
Sudah satu bulan ini Jenny bekerja di butik. Dia sangat menikmati pekerjaannya. Bu Shahnaz yang sudah mengatakan kalau dulu adalah teman sekolah mamanya, membuat Jenny juga ikut senang. Bu Shahnaz juga banyak menceritakan tentang anak perempuannya. Jenny yang sudah semakin akrab dengan wanita paruh baya itu tampak welcome dengan atasannya jika sedang diajak curhat.
Selama melakoni pekerjaannya, hubungan Jenny dan Xavier masih tampak seperti biasa. Hanya saja keduanya sudah tidak terlalu memiliki banyak waktu untuk berkomunikasi. Jenny yang sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga dengan Xavier.
Namun Xavier sudah mengatakan pada Jenny kalau dua minggu lagi akan datang ke kota B. dia akan mengambil cuti kerjanya sebelum diangkat menjadi Ceo penerus sang Papa.
Niat Xavier menghabiskan masa cutinya dengan menemui Jenny agar semakin dekat dengan perempuan pujaan hatinya itu. Selain itu, Xavier akan memberikan Jenny kejutan.
Sedangkan Iqbal juga melakukan pekerjaan barunya sebagai asisten dengan baik. Nyonya Sarah, atasan Iqbal juga sangat senang dengan kinerja Iqbal. Bahkan pekerjaannya lebih dari seorang asisten. Iqbal juga sebagai seorang bodyguard Nyonya Sarah. Mengingat wanita yang berstatus janda itu adalah salah satu pengusaha sukses yang pastinya mempunyai banyak saingan yang mempunyai niatan buruk terhadap perusahaannya.
Iqbal yang sedang berada dalam ruangannya sedang mengecek beberapa berkas yang baru saja diberikan oleh Olivia, mendengar suara getaran ponsel yang ada di atas mejanya. Dengan rasa penasaran, Iqbal membuka ponselnya yang terdapat notif pesan Xavier untuk Jenny.
Iqbal menggenggam kuat ponselnya sesaat setelah membaca pesan Xavier yang mengatakan kalau dia akan berkunjung ke kota B. tidak hanya itu saja, bahkan Jenny memberikan respon positif untuk Xavier.
Iqbal menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya usahanya selama ini masih kurang maksimal untuk membuat Jenny merasa nyaman di dekatnya. Iqbal yang sudah bertekat untuk membuat Jenny nyaman seperti yang pernah disarankan oleh Galang, tidak ingin menyerah begitu saja walau Xavier akan datang menyambangi Jenny ke kota ini.
Tak lama kemudian ponsel Iqbal berdering tanda ada panggilan masuk. Dan id pemanggil itu dari seseorang yang sangat dia sayangi. Lalu Iqbal menggeser tombol hijau dan berbicara.
“Iya, Ma. Mama apa kabar?” tanya Iqbal.
“Anak nakal!! kalau nggak ditelepon duluan, pasti nggak akan telepon Mama. Apa kamu sekarang mau jadi anak durhaka?” cerocos Desy hingga membuat Iqbal sedikit menjauhkan ponselnya karena teriakan mamanya membuat kepalanya berdengung.
“Iqbal!! Apa kamu masih dengar Mama?” teriak Desy lagi.
“Iya, Ma. Ada apa?” tanya Iqbal datar setelah kembali mendekatkan ponsel di telinganya.
“Nggak ada apa-apa. Mama hanya ingin menyampaikan kalau dua minggu lagi Mama dan Papa akan datang ke kota B.” ucap Desy.
“Ada apa Mama kesini?” tanya Iqbal sedikit terkejut.
__ADS_1
“Kamu ini bagaimana sih. Orang tua mau melihat kabar anak dan menantunya ko’ malah kelihatan nggak suka begitu.” Ucap Desy menyelidik.
“Nggak gitu Ma. Maksud Iqbal kenapa mendadak.” Jawab Iqbal beralasan.
“Mama bilang dua minggu lagi dan ini tidak mendadak. Mama kangen sama menantu Mama. Sekalian nanti akan berziarah ke makam kakek dan nenek. Jadi persiapkan semuanya.” Ucap Desy dengan di akhir kalimat membuat Iqbal merasa ambigu.
Setelah pembicaraan yang cukup panjang antara Desy dan Iqbal, Iqbal kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Dia memikirkan cara bagaimana nanti jika mama dan papanya datang kesini. Sementara dia tahu kalau kamarnya hanya ada dua. Dan apakah Jenny akan mau jika diajak tidur di kamarnya. Entahlah, mungkin nanti akan dia bicarakan saja dengan Jenny.
