambilkan makan untu Bram, tapi tak membuat menantunya itu peka. Padahal biasanya Jenny mengambilkan makanan untuk Iqbal jika sedang makan berdua. Hanya saja mungkin saat ini hatinya sedang kacau.
“Kenapa nggak dimakan? Apa makanannya tidak enak?” tanya Desy.
“Maaf, Ma. Sebenarnya tadi Jenny sudah makan dengan Kak Xav-“
“Kalau kamu tadi sudah makan sama teman-teman kamu, ya udah nggak apa-apa. Nggak perlu sungkan menolaknya.” Potong Iqbal cepat.
.
.
.
*TBC
Wadidawwww
😱😱😱
__ADS_1
Nah loh, dulu siapa yg ngarepin Jenny bersatu sama Xavier?😂😂
Happy Reading‼️