
Di sebuah kota yang sangat terpencil dan jauh dari keramaian ibu kota , terdapat bangunan besar. Bangunan itu telah berdr sejak puluhan tahun silam. Bangunan itu menampung anak-anak berkebutuhan khusus. Bangunan yang diberi plakat nama Panti Asuhan Cahaya Kasih itu sudah dipercaya oleh banyak orang yang memang sengaja menitipkan anaknya yang berkebutuhan khusus. Entah karena malu mempunyai anak yang tidak sempurna atau ada faktor lain yang menyebabkan mereka harus menitpkan anaknya di panti asuhan itu. Ada juga yang memang anak-anak itu benar-benar anak yatim piatu yang terlahir tidak sempurna.
Seorang pria kini sedang duduk di sebuah bangku taman panti sambil melihat beberapa anak yang sedang asyik bermain dengan ditemani oleh pengasuhnya. Pria itu mengusap sudut matanya saat mengingat kejadian pahit beberapa tahun silam hingga terpaksa menitipkan seorang anak yang diketahui megalami keterbelakangan mental di panti asuhan ini.
“Silakan, Tuan!” ucap seorang wanita paruh baya setelah memberikan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.
“Bu Tiara tidak perlu repot-repot seperti ini.” Ucapnya merasa tak enak.
“Nggak apa-apa, Tuan.” Jawab wanita itu.
“Bagaimana panti ini, Bu? Apakah ada kekurangan sesuatu?” Tanya pria itu.
“Tidak, Tuan. Bantuan yang tiap bulan anda berikan sudah lebih dari cukup. Saya sangat berterima kasih.” Jawab Bu Tiara.
“Bantuan itu tidak ada apa-apanya buat saya jika dibandingkan dengan pengorbanan Bu Tiara dan para pengasuh di panti ini yang telah merawat dan membesarkan Cantika.” Ucap pria itu.
“Itu sudah menjadi tanggung jawab kami Tuan Andreas. Anda tidak perlu berbicara seperti itu. Kami para pengasuh panti asuhan ini merawat anak-anak dengan kasih sayang tanpa mengharap imbalan apapun. Jadi bantuan yang anda kirimkan setiap bulan itu sangat lebih dari cukup untuk kesejahteraan anak-anak dan juga para pengasuh.” Jawab Bu Tiara.
Pria yang diketahui bernama Andreas itu terdiam. Memang benar kalau panti asuhan ini benar-benar merawat anak-anak dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan imbalan. Kemudiian pria itu memnum kopinya sebelum meninggalkan panti.
“Saya akan kembali ke hotel, besok pagi kesini lagi saat keadaan Cantika sudah membaik.” Ucapnya.
“Iya, Tuan. Maaf hari ini memang Cantika membutuhkan istirahat, beberapa hari badannya panas.” Jawab Bu Tiara.
Tuan Adreas mengangguk. Memang tadi dia sudah menghampiri kamar Cantika. Gadis berusia sekitar 18 tahun itu sedang tidur pulas setelah minum obat.
Setelah berpamitan pada Bu Tiara, pria bernama Andreas itu bergegas pergi menuju hotel tempatnya menginap. Sebuah mobil di depan panti sudah menunggunya sejak tadi.
Tak lama kemudian, setelah Tuan Andreas masuk ke dalam mobil, ponselnya berdering dan tertera nama sahabatnya yang sedang menghubunginya.
“Ada apa?” tanyanya.
__ADS_1
“…..”
“Terserah kamu, yang pasti culik perempuan itu dan buat menderita hidupnya. Dia harus membayar semuanya.” Ucap Tuan Andreas dengan suara tegas penuh penekanan. Setelah itu dia menutup teleponnya.
***
Hari ini Axel sedang duduk di dalam mobilnya yang sedang terparkir di depan kampus Gita. Laki-laki itu sejak tadi menunggu Gita keluar dari kampus, namun yang ditunggu-tunggu tak juga menampakkan batang hidungnya.
Tiga hari setelah kejadian malam itu, Axel kesulitan menghubungi Gita. Bahkan datang ke rumahnya, Gita selalu tidak ada. Katanya sedang keluar bersama temannya. Dan sekarang, setelah tadi mendapatkan informasi dari Jenny, Mama Gita yang mengatakan kalau Gita saat ini sedang di kampus.
