
Andreas dan Malik sudah lama bersahabat. Hanya saja mereka sudah tidak pernah lagi bertemu dalam waktu cukup lama, karena Malik yang tinggal di luar negeri.
Malik dulu pernah ditolong oleh Andreas saat sedang mengalami masalah pahit dalam hidupnya. Setelah itu dirinya memilih untuk tinggal menetap kembali di Indonesia. Hingga tanpa sengaja dia bertemu dengan Andreas di rumah sakit, saat istri Andreas dinyatakan meninggal dunia.
Dan dari pertemuan tidak sengaja itulah, membuat kedua sahabat lama itu menjalin kembali hubungan yang telah lama putus. Keadaan Andreas yang sangat terpuruk kala itu akhirnya mendapatkan pertolongan dari Malik.
Sebenarnya Andreas sudah lama ingin membalaskan dendamnya pada Iqbal. namun setelah dia mengalami kegagalan menculik Gita di saat usianya masih 7 tahun saat itu, Andreas memilih menunda misi balas dendamnya. Dia ingin fokus mengembangkan perusahaan yang baru ia rintis. Dan memang Andreas berencana menculik kembali Gita di saat perempuan itu beranjak dewasa. Terlebih saat kedua orang tuanya akan membanggakan prestasi yang diraih oleh anaknya, dan di saat itu lah Andreas akan menghancurkan masa depan Gita begitu juga dengan perusahaan Iqbal.
“Aku pergi dulu. Aku tunggu kabar baiknya.” Ucap Andreas sebelum keluar dari rumah mewah milik Malik.
“Kamu jangan khawatir.” Jawab Malik.
***
Hari berganti. Semenjak Axel menemui Gita setelah sidang skripsinya itu, sampai sekarang Axel tidak lagi menampakkan wajahnya di hadapan Gita. Namun Axel masih tetap mengintai Gita. Dia hanya ingin memastikan bahwa Gita tidak dalam bahaya.
Axel sudah meminta kedua sahabatnya untuk mencari tahu tentang seseorang yang ikut terlibat dalam penculikan Gita. Memang sangat sulit, karena sampai saat ini Axel belum juga mendapatkan kabar selanjutnya.
Saat ini Axel sedang sibuk di ruang kerjanya. Seperti biasa, pekerjaan Axel yang sebagai wakil dari Papanya, juga selalu disibukkan dengan beberapa dokumen yang wajib ia teliti. Tak lama kemudian terdengar suara dering ponsel dari balik sakunya. Ternyata Papanya lah yang sedang menghubunginya dan meminta untuk datang ke ruangannya sekarang juga.
“Ada apa, Pa?” tanya Axel.
“Hari ini Papa akan meninjau proyek pembangunan yang ada di kota Z. Dan kebetulan Papa ada meeting dengan perusahaan Om Iqbal. Papa minta kamu yang hadir.” Ucap Felix.
“Baik, Pa. jam berapa? Biar Axel siapkan semuanya.” Jawab Axel.
“Nanti setelah makan siang.”
Setelah itu Axel keluar dari ruangan Papanya untuk mempersiapkan beberapa berkas yang akan ia gunakan untuk meeting nanti. Mendadak nyali Axel menciut saat akan bertemu dengan Iqbal. meski dia sudah tahu bagaimana pembawaan Iqbal dan sikapnya terhadap dirinya selama ini, Axel sudah terbiasa. Namun setelah ada sesuatu hal terjadi antara dirinya dengan Gita, Axel semakin resah jika berhadapan dengan Iqbal.
Huuuhhh
Axel menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk menetralisir perasaannya yang sedikit kacau. Mungkin saat ini memilih fokus dengan pekerjaannya dulu daripada memikirkan masalahnya.
__ADS_1
Axel sudah berada di ruang meeting di perusahaan Iqbal. laki-laki 23 tahun itu datang seorang diri tanpa didampingi asisten maupun sekretaris. Tak lama kemudian masuklah seseorang yang sangat ia kenal. Bahkan orang itu pernah ia hadiahi bogem mentah beberapa hari yang lalu akibat kesalah pahaman.
Axel mengerutkan kening. Kenapa Dimas juga ikut hadir dalam meeting. Bukankah pembahasannya kali ini hanya melibatkan dirinya dan Ceo perusahaan itu sendiri yaitu Iqbal. seandainya Iqbal tidak bisa pun harusnya menunjuk asistennya.
Belum hilang rasa penasaran Axel tentang keterlibatan Dimas, kini Iqbal juga baru datang memasuki ruang meeting. Seperti biasa, pria itu selalu menampakkan wajah dingin tanpa senyuman.
“Selamat siang, Om!” sapa Axel.
“Bersikaplah sopan, ini sedang jam kerja.” Bukannya menjawab, Iqbal justru memperingatkan Axel.
“Maaf. Selamat siang Tuan Iqbal!” Axel memperbaiki kalimatnya.
Tanpa menjawab sapaan Axel, Iqbal segera meminta Dimas untuk mempresentasikan materi meeting kali ini. dan Axel sudah bisa memastikan, bahwa sekarang Dimas telah resmi menjadi asisten pribadi Iqbal. dan Axel kembali memastikan kalau usahanya untuk mendapatkan restu dari Iqbal rasanya akan sangat sulit.
Meeting itu berjalan kurang lebih selama satu jam setengah. Axel memang mengakui kemampuan Dimas. Jadi tidak salah jika Iqbal mengangkatnya menjadi seorang asisten pribadi.
“Saya pamit undur diri, Tuan. Nanti hasil meetingnya segera akan saya sampaikan pada atasan saya.” Ucap Axel sebelum meninggalkan ruangan itu.
Axel yang tidak tahu menahu tentang undangan makan malam apa, dia hanya menganggukkan kepalanya saja. Dan nanti akan menyampaikan kepada Papanya.
Sesampainya di kantor, dan bertepatan dengan kembalinya Felix setelah meninjau proyeknya. Axel segera menyampaikan hasil meetingnya tadi. tak lupa juga Axel menyampaikan pesan Iqbal tentang makan malam.
“Memangnya makan malam apa sih, Pa?” tanay Axel.
“Ya makan malam biasa saja. Tante Jenny yang meminta secara langsung pada Mama kamu. Jadi kita sekeluarga diundang makan malam di rumah Om Iqbal.” jawab Felix.
Axel hanya mengangguk. Dalam hatinya juga ada sedikit rasa bahagia karena bisa bertemu dengan Gita. Tidak peduli bagaimana reaksi perempuan itu saat berjumpa nanti.
“Nanti Papa sekalian akan memberitahukan pada Om Iqbal sekalian mengenai kejadian yang menimpa Gita saat di Club.” Ucap Felix.
“Tapi, Pa. apa Om Iqbal nggak akan marah jika mengetahui itu semua? Aku takut Gita yang kena dampaknya.” Axel khawatir.
“Kamu tenang saja. Papa juga tidak ingin Gita dalam bahaya, biar Om Iqbal bisa lebih protektif lagi dengan Gita. Lalu bagaimana dengan hasil rekaman CCTV di Club Om Tama?” tanya Felix kemudian.
__ADS_1
Axel pun menceritakan kalau masih kesulitan menemukan pelakunya. Karena dalang dari penculikan itu bukan orang sembarangan. Terbukti dari hilangnya beberapa rekaman yang memang sengaja dihapus oleh si pelaku. Axel juga mengatakan kalau hanya mendapatkan satu bukti saja, dan dia masih berusaha menacarinya dengan bantuan Mikko dan Jendra.
“Baiklah, nanti kamu juga ikutlah menjelaskan pada Om Iqbal.” Ucap Felix dan Axel mengangguk ragu.
*
Malam harinya, Axel sudah tiba di rumah Iqbal bersama kedua orang tuanya. Ternyata Jenny sudah menyambut kehadiaran keluarga Axel dengan berdiri di depan teras rumahnya.
“Duhh calon menantu makin ganteng saja.” Ucap Jenny sambil memeluk Axel.
Axel hanya tersenyum tipis, lalu mempersilakan Felix dan Nia masuk. Disana sudah berkumpul banyak orang diantaranya, Iqbal, Daniel, dan juga Chandra. Mereka duduk bersama di ruang tengah. Namun sejak tadi pandangan Axel mencari keberadaan Gita yang tak kunjung hadir di tengah-tengah keluarganya.
“Giat masih di kamarnya, sebentar lagi turun kok. Tenang saja.” Jenny seolah mengerti apa yang sedang dicari oleh Axel.
“Nah itu dia, yang ditunggu-tunggu muncul juga.” lanjut Jenny.
Giat menuruni anak tangga dan matanya langsung beradu dengan Axel. Seketika raut wajah Gita berubah drastis. Wajah ceria dan murah senyum yang biasa ditampakkan Gita kini berubah 180 derajat. Bahkan Jenny sendiri melihat heran pada anak perempuannya itu.
“Sayang, ayo sini!” panggil Jenny.
“Maaf, Ma. Gita tidak ikut makan malam. Gita lupa tadi belum sempat membereskan buku-buku Gita di kamar.” Gita kembali menaiki tangga menuju kamarnya.
Hati Axel mencelos setelah melihat reaksi Gita seperti itu. Kini semua orang berganti menatap Axel seolah meminta penjelasan.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1