Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 42


__ADS_3

Malam semakin larut. Jenny duduk di sofa ruang tamu seorang diri sambil sesekali melihat keluar. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam tapi sampai saat ini Iqbal tak kunjung pulang sejak kemarin malam. jenny sudah berusaha untuk menghubungi ponsel laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu namun nihil. Beberapa panggilannya tidak terjawab, hingga akhirnya ponsel Iqbal tidak aktif.


Jenny sangat gelisah memikirkan Iqbal. terlebih setelah tadi pagi melihatnya sedang berada di café bandara menyaksikan dirinya dilamar oleh Xavier. Andai saja Iqbal tidak langsung pergi dan melihat semuanya, pasti saat ini laki-laki itu sudah berada di rumah.


#Flashback on.


“Sebelum kita berpisah. Aku ingin mengikatmu Jen. Maukah kamu menikah denganku? Aku akan sabar menunggu perceraian kamu.” Ucap Xavier sambil mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin berlian.


Xavier membuka kotak bludru berwarna maroon dimana ada sebuah cincin berlian. Cincin yang dulu akan ia gunakan untuk melamar Jenny, dan kini dengan hati yang begitu bahagia Xavier akan memakaikan cincin itu di tangan Jenny.


“Kenapa?” tanya Xavier tersentak kaget saat melihat Jenny melepaskan tangannya dari Xavier.


Perasaan Jenny berkecamuk. Terlebih melihat Iqbal pergi setelah mengetahui semua ini. jenny ingin berlari mengejarnya tapi tubuhnya seolah kaku dan tidak mampu berdiri. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan Iqbal saat ini.


“Jenny? Kenapa? Apa kamu tidak mencintaiku?” tanya Xavier dengan nada syarat akan makna kecewa.


“Maaf, Kak. Kalau Kak Xavier sabar, harusnya kakak tidak melakukan ini. tunggulah sampai aku benar-benar bebas dari statusku. Maaf.” Jawab Jenny.


“Tapi aku hanya ingin mengikat kamu. Tidak ada orang lain yang tahu kecuali kita berdua.” Ucap Xavier.


“Tolong Kak, mengertilah. Karena cinta tidak akan egois seperti ini.” ucap Jenny.


“Baiklah. Aku akan sabar menunggumu.” Jawab Xavier lalu menutup kembali kotak cincin itu lalu memasukkannya kembali ke dalam saku.


Entahlah Jenny menolak lamaran Xavier seolah dia ingin berusaha memperbaiki hubungannya dengan Iqbal. dan semoga saja Xavier mengerti dan tidak mencurigainya. Setelah itu Jenny mengantar Xavier masuk, karena sebentar lagi pesawat akan take off.


#Flashback off.


Mata Jenny terus terjaga meski rasa kantuk perlahan mulai menyerang. Perempuan itu masih setia duduk di sofa ruang tamu. Jenny bingung mau menanyakan keberadaan Iqbal sama siapa, karena dia tidak kenal sama sekali dengan teman-temannya.


Setengah kemudian, terdengar suara deru mobil berhenti tepat di depan rumah. Jenny membuka sedikit korden untuk melihat mobil siapa yang berhenti. Tak lama kemudian tampak seorang perempuan keluar dari mobil dan berjalan memutar untuk membuka pintu mobil sebalah kiri. Jenny tahu itu mobil Iqbal, dan perempuan itu adalah Farah.


Hati Jenny semakin tak karuan saat melihat Farah berjalan menuju rumahnya sambil memapah Iqbal yang tampak sempoyongan.


Tok tok tok


Ketukan pintu dari luar tak langsung membuat Jenny membukanya. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya untuk mengahadapi kenyataan apa yang akan dia lihat.


Tok tok tok


Sekali lagi Farah mengetuk pintu rumah itu. Kali ini dengan sedikit kencang. Dan akhirnya Jenny membukakan pintu.

__ADS_1


Cklek


“Kak Iqbal? apa yang terjadi dengannya?” tanya Jenny terkejut saat melihat Iqbal dalam keadaan mabok.


“Aku harus membawanya kemana?” tanya Farah mengabaikan pertanyaan Jenny.


Dengan sedikit kesal akhirnya Jenny menunjukkan ruang tengah dan membantu Farah memapah Iqbal agar dibawa kesana. Setelah membaringkan Iqbal di sofa, Farah bergegas pulang.


“Ini kunci mobilnya. Jangan lupa buatkan dia soup hangat jika besok dia sudah bangun, agar mengurangi rasa pusingnya.” Ucap Farah lalu pergi meninggalkan rumah Jenny.


“Terima kasih.” Ucap Jenny namun Farah hanya diam saja.


Jenny mengikuti langkah kaki Farah sampai keluar. Ternyata sudah ada taksi yang menunggunya di luar. Setelah itu Jenny menutup pintu rumahnya.


