Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 26


__ADS_3

Film yang bergenre romance dengan durasi waktu satu jam lebih itu membuat Iqbal harus bertahan kuat dalam kebosanan. Untung saja dirinya duduk berdua dengan Jenny di tempat paling pojok belakang. Dan di samping mereka kebetulan hanya ada dua orang yang mengisi deretan tempat duduk itu. Dan dengan jarak yang cukup jauh.


Jenny sudah membawa popcorn di tangannya sambil menikmati film yang baru saja dimulai. Sedangkan Iqbal lebih memilih menutup matanya saja. Meski telinganya mendengar dengan jelas dialog dari film yang menggunakan Bahasa Inggris itu.


Hampir setengah jam film itu diputar, tapi bagi Iqbal merasa sudah berjam-jam. Dia masih setia duduk dengan menyedekapkan tangannya sambil menutup mata. Andai saja dia tadi membawa earphone, Iqbal pasti akan menyumpal telinganya sambil mendengarkan lagu. Pasalnya saat ini Iqbal mendengar suara-suara para penonton yang mayoritas kaum hawa sedang bersorak saat terjadi adegan penuh keuwuan.


Iqbal bergidig ngeri mendengarnya. Kalau saja bukan karena perempuan yang telah mencuri hatinya, dia tidak akan menginjakkan kakinya disini lagi terlebih menonton film romance seperti ini. namun beberapa saat kemudian, suasana di sekitarnya mendadak hening. Hingga terpaksa membuat Iqbal membuka matanya. dan ternyata film itu sedang dalam adegan seorang pria yang akan mencium kekasihnya dengan adegan diperlambat. Pandangan Iqbal meneliti pada semua penonton yang samar-samar sedang menutup matanya.


“Kalau memilih nonton film seperti ini ngapain juga sampai menutup mata.” Gumam batin Iqbal yang merasa aneh.


Tapi setelah itu dia melihat perempuan yang sedang duduk tepat di sampingnya ternyata melakukan hal yang sama. Bahkan Jenny menutup matanya dengan kepala menghadap ke Iqbal. Apa maksudnya coba? Iqbal pun tersenyum tipis seperti baru saja muncul sebuah ide dalam benaknya.


Jenny masih setia menutup mata menggunakan telapak tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya memegang popcorn. Iqbal merasa lucu melihat tingkah Jenny. Penasaran tapi menutup matanya.


Sesekali mata Jenny mengintip dari celah jemarinya sambil melihat apakah adegan ciuman itu sudah terjadi. Dia kembali menghadap ke depan. Kemudian terdengar suara sorakan dari semua penonton setelah melihat adegan ciuman itu.


Argggggghhhh……


Jenny yang hanya melihat sekilas pun sangat malu. Karena adegan ciuman itu menurut Jenny sangat berlebihan. Dimana pemeran pria yang awalnya mengecup sekilas bibir wanitanya, tiba-tiba saja si pemeran pria mulai membelitkan lidahnya memperdalam ciumannya. Dan adegan tesebut membuat Jenny panas dingin, hingga menyebabkan ia langsung menghadap Iqbal dengan cepat.


Cup


Jenny membelalakkan matanya saat bibirnya merasa sedang menyentuh sesuatu yang kenyal dan menghembuskan udara yang hangat. Sejenak otaknya masih belum bisa bekerja dengan baik tentang apa yang sedang terjadi saat ini. apalagi matanya juga sedang bersitatap dengan sepasang mata yang pernah dia lihat sebelumnya.


Iqbal yang tadinya ingin mengerjai Jenny dengan mengagetkannya saat perempuan itu melihat adegan ciuman, kini ia harus mendapatkan rejeki yang tak terkira. Entah dia harus sujud syukur atau melompat bahagia dengan kejadian ini. tapi dia berusaha untuk tetap bersikap tenang selama bibir Jenny masih menempel dengan bibirnya.

__ADS_1


Peristiwa menempelnya bibir Iqbal dan Jenny itu berlangsung cukup lama. Beruntungnya suasana gedung bioskop sangat gelap dan tidak ada yang melihatnya. Sejak tadi kedua pasang mata itu tidak berkedip sama sekali. Entah apa yang ada dalam pikiran Iqbal dan Jenny saat ini. Kemudian Iqbal sedikit memberikan tekanan pada bibir Jenny seperti sebuah kecupan, lalu melepasnya. Dia tidak ingin kelepasan dengan memanfaatkan kesempatan itu. Walau sebenarnya dia menginginkan lebih dari ini.


