
Iqbal bergegas bangun dan membersihkan tubuhnya. Kabar sadarnya Nyonya Sarah dan meminta dirinya datang membuat perasaan Iqbal sangat cemas. Dia seperti merasakan firasat buruk. Tapi Iqbal berharap semua itu tidak terjadi.
“Kak, mau kemana? Kenapa buru-buru?” tanya Jenny baru bangun.
“Aku harus ke rumah sakit sekarang. Nyonya Sarah sudah sadar dan memintaku kesana.” Jawab Iqbal.
“Bolehkah aku ikut, Kak?” tanya Jenny.
Entah kenapa Jenny takut ada kejadian seperti kemarin. Jadi dia memberanikan diri untuk ikut suaminya ke rumah sakit. Sementara itu Iqbal seolah mengerti apa yang sedang dikhawatirkan oleh Jenny akhirnya menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Aku tunggu.” Jawab Iqbal.
Jenny mengulas senyum. Lalu segera membersihkan tubuhnya dan bersiap ikut ke rumah sakit. Jenny melakukannya dengan cepat. Dan sekarang dia sudah berada dalam mobil bersama Iqbal.
“Sebenarnya Nyonya Sarah sakit apa Kak?” tanya Jenny.
“Kata Farah sakit jantung. Dan itu sudah lama.” Jawab Iqbal.
“Mungkin beliau tidak ingin membebani pikiran Farah jadi beliau menyembunyikan penyakitnya.” Ucap Jenny.
“Iya. Sepertinya begitu.” Jawab Iqbal.
Tak lama kemudian Iqbal dan Jenny sudah tiba di rumah sakit. Karena waktu masih sangat pagi, jadi keadaan rumah sakit masih sangat sepi. Iqbal dan Jenny segera melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan Nyonya Sarah yang masih berada di ruang ICU.
Dari jauh Iqbal dapat melihat Farah duduk seorang diri sepertinya memang sedang menunggu dirinya.
“Kenapa kamu di luar? Bukankah Mami kamu sudah sadar?” tanya Iqbal.
“Dokter masih memeriksanya. Terima kasih Bal sudah mau datang.” Jawab Farah lalu melirik Jenny.
“Jen, maafkan aku.” ucap Farah dan diangguki oleh Jenny.
Tak lama kemudian dokter dan seorang perawat keluar dari ruangan ICU. Iqbal langsung menanyakan keadaan Nyonya Sarah. Lalu dokter mengatakan kalau memang Nyonya Sarah sudah sadar namun masih memerlukan perawatan lanjutan.
“Apa saya boleh masuk, dok?” tanya Iqbal.
“Boleh. Tapi jangan banyak orang. Maksimal dua orang saja dan jangan terlalu lama.” Jawab dokter.
Setelah itu dokter dan perawat itu pergi meninggalkan ruang rawat Nyonya Sarah. Iqbal melihat Farah sebentar seolah meminta ijin untuk masuk.
__ADS_1
“Masuklah! Aku disini saja.” Ucap Farah.
Kemudian Iqbal masuk bersama dengan Jenny. Di sana terlihat Nyonya Sarah sudah membuka matanya namun, tubuhnya masih ada alat bantu pernafasan yang membelit tubuhnya. Perlahan Iqbal dan Jenny menghampiri Nyonya Sarah.
“Nyonya. Saya senang anda sudah sadar.” Ucap Iqbal.
Nyonya Sarah melihat Iqbal datang tampak senang dan mencoba untuk tersenyum. Lalu Nyonya Sarah memegang tangan Iqbal seolah ingin mengatakan sesuatu.
“Iqbal, saya minta tolong.” Ucapnya lirih.
“Nyonya katakan saja, saya akan berusaha memenuhi permintaan anda.” Jawab Iqbal.
“Tolong jaga Farah seperti saudara kamu sendiri. Dia itu masih labil dan belum dewasa.” Ucapnya lirih sambil mengatur nafasnya.
“Iya. Anda jangan khawatir. Yang penting Nyonya harus semangat untuk sembuh.” Jawab Iqbal, namun Nyonya Sarah menggelengkan kepalanya pelan.
“Tolong kamu urus perusahaan dengan baik. Aku sangat yakin kamu adalah orang yang bisa diandalkan.” Ucap Nyonya Sarah lagi.
Jenny yang sejak tadi berdiri di samping kanan ikut terenyuh dan meneteskan air matanya melihat keadaan Nyonya sarah.
“Anda jangan bilang seperti itu. Kalau anda sudah sembuh, saya janji akan membantu anda mengurus perusahaan.” Ucap Iqbal.
