Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 38


__ADS_3

Akhirnya Jenny hanya minum saja. Lalu dia meminta ijin masuk ke kamar terlebih dulu untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Iqbal dan orang tuanya masih melanjutkan makan malamnya.


Mereka bertiga makan malam sambil melakukan obrolan ringan. Terutama Bram yang sangat penasaran dengan pekerjaan anaknya. bahkan atasannya memberinya mobil. Iqbal menceritakan semuanya. Dia bekerja sebagai asisten Ceo dari sebuah perusahaan yang cukup terkenal di kota ini.


“Apa tidak ada maksud lain atasan kamu memberi kamu mobil, Bal?” tanya Desy.


“Sejauh ini tidak terjadi apa-apa, Ma. Sebenarnya Iqbal sudah menolak tapi Nyonya Sarah tetap memberikannya.” Jawab Iqbal.


“Ya sudah, Papa sangat percaya pada kamu mana yang baik dan yang bukan.” Ucap Bram dan Iqbal mengangguk.


Setelah makan malam selesai, mereka bertiga berkumpul di ruang tengah. Sedangkan Jenny yang sejak tadi berpamitan masuk kamar untuk membersihkan tubuhnya, sampai sekarang belum juga keluar kamar.


“Kenapa Jenny lama sekali? Apakah dia lelah dan langsung tidur?” tanya Desy.


“Mungkin sebentar lagi keluar Ma.” Jawab Iqbal.


“Biar Mama panggil saja.” Ucap Desy lalu beranjak dari duduknya.


“Jangan, Ma! Biar Iqbal saja yang panggil.” Ucap Iqbal cepat dan segera masuk ke dalam kamarnya.


Desy kembali duduk dan menunggu menantunya keluar. Sementara itu Iqbal kini baru saja masuk kamarnya. Ternyata seseorang yang dicari mamanya kini tengah asyik bertelepon ria dengan seseorang. Sungguh Iqbal sangat geram melihat sikap Jenny yang menurutnya sangat egois.


Iqbal menatap Jenny datar dan duduk di atas ranjang. Dia tidak peduli Jenny merasa terganggu dengan kehadirannya. Dengan terpaksa Jenny pun mengakhiri panggilannya dengan Xavier karena tidak nyaman sejak tadi dilihat Iqbal terus.


“Ada apa, Kak?” tanya Jenny.


“Keluarlah! Mama mencarimu. Dan hargailah keberadaan orang tuaku.” Ucap Iqbal singkat lalu keluar kamar meninggalkan Jenny.


Jenny pun akhirnya mengikuti Iqbal keluar. Di ruang tengah tampak Desy sendirian sedang menonton TV. Lalu dia ikut bergabung menemani Desy. Sedangkan Iqbal memilih duduk di teras bersama Papanya untuk membicarakan hal yang cukup serius.


“Hubungan kalian baik-baik saja kan?” tanya Bram.


“Iya, Pa. kami baik-baik saja.” Jawab Iqbal.


“Sepertinya pria tua itu tak putus asa untuk mencari keberadaan kamu dan Jenny. Papa harap kamu selalu menjaga istrimu dengan baik.” Ucap Bram.


“Iya, Pa. Iqbal akan selalu menjaga dan melindungi Jenny.” Jawab Iqbal tegas.

__ADS_1


Iqbal pun menceritakan pada Papanya tentang seseorang yang tempo hari pernah mendekati Jenny saat di pesta pernikahan Felix. Memang dulu Iqbal tidak mengetahui tentang orang suruhan Billal yang telah memukulnya saat menyelamatkan Jenny. Bahkan wajah orang yang ditemui saat membawa Jenny masuk ke dalam kamar hotel saat itu, Iqbal sudah lupa.


“Nggak mungkin jika pria tua itu turun tangan langsung mencari keberadaanku dan Jenny, Pa. jadi Iqbal juga meminta bantuan Galang untuk menyelidiki semuanya. Termasuk pria mencurigakan yang pernah mendekati Jenny.


“Nanti Papa akan mengirim informasinya tentang orang-orang suruhan Billal. Biar kamu lebih berhati-hati lagi.” Ucap Bram dan Iqbal mengangguk.


Waktu sudah malam. Bram masuk ke dalam terlebih dulu untuk beristirahat. Dan tak lama kemudian Iqbal juga masuk ke dalam kamarnya.


Cklek


Iqbal melihat Jenny sedang duduk bersandar pada headboard ranjang. Sepertinya perempuan itu memang sedang menunggu Iqbal. jenny merasa sangat bersalah karena lebih mementingkan orang lain daripada kedatangan mertuanya.


“Kak, maafkan aku. aku tidak bermaksud mengabaikan Mama dan Papa. Dan soal menjemput di bandara tadi, -“


“Tidurlah, sudah malam. aku sangat lelah.” Ucap Iqbal.


