Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 172


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, mobil Axel sudah sampai rumah kontrakan Dimas. Axel segera keluar dan membantu Dimas masuk ke rumahnya. Sedangkan Gita berjalan lebih cepat untuk membukakan pintu.


Axel merebahkan Dimas di sebuah sofa yang ada di ruang tamu. Sedangkan Gita segera mencari kotak obat untuk mengobati luka Dimas. Dengan telaten Gita mengompres wajah Dimas dengan air hangat sebelum memberikannya obat. Dimas tampak meringis menahan sakit saat lukanya diobati oleh Gita.


“Maaf, Kak.” Ucap Gita dan dengan reflek meniup-niup luka Dimas.


Dimas melirik Axel sekilas. Dia tahu yang tengah dirasakan oleh laki-laki itu. Akhirnya Dimas memegang tangan Gita agar berhenti mengobati lukanya.


“Sudah, aku nggak apa-apa.” Ucap Dimas.


“Sebentar, Kak. Ini tinggal sedikit yang belum diobati.” Gita melanjutkannya tanpa mempedulikan keberadaan Axel.


Selesai mengobati luka Dimas, Gita mengambilkan obat Pereda nyeri agar segera diminum. Tak lupa, mengembalikan kotak obat itu ke tempat asalnya.


“Siapa yang ngelakuin ini semua, Kak?” tanya Gita.


“Aku juga tidak tahu. Terima kasih banyak kalian berdua sudah menolongku. Aku ingin segera istirahat, kalian berdua juga pulanglah! Ini sudah malam.” ucap Dimas merasa tak enak jika membahas tentang laki-laki yang telah menyerangnya tadi.


Gita seolah mengerti kalau Dimas sedang menyembunyikan sesuatu. Namun dia tidak bisa memaksa Dimas untuk bercerita. Lebih baik membiarkannya istirahat. mungkin besok dia akan menghubungi Dimas untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal hatinya itu.


“Ya sudah, Kak Dimas istirahat saja kalau begitu. Aku akan pulang.” pamit Gita dan diangguki oleh Dimas.


Axel berdiri tanpa mengucapkan sesuatu. Dia hanya mengangguk sebentar pada Dimas, setelah itu keluar. Dimas pun bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk segera istirahat.


Kini Gita dan Axel sudah berada dalam mobil. Mereka berdua sama-sama diam. Axel yang sedang cemburu melihat kedekatan istrinya dengan Dimas, sedangkan Gita sibuk memikirkan tentang seseorang yang telah melukai Dimas.


“Mas tahu siapa orang yang telah memukuli Kak Dimas tadi?” tanya Gita.


“Nggak.” Jawab Axel dengan mode ketus.


“Untung Mas tadi segera menolong Kak Dimas. Kalau tidak, pasti lukanya akan semakin parah.” Gita terus berbicara tanpa memikirkan suaminya yang sedang cemburu.


“Memang kenapa kalau lukanya semakin parah? Sebegitu pedulinya kah kamu pada Dimas?” tanya Axel tanpa melihat wajah istrinya.


“Nggak. Bukan begitu maksudnya, Mas. Aku hanya-“

__ADS_1


“Hanya peduli dan sangat perhatian. Karena Dimas juga pernah menyelamatkan nyawa kamu. Begitu?” tanya Axel dengan menatap tajam mata Gita.


Gita tersentak mendapatkan tatapan tajam dari suaminya. Akhirnya dia memilih diam, daripada semakin membuat emosi suaminya tersulut. Gita juga baru sadar kalau sejak tadi dirinya sibuk dengan Dimas tanpa mempedulikan keberadaan sang suami. Sungguh Gita merutuki kebodohannya. Pasti saat ini suaminya sangat cemburu.


Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah sampai rumah. Axel segera turun dari mobilnya dengan mengabaikan Gita begitu saja. Gita pun berjalan pelan mengikuti langkah suaminya. Namun saat Gita akan menaiki tangga untuk menyusul Axel, langkahnya terhenti saat mendengar suara Nia memanggilnya.


“Iya, Ma?” Gita sudah bergabung di sofa bersama Felix dan Nia.


“Ini, Mama hanya ingin memberikan undangan dari teman kamu. Tadi dia kesini sebentar, Mama suruh nunggu tapi sepertinya dia sedang terburu-buru.” Ucap Nia sambil memberikan undangan pada Gita.


Gita menerima undangan itu dan membacanya. Dia terkejut ternyata itu adalah undangan pernikahan Inez. Dia juga heran kenapa Inez tidak memberitahu kabar pernikahannya, malah mengirim undangannya langsung.


