Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 43


__ADS_3

Kini Iqbal sudah merasa lebih baik. Dan sekarang sedang duduk sambil makan soup hangat yang sudah dibuatkan oleh Jenny. Jenny pun ikut sarapan bersama Iqbal. keduanya saling terdiam sambil menikmati makanannya.


“Apa yang terjadi denganku semalam?” tanya Iqbal datar.


“Kak Iqbal mabuk dan pulang bersama Farah.” Jawab Jenny lalu kembali menundukkan kepalanya.


Iqbal terdiam cukup lama. Dia mengingat kejadian kemarin pagi dimana dirinya menyaksikan Xavier telah melamar Jenny. Setelah dia pergi, hingga akhirnya malam menjelang dia memasuki sebuah diskotik. Padahal sebelumnya dia anti masuk ke tempat hiburan seperti itu. Tapi karena suasana hatinya sedang jauh dari kata baik, akhirnya dia memasuki tempat itu dan menghabiskan malam dengan menenggak beberapa botol minuman beralkohol. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Namun ada satu hal yang dia ingat dan masih terasa sampai sekarang. Iqbal mengingat kalau semalam dia seperti sedang mencium bibir Jenny. Tapi entah itu nyata atau hanya halusinasinya saja karena sedang di bawah pengaruh minuman.


Iqbal melirik jari Jenny sekilas. Disana tidak ada cincin melingkar. Bukankah kemarin Xavier telah melamarnya. Kalau cincin pernikahan darinya Iqbal tahu kalau Jenny sudah lama melepasnya. Dan kini taka da satupun cincin melingkar disana. Apakah Jenny sengaja tidak memakainya.


Setelah makan, tanpa mengucapkan sesuatu Iqbal langsung meninggalkan meja makan. Jenny meneteskan air matanya melihat sikap dingin Iqbal. dia masih mengingat ungkapan cinta Iqbal semalam. Meski dalam keadaan mabuk, dia sangat yakin kalau itu adalah ungkapan terdalam dari hati Iqbal. jenny benar-benar bingung harus berbuat apa. Sementara dirinya masih terikat janji dengan Xavier.


Hari berlalu. Setiap hari antara Jenny dan Iqbal masih berangkat bekerja dan pulang bersama. Hanya saja sikap Iqbal berubah dingin terhadapnya. Bahkan mereka berdua sudah tidak pernah lagi menghabiskan waktunya bersama seperti hari-hari sebelumnya.


Saat ini Jenny tampak murung di ruang kerjanya. Dia memikirkan perubahan sikap Iqbal yang membuatnya sangat tidak nyaman.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu dan Jenny pun mempersilakannya masuk. Ternyata yang datang adalah Lila, anak pemilik butik. Jenny berusaha menyunggingkan senyum pada Lila dan mempersilakannya masuk.


“Ada yang bisa aku bantu Mbak Lila?” tanya Jenny.


“Emmm, aku lagi bosan nih. Ikut aku keluar yuk. Aku udah ijinin kamu sama Mama.” Ajak Lila.


“Baiklah, Mbak.” Jawab Jenny.


Lila yang kebetulan ada tugas kerjaan di kota ini setelah cuti, jadi selama itu dia belum lagi kembali ke kota J. dan karena pekerjaannya tidak terikat waktu, jadi dia mempunyai banyak waktu.


Lila mengajak Jenny pergi ke sebuah café. Hubungan mereka berdua juga sudah akrab, hanya saja Jenny masih tertutup.


“Sudah berapa lama kamu menikah, Jen?” tanya Lila.


“Kurang lebih 3 bulan Mbak.” Jawab Jenny sambil menyesap jus lemon.


“Oh gitu. Lantas dengan Xavier?” tanya Lila tiba-tiba.


Uhuk

__ADS_1


Jenny tersedak minumannya saat mendengar Lila menanyakan tentang Xavier. Bagaimana bisa perempuan itu mengenal Xavier. Dan bagaimana Lila bisa tahu hubungannya dengan Xavier.


“Maaf Jen jika aku lancang.” Ucap Lila terjeda.


Lalu Lila mengatakan pada Jenny kalau Xavier adalah teman baiknya semasa kuliah dulu. Dia juga mengatakan pertemuannya dengan Xavier sebulan yang lalu. Xavier menceritakan semuanya kalau kedatnagnnya ke kota ini untuk menyambangi kekasihnya yang tak lain adalah Jenny. Kemudian Lila menanyakan, kenapa Xavier mengaku sebagai kekasih Jenny yang pada kenyataannya Jenny sudah mempunyai suami.


