Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 166


__ADS_3

Di sebuah kursi taman rumah sakit dan tak jauh dari tempat parkir, saat ini sedang duduk dua orang. Siapa lagi kalau bukan Inez dan Dimas. Sejak Inez mengajak Dimas duduk di kursi itu beberapa menit yang lalu, sampai saat ini keduanya sama sekali belum bicara apapun. Justru Inez masih menangis sesenggukan sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dimas sangat kasihan melihatnya.


“Nez, please jangan seperti ini. ada apa sebenarnya? Bicaralah! Tuangkan semua keluh kesahmu agar beban di hatimu berkurang.” Ucap Dimas.


Inez mengusap pipinya yang basah. Dia mencoba menghentikan tangisnya, walau masih tesisa isakan pelan.


“Aku nggak apa-apa, Kak.” Ucap Inez.


“Siapa yang melakukan ini semua? Bohong kalau luka ini bekas kamu jatuh. Bahkan luka ini terlihat seperti pukulan benda tumpul.” Dimas terus mendesak Inez agar mau bicara jujur.


“Ini ulah Jerry. Tunanganku, Kak.” Akhirnya Inez menjawab dengan suara lirih.


“Kenapa kamu diam saja? Dan kamu setuju akan menikah dengan pria yang selalu ringan tangan seperti itu?” wajah Dimas memerah mendengar jawaban Inez.


“Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, Kak.” Jawab Inez.


Setelah itu Inez menceritaka akar permasalahannya pada Dimas. Dimas semakin murka mendengarnya. Namun Inez melarang Dimas untuk ikut campur dalam masalahnya.


“Baiklah, sekarang kamu pulanglah dan beristirahat. Jangan lupa obati luka itu.” Ucap Dimas begitu perhatian.


“Terima kasih, Kak. Aku pulang duluan.” Jawab Inez lalu pergi meninggalkan Dimas yang masih ingin duduk di kursi taman itu.


***


Sementara itu di ruang rawat Gita tampak Axel sedang duduk di brankar. Begitu juga dengan Gita, yang posisinya sedang bersandar di dada bidang sang suami. Mereka berdua sedang menikmati waktunya setelah orang tua masing-masing berpamitan pulang. dan Axel lah malam ini yang menjaga sekaligus menemani Gita.


“Kamu ingin sesuatu?” tanya Axel sambil mengusap lembut kepala Gita.


“Nggak, Mas. Kamu begini saja, aku sangat nyaman.” Gita berucap dengan manja.


Mereka berdua saling mencurahkan kerinduan setelah beberapa waktu terpisah. Keduanya sama-sama menyesal karena tidak bisa merawat satu sama lain saat sedang dalam keadaan sakit. Terutama Gita yang paling merasa bersalah. Karena menyelamatkan dirinyalah, Axel hampir meregangkan nyawanya. Namun Axel berusaha menenangkan Gita agar tidak terus menyalahkan dirinya.


“Mas, berjanjilah untuk terus bersamaku. Jangan lagi meninggalkanku.” Pinta Gita dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


“Aku janji, Sayang. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Karena aku juga tidak mau kehilanganmu. Kejadian kemarin dan sebelumnya cukup membuat kita jadikan sebagai pengalaman. Aku pun sadar kalau usia kita sama-sama masih sangat muda. Dan untuk perjalanan kita ke depan pasti masih ada banyak lagi rintangannya. Untuk itu, marilah kita belajar bersama-sama untuk membina rumah tangga bahagia.” Ucap Axel dengan bijak.


Gita mengangguk, lalu memeluk pinggang suaminya dengan erat. Sungguh Gita sangat bahagia bisa kembali bersama laki-laki yang sangat dicintainya.


“Sayang, maukah kamu tinggal di luar negeri bersamaku saat nanti keadaan kamu sudah sehat?” tanya Axel.


“Memangnya kenapa harus tinggal disana, Mas?” tanya Gita heran.


Axel pun menceritakan pada Gita kalau dia akan melenjutkan studinya disana. Bahkan sudah mendaftar beberapa waktu yang lalu. Dan kemungkinan perkuliahannya akan dimulai satu bulan lagi. Selain itu Axel juga diserahi untuk memimpin perusahaan Opanya yang ada disana.


“Kenapa Mas baru bilang sekarang?” tanya Gita.


“Maaf, Sayang. Sebelumnya aku sudah merencanakan ini semua. Setelah aku, ehm maaf melayangkan surat gugatan itu. Aku berniat akan pergi dari negara ini untuk melupakan semua kenangan kita berdua. Tapi takdir berkata lain, justru kita dipersatukan kembali dalam ikatan suci ini. jadi maukah kamu ikut tinggal disana? Kita jalani rumah tangga kita dengan suasana yang baru.” Jawab Axel.


“Baiklah, Mas. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi asal kita selalu berdua.” Jawab Gita.


Waktu sudah semakin malam. Axel meminta Gita segera beristirahat karena dia tidak ingin Gita kembali pusing saat besok akan pulang. Gita pun menurut.


Keesokan paginya Gita terbangun lebih dulu. Dia melihat suaminya masih tidur meringkuk di sofa. Gita tidak tega melihatnya. Namun bagaimana lagi, dan beruntungnya hari ini dia sudah diperbolehkan pulang.


“Bagaimana, Sayang? Apa kamu sudah benar-benar sehat?” tanya Jenny.


“Sudah, Ma. Tinggal nunggu visit dokter saja setelah itu baru diperbolehkan pulang.” jawab Gita.


Jenny bersyukur keadaan anaknya sudah membaik. Dia juga sangat bahagia melihat menantunya yang begitu sabar merawat Gita yang sedang sakit.


Dokter sudah mengecek kesehatan Gita. tekanan darahnya sudah normal. Dokter hanya memberi beberapa resep vitamin saja yang harus ditebus. Setelah itu mereka segera bersiap untuk pulang.


“Axel, Mama titip Gita. Kalian baik-baik ya. Mama nggak bisa ikut ngantar karena Mama ada keperluan di butik.” Pesan Jenny.


“Baik, Ma. Mama nggak perlu khawatir.” Jawab Axel.


Setelah itu Gita dan Axel segera pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang menuju rumah orang tua Axel. Ini adalah pertama kalinya Gita akan tinggal di rumah mertuanya, karena sejak awal pernikahannya dulu dia selalu menolak jika diajak menginap disana.

__ADS_1


Kedatangan Gita disambut hangat oleh Felix dan Nia. mereka berdua sangat senang akhirnya Gita akan tinggal di rumahnya.


“Apa kamu sudah benar-benar sehat, Sayang?” tanya Nia setelah melepas pelukannya.


“Sudah, Ma. Terima kasih.” Jawab Gita.


“Ya sudah, Sayang ayo aku antar ke kamar dulu. Kamu masih butuh istirahat.” Ajak Axel.


“Bilang saja kalau kamu mau mengurung menantu Mama.” Protes Nia dengan kesal.


“Gita istri Axel, Ma. Jadi otomatis Axel yang lebih berhak mau berbuat apapun.” Jawab Axel cuek dan semakin membuat Mamanya kesal.


Gita hanya tertunduk malu dan menahan senyum saat mendengar perdebatan kecil antara suaminya dan ibu mertuanya. Setelah itu Axel menggandeng tangan Gita dan mengajaknya naik ke lantai dua menuju kamar mereka.


Gita masuk ke kamar Axel. Kamar yang hanya satu kali ia singgahi. namun tatanannya sudah diubah. Axel meletakkan koper milik Gita disamping lemari. Lalu dia berjalan mendekati Gita yang sedang berdiri menghadap balkon. Axel memeluk Gita dari belakang, menghirup aroma tubuh Gita yang sangat membuatnya betah dan enggan untuk melepasnya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Axel dengan kepala yang sudah bertengger di ceruk leher Gita.


“Mas, ihh jangan begini. Aku sangat geli.” Ucap Gita mengabaikan pertanyaan suaminya.


Kemudian Axel melepas pelukannya dan membalikkan tubuh Gita, hingga mereka berdua kini saling berhadapan. Axel mendekatkan wajahnya pada Gita. dengan sedikit memringkan kepalanya agar bisa menjangkau bibir mungil Gita untuk dicium. Begitu juga dengan Gita yang sudah siap mendapat serangan fajar. Dia sudah menutup matanya rapat. Namun tiba-tiba...


Tok tok tok …..


(Pakeettt🤣🤣🤣)


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2