
Lidya semakin terkejut tatkala mendengar suara Billal akan menikahinya. Entah sandiwara seperti apa yang Billal inginkan. Mengingat dirinya sempat mendapat ancaman dari Billal. Namun dalam hati Lidya juga merasa lega karena tidak jadi menikah dengan pria tua beristri dua itu.
Ibu Lidya sejak tadi bungkam. Dia sangat kesal terhadap ankanya setelah melihat perbuatan tak senonohnya dengan Billal. Sedangkan ayah Lidya masih bersikap tenang dan mencoba untuk tidak tersulut emosi, walau perbuatan Lidya salah setidaknya Billal masih bertanggung jawab.
“Baiklah, lebih baik sekarang juga kalian menikah.” Ucap Ayah Lidya.
“Tapi pernikahan ini hanya untuk anak yang ada dalam kandungan Nak Lidya. Selama pernikahan, kalian berdua tidak boleh bercampur sampai anak kalian lahir. Setelah itu kalian menikah ulang lagi.” Ucap Penghulu itu dengan bijaksana.
Billal tidak ingin menjelaskan kebenarannya terlebih dulu. Yang terpenting saat ini dia bisa menikahi Lidya.
Akhirnya hari itu juga Billal dan Lidya sah menjadi pasangan suami istri. Meski Lidya masih dihinggapi rasa bingung dan penasaran dengan maksud pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Setelah acara pernikahan yang cukup singkat itu, Lidya memasuki kamarnya dan diikuti oleh Jenny. Lidya akan membereskan pakaiannya karena sebentar lagi akan ikut pulang bersama suaminya.
“Nyonya, saya masih bingung dengan ini semua.” Lidya mencurahkan kegalauan hatinya.
“Tenang, Lidya. Sekarang yang terpenting kamu sudah bebas dari pria tua yang akan mempersuntingmu tadi. dan aku sangat yakin kalau Om Billal melakukan ini semua tidak asal-asalan. Om Billal pasti sudah lama menyukaimu.” Ucap Jenny.
“Tidak mungkin, Nyonya.” Lidya menggelengkan kepalanya tak percaya.
Sementara itu di luar tampak Iqbal, Billal dan ayah Lidya sedang melakukan pembicaraan serius. Iqbal menyunggingkan senyumnya saat mendengar pengakuan Billal kalau dirinya tidak pernah melakukan hal tak senonoh itu dengan Lidya. Itu hanya rekayasanya saja, karena Billal tidak ingin melihat Lidya menikah dengan pria lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa Billal mencintai Lidya.
Beberapa saat kemudian Billal berpamitan pulang dengan membawa serta Lidya. Dan diikuti oleh Iqbal dan Jenny yang juga akan pulang ke kota B.
“Mas, aku masih tidak percaya kalau Om Billal menikah dengan Lidya.” Ucap Jenny.
“Mungkin mereka berdua memang sudah ditakdirkan berjodoh, Sayang.” Jawab Iqbal.
“Tapi kenapa harus dengan cara seperti itu?” Jenny masih terbayang foto Billal dan Lidya yang sedang tidur berpelukan.
Iqbal pun menceritakan kebanarannya, bahwa semua itu hanya rekayasa Billal karena pria itu tidak ingin kehilangan Lidya. Jenny terkejut sekaligus senang. Jadi firasatnya selama ini benar kalau Omnya itu diam-diam menyukai asistennya.
Iqbal dan Jenny sama-sama ikut bahagia akhirnya Billal menikah dengan Lidya. Terlebih Jenny, karena tidak akan kesusahan untuk mencari Lidya jika Gita sedang merindukannya.
__ADS_1
Mobil Iqbal dan Billal berjalan beriringan. Karena perjalanan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, Iqbal pun mengajak istrinya berhenti sebentar di rest area untuk beristirahat sejenak. Mobil Billal pun ikut berhenti.
Gita berteriak kegirangan saat Lidya menggendongnya. Sejak tadi Lidya juga belum sempat menggendong Gita karena anak itu tertidur cukup lama saat sedang acara pernikahan tadi.
Mereka berlima akhirnya duduk di kursi sebuah foodcourt dan memesan makanan. Sejak tadi Lidya sibuk dengan Gita, karena dia masih sangat canggung dengan Billal. Apa lagi dalam perjalanan tadi dia memilih menutup matanya untuk menghindari kecanggungan.
“Mau makan apa, Sayang?” tanya Iqbal pada istrinya.
“Apa saja, Mas. Samain sajalah dengan kamu.” Jawab Jenny dengan masih memegang gadgetnya karena salah satu karyawan butiknya sedang mengirim pesan padanya.
