Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 119


__ADS_3

Malam ini Axel tidak bisa memejamkan matanya. Dia masih teringat ucapan Domas beberapa saat yang lalu. Rasanya Axel ingin menyerah saja pada keadaan. Padahal dia belum berjuang sama sekali. Axel jadi patah semangat setelah mengetahui niat Dimas yang akan melamar Gita setelah wisuda nanti. Yang membuat semangat Axel patah bukan karena penolakan Gita nantinya, melainkan penolakan Iqbal, Papa Gita. Jika dibandingkan antara dirinya dan Dimas memang sangat jauh berbeda. Dimas sudah lama mendapat nilai plus dari Iqbal, sedangkan dirinya? Axel ragu.


Axel berpikir keras bagaimana caranya mendekati Gita dan menyatakan perasaannya yang sesungguhnya. Dia tidak ingin langkahnya didahului oleh Dimas. Namun dia juga bingung harus memakai cara yang seperti apa.


***


Keesokan harinya, sesuai yang direncanakan Gita dan Diimas kemarin, saat ini mereka berdua sedang makan malam di sebuah restaurant yang tidak terlalu mewah. Gita sangat fleksibel dan tidak pernah pilih-pilih mau diajak makan dimanapun dia mau. Dan hal itu lah yang membuat Dimas salut dengan sosok Gita. Meskipun dia anak seorang pengusaha kaya, tapi Gita tidak sombong dengan orang yang status sosialnya berada di bawahnya. Bahkan Gita dengan senang hati mau diajak pergi Dimas hanya dengan mengendarai motor sportnya.


Bukan motor sport dengan harga ratusan juta yang dimiliki oleh Dimas, melainkan motor sport second yang harganya di bawah seratus juta, bahkan dia beli secara kredit. Sebenarnya asal usul motor itu adalah berasal dari salah satu karyawan yang juga teman kerja Dimas yang saat itu ingin membeli motor baru dan motor lamanya dijual pada Dimas. Dan temannya itu tidak keberatan walau dibayar secara kredit.


“Mau pesan makan apa, Git?” Tanya Dimas saat pelayan restaurant itu baru saja memberikan buku menu.


“Sebentar, Kak aku pilh dulu.” Jawab Gita.


“Ingat, jangan yang mahal karena tanggal tua.” Seloroh Dimas dengan gelak tawa.


Gita pun ikut tertawa mendengarnya. Walau Gita tahu Dimas hanya bercanda, dia juga pasti paham dengan kondisi ekonomi Dimas. Lagi pula harga makanan di restaurant ini juga ramah di kantong.


“Tenang saja, kan aku yang traktir Kak. Jadi aku yang bayar.” Ucap Gita.


“Tidak! Pantang bagiku makan dibayar sama perempuan. Biarkan aku saja yang bayar, itung-itung belajar menafkahi calon istri.” Ucap Dimas dan membuat pipi Gita merona.


Setelah memilih beberapa menu makanan, pelayan itu segera meninggalkan meja mereka dan meminta menunggu sebentar. Dimas dan Gita berbincang ringan sembari menunggu pesanan mereka datang.


“Git, boleh aku Tanya sesuatu?” Tanya Dimas.


“Nggak boleh. Karena ongkosnya mahal.” Jawab Gita asal.


Dan lagi-lagi semakin membuat Dimas gemas dengan sikap Gita. Lalu dia mengacak rambut perempuan tu hingga sedikit merusak tatanan rambut Gita menjadi berantakan.


“Iya-iya. Boleh. Mau Tanya apa sih, Kak?” lanjut Gita.


“Apa kamu punya perasaan terhadap Axel?” Tanya Dimas.

__ADS_1


“Perasaan apa maksudnya, Kak? Ya aku sayang sih sama Kak Axel, Kak Axel juga. Tapi ya rasa sayang seperti adik kakak.” Jawab Gita.


“Benarkah? Tidak ada perasaan lain?” Tanya Dimas lagi dengan hati yang sedikt lega.


Namun tiba-tiba Gita teringat saat beberapa waktu yang lalu, diia merasakan hal berbeda saat sedang berdekatan dengan Axel. Tapi dia tidak bisa menyimpulkan apa nama perasaan itu, karena dia juga belum pernah mengalami sebelumnya.


