Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 80


__ADS_3

Wajah Iqbal berubah murung setelah melihat kehadiran Xavier, mantan rivalnya dulu. Entah kenapa meski dia sudah percaya bahwa istrinya sudah tidak ada lagi hubungan dengan Xavier, Iqbal tetap tidak suka melihatnya. Sedangkan Jenny yang seolah tahu perubahan raut wajah suaminya setelah bertemu dengan Xavier, dia hanya bisa menggenggam lembut tangan suaminya.


“Sudahlah, Mas. Lagian itu sudah menjadi masa lalu.” Bisik Jenny pelan.


“Tapi pandangan matanya sangat berbeda. Dan masih sama seperti dulu.” Jawab Iqbal datar.


“Kamu sok tahu Mas. Lagi pula kamu bisa lihat tuh, dia sangat perhatian sama istrinya.” Ucap Jenny meyakinkan.


Iqbal langsung melihat keberadaan Xavier yang memang sedang bersama istrinya. Dan benar Xavier terlihat sangat perhatian sama istrinya. Sedangkan Jenny sendiri heran, kemana anak Xavier? bukankah saat itu, wanita yang bersamanya tengah mengandung?.


Acara pernikahan itu sangat meriah. Semua tamu sedang menikmati hidangan yang tersedia sambil menyaksikan beberapa hiburan. Sedangkan pasangan pengantin juga tampak asyik berduaan di atas pelaminan.


Tak jauh dari kerumunan pesta, Danisa melihat kemesraan Iqbal dan Jenny sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.


Dia ikut hadir bersama Papa dan Mamanya, namun dia tidak ikut naik ke pelaminan memberikan ucapan selamat pada si mempelai karena dia masih sangat marah dan terima setelah mendengar ancaman langsung dari Galang beberapa hari yang lalu.


“Ingat, Danisa! Aku nggak akan segan-segan lagi membuka skandalmu dengan beberapa pembisnis di hadapan kedua orang tua kamu kalau sampai kamu mencoba merusak rumah tangga Iqbal.” ancam Galang.


Akhirnya Danisa memutuskan untuk pergi meninggalkan pesta itu. Dengan amarah yang masih melekat kuat di hatinya.


Waktu semakin lama. Para tamu undangan perlahan berpamitan pulang. kini hanya tersisa keluarga besar Iqbal dan Jenny saja yang sedang menikmati makan malam bersama.


Gita saat ini tengah duduk di pangkuan Papanya. Gadis kecil itu tampak merajuk karena sejak tadi melihat kedua orang tuanya terus duduk berduaan. Sedangkan dirinya dalam gendongan Daddy-nya.


“Sini Gita sama Mama saja. Biar Papa makan dulu.” Jenny membujuk Gita.


Gita hanya diam saja tidak mempedulikan ucapan Mamanya. Bahkan dia semakin mengeratkan pelukannya. Semua orang tertawa melihat tingkah lucu Gita.


“Sudahlah nggak apa-apa, kamu makan saja dulu. Biar nanti aku belakangan.” Ucap Iqbal.


Akhirnya Jenny mengalah. Dia juga memaklumi sifat anaknya yang seperti itu terhadap Papanya, Karena mereka berdua sudah lama berpisah.


Setelah acara makan malam selesai, semua orang memutuskan untuk beristirahat di kamar hotel masing-masing. Jenny yng mengetahui kalau suaminya sejak tadi belum sempat makan, akhirnya dia meminta pelayan hotel membawakan makannya ke dalam kamar mereka. Karena sampai saat ini Gita masih enggan lepas dari gendongan Iqbal.

__ADS_1


“Nyonya, biarkan Non Gita tidur bersama saya.” Ucap Lidya saat melihat Jenny akan masuk ke dalam kamarnya.


Lidya yang bekerja sebagai asisten Jenny sekaligus baby sitter Gita tidak enak jika membiarkan anak majikannya ikut tidur bersama orang tuanya di saat malam pengantin seperti ini.


“Sudah, nggak apa-apa Lid. Biarkan Gita tidur sama aku dan Papanya. Kamu beristirahatlah, karena sudah malam.” ucap Jenny.


“Baiklah Nyonya kalau begitu.” Jawab Lidya.


