
Kurang lebih selama dua jam mereka berdua bertempur dalam kenikmatan. Bahkan Gita yang awalnya hanya mengira kalau suaminya akan melakukan sebentar, karena tadi Axel sendiri yang mengatakan sangat lelah, ternyata itu hanya bualan semata. Kendati demikian, Gita juga sangat menikmatinya. Karena jujur saja dia selalu terbuai dengan sentuhan yang diberikan oleh suaminya.
Dari situ Gita bisa menyimpulkan bahwa untuk mengatasi amarah suami yang sedang cemburu atau apapun itu, senjata ampuh untuk mengatasinya hanya satu yaitu dengan cara mengajaknya bercinta.
“Kenapa?” tanya Axel saat melihat Gita terus memandanginya.
“Nggak kenapa napa. Mas sangat menakutkan kalau sedang cemburu.” Jawab Gita.
“Sudah tahu sekarang? jangan coba-coba untuk mengulanginya lagi. Atau aku akan membuatmu tidak bisa berjalan selama seminggu.” Ancam Axel dan membuat Gita bergidik ngeri.
Axel tergelak meihat wajah istrinya yang sedang ketakutan karena membayangkan tidak bisa berjalan selama seminggu. Setelah itu dia kembali membawa Gita ke dalam pelukannya untuk segera tidur.
Keesokan paginya mereka berdua masih tampak pulas di bawah selimut tebal. Meski waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, namun tak satu pun dari mereka yang bisa membuka matanya. mungkin karena efek kelelahan setelah melakukan kegiatan panas semalam.
Deringan ponsel Gita akhirnya mampu membangun mereka berdua. Awalnya Gita mengabaikan panggilan itu karena badannya masih terasa remuk dan enggan untuk bangun. Namun ternyata ponsel itu kembali bordering, hingga mau tak mau Gita bangun dan menerima panggilan itu.
“Ya, halo?” sapa Gita dengan suara khas bangun tidur.
“…..”
“Kenapa? Ada apa?” ucap Gita sambil memperbaiki posisi tidurnya.
“…..”
“Baiklah, nanti aku akan kesana.” Jawab Gita setelah itu menutup panggilannya.
Gita tampak termenung setelah mendapat telepon dari Inez yang memintanya untuk bertemu. Entah kenapa Gita merasa bahwa sahabtanya sedang tidak baik-baik saja. Gita bisa mendengar suara Inez saat berbicara tadi seperti sedang menahan tangisnya.
“Sayang, ayo tidur lagi. Aku masih ngantuk.” Ucap Axel sambil memeluk istrinya.
“Mas ini sudah jam tujuh. Buruan bangun, aku nggak enak sama Mama dan Papa kalau kita bangun siang seperti ini.” ucap Gita.
“Nggak apa-apa. Mama dan Papa pasti ngerti kalau kita sedang berusaha membuatkan cucu untuk mereka.” Jawab Axel dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
“Tapi Mas, sebentar lagi aku akan keluar. Inez mengajakku bertemu. Karena ada hal yang ingin dia bicarakan.” Ucap Gita.
Axel pun akhirnya membuka mata dan segera bangun. Lalu dia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke kamar mandi. Gita sangat terkejut, namun dengan cepat dia mengalungkan tangannya ke leher Axel.
Mereka berdua mandi bersama. Tidak ada kegiatan panas lagi dalam bathup, karena Gita sudah mengatakan kalau tubuhnya sangat capek saat menyadari Axel akan berulah. Axel pun akhirnya hanya menggosok punggung mulus istrinya dengan menahan sesuatu yang sedang bergejolak.
Kini mereka berdua sudah rapi. Karena setelah sarapan, rencana Gita akan langsung bertemu dengan Inez di tempat biasa mereka bertemu.
“Mas, nanti antar aku saja ya. Biar pulangnya aku bisa naik taksi.” Ucap Gita sebelum keluar kamar.
“Tidak. Aku akan ikut denganmu dan nggak akan meninggalkanmu.” Tolak Axel.
“Kamu nggak ke kantor?” tanya Gita dan Axel menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Gita pasrah dengan keinginan suaminya yang akan ikut bertemu dengan Inez. Setelah itu mereka berdua turun untuk sarapan bersama. Gita tertunduk malu saat baru saja menuruni tangga sudah mendapatkan tatapan dari Nia yang sedang santai di ruang tengah.
