
Malam harinya Axel memilih pulang ke rumah orang tuanya. Karena dia sangat membutuhkan bantuan Papanya.
“Tumben, anak Mama sekarang rajin pulang ke rumahnya.” Sindir Nia saat melihat Axel baru saja akan nak ke lantai atas menuju kamarnya.
“Ya sudah, Axel balik lagi saja ke apartemen.” Jawab Axel pura-pura kesal.
“Eh, Mama hanya bercanda. Mama malah berharap kamu pulang ke rumah terus.” Ucap Nia.
Axel hanya tersenyum tipis pada Mamanya. Dia sangat tahu kalau Mamanya sangat menyayanginya hingga menginginkan dirinya untuk pulang ke rumah daripada ke apartemen.
“Axel mau mandi dulu, Ma. Sebentar lagi kita makan malam bersama.” Ucap Axel pada Mamanya.
Selesai mandi, Axel segera turun dan menuju ruang makan. Disana Mama dan Papanya sudah duduk manis menunggunya. Tanpa banyak bicara, mereka bertiga segera menikmati makan malamnya. Felix seolah mengerti kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Axel, karena tidak biasanya anak itu pulang ke rumah kecuali diminta langsung oleh Mamanya.
“Pa, ada yang ingin Axel bicarakan pada Papa mengenai pekerjaan.” Ucap Axel setelah menyelesaikan makan malamnya.
“Papa tunggu di ruang kerja.” Jawab Felix.
“Oh pulang ke rumah karena ada hal lain, bukan karena merindukan Mama?” sindir Nia.
“Nggak juga, Ma. Axel juga rindu dengan Mama. Kalau perlu, Mama nanti boleh nemenin Axel tidur deh.” Jawab Axel dengan nada bercanda.
“Nggak boleh! Kamu jangan macam-macam ya Axel! Mama kamu hanya boleh tidur dengan Papa.” Sahut Felix dengan suara tegas.
“Ish, Papa kamu sudah tua juga tidak paham dengan candaan anak muda jaman sekarang.” Ucap Nia kesal.
“Aku belum tua karena aku belum punya cucu. Axel, cepat Papa tunggu di ruang kerja.” Jawab Felix dan segera beranjak dari duduknya.
“Iya, Pa.” ucap Axel.
Entah kenapa ada rasa hangat dalam hati Axel saat Papanya mengucapkan kata cucu. Apakah itu artinya kedua orang tuanya sudah mengingankan cucu darinya. Namun Axel sadar betul kalau usianya masih sangat muda jika harus menuruti keingiinan orang tuanya.
“Ada apa?” Tanya Felix saat melihat Axel baru saja duduk di depannya.
Axel akhirnya menceritakan tentang kejadian malam itu di Club. Axel tidak membeberkan cerita secara detail termasuk mengenai apa yang sudah ia lakukan bersama Gita. Axel hanya menceritakan kalau ia menolong Gita dari orang asing yang hendak berbuat buruk padanya. Dan Axel sudah meminta bantuan Jendra dan Mikko untuk mencari pelaku itu termasuk dalangnya, namun tidak membuahkan hasil.
Felix yang awalnya sangat kesal pada Axel karena anaknya masih saja nongkrong di tempat hiburan seperti itu, perlahan rasa kesalnya meluap begitu saja terlebih setelah mendengar kalau Gita sedang dalam bahaya.
__ADS_1
“Lantas apa yang kamu butuhkan dari Papa?” Tanya Felix.
“Bukankah Club itu milik salah satu teman Papa, Om Tama? Axel hanya ingin melihat rekaman cctv di Club itu, Pa. karana sulit jika Jendra dan Mikko memintanya secara langsung.” Jawab Axel.
Felix terdiam sejenak. Memang benar Club iitu milik temannya. Namun hubungan Felix dengan Tama sedikit kurang baik entah karena ada hal apa. Tapi demi Gita, Felix akan menemui pria itu dan meminta bantuan sesuai yang diminta oleh Axel.
“Kamu tunggu saja, besok Papa akan mencoba hubungi Om Tama.” Jawab Felix kemudian.
“Terima kasih, Pa.” jawab Axel lalu keluar dari ruang kerja Papanya.
***
Sementara itu beberapa hari ini Giita sedang fokus mempersiapkan materi yang akan ia gunakan untuk menjalani sidang skripsinya. Lusa Gita akan sidang skripsi. Dia memilih untuk melupakan masalah yang sedang ia hadapi akhir-akhir ini. Gita juga merasa sedikit lega karena Axel tidak lagi menghubunginya. Namun berbeda dengan Dimas. Laki-laki itu hampir tiap hari mengirim pesan, bahkan melakukan panggilan padanya. Namun Gita tidak pernah mempedulikannya. Gita hanya sesekali membalas pesan Dimas dengan mengatakan kalau sedang mempersiapkan diri sebelum menjalani sidang.