Setelah itu Jenny masuk ke dalam kamarnya mengikuti jejak suaminya yang masuk terlebih dulu menggendong Gita. Dan sampai di dalam kamar, Jenny melihat Gita sudah bermain lompat-lompat di atas ranjang miliknya. Gadis kecil itu sangat senang saat melihat tempat tidur yang dihias sangat cantik dengan taburan kelopak bunga mawar.


Jenny hanya tersenyum melihat kebersamaan anak dan suaminya. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Dan malam ini dia memutuskan tidur bersama dengan anak dan suaminya. Lagi pula malam ini bukan malam pertama seperti pasangan pengantin pada umumnya.


Setelah keluar dari kamar mandi membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, Jenny melihat Gita sudah tidur pulas dalam pelukan Papanya.


“Mas, ganti baju dulu lalu makanlah. Tadi kamu kan belum makan.” Ucap Jenny.


Iqbal perlahan mengendurkan pelukannya lalu beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya lalu makan malam.


Iqbal menyelesaikan itu semua dengan cepat. Dia juga merasa sangat lelah dan matanya juga sudah mengantuk. Dia melihat istrinya sudah tertidur pulas disamping Gita. Lalu Iqbal mendekatkan dirinya pada Jenny dan mengecup keduanya secera bergantian sebelum tidur.


“Wah, Gita semalam ganggu malamnya Papa dan Mama ya?” seloroh Carissa kakak ipar Jenny.


“Apa sih Kak. Kayak pengantin baru saja. Kita kan pengantin lama yang baru diperbarui.” Jawab Jenny sontak membuat semua orang tergelak.


“Meskipun pengantin lama tapi kan rasa pengantin baru terus?” Kali ini Barra yang menimpali.


Iqbal hanya tersenyum samar. Karena dia juga sangat malu dan bingung bagaimana menanggapi candaan Barra, mantan atasannya.


“Sudah Bal, jangan kaku-kaku. Rileks saja. Ya begitu memang kelakuan kakak ipar kamu.” Ucap Kay mencairkan suasana.


Akhirnya pagi itu mereka melaui hari bahagia bersama di meja makan hotel. Setelah itu semua orang memutuskan untuk kembali ke rumah. Iqbal dan Jenny pun akan bersiap untuk pergi bulan madu esok harinya.


Iqbal dan Jenny pulang menggunakan mobilnya pribadinya sendiri. Gita juga ikut bersamanya. Karena anak tidak mau ketinggalan oleh Papanya.

__ADS_1


“Sayang, bagaimana dengan Gita jika besok kita pergi berbulan madu?” tanya Iqbal.


“Nggak apa-apa. Kan ada Mama di rumah. lagi pula ada Lidya.” Jawab Jenny.


“Ya sudah kalau begitu. Aku hanya khawatir dia rewel mencari aku.”


***


Sementara itu saat ini Farah dan Galang juga tengah menikmati hari libur mereka di rumah. keduanya berbincang mengenai pesta pernikahan Iqbal dan Jenny semalam.


“Aku sangat senang melihat Iqbal sudah bahagia bersama wanita yang dicintainya.” Ucap Farah dengan pandangan menerawang sambil mengingat masa lalu Iqbal.


“Kita doakan saja semoga mereka selalu bahagia.” Jawab Galang.


“Oh iya apa kamu semalam melihat Danisa datang? Sepertinya aku melihat dia datang tapi aku cari keberadaannya tidak ada. Yang ada hanya Om Marvin dan Tante Ambar saja.” Tanya Farah.


“Aku tidak tahu. Karena aku juga sangat sibuk dengan beberpa tamu yang kebanyakan rekan bisnis kita.” Jawab Galang.


Galang sengaja tidak memberitahukan pada istrinya tentang Danisa. Dia tidak ingin membuat istrinya khawatir mengenai ancamannya pada Danisa. Biarkan saja dia yang bekerja untuk menjauhkan Danisa dari Iqbal dan juga Farah, walau keduanya sudah lama berteman.


Farah hanya mengangguk saja. Setelah itu dia segera berdiri dari duduknya untuk mengambil sesuatu. Namun tiba-tiba saja matanya berkunang-kungan dan kepalanya berdenyut.


Bruk


“Farah!!” teriak Galang terkejut saat melihat Farah sudah pingsan tak jauh dari tempatnya duduk. Setelah itu Galang menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2