Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 65


__ADS_3

"Kamu?” Farah terkejut saat melihat wanita yang baru saja datang itu.


Lidya terkejut saat kembali melihat perempuan yang ia jumpai semalam. Meski menurut Lidya perempuan itu terlihat ketus dan angkuh, namun dia tetap menghormatinya sebagai pelanggan di butik tempat dia bekerja.


“Maaf, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Lidya.


Mood Farah sedikit berubah setelah melihat perempuan di depannya itu. Perempuan yang ia yakini ibu dari anak kecil yang menumpahkan es krimnya dan mengenai celana Iqbal.


“Ternyata kamu ibu dari anak kecil kemarin? Yang sudah menumpahkan es krim ke baju temanku. Dan kamu pergi begitu saja.” Ucap Farah.


“Sekali lagi saya minta maaf Nona. Kemarin Nona Gita tidak sengaja melakukannya. Karena masih kecil.” Jawab Lidya.


“Nona Gita?” tanya Farah bingung.


“Iya, Nona. Nona kecil yang menumpahkan es krim kemarin adalah Nona Brigita. Anak dari pemilik butik ini. saya kemarin buru-buru jadi tidak sempat mengganti kerugian yang dilakukan Nona Gita pada teman anda.” Ucap Lidya.


Galang yang sejak tadi mendengar perdebatan kecil calon istrinya, akhirnya berusaha membujuk Farah agar tidak terlalu mempermasalahkan kejadian kemarin malam. dan Farah pun menuruti ucapan Galang.


“Sekali lagi saya minta maaf, Nona.” Ucap Lidya lagi.


“Ya sudah lupakan. Sekarang aku mau memesan gaun yang seperti itu tapi dengan warna yang berbeda.” Ucap Farah.


Lidya pun menganggukkan kepalanya lalu mengajak Farah menuju ruangannya untuk membicarakan semua keinginannya.


Farah sudah menyampaikan pada Lidya ingin bertemu secara langsung dengan designernya. Namun dengan sopan Lidya menolaknya. Karena atasannya memang tidak pernah datang ke butik dan hanya bekerja dari rumahnya saja.


Lidya juga sudah meyakinkan pada Farah kalau kebanyakan pelanggan di butik ini sudah sangat percaya dengan gaun-gaun yang didesign oleh atasannya. Akhirnya Farah pun percaya.


“Ehm, tapi jika nanti saya mengundang pemilik butik ini dalam acara pernikahan saya, apakah dia mau datang?” tanya Farah.


“Nanti akan saya sampaikan terlebih dulu, Nona.” Jawab Lidya.


Selain memang sangat kagum dengan gaun yang ada di butik itu. Farah juga sudah sangat yakin jika nanti gaun pernikahannya sangat bagus dan elegan. Jadi, Farah berniat ingin mengundang pemilik butik ini sekaligus ingin menunjukkan pada temannya kalau rancangan gaun di Brigita’s Boutique benar-benar sangat bagus.


Setelah itu Farah dan Galang berpamitan pulang. keduanya merasa sangat lega karena sudah mendapatkan gaun yang sesuai dengan keinginannya. Terutama Farah.


***

__ADS_1


“Mama bilang apa, Gita kan sedang batuk jadi jangan makan es krim dulu.” Ucap seorang wanita yang tengah duduk di ranjang putrinya yang sedang sakit.


“Gita mau ketemu dedii” jawab gadis kecil itu.


“Daddy kamu sedang sibuk, Sayang. Nanti kalau pekerjaannya sudah selesai pasti akan kesini.” Jawabnya.


Gadis kecil itu hanya diam saja sambil memainkan beberapa boneka yang tersusun rapi di atas tempat tidurnya.


Sedangkan Mamanya hanya bisa tersenyum tipis melihat putrinya yang masih sangat aktif walau saat ini badannya sedikit demam dan batuk.


“Ya sudah Mama turun dulu ya, Sayang. Sebentar lagi tante Lidya akan kesini.” Ucapnya dan si gadis kecil itu tak menjawab. Justru sangat asyik bermain dengan bonekanya.


Sebelum turun ke lantai bawah, wanita itu meyempatkan diri untuk keluar dari balkon kamar putrinya. Dia menghembuskan nafasnya pelan dan menikmati udara siang hari yang terasa sangat sejuk karena cuacanya sedang mendung.


