
Keesokan harinya, Jenny sudah bersiap akan pergi ke sebuah butik yang sudah menawarkan pekerjaan padanya. Perasaan Jenny sangat senang karena ini adalah pengalaman pertamanya bekerja ikut orang. Seperti diketahui bahwa sebelum menikah dengan Iqbal, perempuan berusia 23 tahun itu adalah seorang designer di butik miliknya sendiri. Atau lebih tepatnya, butik milik mamanya.
Tepat pukul 10 pagi, Jenny sudah standby dengan penampilannya yang selalu modis. Dia sedang duduk di sofa ruang tamu menunggu Iqbal yang masih ada di dalam kamarnya. Jenny memainkan ponselnya karena sedang membalas pesan dari Xavier.
“Apa kamu sudah siap, Jen?” tanya Iqbal yang baru saja muncul.
Jenny terkejut dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sedetik kemudian mata Jenny tak berkedip saat melihat penampilan Iqbal yang begitu mempesona. Laki-laki itu memakai kaos putih dengan jaket berbahan jeans warna navy, serta celana berbahan semi jeans warna hitam. Tidak lupa dengan sepatu kets warna putih.
Entahlah Iqbal tadi asal memakai baju tanpa melihat apakah perpaduan warnanya cocok atau tidak. Walaupun sangat kontras dia pun tidak peduli. Tapi hal tersebut justru membuat Jenny sangat tertarik. Bukan pada pilihan bajunya ataupun warnanya yang kontras. Tapi wajah Iqbal yang cool membuat degupan jantung Jenny tak beraturan.
“Ada yang salah ya dengan bajuku?” tanya Iqbal sambil menelsik pakaiannya. Karena sejak tadi Jenny terdiam sambil terus memandanginya.
“Jen!” panggil Iqbal lagi.
“Ah, nggak ada yang salah ko’ Kak. Kak Iqbal tampan dengan pakaian apapun.” Jawab Jenny kelepasan. Lalu dia menutup mulutnya dengan cepat menggunakan telapak tangannya.
Iqbal yang mendengar Jenny memujinya, dalam hati ia tersenyum senang. Namun dia hanya menampakkan senyum tipis saja, tidak mau terlalu besar kepala.
Setelah itu dia segera keluar rumah terlebih dulu dengan membawa dua buah helm. Sedangkan Jenny yang masih salah tingkah akhirnya mengikuti Iqbal keluar.
Kini Jenny sudah naik ke motor Iqbal. Kemudian Iqbal melajukan motornya menuju butik dimana Jenny akan melakukan interview kerja.
Dalam perjalanan, keduanya masih terdiam. Jenny masih malu dengan ucapannya yang memuji ketampanan Iqbal tadi, sedangkan Iqbal masih memikirkan kalimat pujian yang dilontarkan oleh Jenny.
Beberapa saat setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama dua puluh menit akhirnya motor Iqbal sudah berhenti tepat di depan butik dengan nama Kalila’s Boutique. Butik tersebut lumayan besar dan sepertinya memang terkenal. Kemudian Jenny dan Iqbal segera turun dari motornya dan masuk ke dalam.
Iqbal dan Jenny duduk di sofa dekat dengan kasir sembari menunggu si pemilik butik dipanggil oleh karyawannya. Dan tak lama kemudian datanglah seorang wanita paruh baya seusia mamanya Jenny.
__ADS_1
“Selamat pagi!” sapa wanita itu ramah.
“Selamat pagi juga, Bu. Perkenalkan saya Jenny yang beberapa hari yang lalu mendapat tawaran kerja di butik milik Ibu.” Ucap Jenny ramah sambil menjabat tangan wanita itu.
“Saya Shahnaz. Panggil saja Bu Shahnaz, mari ikut saya masuk ke ruangan saya. Ehm untuk Masnya,?” tanya Bu Shahnaz menjeda kalimatnya sambil melirik Iqbal.
“Saya suaminya. Saya menunggu disini saja.” Jawab Iqbal ramah.
Akhirnya Bu Shahnaz meminta Jenny untuk masuk ke dalam ruangannya. Sebenarnya Bu Shahnaz adalah tante Galang dan sebelumnya juga sudah melihat hasil design Jenny yang baginya cukup memuaskan. Jadi Jenny hanya disuruh menunjukkan beberapa hasil designnya yang lain dan Bu Shahnaz mengamatinya.