Tak lama kemudian Axel melhat Gta baru saja keluar dari kampus dan hendak menuju halte. Karena Gita tidak terbiasa pergi naik mobil sendiri. Axel segera keluar dari mobilnya dan mengejar Gita.
“Gita!!” teriak Axel.
Gita berhenti sejenak saat mendengar namanya dipanggil. Namun setelah mengingat suara seseorang yang memanggilnya, Gita hanya menengok sebentar setelah itu melanjutkan jalannya.
“Gita, tunggu!” Axel menahan tangan Gita.
Axel sangat terkejut melihat perubahan sikap Gita terhadapnya. Hatinya sakit saat melihat sorot mata Gita yang penuh kebencian terhadapnya. Tapi kenapa Gita seperti itu? Bukankah kejadian malam itu bukan sepenuhnya kesalahannya?
Axel terpaksa menarik Gita dan membawanya masuk ke dalam mobilnya karena tidak ingin dilihat banyak orang dengan keadaan Gita yang sedang marah-marah.
“Aku mau keluar. Buka pintunya sekarang juga.” Ucap Gita dengan suara dingin.
“Gita, please jangan seperti ini. Aku minta maaf atas kejadian malam itu. Aku sudah berusaha untuk menghindari itu semua, tapi-“ ucapan Axel terpotong.
“Cukup! Jangan bahas itu lagi. Aku sangat membencimu. Kamu benar-benar memanfaatkan kejadian itu. Sekarang jangan temui aku lagi.” Ucap Gita.
“Gita, aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku. Please jangan seperti ini.” Axel terus memohon.
“Nggak ada yang perlu dipertanggung jawabkan. Mulai saat ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi.” Ucap Gita dan dengan cepat tangannya menekan tombol yang bisa membuka pintu mobil Axel.
__ADS_1
Seketika itu Gita keluar dan berjalan cepat menuju halte. Axel menatap nanar kepergian Gita. Dia sangat terpukul setelah mendengar pengakuan dari Gita kalau perempuan yang sudah lama ia cintai iitu kini membencinya. Namun dalam hati Axel tidak menyerah begitu saja. Dia akan tetap dengan pendiriannya. Dia akan memperjuangkan Gita dan membuat Gita kembali hangat padanya seperti dulu.
“Aku akan tetap mempertanggung jawabkan semuanya, Gita. Tidak peduli kamu menolaknya.” Gumam Axel.
Entah kenapa Axel sangat berharap terjadi sesuatu dengan Gita setelah mereka berdua melewat malam panjang itu. Meski dalam hatinya sempat bimbang karena hanya melakukannya malam itu saja.
Setelah itu Axel segera pergi meninggalkan kampus. Dia juga melihat Gita baru saja menaiki taksi. Mobil Axel pun mengikuti arah taksi yang akan membawa Gita pulang ke rumahnya. Dia tidak mau terjadi sesuatu dengan Gita.
Hati Axel lega setelah memastikan taksi itu berhenti di depan rumah Gita. Setelah itu dia pergi menemui dua sahabatnya yang tadi sudah menghubunginya untuk bertemu di sebuah café.
Axel melihat Mikko dan Jendra sudah duduk sambil menikmati secangkir kopi di hadapan mereka masing-masing.
“Sorry membuat kalian menunggu lama.” Ucap Axel.
“Nggak masalah. Kita juga sedang tidak ada pekerjaan.” Jawab Mikko.
“Apa ada hal penting yang ngin kalian sampaikan padaku?” Tanya Axel.
“Aku kehilangan jejak orang yang telah memberikan obat di minuman Gita. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan. Tapi aku belum sempat menanyakan pada pihak club untuk membukakan rekaman cctv club. karena sangat sulit.” Ucap Jendra.
“Sebentar, setahuku Club itu milik salah satu teman Papa. Aku akan meminta bantuan Papa agar menyampaikan pada temannya untuk membukakan rekaman cctv di club itu.” Ucap Axel setelah terdiam beberapa saat.
“Ide bagus itu. Setelah itu kita baru beraksi untuk menemukan dalang dari semua kejadian malam itu.” Ucap Mikko.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️