
“Awas, Dimas!!!”
Dorr
Dorr
Suara Chandra memperingatkan Dimas saat melihat Malik berhasil mengarahkan pistolnya. Dan dengan cepat Dimas berbalik badan untuk melidungi Gita, ternyata dirinyalah yang terkena tembakan itu. Dan suara tembakan yang kedua adalah tembakan dari polisi yang berhasil menembak tangan Malik, hingga pistol yang ada dalam genggamannya terjatuh.
Ketiga pelaku itu segera diringkus polisi yang baru saja datang di tempat kejadian setelah tadi Felix menghubunginya. Sedangkan Iqbal menolong tiga korban yang sama-sama sedang terkapar tak berdaya.
Tangan Iqbal bergetar saat melihat anak dan menantunya sama-sama tidak sadarkan diri. Begitu juga dengan asisten pribadinya. Jika Axel dan Dimas dalam keadaan bersimbah darah, sedangkan Gita sejak tadi pingsan setelah disuntik cairan entah itu apa, ke dalam tubuhnya.
“Om lebih baik segera selamatkan Gita, biar Axel aku bawa ke rumah sakit dengan mobil Jendra.” Ucap Mikko.
“Baiklah. Aku titip menantuku pada kalian.” Jawab Iqbal.
“Chandra, kamu bisa bawa Dimas? Biar Ayah kamu yang memakai mobil Uncle saja.” Ucap Iqbal.
Chandra pun mengangguk. Dia akan membawa Dimas yang sedang terluka parah bagian perutnya. Sedangkan Mikko dan Jendra membawa Axel yang mendapat luka pada bagian kepala.
“Apa kamu bisa menggendong Gita?” tanya Sean memastikan karena keadaan Iqbal juga babak belur.
“Kamu tenang saja. Aku masih kuat.” Jawab Iqbal.
Akhirnya mereka semua segera meninggalkan Villa itu. Sedangkan Felix yang tadi melaporkan pada polisi tidak ikut datang. Dia akan menunggu anaknya yang akan dibawa ke rumah sakit.
Masing-masing mobil yang membawa korban luka itu mengendarai dengan kecepatan penuh. Pasalnya korban yang terkena luka tembak keadaannya semakin parah dengan darah yang terus mengalir. Baik dari Axel maupun Dimas.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit. Ketiganya segera mendapatkan penanganan khusus.
Jenny yang mendengar kabar tersebut sangat terkejut. Dia segera datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan anak dan menantunya. Karena dia juga tidak tahu menahu tentang masalah yang sedang terjadi.
__ADS_1
“Mas, bagaimana keadaan kamu? Lalu Gita dan Axel bagaimana?” tanya Jenny yang kini sudah duduk di samping suaminya yang baru saja mendapatkan pengobatan akibat luka lebamnya.
“Mereka bertiga masih ditangani dokter.” jawab Sean.
Lalu Jenny menoleh pada Sean yng baru datang. Jenny mengerutkan keningnya setelah mendengar Sean mengatakan kalau mereka bertiga sedang ditangani dokter. lantas siapa satu lagi korbannya.
“Siapa lagi satunya?” tanya Jenny.
“Dimas. Dia juga mendapat luka tembak karena ikut menyelamatkan Gita.” Jawab Sean.
Jenny tampak begitu terkejut. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Lalu dia menoleh pada suaminya dan Iqbal menggelengkan kepalanya yang tandanya belum bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya. Akhirnya Jenny hanya bisa pasrah dan berdoa.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan dimana Gita dirawat. Iqbal segera menanyakan keadaan anknya. Namun dokter belum bisa memberi kepastian. Gita sampai saat ini masih beum sadarkan diri akibat suntikan itu. Dan ternyata cairan yang yang disuntikkan ke dalam tubuh Gita mengandung zat berbahaya yang masih butuh observasi lebih lanjut.
“Kita lihat, satu jam lagi apakah pasien sudah sadarkan diri apa belum. kalau belum, saya sarankan pasien segera dibawa ke rumah sakit lain yang fasilitasnya lebih memadai.” Tutur dokter panjang lebar.
Sedangkan di ruangan dimana Axel dan Dimas juga sedang ditangani oleh dokter. ruangan mereka bersebelahan. Jika di depan ruangan Axel sejak tadi sudah ada Felix dan Nia yang menunggunya. Berbeda dengan ruangan Dimas. Sama sekali tidak ada yang menunggunya. Mengingat selama ini dia hanya hidup sebatang kara. Sahabatnya pun belum mengetahui kejadian ini.