“Apa kabar kamu sekarang, Kak? Apakah kamu sudah melupakan aku?” gumamnya sambil menerawang jauh kembali mengingat masa lalunya.


Tak lama kemudia terdengar suara ketukan pintu dari balik kamar putrinya. Jenny segera membukanya, ternyata Lidya lah yang datang. Lantas Jenny segera turun mengajak Lidya berbicara di bawah dan membiarkan putrinya bermain.


“Ada apa Lid? Apa ada masalah dengan butik?” tanya Jenny menatap Lidya, asisten pribadinya yang sudah bekerja dengannya kurang lebih selama 2 tahun.


“Nanti akan aku pikirkan lagi, Lid. Terima kasih. Sekarang kamu temani Gita dulu di kamarnya, aku mau menyelesaikan beberapa design yang akan aku pakai untuk kontes bulan depan” Jawab Jenny.


“Baik, Nyonya.” Jawab Lidya.


***


Sementara itu Iqbal yang kini sedang berada di kantor sejak tadi tampak jenuh. Mungkin ini baru pertama kalinya dia menginjakkan kaki di perusahaan dan masih belum terlalu banyak pekerjaan yang membuatnya sibuk. Akhirnya sore Iqbal memutuskan untuk pulang sebelum jam pulang kantor.


“Saya mau pulang. nanti sampaikan pada Nona Farah jika mencari saya.” Ucap Iqbal pada Olivia.


“Baik, Tuan.” Jawab Olivia.


Setelah itu Iqbal menuju basement untuk mengambil mobilnya terlebih dahulu. Pikiran Iqbal sejak tadi masih terbayang anak perempuan kecil yang dia temui semalam. Entah kenapa semakin dia berusaha melupakannya, wajah sendu anak itu semakin melekat dalam pikirannya.


Bayang-bayang anak itu yang sedang menangis setelah menumpahkan es krim membuat Iqbal teringat dengan Jenny. Karena wajah sendu anak itu hampir mirip dengan Jenny saat menangis.


“Sepertinya kamu sudah tidak pernah menangis lagi, karena kamu sudah bahagia dengan orang yang tepat.” Gumam Iqbal dalam hati.

__ADS_1


Iqbal melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan berkeliling kota. dia kembali mengingat masa-masa dimana dirinya banyak menghabiskan waktu bersama Jenny. Kemudian tiba-tiba Iqbal menghentikan mobilnya di sebuah taman kota yang tidak banyak orang disana. Dia keluar dari mobil dan memilih duduk di kursi taman.


Taman yang sudah banyak berubah setelah 3 tahun dia tidak tinggal di kota ini. namun hawa sejuk masih sangat terasa karena di sekeliling taman itu semakin banyak tumbuhan hijau.


Pandangan Iqbal menerawang jauh mengingat kenangan dulu yang pernah ia ukir bersama wanita yang sangat dia cintai.


Jujur saja, meski pada kenyataannya Jenny pergi meninggalkannya dan menikah dengan pria lain, namun jauh dalam lubuk hati Iqbal masih mencintai Jenny dan sama sekali tidak pernah membencinya. Walau kedua orang tuanya pernah memprovokasinya kalau Jenny bukan wanita yang pantas untuk dirinya.


Dug


Tiba-tiba ada sebuah bola jatuh tepat di depan Iqbal. dan tak lama kemudian ada seorang anak kecil berlari untuk mengambil bolanya.


“Apa ini bola kamu?” Tanya Iqbal sambil memberikan bola itu pada anak kecil yang sedang berdiri di depannya.


“Iya, Om. Makacih!” Jawabnya sambil mendongak menatap wajah Iqbal.


Iqbal sangat terkejut melihat anak itu. Anak kecil yang sejak tadi memenuhi pikirannya dan kini ada di depan matanya.


Perlahan tangan Iqbal menyentuh pipi gembul anak itu. Dia terkejut saat merasakan hangat pada pipi anak kecil itu.


“Non! Non Gita ayo kita pulang!” teriak seseorang.


“Dak mau. Gita mau main.” Tolaknya.


“Mama baru saja telfon kalau ada Daddy di rumah.” ucap wanita itu dan membuat anak yang bernama Gita bersorak senang lalu meninggalkan Iqbal.


.


.


.


*TBC


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya guys🤗🤗😘


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2