“Nggak apa-apa jika kamu nggak mau bercerita, Jen.” Ucap Lila.


“Nggak apa-apa Mbak.” Jawab Jenny tersenyum tipis.


Akhirnya Jenny menceritakan semuanya pada Lila. Karena Lila sudah terlanjur tahu semuanya. Setelah menceritakan semuanya, raut wajah Jenny terlihat sedih, hingga membuat Lila merasa iba.


“Apakah kamu mencintai suami kamu, Jen?” tanya Lila.


“Dia mencintaiku Mbak. Tapi aku bingung dengan perasaanku sendiri.” Jawab Jenny.


“Pikirkan yang matang Jen. Dan jangan sampai kamu menyesal dengan pilihan kamu. Dan secepatnya putuskan salah satunya jika hati kamu sudah mantap.” Ucap Lila menyarankan.


“Iya, Mbak. Terima kasih.” Jawab Jenny.


***


Beberapa saat melamun, Iqbal mendapat panggilan dari atasannya dan diminta untuk datang ke ruangannya.


“Ada yang bisa saya bantu Nyonya?” tanya Iqbal.


"Besok ikut saya perjalanan bisnis di kota X selama kurang lebih empat hari.” Ucap Nyonya Sarah.


“Baik, Nyonya.” Jawab Iqbal yakin.


“Kamu nggak apa-apa meninggalkan istri kamu sendirian di rumah?” tanya Nyonya Sarah.


“Nggak apa-apa Nyonya. Saya harus professional dalam bekerja.” Jawab Iqbal.


“Ya sudah kalau begitu kamu bisa kembali ke ruangan kamu lagi.” Ucap Nyonya Sarah.


Saat ini Iqbal sudah berada di depan butik. Dia menjemput Jenny seperti biasa. Dan lagi-lagi keduanya masih saling diam.

__ADS_1


“Kak, minggu depan aku ingin pulang. aku sangat merindukan Mama.” Ucap Jenny memecah keheningan.


“Iya.” Jawab Iqbal datar.


Sepertinya niat Iqbal mengakhiri hubungannya dengan Jenny telah direstui Tuhan. Padahal tadi dia hanya berencana akan melakukan ini semua setelah urusan pekerjaanya selesai. dan kemungkinan setelah perjalanan keluar kota, dia akan memiliki banyak waktu luang. Jadi dia akan meminta cuti untuk pulang ke kota J.


Sesuai dengan yang diperintahkan oleh Nyonya Sarah, hari ini Iqbal akan pergi keluar kota. Dan pagi ini setelah Iqbal menyiapkan beberapa pakaiannya, lalu dia meletakkannya ke dalam mobil. Dan Jenny tidak tahu sama sekali.


“Kamu nanti pulangnya naik taksi saja. Dan mungkin selama beberapa hari juga.” ucap Iqbal setelah mengantar Jenny ke butik.


“Kak Iqbal mau kemana?” tanya Jenny penasaran.


“Aku ada pekerjaan di luar kota selama beberapa hari.” Jawab Iqbal.


“Kenapa mendadak, Kak?” tanya Jenny kecewa namun Iqbal tak menjawabnya.


Tidak mendapat jawaban dari Iqbal, akhirnya Jenny memutuskan untuk segera turun dari mobil tanpa mengucapkan sesuatu. Iqbal melihat Jenny berjalan sambil menundukkan kepalanya dan sesekali tangannya mengusap air matanya.


“Maafkan aku Jen. Mungkin ini yang terbaik buat kita.” Gumam Iqbal dalam hati.


Selama di luar kota, Iqbal meminta bantuan Galang agar memantau Jenny. Meski dia mencoba untuk abai pada Jenny, nyatanya hati Iqbal tidak bisa berbohong. Dia selalu memikirkan perempuan itu.


Sementara itu Jenny sangat resah selama beberapa hari ditinggal Iqbal ke luar kota. Entah kenapa ada rasa rindu yang menyeruak memenuhi relung hatinya. Ingin sekali dia menyusul Iqbal.


Tok tok tok


Jenny melirik jam dinding menunjukkan pukul 8 malam. dia terkejut mendengar suara ketukan pintu dari luar. Setelah mengintip seseorang yang datang, lalu Jenny membukakan pintu rumahnya.


“Ayo ikut aku sekarang! Iqbal kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit.”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


Terima kasih masih setia mengikuti cerita ini🤗😁 walau rasanya seperti naik roller coaster😂😂


__ADS_2