Dokter yang menangani Axel baru saja keluar dari ruangannya. Felix dan Nia menyambutnya dengan memberikan berbagai macam pertanyaaan tentang kondisi anaknya.
Seketika tubuh Nia lemas. Bahkan air matanya telah membasahi pipinya. Dia takut terjadi sesuatu dengan anaknya, atau bahkan akan ditinggalkan untuk selamanya.
“Mas, kenapa bisa seperti ini?” tanya Nia sambil terisak.
“Tenanglah! Lebih baik kita doakan saja agar Axel selamat dan operasinya berjalan lancar.” Felix menenangkan istrinya.
Dimas juga akan dioperasi, karena peluru yang ditembakkan oleh Malik tepat mengenai organ hatinya. Hanya saja dokter tidak bisa menyampaikan secara langsung karena tidak ada keluarga pasien. Namun untuk keseluruhan biaya sudah ditanggung penuh oleh Iqbal.
Felix dan Nia sekarang fokus dengan keadaan Axel. Dia sama sekali tidak mengingat Gita yang tak lain adalah menantunya. Begitu juga dengan Iqbal dan Jenny. Saat ini dia sedang mengurus kepindahan Gita ke rumah sakit lain karena setelah menunggu satu jam, Gita tak kunjung sadar. Dan obat yang disuntikkan ke tubuh Gita ternyata mengandung zat psikotropika. Dan obat itu sangat berbahaya. Meski sampai saat ini Gita masih belum sadar, namun dokter sedikit bersyukur karena obat itu tidak disuntikkan penuh pada tubuh Gita, yang akan berakibat sangat fatal terhadap sel saraf pada tubuhnya.
Jenny terus menangisi keadaan anaknya yang masih menutup matanya dengan rapat. Sedangkan Iqbal masih di ruangan dokter yang menangani Gita. Menurut dokter, Gita harus segera dibawa ke rumah sakit ketergantungan obat (RSKO). Dan RSKO yang memiliki fasilitas memadai hanya ada di kota J. dokter menyarankan agar segera dibawa kesana.
__ADS_1
Hari itu juga Jenny dan Iqbal membawa Gita ke kota J. dia takut jika keadaan Gita akan semakin memburuk jika tidak segera ditangani. Iqbal menyerahkan perusahaannya sementara waktu pada Sean. Begitu juga dengan Dimas.
Saat ini dala pesawat khusus, ada Jenny dan Iqbal yang sedaang duduk disamping Gita yang masih betah menutup matanya.
“Mas, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa bisa seperti ini?” tanya Jenny.
“Maafkan aku yang tidak pernah menceritakan semua ini padamu. Ini semua adalah ulah balas dendam Tuan Marvin.” Jawab Iqbal.
“Maksud Mas, Tuan Marvin ayah Danisa?” tanya Jenny dan Iqbal mengangguk.
Akhirnya Iqbal menceritakan semuanya. Mulai dari kerjasamanya dengan Tuan Andreas yang sebenarnya adalah Marvin yang menyamar dengan memakai topeng hyper-realistis. Dia masuk ke dalam perusahaan dan menghancurkannya secara perlahan, lalu mewujudkan misi balas dendam selanjutnya yaitu menculik Gita.
Jenny sungguh tidak menyangka dengan berita itu. Dia pikir setelah Danisa dibawa ke rumah sakit jiwa dulu, masalah sudah selesai. ternyata tidak.
“Saat ini Marvin dan komplotannya sedang diamankan polisi dan masih didalami kasusnya.” Ucap Iqbal.
*
Di depan ruangan operasi Axel, tampak Felix dan Nia yang sedang duduk termenung menunggu operasi itu selesai. Felix juga khawatir dengan keadaan Gita, namun sampai saat ini dia beeum bisa melihatnya. Tadi Mikko sempat mengatakan kalau Gita juga dalam keadaan pingsan.
“Sayang, sambil nunggu operasi Axel, bagaimana kalau kita melihat kondisi Gita dulu?” tanya Felix.
“Tidak!! Aku tidak mau. Axel begini juga karena Gita.” Tolak Nia dengan suara tegas.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Wah wah wah.... knp ini ibu mertua🤔🤔
Happy Reading‼️