Sedangkan Billal yang juga masih merasa canggung, dia tidak menanyakan makanan apa yang diinginkan oleh istrinya. Dia menulis menu yang sama dengannya, seperti halnya Jenny dan Iqbal.
Tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang. Mereka berempat segera makan. Gita masih asyik dalam pangkuan Lidya sambil menonton film anak dari gadget Lidya.
Selesai makan, mereka segera melanjutkan perjalanan pulang. Iqbal dan Jenny pulang ke rumahnya, sementara Billal mengajak Lidya pulang ke apartemennya.
Sesampainya di rumah, Jenny meminta suaminya untuk menggendong Gita yang sudah tertidur, karena Jenny sendiri juga merasa sangat lelah. Iqbal sedikit khawatir melihat wajah lelah istrinya, apalagi Jenny habis melakukan operasi. Dia masih trauma dengan keadaan istrinya saat masih sakit dulu.
“Sayang, kamu nggak apa-apa? Apa perut kamu sakit?” Iqbal sangat khawatir.
Lalu Iqbal mempersilakan istrinya untuk istirahat ke kamar. sementara dirinya akan menidurkan Gita ke dalam kamarnya. Setelah itu dia memutuskan masuk kamar menghampiri istrinya.
“Kamu sudah tidur?” tanya Iqbal sambil memeluk tubuh Jenny dari belakang.
“Ada apa, Mas?” tanya Jenny dengan mata terpejam.
“Kita periksa ke rumah sakit sekarang, ya? Aku takut perut kamu sakit lagi setelah perjalanan jauh.”
“Nggak usah, Mas. Aku baik-baik saja. Perutku juga tidak sakit. Begini saja, aku ingin tidur dalam pelukan kamu.”
Iqbal pun akhirnya pasrah. lalu dia menuruti kemauan istrinya, yaitu memeluknya. Walau saat ini dia mati-matian menekan kuat gairaahnya agar tidak menyentuh istrinya terlebih dulu.
Semenjak Jenny pulang dari rumah sakit pasca operasi kista ovarium, sampai saat ini Iqbal belum berani menyentuh Jenny. Meski dokter pernah mengatakan selama tidak ada keluhan dari istrinya, dia sudah boleh melakukannya. Namun Iqbal masih dihantui rasa takut. Jenny pun mengerti, jadi dia tidak begitu memaksa. Dan Iqbal berencana mengajak istrinya cek up sebelum keberangkatannya ke luar negeri minggu depan.
__ADS_1
Sementara itu sepasang pengantin baru Billal dan Lidya juga baru saja sampai di apartemen. Lidya kesusahan membawa kopernya menuju unit apartemen suaminya. Sedangkan Billal masih diam saja berjalan di depan Lidya.
Klik
“Masuklah!” Billal mempersilakan Lidya masuk, namun tidak ada sahutan dari Lidya.
Billal menengok ke belakang dan melihat Lidya masih berjalan dengan kesusahan sambil mengangkat kopernya. Billal segera menghampirinya dan membawakan koper istrinya.
“Maafkan, aku!” ucap Billal.
Kini mereka berdua sudah masuk ke dalam unit apartemen yang cukup mewah menurut Lidya. Namun disana hanya ada satu kamar tidur. Karena selama ini Billal menempatinya sendirian. Lalu Billal memasukkan koper Lidya ke dalam kamar.
“Masuklah, dan beristirahatlah. Kamu pasti lelah.” Ucap Billal.
“Terima kasih, Tuan.” Jawab Lidya sambil menunduk karena tidak berani menatap mata suaminya.
Setelah Lidya masuk, Billal merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Dia juga sangat lelah namun tidak ada tempat lagi selain di sofa itu. Karena Billal masih canggung jika berada dalam satu kamar bersama Lidya.
Bukannya istirahat, setelah mandi Lidya keluar dari kamar untuk menanyakan pada suaminya barangkali ada kamar lain yang bisa ditempati olehnya. Karena Lidya takut suaminya tidak nyaman jika berada dalam satu kamar dengannya.
Cklek
Lidya terkejut saat melihat pria yang beberapa jam yang lalu sudah sah menjadi suaminya itu sedang tertidur lelap di atas sofa dengan mulut yang sedikit terbuka. Diam-diam Lidya mengamati wajah pria yang usianya berselisih 18 tahun dengannya. Memang usia Billal sudah sangat matang, tapi wajah tampannya masih sangat terlihat jelas.
.
.
.
*TBC
Cie cie cie....😂😂😂
__ADS_1
Happy Reading‼️