
Belum sempat melihat dengan jelas, apakah itu benar Iqbal atau bukan, Sean sudah mendapat panggilan dari atasannya yang tak lain adalah Billal.
"Baik, Tuan. Sebentar lagi saya akan ke bandara dan segera pulang." ucap Sean setelah melakukan panggilan dengan Billal.
"Tapi aku tidak yakin kalau Iqbal benar tinggal di kota ini. Nanti biar aku selidiki lagi." gumam Sean yang sudah masuk ke dalam taksi.
***
Sementara itu, setelah Iqbal mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak tertarik dengan Farah, membuat hati Jenny lega bahkan sampai saat ini dirinya terus menyunggingkan senyumnya. Entah kenapa rasanya dia tidak rela jika laki-laki yang berstatus sebagai suaminya tapi dia anggap kakak itu dekat dengan perempuan lain.
"Jen, kita sudah sampai." ucap Iqbal membuyarkan lamunan Jenny.
"Eh, iya Kak." jawab Jenny tergagap.
Setelah itu Jenny langsung masuk ke dalam rumah diikuti oleh Iqbal di belakangnya. Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan tubuh.
Karena waktu masih belum terlalu malam, Jenny juga belum bisa memejamkan mata, akhirnya dia memutuskan untuk keluar kamar. Mungkin duduk santai di teras sambil menghirup udara malam akan membuatnya sedikit rileks.
"Iya, Far. Besok aku usahain."
"......"
"Mungkin setelah makan siang besok kita bisa jalan langsung."
"....."
"Iya, besok aku hubungi lagi."
Jenny menghentikan langkahnya saat tidak segaja mendengar percakapan Iqbal dengan seseorang melalui sambungan telepon. Memang Jenny tidak tahu pasti siapa orang itu, tapi samar-samar dia mendengar itu suara seorang perempuan. Dan "Far" panggilan yang diucapkan oleh Iqbal, apakah itu Farah. Kenapa sepertinya Iqbal terlihat dekat dengan perempuan itu.
Belum sempat hilang rasa lega hati Jenny saat mendengar pernyataan Iqbal bahwa dia tidak tertarik dengan Farah. Tapi kenapa sekarang kenyataannya berbeda. Bahkan Jenny mendengar sendiri kalau Iqbal ada janji dengan perempuan itu besok.
Jenny akhirnya kembali masuk ke dalam kamarnya. Moodnya sudah berantakan setelah mendengar obtolan Iqbal bersama Farah.
"Ternyata kamu cuma bohongin aku, Kak. Nyatanya kamu sangat dekat dengan perempuan itu." gumam batin Jenny.
Sementara itu Iqbal kembali menyesap rokoknya setelah mendapat telepon dari Farah yag memintanya untuk menemani meninjau lokasi proyek baru besok.
Awalnya dia juga akan menolak, tapi ternyata itu perintah langsung dari Nyonya Sarah. Dan juga tentang panggilan, ternyata Farah meminta untuk tidak terlalu formal jika sedang di luar jam kantor. Jadi Farah meminta Iqbal cukup memanggil nama saja tanpa embel-embel Nona.
__ADS_1
Keesokan paginya Iqbal baru saja keluar dari kamarnya. Pakaiannya sudah rapi dan sudah siap untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor.
"Jen, kamu sudah siap?" tanya Iqbal heran saat melihat Jenny baru saja keluar dapur.
"Sarapannya sudah aku siapin Kak. Aku duluan karena taksinya sudah menunggu di depan." jawab Jenny tanpa melihat Iqbal.
Iqbal tampak heran melihat Jenny yang memilih berangkat kerja lebih dulu. Bahkan Jenny terkesan buru-buru. Lalu Iqbal mengikuti langkah Jenny sampai depan. Ternyata benar, ada taksi sedang menunggunya. Iqbal pun kembali ke ruang makan untuk sarapan.
Iqbal menikmati sarapannya sambil menyalakan GPS yang sudah tersambung dengan ponsel Jenny. Sejenak dia menghentikan kunyahannya saat melihat arah taksi yang dinaiki Jenny tidak menuju butik, melainkan di sebuah taman kota. Lalu Iqbal buru-buru menghabiskan makanannya.
Beberapa saat kemudian Iqbal sudah sampai di sebuah taman kota yang lumayan sepi. Hanya lalu lalang kendaraan yang sedang melintasi jalanan sekitar taman. Karena memang bukan hari libur, terang saja taman itu tak menampakkan keramaiannya.
