Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 136


__ADS_3

Saat ini Nia sedang berada di ruang IGD rumah sakit. Dia sedang menunggu Axel yang sedang dijahit lukanya oleh beberapa perawat. Untung saja tusukan itu tidak terlalu dalam. Dan Axel tidak perlu menjalani rawat inap.


“Apa kamu yakin baik-baik saja?” tanya Nia setelah perawat menyelesaikan tugasnya.


“Iya, Ma. Axel nggak apa-apa.” Jawab Axel.


“Sayang, kenapa Gita tidak boleh tahu dengan keadaan kamu saat ini?” tanya Nia yang memang sejak tadi sangat penasaran.


Karena tidak mungkin jika hanya tidak ingin membuat istrinya khawatir. Justru lebih baik Gita tahu agar bisa merawat suaminya. Terlebih orang yang melukainya adalah salah satu orang yang akan berbuat jahat pada Gita.


“Apakah ada sesuatu diantara kalian?” tanya Nia lagi karena Axel tak kunjung menjawabnya.


Axel menghembuskan nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan Mamanya. Setelah itu dia menceritakan semuanya. Tentang bagaimana sikap Gita terhadapnya selama ini. bahkan sampai saat ini sejak kejadian itu, Gita masih membencinya. Dan pernikahan ini terjadi karena tidak ingin membuat orang tuanya malu. Nia sungguh tidak menyangka jika perempuan yang diidam-idamkan menjadi menantunya itu ternyata sangat pandai bersandiwara.


“Memang ini bukan salah Gita sepenuhnya, Ma. Sulit untuk Gita melupakan kejadian itu. Tapi Axel akan tetap berusaha membuat Gita kembali hangat seperti dulu dan membalas cinta Axel.” Jawab Axel.


“Kenapa kamu tidak bilang dari awal jika kejadiannya seperti ini. mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi.” Ucap Nia karena merasa sangat kaasihan dengan putra semata wayangnya. Namun Axel menggelengkan kepalanya.


“Tidak, Ma. Axel sangat mencintai Gita. Dan Axel akan sabar mendapatkan cinta Gita. Mama jangan bilang pada siapa-siapa, termasuk Papa.” Jawab Axel sungguh-sungguh.


Nia akhirnya mau tidak mau menuruti keinginan anaknya. dan dia juga berjanji untuk membantu Axel mendapatkan hati Gita.


Setelah menebus obat, akhirnya malam itu juga Axel diperbolehkan pulang. dan dia akan kembali ke hotel dimana sekarang Gita sedang sendirian disana.


Sementara itu saat ini Felix sedang bersama Iqbal. tadi Felix sudah mengabarkan kalau sempat ada kericuhan di ballroom hotel. Dia juga mengatakan kalau Axel dan teman-temannya terlibat perkelahian dengan beberapa komplotan orang yang diduga akan menculik Gita. Karena salah sau dari orang itu memiliki ciri fisik sama dengan pria yang dulu memberikan obat ke dalam minuman Gita sewaktu di Club.

__ADS_1


“Kita hanya bisa mengandalkan cctv hotel saja. Dan untung saja tadi Mikko sudah mengeceknya dan mendapatkan beberapa rekaman.” Ucap Felix.


“Maaf, aku juga sampai teledor dan tidak memperketat penjagaan di luar hotel.” Ucap Iqbal merasa bersalah.


Tadi Felix sudah meminta satpam hotel untuk menangkap beberapa rang yang kelar dengan pakaian seragam pelayan. Namun ternyata tidak membuahkan hasil. Komplotan orang Andreas ternyata sangat cerdik. Mereka keluar dengan pakaian yang sudah tidak sama lagi. Jadi hal itu dapat mengalihkan perhatian satpam karena menganggapnya tamu undangan yang pulang.


Tidak hanya itu saja. Bahkan beberapa pelayan juga dilarang maasuk dapur selama terjadi perkelahian disana. Dan beruntungnya cctv dapur itu dengan cepat bisa dilacak oleh Mikko sebelum diretas.


“Lalu bagaimana keadaan menantuku saat ini?” tanya Iqbal khawatir.