“Iii iya Kak.” Jawab Gita sambil tersenyum kaku. Tapi Dimas sedikit kecewa dengan keraguan yang tiba-tiba saja terlihat dari raut wajah Gita.


Tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang. Mereka berdua segera menikmati makan malamnya. Danlagii-lagi ada Axel yang mengintai mereka berdua.


Tadi saat Axel hendak datang ke rumah Gita untuk mengajaknya jalan, ternyata dia sudah melihat motor Dimas sudah terparkir di depan rumah Gita. Alhasil rencana Axel gagal dan disinilah dia sekarang. Membututi Gita dan Dimas yang sedang menghabiskan waktunya bersama di sebuah restaurant.


Makanan yang sudah tersaji di depan Axel dia biarkan begitu saja. Dia segera beranjak dan pergi meninggalkan restaurant karena hatinya kacau setelah mendengar perbincangan Dimas dan Gita.


Uhukkk


Gita tiba-tiba saja terbatuk saat tak sengaja melihat sosok Axel yang baru saja keluar dari restaurant. Entah kenapa perasaan Gita menjadi tidak enak. Dia merasa kalau Axel sengaja makan di restaurant ini hanya untuk mengikutinya saja.


“Pelan-pelan, Gita! Nih minum dulu!” ucap Dimas lalu memberikan segelas air putih.


Selesai makan, Dimas pergi ke toilet sebentar. Dan meminta Gita menunggunya sebentar. Dan saat menunggu Dimas, Gita menoleh pada sebuah meja yang berada tepat di belakangnya, dimana masih ada makanan dan minuman yang terlihat masih utuh dan belum tersentuh sama sekali.


“Maaf, Mas. Kenapa makanan itu dibawa lagi?” Tanya Gita saat seorang pelayan akan mengambil makanan yang ada di meja belakangnya.


“Oh, orangnya sudah pulang Mbak.” Jawab pelayan itu.


“Tapi masih utuh gitu Mas makanannya.” Ucap Gita lagi.


“Saya kurang tahu Mbak, mungkin orangnya buru-buru.” Jawab si pelayan itu.


“Maaf, apakah Mas tahu siapa orang yang memesan makanan itu tadi?” Gita semakin penasaran.


“Setahu saya orangnya ganteng pakai kaos warna abu-abu, Mbak.” Jawabnya.

__ADS_1


Deg


Benar dugaan Gita. Ternyata orang yang sedang duduk di belakangnya sejak tadi adalah Axel. Dan benar, Axel datang ke restaurant ini hanya untuk mengikutinya. Gita semakin bingung, kenapa Axel sampa mengikutinya seperti ini. Mungkin nanti dia akan Tanya langsung pada Axel.


“Sorry Git menunggu lama. Tadi nggak sengaja ketemu sama teman.” Ucap Dimas yang baru saja dari toilet sekalgus dari kasir untuk membayar makanannya.


“Nggak apa-apa Kak. Ya sudah ayo pulang.” Ajak Gita kemudian.


Sesampainya di rumah, Gita segera mengambil ponselnya. Dia sangat penasaran dengan Axel yang datang ke restaurant tadi. Namun saat sedang melakukan panggilan, ponsel Axel sedang tdak aktif.


“Tumben sekali. Tidak basanya ponsel Kak Axel tidak aktif.” Gumam Gita sambil menatap layar ponselnya.


***


Hari ini Gita sudah bersiap untuk datang ke pesta ulang tahun temannya yang diadakan di sebuah Club. Sudah hal lumrah bagi kebanyakan teman Gita jika merayakan ulang tahun di sebuah Club malam. Tegantung dari individu masing-masing, akan terpengaruh dengan dunia malam itu atau tidak. Nyatanya sampai saat ini Gita masih fine-fine saja. Kedua orang tuanya pun sudah percaya padanya.


“Jangan pulang larut malam, ya!” ucap Dimas di balik sambungan teleponnya.


“Tenang saja, Kak.” Jawab Gita.


“Nanti aku tunggu di luar ya, biar pulangnya aku antar.” Ucap Dimas khawatir.


“Nggak usah, Kak. Aku nanti pulangnya sama teman-teman. Udah dulu ya. Temanku sudah jemput.” Gita segera mengakhiri pembicaraannya dengan Dimas.


Karena kedua orang tuanya sedang bepergian keluar kota, Gita langsung pergi begitu saja tanpa pamit. Daniel juga sedang hang out dengan teman-temannya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2