Iqbal sedikit khawatir, pasalnya GPS Jenny terdeteksi di taman itu, tapi Jenny tidak ada. Kemudian Iqbal melajukan pelan mobilnya mengitari taman tersebut. Dari jarak sekitar 20 meter, dia dapat melihat seorang perempuan tengah duduk sendiri di sebuah kursi panjang di bawah pohon Palm. Pantas saja sejak tadi Iqbal kesulitan menemukan Jenny, ternyata posisinya duduk terhalang oleh pohon tersebut.
Iqbal membuka kaca mobilnya sebelum turun dari mobil. Namun dia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Jenny saat perempuan itu sedang asyik berbincang dengan seseorang. Bahkan senyum merekah tak pernah surut dari bibirnya.
"Mau bermesraan saja sampai cari tempat jauh seperti ini." gumam Iqbal.
Siapa lagi yang sedang berbicara dengan Jenny bahkan bisa membuatnya tersenyum seperti itu kalau bukan Xavier. Akhirnya Iqbal memutuskan untuk meninggalkan taman dan langsung pergi ke kantornya.
"Iya, Ma. Nanti Jenny akan pulang dengan Kak Iqbal jika sudah dapat cuti. Salam ke Papa dan semuanya ya Ma." ucap Jenny sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Hari berlalu, antara Iqbal dan Jenny masih terlihat saling menghindar. Andai saja mereka berdua saling terbuka tentang perasaan masing-masing, pasti tidak akan terjadi kesalah pahaman seperti ini lagi.
"Ada apa Kak Iqbal kesini?" tanya Jenny terkejut saat melihat Iqbal masuk ke dalam butik tempatnya bekerja.
"Aku mau cari baju untuk ke pesta pernikahan Felix." jawab Iqbal.
Jenny yang kebetulan sedang keluar dari ruangannya akhirnya menemani Iqbal memilih baju.
"Kak Iqbal mau model yang seperti apa?" tanya Jenny.
"Terserah, kamu saja yang pilihkan." jawab Iqbal datar.
Akhirnya Jenny memilihkan baju yang menurutnya sesuai dengan ukuran tubuh dan warna kulit Iqbal. Iqbal pun mengangguk setuju meski belum mencobanya.
"Kak Iqbal nggak coba dulu?" tanya Jenny.
"Nggak perlu." jawab Iqbal datar.
__ADS_1
Setelah itu Iqbak berjalan menuju stand gaun khusus wanita. Jenny pun masih setia mengikutinya. Walau dalam hatinya sangat dongkol.
"Menurut kamu gaun mana yang sangat bagus?" tanya Iqbal pada deretan gaun wanita.
"Semuanya bagus Kak." jawab Jenny.
Iqbal masih tampak berpikir dan memilih. Hingga akhirnya dia menemukan gaun yang sesuai dengan pilihannya, bahkan warnanya senada dengan bajunya yang sudah dipilihkan oleh Jenny tadi.
Setelah itu Jenny membawanya ke kasir, lalu Iqbal membayarnya. Tanpa mengucapkan sesuatu, Jenny langsung masuk kembali ke ruangannya.
"Bukankah 10 menit lagi waktunya kamu pulang?" tanya Iqbal menghentikan langkah Jenny.
"Kak Iqbak duluan saja, aku-"
"Aku tunggu di mobil." jawab Iqbal dan langsung meninggalkan Jenny.
Tak lama kemudian, sesuai dengan ucapan Iqbal, Jenny kini sudah masuk ke dalam mobil. Iqbal pun langsung melajukan mobilnya pulang. Tidak ada percakapan diantara keduanya. Setelah itu mereka sudah sampai di rumah.
"Ini gaun kamu." ucap Iqbal sambil memberikan gaun pilihannya tadi pada Jenny.
"Maksudnya Kak?" tanya Jenny bingung.
"Iya, itu gaun buat kamu. Pakailah besok dan temani aku datang ke pesta pernikahan Felix." ucap Iqbal lalu masuk ke dalam kamarnya.
Jenny yang awalnya terkejut kini perlahan menyunggingkan senyumnya. Ternyata gaun yang sangat bagus itu Iqbal pilihkan buat dirinya. Padahal sebelumnya Jenny sudah mengira kalau gaun itu akan Iqbal berikan pada wanita lain.
.
.
.
*TBC
Ciee ciee ciee😍😍😍
Yok jangan lupa beri like dan komentarnya ya🤗😘
Happy Reading‼️
__ADS_1