Jenny melihat Iqbal masih tertidur dengan posisi tidak nyaman. Akhirnya dia membawa Iqbal masuk ke kamarnya. Sebelumnya Jenny tidak pernah melihat Iqbal mabuk seperti ini. tapi kenapa sekarang laki-laki itu berani minum minuman beralkohol sampai mabuk seperti ini.


“Jenny!” panggil Iqbal dengan mata tertutup.


“Jenny! Selamat atas lamaran kamu. Aku ikut bahagia melihatnya hahahahaha” ucap Iqbal sambil tertawa.


Hati Jenny mencelos melihat raut wajah sendu Iqbal. bahkan tawa yang keluar dari bibir Iqbal bukan tawa bahagia melainkan kesedihan. Karena Iqbal tiba-tiba saja mengeluarkan air matanya.


“Kalau kamu ingin cepat menikah dengannya, aku akan secepatnya menceraikan kamu.” Ucap Iqbal lagi.


“Andai kamu tahu Jen, aku sangat mencintaimu jauh sebelum kita menikah. Ha ha ha…. Tapi aku sadar posisiku.” Racau Iqbal lagi.


Deg


Jantung Jenny berdegup kencang mendengar pengakuan Iqbal. selama ini dia tidak menyadari kalau Iqbal sangat mencintainya. Walau dalam hati kecilnya juga merasa nyaman dengan perhatian kecil darinya.


“Aku ingin sekali memilikimu, Jen. Tapi kamu sama sekali tidak mencintaiku. Sungguh malang sekali nasibku. Menjadi suami dari wanita yang aku cintai tapi tak dianggap.” Racau Iqbal.


Jenny tidak kuat lagi mendengar racauan Iqbal yang menyayat hati. Kemudian dia berusaha mengangkat tubuhnya untuk membawanya masuk ke dalam kamar. namun saat Iqbal sudah berdiri dalam pelukan Jenny, laki-laki itu seolah menguatkan tubuhnya agar bisa berdiri tegak.


“Aku mencintaimu Jenny.” Ucapnya lalu mencium bibir Jenny.


Jenny terdiam meski bau alkohol menyeruak. Kemudian Iqbal melepas ciumannya lalu,


Byurrrr


Iqbal memuntahkan isi perutnya dan sebagian mengenai baju Jenny. Lalu Jenny segera membawa Iqbal masuk ke dalam kamarnya dan menggantikan bajunya.

__ADS_1


Dengan telaten Jenny membersihkan tubuh Iqbal dan menyekanya dengan air hangat, lalu menggantikan bajunya. Tanpa rasa jijik, Jenny juga membersihakn lantai bekas muntahan Iqbal.


Setelah memastikan tubuh Iqbal bersih dan tidur dengan nyaman, akhirnya Jenny masuk ke dalam kamarnya. Rasa lelah tubuh sekaligus hatinya perlahan membuat matanya tertutup rapat.


Keesokan paginya Jenny bangun terlebih dulu. Dia melihat Iqbal masih pulas tidur, kemudian dia berjalan menuju dapur untuk membuat soup sesuai dengan saran Farah kemarin malam. dia juga membuatkan minuman hangat untuk Iqbal.


Sementara itu Iqbal yang berada di dalam kamarnya, perlahan membuka matanya. dia memegangi kepalanya yang masih berdenyut. Kemudian mencoba untuk duduk bersandar pada headboard.


“Kenapa kepalaku pusing sekali?” tanyanya sambil memegangi kepalanya.


Cklek


Tiba-tiba saja Jenny masuk ke dalam kamarnya. Jenny berniat untuk mengambil baju kotor Iqbal bekas muntahannya untuk dicuci.


“Kak Iqbal sudah bangun?” tanya Jenny.


Iqbal masih diam sambil memegangi kepalanya. Lalu Jenny berjalan mendekat.


“Aku sudah membuatkan Kak Iqbal soup. Mungkin akan meredakan rasa pusing dan mual kakak.” Ucap Jenny lalu mengambil baju kotor Iqbal.


“Mau kamu bawa kemana bajuku?” tanya Iqbal.


“Mau aku cuci, Kak.” Jawab Jenny.


“Kenapa kamu mencucinya? Biar aku saja.” Ucap Iqbal dan segera berdiri mencegah Jenny membawa baju kotornya.


Bruk


Tubuh Iqbal tidak bisa berdiri seimbang karena rasa pusing masih menderanya. Untung saja Jenny dengan cepat lari untuk menolongnya.


“Kak Iqbal istirahat saja, karena semalam kakak mabuk parah.” Ucap Jenny sambil mengalihkan pandangannya karena saat ini Iqbal terus menatapnya.


.


.


.


*TBC


Nah hr ini othor up 3eps loh, masa ga ada yg kasih vote sih? mengsedih sekali seperti nasib babang Iqbal😢😢🤗

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2