Jenny mengangguk sambil mengusap air matanya. sedangkan Iqbal sudah tidak bisa mengatakan apa-apa karena matanya melihat kalau keadaan Nyonya Sarah semakin lemah.
“Bisakah panggilkan Farah sebentar?” pinta Nyonya Sarah.
Akhirnya Jenny mengangguk dan keluar dari ruangan itu untuk memanggil Farah. Setelah Farah masuk, Jenny memilih untuk tetap di luar saja membiarkan mereka bertiga berbicara hal penting.
“Ada yang Mami butuhkan?” tanya Farah sendu mencoba tetap tegar.
“Mami hanya berpesan, supaya kamu jangan seperti anak kecil lagi. Belajarlah dewasa Sayang. Karena Mami tidak lagi bisa menemani ka-“
Titttttttttttt
Tiba-tiba saja alat pendeteksi detak jantung Nyonya Sarah berbunyi yang menandakan bahwa detak jantungnya terhenti. Dengan cepat Iqbal menekan tombol untuk memanggil perawat.
“Mami!!!!! Mami jangan pergi!! Jangan tinggalin Farah, Mi!!!!!” teriaknya sambil memeluk tubuh wanita paru baya itu yang sudah menutup matanya rapat.
“Farah, tenanglah!” ucap Iqbal.
__ADS_1
Dan tak lama kemudain dokter dan perawat masuk untuk melihat keadaan pasien. Setelah dicek ternyata Nyonya Sarah dinyatakan telah meninggal dunia.
Jenny yang sedang duduk di luar terkejut mendengar teriakan Farah dan kedatangan dokter. Lalu dia memberanikan diri untuk masuk. Di sana terlihat Farah sedang menangis meraung sambil memeluk Maminya, dan perawat melepas alat bantu pernafasannya.
“Kak, ada apa?” tanya Jenny lirih.
“Nyonya Sarah telah tiada.” Jawab Iqbal.
Jenny tersentak lalu air matanya mengalir begitu saja. Dia melangkah mendekati Farah untuk menenangkannya, meski Farah masih menangis di atas jasad Maminya.
Tak lama beberapa perawat datang untuk memindahkan jasad Nyonya Sarah ke kamar jenazah. Jenny mengajak Farah keluar dan kemabli menenangkannya. Iqbal juga tampak bersedih. Jujur selama bekerja dengan wanita itu, Iqbal banyak belajar padanya. Nyonya Sarah adalah orang yang sangat baik. Bahkan Iqbal menganggap seperti ibunya sendiri.
Setelah jasad Nyonya Sarah dimandikan dan siap untuk dibawa ke rumah duka, Iqbal lantas mengajak Farah untuk pulang. karena Farah membawa mobil sendiri, dan tidak membiarkannya menyetir dalam keadaan seperti itu, akhirnya Iqbal meminta bantuan Galang untuk mengantar Farah pulang. sedangkan dirinya bersama Jenny.
Setibanya di rumah duka, persiapan pemakaman sudah dilakukan. Banyak pelayat yang datang dan kebanyakan dari karyawan perusahaan dan beberapa rekan bisnis Nyonya Sarah.
Sejak tadi Farah masih terlihat diam di dekat jasad Maminya. Air matanya sudah mongering, kini hanya tertinggal isakan pilu. Farah tidak menyangka setelah kelupalangannya dari luar negeri, yang dia kira akan menghabiskan banyak waktunya bersama sang Mami ternyata salah. Nyatanya dia hanya menikmati kebersamaan itu selama beberapa bulan saja, hingga akhirnya Maminya menghembuskan nafas terakhir.
Pemakaman Nyonya Sarah sudah selesai. beberapa pelayat juga sudah pulang. kini tinggallah Iqbal, Jenny, Farah, dan juga Galang yang ada di rumah itu. Lalu Iqbal mendekati Farah mencoba untuk menenangkannya.
“Kamu boleh bersedih, Far. Tapi jangan sampai larut. Kasihan Mami kamu jika melihat anak semata wayangnya tampak lemah.” Ucap Iqbal.
Farah mendongak, lalu berhambur ke pelukan Iqbal. dia menangis lagi untuk menumpahkan kesedihannya. Iqbal juga membalas pelukan Farah hanya untuk memberi ketenangan. Jenny yang melihatnya sudah tidak ada rasa khawatir lagi seperti sebelumnya. Karena dia sadar Farah memang sedang berduka dan butuh sandaran.
“Terima kasih banyak Bal. kamu sudah seperti saudaraku sendiri.” Ucap Farah.
Galang yang mendengar ucapan Farah tampak mengulas senyum lega.
.
.
.
*TBC
Jangan lupa selalu tinggalkan like dan komentarnya ya guys😉🤗😘
Happy Reading‼️
__ADS_1