Jam pulang kantor pun sudah tiba. Iqbal sudah bersiap untuk pulang. Namun terdengar ketukan pintu dari luar membuatnya harus menghentikan sejenak kegiatannya.
“Ada apa Nona Oliv?” tanya Iqbal datar.
“Maaf Tuan Iqbal. Anda diminta Nyonya Sarah masuk ke ruangannya sebelum pulang.” Jawab Olivia.
“Baiklah. Anda bisa keluar sekarang.” ucap Iqbal terkesan mengusir. Sedangkan yang diusir tamapk terlihat kesal.
Beberapa saat kemudian setelah Iqbal membereskan beberapa pekerjaannya, dia masuk ke ruangan atasannya seperti yang diucapkan oleh Olivia tadi. Iqbal tampak acuh pada perempuan itu saat melihatnya masih belum pulang.
“Silakan duduk Tuan Iqbal.” Jawab Nyonya Sarah.
“Sebenarnya tidak ada hal yang terlalu penting. Hanya saja saya akan meminta tolong anda untuk menjemput anak saya di bandara, hari minggu lusa. Anak saya baru saja pulang dari London setelah meyelesaikan studinya disana.” Terang Nyonya Sarah.
“Baik, Nyonya. Akan saya laksanakan perintah anda.” Jawab Iqbal.
Setelah itu Iqbal berpamitan untuk pulang. Iqbal menuju parkiran untuk mengambil motornya. Dan tanpa dia sadari ternyata Olivia mengikutinya dari belakang.
“Ehm, Mas Iqbal bisa nggak saya nebeng pulang?” ucap Olivia dan membuat Iqbal terkejut.
Iqbal sangat tidak nyaman dengan perempuan yang dengan lancangnya memanggilnya dengan sebutan “Mas”.
__ADS_1
“Maaf Nona, saya tidak bisa.” Tolak Iqbal.
“Tapi bukankah anda pulang sendirian. Lagi pula anda juga membawa helm dua.” Ucap Olivia memaksa.
“Maaf, tapi saya tidak pulang sendiri. Saya akan menjemput istri saya.” Jawab Iqbal acuh.
Bagai tersambar petir, Olivia tidak menyangka sekaligus tidak tahu kalau ternyata Iqbal sudah mempunyai istri. Padahal dia sudah bertekat akan mencari perhatian pada sosok laki-laki tampan berwajah dingin itu. Dan kini rasanya dia sudah tidak memiliki semangat lagi setelah mengetahui kenyataan bahwa Iqbal sudah memiliki istri. Melihat sikap dingin Iqbal seperti itu pun membuat Olivia tidak mungkin tetap memaksakan kehendak untuk tetap mendekati Iqbal. Dia tahu sekuat apapun usahanya pasti tetap tidak akan membuahkan hasil.
Tanpa berucap apapun lagi, Iqbal melajukan motornya dengan melewati Olivia bagitu saja. Sedangkan Olivia masih terdiam merasakan perih hatinya yang baru saja mendapat penolakan.
Iqbal sudah berhenti tepat di depan butik. Dan tak lama kemudian perempuan cantik pujaan hatinya keluar dari butik dengan menampakkan senyum manisnya pada Iqbal.
“Kita makan di luar saja ya?” ajak Iqbal saat Jenny sudah naik di jog belakang.
“Iya, terserah Kak Iqbal saja.” Jawab Jenny.
Tak lama kemudian mereka berdua sudah tiba di sebuah rumah makan sederhana. Niat Iqbal mengajak Jenny makan di luar adalah untuk menyampaikan bahwa kedua orang tuanya akan datang berkunjung dua minggu lagi.
“Apa kamu tidak keberatan kalau kita nanti tidur di kamar yang sama.” Ucap Iqbal dan Jenny pun terdiam.
“Kamu tenang saja, lagi pula masih dua minggu lagi. Kita bisa mempersiapkan semuanya. Dan kamu juga tidak perlu khawatir. Meskipun kita tidur dalam kamar yang sama, kita nggak akan tidur ddi ranjang yang sama.” Ucap Iqbal seolah mengerti kegundahan yang sedang Jenny rasakan.
“Baiklah, Kak. Aku nurut saja.” Jawab Jenny akhirnya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC