Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 102


__ADS_3

“Mas, aku sangat kedinginan.” Gumam Lidya dengan suara bergetar nyaris tak terdengar.


Billal dengan cepat mengambilkan air minum dan obat penurun demam yang ia punya. Pria itu teringat ucapan Lidya sebelum jadi istrinya dulu, kalau sedang demam lebih baik tidak terburu-buru membawa pergi ke rumah sakit. Cukup minum obat penurun demam saja dulu.


“Sayang, bangun dulu ya minum obat!” Billal membantu istrinya bangun.


Lidya tampak lemas dan tubuhnya sangat panas. Pantas saja sejak tadi Billal menghubunginya, Lidya tak kunjung menerima panggilannya. Karena Lidya benar-benar sudah tidak mampu bangun. Untuk mencari obat saja dia tidak bisa.


“Minum yang banyak.” Ucap Billal kembali memberikan segelas air putih.


Lidya hanya mengangguk. Setelah itu dia kembali merebahkan tubuhnya karena seluruh tubuhnya terasa sangat nyeri. Saat Lidya akan memakai kembali selimutnya, Billal mencegahnya. Karena kalau badan sedang demam memang tidak dianjurkan untuk memakai selimut.


Setelah itu Billal melepas kemeja dan celananya. Kini dia hanya memakai boxer saja. Lalu dia melepas baju Lidya juga hingga wanita itu hanya mengenakan dalaman saja.


“Mas, tolong jangan dulu. Aku tidak mampu.” Ucap Lidya sambil meraih selimut berusaha menutupi tubuh polosnya.


“Kamu sedang sakit tapi otak kamu pikirannya yang nggak-nggak. Tenang saja, aku tahu kalau kamu sedang sakit. Aku melakukan ini hanya untuk membantu meredakan demam di tubuh kamu. Dengan melakukan skin to skin, sudah terbukti dapat menurunkan demam seseorang.” Jawab Billal.


Lidya akhirnya diam dan menurut saja, walau sebenarnya dia sangat malu karena sudah berpikiran buruk terhadap suaminya yang akan tega memanfaatkan kelemahannya untuk diajak bercinta.


“Sudah, tidurlah. Nggak perlu malu begitu. Tapi ingat, saat kamu sudah sembuh, semua ini tidak gratis.” Ucap Billal sambil tersenyum smirk.


Lidya memukul pelan dada suaminya. Bisa-bisanya pria itu membahas kemesumannya di saat dirinya sedang tak berdaya seperti ini. Billang hanya tersenyum tipis mendapatkan pukulan dari istrinya. Lalu dia memeluk tubuh Lidya dengan erat, berharap demamnya segera turun.


Pukul 9 malam Lidya merasakan badannya sesak karena terhimpit oleh tubuh kekar sang suami. Keringat sudah membasahi tubuhnya sejak tadi. dan demamnya juga sudah turun, begitu juga dengan rasa nyeri di tubuhnya sudah tidak terasa lagi.


Lidya melihat suaminya ikut tidur terlelap. Mungkin Billal sangat kelelahan setelah jauh-jauh pulang dari luar kota hanya demi dirinya. Kemudian Lidya menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya. Sedangkan dirinya akan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Setelah dari kamar mandi, Lidya keluar kamar untuk membuat susu hangat. Karena dia masih merasakan pahit di mulutnya. Tak lupa dia juga membuatkan Billal segelas coklat panas yang ia letakkan di meja kamarnya. Mungkin sebentar lagi Billal jugaa akan bangun.


Lidya menikmati susu hangatnya sambil berdiri di balkon kamarnya. Dia melihat langit malam yang sama sekali tidak menampakkan bintang dan bulannya. Karena sejak sore tadi hujan terus mengguyur bumi.

__ADS_1


“Kenapa kamu disini? Nanti badan kamu demam lagi, karena di luar sangat dingin.” Ucap Billal sambil memeluk istrinya dari belakang.


“Aku sudah baik-baik saja, Mas. Tinggal mulutku saja yang terasa pahit.” Jawab Lidya.


Billal pun mengambil gelas yang sedang dipegang oleh Lidya dan meletakkannya di atas meja. Lalu dia membalikkan tubuh istrinya dan mengecup bibirnya.


“Mas, jangan! Mulutku masih terasa pahit.” Tolak Lidya sambil menutup mulutnya.


“Biar mulut kamu nggak pahit lagi setelah mendapatkan ciuman dari bibir manis suamimu ini.” jawab Billal sambil tersenyum tipis.


“Please, aku janji akan membayar semuanya jika badanku sudah benar-benar pulih.” Ucap Lidya.


Billal lalu memeluk tubuh istrinya dan segera mengajaknya masuk kamar untuk tidur lagi. Billal tidak benar-benar ingin mencium bibir istrinya. Dia mengerti dengan kondisi istrinya saat ini, yang dia lakukan tadi hanya menghibur Lidya saja.


“Sini rebahan dulu, sambil menunggu pesanan makanan datang.” Ucap Billal dan membawa kepala Lidya agar bersandar pada dada bidangnya.


***


Satu bulan berlalu. Iqbal sudah menyerahkan jabatannya kepada Galang seminggu yang lalu. Namun Iqbal tidak serta merta keluar dari perusahaan yang telah membesarkan namanya itu. Dia masih membantu pekerjaan Galang, sambil menjalakan usahanya yang baru saja dibuka. Walau tidak datang langsung ke kantornya.


“Weekend lusa, teman-teman mengajak kita reunian.” Ucap Galang saat mereka berdua sedang berada di sebuah café.


“Iya. Aku juga sudah sempat bertemu dengan Felix beberapa waktu yang lalu. Aku usahakan datang.” Sahut Iqbal.


“Datanglah, mereka juga mengajak anak istrinya masing-masing.” Ucap Galang dan diangguki oleh Iqbal.


Sepulamg dari café, Iqbal melihat istrinya sedang duduk memperhatikan anaknya yang sedang sibuk bermain. Namun Iqbal melihat wajah sang istri tidak cerah seperti biasanya.


“Sayang, kenapa wajahnya cemberut gitu?” tanya Iqbal.


“Ini jam berapa, Mas? Dari mana saja kamu jam segini baru pulang? biasanya jam 4 atau setengah 5 kamu sudah ada di rumah. sekarang sudah hampir jam 7 malam kamu baru pulang.” jawab Jenny sambil melirik sinis suaminya.

__ADS_1


Iqbal heran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah jutek seperti ini. biasanya juga dia pulang jam segitu dan Jenny baik-baik saja tidak protes.


“Sayang, aku tadi hanya pergi ke café sebentar dengan Galang. Karena kita ada keperluan sebentar membahas pekerjaan.” Iqbal berusaha memberi pengertian.


“Kamu jangan bohong, Mas. Awas saja kalau kamu ketahuan sedang ada janji dengan wanita lain.” Ucap Jenny.


“Astaga! Kamu jangan berpikiran seperti itu. Nggak mungkin aku seperti itu, Sayang.” Iqbal benar-benar merasa aneh dengan sikap istrinya kali ini.


“Ya sudah, aku mandi dulu. Setelah ini kita makan malam bersama.” Lanjut Iqbal.


“Tunggu dulu, Mas! Kenapa kamu buru-buru mandi? apakah kamu berusaha menghindari pertanyaanku? Jangan-jangan kamu baru saja bertemu dengan seorang wanita dan kamu ingin segera menghilangkan jejak wanita itu?” pertanyaan Jenny semakin aneh.


“Aku berani bersumpah, Sayang. Aku hanya bertemu dengan Galang. Kalau kamu tidak percaya, biar aku telepon Galang sekarang juga.” ucap Galang frustasi.


“Nggak usah. Siapa tahu Kak Galang sudah bersekongkol sama kamu. Jadi percuma. Ayo sekarang aku antar mandi. biar aku bisa mencium seluruh baju kamu, ada bau parfum aneh apa tidak.” Ucap Jenny dan segera menarik tangan suaminya dan membawanya masuk ke kamar.


Iqbal hanya bisa pasrah mendapati sikap istrinya yang semakin aneh. Karena jika menolaknya, dia khawatir Jenny akan semakin menjadi-jadi amarahnya.


“Cepat buka semua baju kamu, Mas!” perintah Jenny sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.


Setelah Iqbal melepas semua bajunya, Jenny langsung membawa baju itu dan menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras, hingga membuat Iqbal tersentak kaget.


“Untung sayang.” Lirih Iqbal dan segera masuk ke dalam bathtub.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan votenya ya guys🤗🤗😁😁


Happy Reading‼️


__ADS_2