Tok tok tok
“Masuk!” ucap Gita saat terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
“Lagi sibuk banget ya, Kak?” Tanya Daniel.
“Ikut ke bandara yuk, Kak. Jemput Chandra.” Ajak Daniel.
“Chandra? Ngapain tuh bocah kesini?” Tanya Gita heran.
Daniel hanya mendengus, karena dia tahu kalau Chandra sudah datang kesini pasti anak itu selalu bikin rusuh rumah. Laki-laki seusia Daniel itu bahkan lahirnya pun bersamaan, memang selalu usil pada Gita. Hingga terkadang membuat Gita malas jika bertemu dengan Omnya itu. Ya memang Omnya, walau usia Chandra sama dengan usia Daniel. Namun Gita tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Om.
“Ngapain juga ngajak aku? Sana berangkat sendiri saja!” tolak Gita.
“Ayolah, Kak! Kak Gita tahu sendiri kan kalau Mama dan Papa belum ngijinin aku bawa mobil sendiri sebelum aku lulus SMA. Tapi tenang saja sebentar lagi aku lulus, jadi nggak akan merepotkan Kak Gita lagi jika mau keluar.” Jawab Daniel.
Dengan malas, akhirnya terpaksa Gita menuruti keinginan adiknya. Dia memnta Daniel menunggunya di bawah karena dia akan ganti baju dulu.
“Hati-hati bawa mobilnya, Niel! Jangan ngebut!” ucap Jenny sebelum melihat kedua anaknya pergi.
“Ok, Mama!” jawab Daniel sambil mengangkat jempolnya.
Kini Gita dan Daniel sudah dalam perjalanan menuju bandara. Gita tidak banyak bicara dengan adiknya, dia tiba-tiba mengingat tentang satu nama seseorang yang selama in berusaha iia hindari, yaitu Axel. Entah kenapa walau sudah berusaha mati-matian melupakan laki-laki itu dengan cara membenci perbuatan yang sudah ia lakukan, tetap saja wajah laki-laki tu masih bersarang di dalam memori otaknya. Mungkin karena mereka sudah dekat sejak kecil.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mobil yang dikemudikan oleh Daniel sudah sampai di parkiran bandara. Mereka berdua segera turun menghampiri Chandra yang sudah menunggunya.
Tanpa mereka berdua sadari ternyata sejak tadi ada seseorang yang mengikuti mobil Daniel. Bahkan saat ini orang itu juga sedang mengikuti Gita dan Daniel ke bandara.
“Hai keponakanku yang cantik!!” sapa Chandra sambil memeluk Gita sebentar.
“Cih, mana ada bocil punya keponakan yang usianya jauh lebih tua dari Omnya?” ucap Gita sambil mendengus. Tapi Chandra tidak peduli.
“Eh, kenapa kamu bawa koper besar seperti itu?” Tanya Gita penuh selidik.
“Ya memang aku berencana akan tinggal disini, dan kuliah disini.” Jawab Chandra dengan enteng dan membuat Gita membelalakkan matanya terkejut.
“Wah, nggak beres nih anak. Kamu sengaja mau kuliah disini biar nggak ribet sama ketiga adik kamu? Dasar pandai cari alasan!” Ejek Gita.
“Nggak lah. Lagi pula adik-adikku sudah besar semua. Aku kuliah disini karena ingin dekat dengan keponakanku yang cerewet ini.” Ucap Chandra sambil memencet hdung Gita.
Setelah itu Daniel segera mengajak Chandra dan juga Kakaknya bergegas pulang. Dia sendiri juga malas mendengarkan kakaknya selalu berdebat dengan Chandra.
Grep
Bugh
Chandra dengan sigap memeluk tubuh Gita dan menjatuhkan badannya saat Chandra melihat seseorang berjalan dengan langkah tergesa sambil membawa pisau yang disembunyikan di balik tas dan diarahkan tepat pada Gita.
Aawwww
.
.
.
*TBC
Terima kasih buat yg nasih setia sampai eps ini. Semoga tidak bosan😁😁🤗 terima kasih juga buat yg sdh kasih dukungan like, komen, vote, dan gift yg banyak sekali🤗🤗😍😍😍
Happy Reading‼️
__ADS_1