
Iqbal mengerang kesal saat tiba-tiba ponsel Jenny tidak menyambungkan GPS-nya. Dia sangat yakin kalau ponsel itu sudah dibuang atau dihancurkan oleh si penculik. Namun Iqbal tetap mengikuti lokasi terakhir dimana GPS pada ponsel Jenny masih tersambung.
Kini Iqbal sudah sampai di sebuah bangunan tua yang tampak sepi. Dia memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari bangunan itu. Lalu perlahan melangkah mendekat. Iqbal dapat melihat disana ada dua orang pria bertubuh kekah tengah berjaga. Hal itu semakin menguatkan dugaannya kalau istrinya sedang berada di dalam.
Iqbal sangat marah. Dia sangat yakin dalang di balik semua ini adalah Billal. Sungguh pandai sekali dia mengelabuhi dirinya. Pasalnya saat itu Galang sudah menyelidiki bahwa Billal dan asistennya sedang berada di luar negeri.
“Sepertinya aku mendengar langkah seseorang mendekat.” Bisik salah satu orang yang sedang berjaga.
Iqbal kembali bersembunyi di antara semak-semak. Setelah bisa memastikan keadaan aman, Iqbal mulai lagi berjalan mendekat. Namun Iqbal mencoba mencari jalan lain agar kedua pria itu tidak melihatnya.
Iqbal berhasil menemukan jalan lewat pintu samping. Pintu itu tertutup rapat. Tapi dia mencoba membukanya tanpa menimbulkan suara gaduh.
“Hei siapa kamu?” teriak seseorang yang mengetahui Iqbal sedang berusaha membuka pintu itu.
“Kalian kemarilah, ada seseorang yang mencoba masuk!” teriak pria itu pada dua orang pria yang sedang berjaga di luar.
Ternyata pria yang memergoki Iqbal adalah si sopir yang membawa Jenny tadi. setelah itu Iqbal mulai menyerang pria itu,
Bugh
Bugh
Pria itu langsung terkapar karena dia fokus memanggil dua orang temannya. Pria it uterus mencoba melawan Iqbal namun sepertinya kalah dengan kekuatan Iqbal. dan tak lama kemudian kedua pria itu datang saat mendengarkan suara gaduh. Salah satu diantara pria itu mengambil balok kayu.
Bugh
Sekali pukulan tepat mengenai tengkuk Iqbal. dan seketika pandangan mata Iqbal mulai kabur. Namun dia tetap menguatkan tubuhnya. Terlebih setelah mendengar teriakan suara wanita yang sangat dia kenali.
Iqbal jatuh menunduk. Kemudian berdiri dengan cepat dan mengayunkan kakinya lalu menendang pria itu yang tepat mengenai kemaulannnya.
Salah satu teman pria itu segera menolong temannya. Di saat itulah Iqbal segera berjalan dengan langkah terseok-seok memasuki bangunan tua itu.
Brak
"Pergi kau baji**an!!"
Iqbal menendang pintu yang terkunci itu dengan sekuat tenaga. Dia melihat dengan jelas keadaan istrinya di dalam bersama seorang pria yang sama sekali tidak ia kenali.
Amarah Iqbal semakin meluap saat melihat pakaian Jenny sudah terkoyak. Dan tidak membutuhkan waktu lama, Iqbal segera menghajar pria itu membabi buta.
Perkelahian antara Iqbal dan pria itu berlangsung cukup sengit. Iqbal juga mendapat serangan bertubi-tubi, karean sebelumnya dia sudah merasakan pusing akibat pukulan tadi.
__ADS_1
Bugh
Pria itu terhempas dan terkapar tak berdaya setelah mendapatkan tendangan dari Iqbal. lalu Iqbal melepaskan jeratan tali yang mengikat tubuh Jenny.
“Maafkan aku!” lirih Iqbal lalu melepas kemejanya untuk menutupi tubuh Jenny.
“Kak, aku takut.” Gumam Jenny.
Iqbal memeluk Jenny dengan erat, lalu segera membawanya keluar dari bangunan tua itu. Namun saat di tengah pintu, salah satu pria yang masih selamat tadi menghadangnya. Dan Iqbal kembali terlibat perkelahian.
“Cepat bawa bos keluar dari sini!” teriak pria itu pada temannya yang ternyata sudah bisa bangun.
Jenny semakin ketakutan melihat Iqbal berkelahi dengan pria itu. Teriakan Jenny menggema seisi ruangan saat melihat Iqbal terluka cukup parah.