“Pagi, Sayang! Pasti semalam kecapekan ya sampai bangunnya kesiangan?” ucap Nia menggoda menantunya.
“Ck… bukaannya Mama juga senang?” tanya Axel tak mempedulikan wajah istrinya yang sedang memerah menahan malu.
Seperti biasa, Gita melayani suaminya dengan mengambilkannya makan. Kemudian mereka berdua menikmati sarapannya.
Selesai sarapan, Gita dan Axel bergegas pergi menuju tempat dimana Inez sedang menunggunya. Sejak tadi Gita tampak cemas memikirkan sahabatnya yang seperti sedang dalam masalah.
Tak lama kemudian mobil Axel sudah tiba di sebuah tempat yang seperti taman namun tidak banyak orang disana. Tempat itu terletak di dekat kampus Gita. dan itu menjadi tempat favorit Gita dan kedua sahabatnya dulu jika sedang mengerjakan tugas kuliah.
Gita berjalan mencari keberadaan Inez. Ternyata Inez sedang duduk di salah satu bangku yang suasananya tampak sepi dan jauh dari keramaian. Inez juga belum menyadari kehadiran Gita dan Axel.
“Nez!!” panggil Gita.
Seketika Inez menoleh dan segera berhambur ke pelukan Gita. Gita menyambut pelukan sahabatnya. Bahkan dia bisa mendengarkan isakan pilu Inez yang menyayat hati. Setelah puas menumpahkan tangisnya, Inez mengurai pelukannya. Dia terkejut ternyata di belakang Gita ada Axel.
“Nggak apa-apa, anggap suamiku juga teman kamu.” Ucap Gita seolah mengerti yang sedang dipikirkan oleh Inez.
__ADS_1
Setelah itu Gita mengajak Inez duduk. Axel juga ikut duduk, namun dia hanya diam dan memberikan waktu untuk Gita dan Inez berbicara. Inez yang awalnya canggung dengan keberadaan Axel, perlahan terbiasa.
“Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi, Nez? Bukankah kamu akan menikah?” tanya Gita.
Inez masih berusaha meredam isakannya. Dia juga masih menundukkan kepalanya karena tidak ingin Gita melihat luka memar pada pipinya.
Gita yang tidak tahan melihat kesedihan sahabatnya, kemudian dia memegang kedua pundak Inez agar mau bicara. Alangkah terkejutnya Gita saat melihat pipi Inez yang tampak memar seperti habis terkena tamparan.
“Nez, katakan siapa yang melakukan semua ini?” cecar Gita yang tidak tahan melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu.
Inez pun menceritakan semuanya. Dia seringkali menerima kekerasan fisik dari calon suaminya. Gita terkejut setelah mengetahui bahwa calon suami Inez adalah kakak tingkatnya yang dulu pernah ditolak cintanya oleh Inez. Gita memang tahu nama calon suami yang tertera dalam undangan pernikahan itu adalah Jerry. Tapi dia tidak menyangka kalau Jerry yang dimaksud adalah kakak tingkatnya semasa kuliah dulu.
“Kenapa dia melakukan semua ini, Nez? Lalu kamu diam saja saat mendapatkan kekerasan fisik seperti ini?” tanya Gita penuh amarah.
Inez kembali terdiam. Setelah itu menceritakan bahwa dia tidak berani melawan Jerry karena itu akan berdampak pada perusahaan Papanya. Dan Jerry melakukan kekerasan fisik jika dirinya menolak untuk diajak bercinta oleh Jerry.
“Kurang ajarr!!” ucap Gita dengan emosi.
Sejak tadi Axel hanya menyimak pembicaraan Gita dan Inez. Dia juga ikut geram mendengar kelakuan calon suami Inez.
“Lalu, tamparan ini juga apa karena dia mengajak kamu lagi dan kamu menolaknya?” tanya Gita.
“Tidak. Ini karena semalam dia tahu saat Kak Dimas menyatakan cintanya padaku.” jawab Inez lirih.
“Jadi laki-laki berengsek yang menghajar Dimas semalam adalah calon suami kamu?” kali ini Axel yang bersuara.
“Apa? Jerry menghajar Kak Dimas?” tanya Inez tak percaya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️