Iqbal sudah tidak ingin lagi mendengarkan penjelasan Jenny terlebih jika membahas tentang Xavier. Lalu dia membuka lemari untuk mengambil kasur lipat dan menyiapkannya di lantai. Jenny yang melihatnya pun hanya terdiam. Namun dirinya sangat tidak nyaman, membiarkan si pemilik kamar justru yang tidur di bawah.


“Kak, tidurlah di autas. Biar aku saja yang tidur di bawah.” Ucap Jenny.


Jenny hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Dia pun akhirnya tidur sambil memeluk guling yang beraroma khas tubuh Iqbal. jenny semakin mengeratkan pelukannya pada guling itu. Karena sangat membuatnya nyaman.


Keesokan paginya Iqbal dan Jenny sudah bangun. Jenny memilih keluar kamar terlebih dulu untuk membantu Desy memasak. Karena semalam Jenny sudah berjanji akan membantu mama mertuanya masak.


“Maaf Ma, Jenny bangun sedikit terlambat.” Ucap Jenny baru saja masuk dapur.


“Nggak apa-apa. Mama maklum, kan kalian pengantin baru. Pasti semalam sangat kelelahan.” Jawab Jenny menggoda.


Wajah Jenny bersemu merah mendapat godaan dari Desy. Namun setelah itu dia tersenyum getir, mengingat pernikahannya dengan Iqbal bukan seperti pernikahan pada umumnya. Karena itu semua keinginannya sendiri.


“Mama jadi nggak sabar untuk menimang cucu dari kalian.” Celetuk Desy kemudian.


Hati Jenny semakin teriris melihat senyum Mama mertuanya yang sangat mengharapkan kehadiran cucu darinya. Jenny bingung bagaimana jika mertuanya mengetahui semuanya. Tanpa terasa mata Jenny berembun dan siap meluncurkan air matanya.


“Jenny, kamu kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapan Mama? Maafkan Mama, Nak. sudahlah jangan pedulikan ucapan Mama tadi.” ucap Desy merasa bersalah pada Jenny.


“Nggak kok Ma. Maafkan Jenny.” Ucap Jenny.

__ADS_1


Setelah selesai memasak, Jenny masuk ke dalam kamarnya. Dia akan mandi terlebih dahulu sebelum sarapan bersama. Iqbal yang sudah rapi pun langsung keluar kamar saat melihat Jenny masuk ke dalam kamar.


“Mama dan Papa setelah ini akan berziarah ke makam kakek dan nenek kalian. Setelah itu kita akan jalan-jalan. Jadi mungkin Mama dan Papa akan sampai rumah sore hari.” Ucap Desy.


“Baiklah Ma. Nikmati waktu Mama dan Papa selama berada disini. Maaf Iqbal dan Jenny tidak bisa menemani.” Ucap Iqbal.


“Nggak apa-apa. Kalian bekerjalah.” Jawab Desy.


Setelah selesai sarapan. Seperti biasa, Iqbal akan mengantar Jenny ke butik terlebih dahulu sebelum dia pergi ke kantor. mereka berdua juga berpamitan pada Bram dan Desy dengan mencium tangannya dengan takzim.


Sesampainya di depan butik, Jenny langsung keluar tanpa mengucapkan sesuatu. Entah dia masih memikirkan ucapan mertuanya tadi pagi atau justru masih merasa bersalah pada Iqbal. semntara itu Iqbal bersiap melajukan mobilnya saat sudah memastikan Jenny masuki ke dalam butik.


Iqbal terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya. Dan orang itu adalah Xavier. Bagaimana bisa laki-laki itu sudah berada di butik temapt Jenny bekerja sepagi ini. dan untuk apa juga Xavier mengetuk kaca mobilnya. Karena penasaran, Iqbal pun membuka kacanya tanpa membuka pintu.


“Keluarlah! Ada yang ingin aku bicarakan.” Ucap Xavier.


Akhirnya Iqbal pun keluar dan berjalan untuk mencari tempat yang lebih nyaman. Lalu Xavier mengikutinya.


“Apa yang ingin anda bicarakan Tuan? Waktu saya tidak banyak.” Tanya Iqbal datar.


“Jangan pernah sekali-kali kamu mengambil hati Jenny. Sampai kapanpun dia tetap milikku. Kamu hanya laki-laki penutub aib keluarga Tuan Vito.” ucap Xavier memperingatkan.


Tanpa menjawab, Iqbal langsung meningalkan Xavier yang masih berdiri mematung.


.


.


.


*TBC


Wow pemanasan dikit yaaa😂😂


jangan lupa like dan komennya buat ninggalin jejak kalian. vote dan gift-nya juga boleh kok🤗😘


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2