Bugh
Bram yang baru saja datang segera menyelamatkan Iqbal dengan memukul pria itu. Jenny merasa sedikit lega saat melihat Papa mertuanya datang menolong.
“Bawa Jenny keluar, biar Papa yang mengurus semuanya.” Ucap Bram.
Iqbal mencoba berdiri tegak lalu menggendong istrinya yang sudah tampak lemah. Jenny pun semakin mendekap tubuh Iqbal karena dirinya masih ketakutan dengan kejadian yang baru saja dialaminya.
“Kak Iqbal terluka.” Lirih Jenny saat menyadari tangannya memegang memegang tengkuk Iqbal yang mengeluarkan banyak darah.
“Iqbal, Jenny kalian cepatlah pergi di sana ada Xavier. Biar aku yang membantu Om Bram.” Ucap Barra.
Tanpa menjawab Iqbal terus berjalan mendekati mobil Barra. Keadaan Jenny juga semakin lemah. Iqbal teriris melihat keadaan istrinya seperti itu.
Rasa pusing yang mendera di kepala Iqbal semakin membuatnya tidak bisa bertahan lama. Pandangan matanya sudah semakin kabur. Sayup-sayup dia melihat seseorang berlari menghampirinya.
“Maafkan aku.” lirih Iqbal mengecup kening Jenny.
“Jenny, kamu baik-baik saja?” tanya Xavier cemas.
Lalu Iqbal menurunkan Jenny dari gendongannya dan memberikannya pada Xavier. Jenny yang merasa dekapan tubuhnya terlepas, dia membuka matanya dan melihat Iqbal menyerahkan dirinya pada Xavier.
“Kak, kenapa?” tanya Jenny lirih sebelum dirinya pingsan.
Iqbal juga semakin tidak kuat dengan luka di kepalanya. Tapi setidaknya dia lega sudah bisa menyelamatkan orang yang sangat dia cintai.
Tanpa mengucapkan sesuatu, Xavier menggendong tubuh lemah Jenny dan segera membawanya masuk ke dalam mobil. Namun langkah kaki Xavier terhenti saat tiba-tiba terdengar deritan roda mobil yang melaju cukup kencang.
__ADS_1
Ciittttt
Brakkkkk
***
“Kak, kenapa kamu melakukan itu semua? Kenapa kamu membiarkan aku bersama laki-lakin lain.” Gumam Jenny dengan mata yang terpejam dan perlahan terbuka.
“Kak Iqbal kenapa kamu seperti itu padaku? bukankah kamu sangat mencintaiku?” tanya Jenny pada Iqbal yang sedang berdiri di samping brankarnya.
Iqbal masih diam tak menjawab ucapan Jenny. Jenny semakin sedih melihat Iqbal yang tampak berbeda. Jenny masih mengingat jelas sebelum dirinya pingsan, dia melihat laki-laki yang berstatus sebagai suaminya telah memberikan dirinya pada Xavier. Jenny masih bingung kenapa Iqbal melakukan semua itu.
“jawab aku, Kak? Kenapa kakak melakukan itu semua? Kak Iqbal tahu sendiri kan kalau aku akan memutuskan hubunganku dengannya?” tanya Jenny.
“Maafkan aku.” jawab Iqbal singkat.
“Aku benci Kak Iqbal. aku benci!!!!” lirih Jenny sendu dengan air mata mengalir deras.
Cklek
“Jenny? Kamu sudah sadar? Syukurlah aku sangat senang.” Ucap Xavier yang baru saja masuk ke ruang rawat Jenny.
Xavier mendekati Jenny yang terlihat habis menangis. Lalu tangannya meraih tubuh Jenny dan memeluknya dengan erat untuk memberikan ketenangan.
“Maafkan aku. aku terlambat datang menyelamatkanmu.” Ucap Xavier.
Jenny hanya bisa diam saja saat Xavier memeluknya. Dia masih memikirkan perubahan sikap suaminya. Jujur saja Jenny masih tidak percaya dengan kenyataan itu.
Cklek
Barra, mama, dan papanya masuk ke dalam ruang rawat Jenny dan disusul oleh Bram dan Desy. Mereka berlima melihat dengan jelas bahwa Jenny sedang dalam pelukan Xavier.
“Apa-apaan kamu Jen? Di saat suami kamu sedang koma, kamu malah menikmati pelukan dari pria lain!” ucap Barra penuh amarah.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Wow gaswat gaessss😱😱
Happy Reading‼️