“Maaf Kak. Aku..aku nggak sengaja.” Ucap Jenny sambil membuang muka.


“Hmm..” jawab Iqbal singkat.


“Kak, ayo kita pulang saja.” Ucap Jenny kemudian.


“Kenapa? Bukankah filmnya belum selesai?” tanya Iqbal heran.


“Nggak apa-apa Kak. Aku capek saja ingin istirahat.” Jawab Jenny beralasan.


Setelah itu Iqbal menuruti kemauan Jenny untuk keluar dari gedung bioskop itu lalu pulang. Dalam perjalanan pun Jenny berjalan mendahului Iqbal. Dia masih sangat malu dengan kejadian baru saja. Dan Jenny masih belum siap untuk melihat wajah Iqbal kembali.


Iqbal yang melihat Jenny masih malu dan salah tingkah pun memakluminya. Dia juga tak banyak bicara. Bahkan saat berjalan di belakang Jenny, laki-laki itu sesekali memegang bibirnya yang masih terasa kecupan yang diberikan Jenny tadi.


“Nggak Kak. Aku capek ingin segera istirahat.” Jawab Jenny masih berusaha menghindar.


Kini mereka berdua sudah menaiki motor, dan Iqbal bersiap untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, mereka berdua juga masih diam. Dan sesampainya di rumah, Jenny memilih masuk ke kamarnya terlebih dulu lalu mengunci pintunya.


Jenny menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur lalu menutup wajahnya dengan bantal.


“Arrghhh!! Bisa-bisanya aku berbuat yang memalukan seperti tadi sih.” Rutuk Jenny.


“Aku sangat malu sekali. Bagaimana nanti saat aku bertemu dengan Kak Iqbal. Dan itu, itu adalah ciuman pertamaku” Ucap Jenny sambil memegangi bibirnya.

__ADS_1


Jujur saja sampai saat ini Jenny masih merasakan sentuhan bibir Iqbal tadi. meski dia merasa perbuatan itu sangat memalukan, tapi entah kenapa Jenny senyum-senyum sendiri saat kembali mengingatnya.


Jenny yang merasakan getaran ponsel dalam tasnya pun mengabaikannya. Dia masih terbayang kejadian bersama Iqbal tadi. hingga tanpa sadar dirinya terlelap begitu saja dengan bantal yang masih menutupi wajahnya.


Demikian juga Iqbal yang juga berada di dalam kamarnya. Dia masih teringat jelas rasa bibir Jenny tadi. dia juga senyum-senyum sendiri. Ini juga ciuman pertamanya Iqbal. Entah itu bisa dikatakan ciuman atau tidak. Menurutnya jika dua bibir orang sedang saling menempel itu disebut dengan ciuman.


Kemudian Iqbal mengambil ponselnya. Dia melihat begitu banyak pesan dari Xavier yang dikirim untuk Jenny. Dia menarik sudut bibirnya tersenyum karena Jenny sama sekali tidak membalas pesan itu. Lalu Iqbal pun akhirnya juga tertidur.


***


Sementara itu sejak tadi Xavier sangat galau karena pesannya tak kunjung dibalas oleh Jenny. Dia tahu kalau Jenny tadi sudah mengatakan sedang interview di sebuah butik yang akan merekrutnya menjadi designer. Xavier pun ikut senang mendengarnya. Namun hingga sampai saat ini dirinya tak lagi mendapat kabar dari Jenny. Meski benyak pesan sudah ia kirimkan.


Xavier sangat khawatir jika membiarkan Jenny terus tinggal bersama dengan Iqbal. Walau status mereka adalah suami istri. Xavier tidak ingin jika suatu saat diantara mereka berdua tumbuh rasa cinta karena terlalu sering bertemu.


“Sepertinya aku harus segera menemui Jenny ke kota B. aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus segera mengikat Jenny, tak peduli walau dia masih berstatus sebagai istri Iqbal.” Gumam Xavier yang merasa sangat gusar.


.


.


.


*TBC


Yuhuuuuu jangan lupa kasih vote-nya yaaa,, tinggalkan like dan komentar kalian agar othor makin semangat🤗🤗😘😘

__ADS_1


Happy Reading!!😉😉


__ADS_2