“Dia baik-baik saja. Mungkin hanya lebam sedikit di wajahnya. Dan aku harap kamu tidak mengatakan semua ini pada Gita ataupun istrimu. Agar mereka tidak khawatir. Cukup kita saja yang bertindak dan segera mengungkap siapa dalang dari semua ini.” ucap Felix panjang lebar.


“Baiklah. Terima kasih banyak, maaf kamu dan Axel harus ikut terseret dalam masalah ini.” jawab Iqbal.


“Kamu jangan bilang seperti itu. Gita sudah menjadi anakku dan tanggung jawabku juga. begitu juga dengan Axel. Tidak mungkin dia lepas tanggung jawab begitu saja pada istrinya.” Sahut Felix dan diangguki oleh Iqbal.


Walau Gita tidak peduli dengan Axel, tapi sebenarnya hatinya mencemaskan laki-laki itu. Karena sampai saat ini belum kembali ke kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Gita sudah sangat lelah akhirnya memilih untuk tidur lebih dulu. Lagi pula buat apa nunggu Axel kalau memang tidak ada kegiatan lain yang berarti.


Tepat lima belas menit setelah Gita menutup matanya, Axel berjalan memasuki kamar itu. Suasana kamar sangat sepi dengan cahaya yang minim. Axel melihat kasur dengan ukuran king size itu masih tampak kosong dan terlihat rapi. Setelah itu matanya tertuju pada sosok perempuan yang tengah tidur nyenyak di atas sofa. Hati Axel kembali mencelos saat melihatnya. Apakah segitu bencinya Gita pada dirinya hingga tidak mau tidur satu ranjang. Walaupun tidak melakukan apa-apa, Axel juga tidak akan menyentuhnya tanpa mendapatkan ijin darinya.


Akhirnya Axel mencoba untuk mengabaikan Gita. Biarkan dia tidur di sofa dan dirinya yang tidur di kasur. Karena Axel juga sangat lelah. Ditambah luka tusukan di perutnya masih mash dan terasa sakit.


Keesokan paginya, Gita terbangun lebih dulu. Dia meihat seisi ruangan itu. Dan melihat Axel yang masih tidur nyenyak di atas ranjang dengan taburan kelopak bunga mawar.


Gita masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Namun tanpa sengaja dia melihat kemeja putih milik Axel yang dipakai saat pesta semalam. Gita melihat ada bercak darah di kemeja itu. Setelah itu Gita membentangkan kemeja itu dan tampak ada sobekan dengan bercak darah yang lebih banyak.

__ADS_1


Gita menutup mulutnya dengan rapat. Dia bertanya-tanya, apa yang sudah terjadi semalam. Apakah Axel terluka? Tapi kenapa laki-laki itu terlihat baik-baik saja. Dan tidur sangat nyenyak. Akhirnya Gita membuang pikiran buruknya lalu segera masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi dia melihat Axel baru bangun. Tanpa mengucaapkan sesuatu, Axel bergegas ke kamar mandi, karena seluruh keluarga sedang menunggunya untuk sarapan bersama.


*


Kini semua keluarga Axel dan Gita sudah berkumpul untuk sarapan bersama. Mereka semua terlihat biasa saja. Khususnya yang tahu kejadian semalam yaitu Iqbal dan Felix. Gita duduk bersebalahan dengan Axel, sedangkan Axel bersebalahan dengan Mamanya.


“Bagaimana? Masih terasa sakit lukanya?” bisik Nia dan Gita samar-samar mendengarnya.


“Axel baik-baik saja, Ma.” Jawab Axel dengan bisikan juga.


Gita semakin penasaran tapi mulutnya tertutup rapat enggan bertanya. Akhirnya dia bersikap biasa saja lalu mengambilkan makanan untuk Axel. Dan justru kini sikap Axel lah yang berubah dingin.


“Setelah ini kalian berdua akan langsung pulang ke apartemen atau-“


“Ke rumah orang tua Axel dulu, Ma” jawab Axel cepat memotong ucapan Jenny.


“Ah baiklah kalau begitu. Axel, titip Gita ya. Jaga dia dengan baik. Tapi Mama dan Papa sangat yakin kalau kamu adalah laki-laki sekaligus suami yang baik untuk Gita. Jadi kami tidak perlu khawatir lagi.” Ucap Jenny tulus dan diangguki oleh Axel.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2