
Axel terjatuh ke dalam bathub dengan baju yang masih melekat d tubuhnya. Sedangkan Gita dalam keadaan setengah telanjang. Axel berusaha bangun namun lagi-lagi Giita menarik tubuhnya. Gita semakin agresif. Tingkahnya sudah semakin menjadi. Axel tahu kalau obat yang diminum Gita tadi mempunya dosis yang sangat tinggi.
“Gita, please jangan seperti ini!” ucap Axel sambil menahan kepala Gita yang hendak menciumnya.
“Panas, Kak!” Giita semakin gelisah.
Axel berusaha menguatkan dirinya. Dia harus segera keluar dari bathtub itu dan membiarkan Gita berendam sendirian. Tidak mungkin Axel memanfaatkan kelemahan Gita dengan meladeni keinginannya, meskipun dia mencintai perempuan itu.
Dengan gerakan sedikit kasar, Axel mendorong tubuh Gita agar dirinya bisa keluar dari bathtub. Namun cengkeraman kuat tangan Gita pada lengan Axel membuatnya tak bisa berkutik. Kini Gita justru mulai mencumbuinya. Mulai dari lehernya, hingga dadanya. Karena keadaan baju Axel sudah setengah terbuka.
“Kak, tolong aku!” racau Gita dan sudah berhasil menyambar bibir Axel.
Seketika darah Axel berdesir hebat saat bibir manis Gita menempel di bibirnya. Bahkan Gita sangat berani membelitkan lidahnya pada liidah Axel.
“Tidak! Ini tidak benar. Aku tidak boleh membiarkan Gita seperti ini.” Gumam batin Axel.
Gita sudah semakin agresif dan seolah ingin segera dipuaskan hasrattnya, karena dia merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Tangannya juga kini mula menyentuh area paha Axel.
“Gita, cukup!!” suara Axel sedikit meninggi namun Gita seolah menulikan pendengarannya.
Dalam hati Axel sempat berpikir biarkan berbuat kasar pada Gita, karena ini semua demi kebakannya. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu bahwa selepas Gita wisuda nanti akan ada seseorang yang melamarnya. Axel jadi gamang. Apakah dengan cara ini dia bisa membuat Gita tidak bisa menerima lamaran Dimas.
“Maafkan aku, Gita!” gumam Axel lalu membalas ciuman Gita.
Setelah itu Axel mengangkat tubuh Gita dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya malam itu Axel melakukan hubungan terlarang dengan Gita. Dengan seseorang yang sudah lama bersemayam dalam hatinya.
“Aku mencintaimu Gita.” Ucap Axel sebelum melakukan penyatuannya.
Malam panjang itu mereka lalui dengan peluh keringat yang saling membasahi tubuh masing-masing. Namun permainan lebih didomnasi oleh Gita. Karena reaksi obat yang diminum Gita tak kunjung meredakan hasrattnya.
Lenguhan panjang yang keluar dari bibir mereka berdua mengakhiri malam panjang mereka. Gita seketika ambruk dan matanya terpejam. Namun tidak dengan Axel, laki-laki itu menatap wajah Gita dengan tatapan nanar. Ada rasa menyesal dalam dirinya karena telah melakukan percintaan dengan Gita dalam keadaan seperti ini.
Axel menyesal tadi sewaktu masih di club tdak mengambil bungkusan alat pengaman yang diberikan Jendra. Karena dia tadi juga lepas kontrol sehingga menyemburkan lavanya ke dalam Rahim Gita.
__ADS_1
“Apapun yang terjadi, aku janji akan bertanggung jawab.” Ucap Axel mengecup kening Gita lalu dia ikut menyusul Gita ke alam mimpi.
Pagi harinya Axel terbangun lebih dulu. Deringan ponselnya yang cukup keras membuat mimpinya terputus. Namun tidak dengan Gita. Perempuan itu masih terlelap.
Axel segera meraih ponselnya dan berbicara dengan seseorang. Obrolannya terdengar serius, dan Axel harus segera pergi menemui si penelepon itu.
Tak lama kemudian Axel sudah berada dalam sebuah rumah dimana disana ada Jendra dan Mikko. Teman Axel yang semalam a miintai tolong untuk mengejar seseorang yang dicurigai telah memasukkan obat peraangsang ke dalam minuman Gita.
“Dimana orangnya?” Tanya Axel pada Mikko.
Tadi Mikko mengatakan kalau semalam dirinya tidak berhasil menangkap pria yang memasukkan obat ke dalam minuman Gita, namun dia berhasil mengamankan orang lain yang ikut andil dalam kejadian itu, karena ada bukti sisa obat dalam kantong jaket pria itu.
“Ada di dalam.” Jawab Mikko.
Setelah itu Axel berjalan memasuki rumah itu. Disana tampak seorang pemuda sedang duduk dengan tangan yang diikat ke belakang. Namun wajahnya tertunduk.
“Bangun kau baji**an!” ucap Axel dengan suara nyaringnya.
Mata Axel terbelalak saat pemuda tu mengangkat wajahnya. Begitu juga dengan pemuda itu yang sama terkejutnya.
Bugh
“Aku nggak nyangka, ternyata di balik sikap humble kamu, ada iblis di dalamnya.” Ucap Axel.
“Aku nggak tahu apa yang akan dilakukan Om Iqbal padamu jika salah satu karyawannya yang terkenal ramah dan baik hati ini ternyata mempunyai niat buruk untuk mencelakai putrinya.” Tambahnya lagi.
“Apa maksud kamu?” Tanya Dimas yang masih bingung.
“Kamu jangan pura-pura bodoh!! Untung saja aku segera menyelamatkan Gita setelah orang suruhan kamu berhasil memasukkan obat perangsangg ke dalam minumannya.” Jawab Axel dengan marah.
“Apa? Obat perangsangg? Apa maksud semua ini? Dimana Gita sekarang? Tolong aku tidak mengerti semua ini.” Tanya Dimas ambil menahan perih pada wajahnya.
Bugh
__ADS_1
Sekali lagi Axel menghantam tulang pipi Dimas, sampai laki-laki itu mengaduh kesakitan. Axel semakin murka saat melihat Dimas yang berskap seolah tidak mengerti apa-apa.
“Tolong katakan, dimana Gita sekarang? Aku berani bersumpah kalau aku tidak melakukan itu semua.” Ucap Dimas dengan sungguh-sungguh.
Lalu Dimas menceritakan pada Axel kalau semalam drinya memang sengaja menunggu Gita di luar Club. namun setelah lama menunggu, ada seseorang yang berjalan cepat menghampirinya. Orang itu mendekati Dimas dan bertanya tentang arah jalan, karena menurut Dimas pria itu seperti kebingungan. Kemudan pria itu segera pergi karena melihat Jendra dan Mikko sudah mengetahui keberadaannya. Tak lama kemudian kedua teman Axel mengamankan Dimas yang sempat dicurigai sebagai komplotan pria asing tadi.
“Aku mencari sesuatu dalam jaketnya, dan aku menemukan sisa obat yang diduga kuat obat perangsangg itu.” Ucap Jendra yang kini sudah ada di ruangan itu.
“Tapi aku berani bersumpah, bukan aku yang melakukan itu semua. Aku memang mencintai Gita, tapi bukan dengan cara seperti itu.” Ucap Dimas sungguh-sungguh.
Axel terdiam. Setelah melihat sorot mata Dimas yang tidak menampakkan kebohongan, dia percaya kalau bukan laki-laki itu pelakunya. Namun hati Axel sedikit terusik kala mendengar pengakuan Dimas yang mencintai Gita.
“Lepaskan dia!” ucap Axel kemudian.
Setelah Dimas berhasil lepas, dia segera mendekati Axel untuk menanyakan keberadaan Gita saat ini. karena jujur saja dia sangat mengkhawatirkan perempuan itu.
“Gita sudah aman. Lebih baik kamu segera pergi dari sini.” Ucap Axel.
“Motor kamu masih ada di parkiran Club!” ucap Jendra sebelum Dimas keluar dari rumah itu.
***
Sementara itu, Gita baru saja bangun dari tidurnya. Dia melihat sekeliling. Dan menyadari kalau saat ini sedang berada dalam kamar apartemen Axel. Karena dulu dia sering main kesini.
Gita menutup mulutnya rapat dengan kedua telapak tangannya setelah mengingat potongan kejadian semalam. Lalu membuka selimut yang membungkus tubuhnya. Tubuhnya polos tanpa sehelai benang.
“Tidak!!!” teriak Gita dengan suara lantang.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️