“Terima kasih, Ma. Kalau begitu Gita ke kamar dulu.” Pamit Gita kemudian.


Gita memasuki kamarnya dengan membawa undangan pernikahan Inez. Dia melihat kamarnya tampak sepi. Namun di dalam kamar mandi terdengar suara gemericik air, yang diyakini itu adalah Axel.


Gita meletakkan undangan tersebut di atas meja, lalu beralih mengambil baju ganti untuk suaminya. Dan tak lama kemudian Axel keluar dari kamar mandi.


“Mas, ini baju gantinya.” Ucap Gita.


Axel masih diam, namun dia tetap mengambil baju yang sudah disiapkan oleh istrinya. Sedangkan Gita juga bergegas masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan juga berganti pakaian.


“Mas, maafkan aku.” ucap Gita dengan memandang punggung suaminya.


“Tidurlah, ini sudah malam. aku sangat lelah.” Jawab Axel tanpa menanggapi ucapan maaf istrinya.


Gita segera membaringkan tubuhnya di sebalah Axel dan memakai selimut sampai setengah da-da. Setelah itu dia menggeser tubuhnya mendekati Axel yang masih setia membelakanginya. Kemudian tangannya memeluk pinggang Axel.


“Maaf. Kepedulianku dengan Kak Dimas hanya sebatas kakak dan adik saja. Maaf kalau membuatmu tak nyaman dengan pemandangan tadi.” ucap Gita.


“Sudahlah, nggak usah dibahas lagi. Nggak penting. Aku sudah ngantuk.” Jawab Axel dengan melepaskan tangan Gita yang sejak tadi memeluknya.


Gita mencoba bersabar menaggapi sikap suaminya yang sedang cemburu. Namun dalam lubuk hatinya dia sangat bahagia melihat suaminya cemburu, yang berarti cinta Axel padanya sangat besar. Lalu Gita kembali memeluk Axel tak peduli dengan penolakannya.


“Mas kalau cemburu jangan lama-lama ya?” bisik Gita menggoda suaminya.

__ADS_1


“Menurutmu apa pantas bersikap seperti itu pada laki-laki yang pernah menungkapkan perasaannya? Bahkan kamu sama sekali tidak melihat keeberadaanku disana.” Jawab Axel.


Fix, sekarang Axel benar-benar sedang marah. Gita juga terkejut saat mengetahui bahwa Axel pernah mendengar Dimas mengungkapkan perasaannya. Tapi memang dia sama sekali tidak pernah membalas perasaan Dimas.


“Maaf, Mas. Aku nggak bermaksud melukai perasaan kamu. Aku hanya kasihan saja dan hanya ingin mengobati luka Kak Dimas. Tidak ada maksud lain.” Gita berucap sambil memeluk tubuh Axel dengan erat.


Tak peduli Axel yang terus mencoba melepaskan pelukannya, Gita justru semakin mengencangkan pelukannya. Hingga Axel hanya bisa pasrah. Gita juga taak henti-hentinya mengucapkan kata maaf, sebelum Axel memaafkannya.


“Iya, aku memaafkanmu. Sekarang tidurah, sudah malam.” ucap Axel akhirnya.


“Kalau sudah memaafkanku, kenapa Mas masih memunggungiku?” tanya Gita dengan nada sedih.


Axel pun akhirnya tidak tega. Dia berbalik badan dan menghadap Gita yang terlihat matanya sudah berkaca-kaca. Sedangkan Gita merasa lega setelah suaminya sudah mengubah posisinya.


Cup


Gita mengecup bibir Axel sekilas sambil tersenyum tipis. Setelah itu dia kembali memeluk Axel dengan membenamkan kepalanya di ceruk leher Axel.


Kecupan Gita ternyata tanpa sadar telah membangunkan sesuatu yang ada dalam tubuh Axel. Terlebih saat dia merasakan hembusan nafas Gita pada ceruk lehernya. Dan itu semakin membuat Axel semakin on fire.🔥🔥🤣🤣🤣


“Kamu harus bertanggung jawab, Sayang!” bisik Axel dengan suara parau.


Gita yang hampir saja memasuki alam mimpi sangat terkejut saat tangan Axel sudah bergerak aktif menelusup ke dalam bajunya.


“Mas, katanya tadi kamu capek dan ingin tidur?” tanya Gita dengan menahan desahannya saat melihat Axel sudah asyik dengan permainannya.


.


.


.


*TBC


Dasar lakiiiiiikk!!! memang begitu kah bu ibu?🤣🤣

__ADS_1


Happy Reading‼️


 


__ADS_2