“Saya sangat tertarik dengan hasil design Nona Jenny. Jadi tidak usah menununggu lama lagi, anda saya terima menjadi designer tetap di Kalila’s Boutique. Dan anda bisa mulai bekerja hari senin lusa.” Ucap Bu Shahnaz sambil menjabat tangan Jenny.
“Terima kasih banyak Bu. Saya janji akan bekerja dengan baik di butik milik Ibu.” Jawab Jenny.
Setelah itu Jenny keluar dari ruangan Bu Shahnaz dengan wajah yang sangat ceria. Iqbal yang melihat raut wajah bahagia Jenny pun juga ikut senang.
Jenny sangat malu, lalu dengan cepat Iqbal menarik tangannya dan mengajaknya keluar sambil membungkukkan badannya tanda minta maaf.
“Kak, aku malu banget.” Ucap Jenny saat sudah ada di parkiran.
“Sudahlah nggak apa-apa. Kita sudah di luar juga. tapi aku juga ikut senang akhirnya kamu diterima. Selamat ya.” Ucap Iqbal sambil mengacak rambut Jenny.
“Iya Kak. Terima kasih. Dan mulai hari senin aku bisa langsung bekerja.” Ucap Jenny.
“Aku ikut senang mendengarnya. Ya sudah ayo, aku ajak kamu ke kafe dulu mau?” tanya Iqbal dan Jenny mengangguk setuju.
Setelah itu keduanya langsung meniggalkan butik dan menuju ke sebuah café yang tidak jauh dari butik. Iqbal bersyukur akhirnya Jenny bisa langsung bekerja. Tidak hanya itu, jarak butik dengan kantor dia bekerja juga searah. Jadi dia tidak perlu bolak-balik lagi jika akan berangkat ke kantor.
__ADS_1
Saat ini Iqbal dan Jenny sudah berada di sebuah café. Mereka berdua sudah duduk berhadapan sambil menunggu pesanan minuman datang. Sejak tadi Jenny merasa ponsel dalam tasnya bergetar. Tapi dia mengabaikannya. Jenny tidak ingin memegang ponselnya saat sedang bersama Iqbal. Selain menghargai keberadaan Iqbal, dia juga tidak enak jika sedang bersama Iqbal malah asyik berbalas pesan dengan Xavier. Biarkan saja nanti jika sudah di rumah, dia akan membalas pesan Xavier.
“Kak, ini adalah pengalaman pertamaku bekerja ikut orang lain. Jujur saja aku sedikit takut.” Ucap Jenny.
“Takut kenapa?” tanya Iqbal.
“Aku takut jika membuat kesalahan.” Jawab Jenny.
“Tenanglah. Yang penting kamu yakin. Dan kamu harus bekerja dengan baik dan jujur. Itu adalah kuncinya. Dan lagi kamu harus percaya diri dengan hasil kerja kamu sendiri.” Ucap Iqbal menasehati.
Jenny merasa sedikit lega setelah mendapat nasehat dari Iqbal. Baginya hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan baginya. Dan dengan memberanikan diri, Jenny meminta pada Iqbal untuk menemaninya jalan. Iqbal pun tidak keberatan. Dalam hatinya malah sangat senang. Karena momen seperti inilah yang sangat dia inginkan. Kalau bisa setiap hari bisa membuat Jenny bahagia sebelum hari itu tiba. Hari dimana mereka akan berpisah.
Jenny meminta jalan ke mall. Dia ingin menonton bioskop. Karena sudah lama sekali dia tidak pernah nonton.
Beberapa menit perjalanan, mereka berdua sudah sampai di mall. Iqbal lantas mengajak Jenny menuju gedung bioskop yang berada di lantai paling atas mall tersebut. Karena Jenny yang mengajak, jadi Jenny lah yang memilih film apa yang ingin dia tonton. Dan Jenny memilih film bergenre romance. Walau Iqbal sangat anti dengan film yang berbau percintaan dan perbawangan, dengan terpaksa dia pun mengikuti kemauan Jenny.
.
.
.
*TBC
Happy Reading🤗🤗
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya🤗🤗😘😘
__ADS_1