Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 183


__ADS_3

🔥🔥🔥


***


Dan malam itu pasangan pengantin baru Dimas dan Inez menghabiskan malamnya hanya tidur sambil berpelukan. Inez yang awalnya tidak nyaman tidur dalam pelukan seorang pria, perlahan dia merasakan nyaman dan hangat dalam pelukan Dimas. Terlebih setelah mereka berdua berciuman.


Pagi harinya Inez terbangun lebih dulu. Dia terkejut saat melihat ada tangan yang memeluknya posesif. Setelah itu dia memberanikan diri mendongak ke atas dan melihat wajah pria yang kemarin sudah sah menjadi suaminya masih tampak tidur pulas.


Inez mengulum senyum saat mengingat potongan kejadian kemarin, hingga bisa menjadi istri Dimas. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur atas kebahagiaan yang ia peroleh.


“Mau kemana?” tanya Dimas saat merasakan pergerakan Inez mencoba lepas dari pelukannya.


“Kak, sudah bangun?” tanya Inez gugup.


“Hmm… mau kemana? Disini saja dulu, aku masih ingin memelukmu.” Jawab Dimas sambil mengeratkan pelukannya.


Inez melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. akhirnya dia membatalkan niatnya untuk bangun dan kembali dalam pelukan Dimas.


Dimas juga kembali memeluk Inez dan melanjutkan tidurnya. Tapi tidak dengan Inez. Perempuan itu justru tidak bisa tidur. Hembusan nafas hangat Dimas membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Dia pun bergerak gelisah dan ingin sekali lepas dari pelukan Dimas.


Sshhhh…..


Dimas mendesis pelan kala merasakan gerakan tubuh Inez yang tanpa sengaja menyentuh tubuh bagian bawahnya. Sejak tadi dia berusaha mati-matian agar senjatanya tidak bangun.


“Kenapa sih, Kak?” tanya Inez saat melihat wajah Dimas seperti menahan sesuatu.


“Nggak apa-apa. Kamu jangan banyak gerak, Sayang!” jawab Dimas dengan suara tertahan.


Bukannya diam, Inez justru semakin bergerak dan berusaha lepas dari pelukan suaminya. Dan tiba-tiba Inez merasakan sesuatu yang sangat keras menempel pada pant**nya. Seketika itu dia melotot dan sangat gugup.


“Kak, ini apa?” tanya Inez dengan polosnya.


“Diamlah, kalau kamu nggak ingin aku terkam sekarang.” jawab Dimas dengan muka memerah.


Inez yang menyadari suaminya sedang menahan hasratnya, akhirnya dia menyiapkan diri untuk memberikan haknya pagi ini juga.


“Kak, aku siap melakukannya sekarang.” ucap Inez.

__ADS_1


Seketika Dimas membuka matanya lebar. Sebenarnya dia tidak ingin terlalu buru-buru melakukannya. Mengingat istrinya kemarin habis jatuh pingsan. Namun pagi ini miliknya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.


Dimas menatap mata Inez dengan intens. Dia ingin memastikan apakah istrinya ssudah benar-benar siap memberikan haknya pagi ini tanpa paksaan.


“Aku sudah siap menjadi istri kamu seutuhnya, Kak.” Ucap Inez lalu memberanikan diri mengecup bibir Dimas dengan singkat.


Dimas akhirnya sangat yakin dengan jawaban istrinya. Setelah itu dia memperbaiki posisi tidurnya agar bisa nyaman dalam memberikan sentuhan pada istrinya.


Dimas memulai kegiatannya dengan mencium bibir Inez. Ciuman hangat penuh kasih sayang itu bisa Inez rasakan betapa besarnya cinta Dimas untuknya. Lama-lama Inez terbuai dan ikut membalas ciuman yang Dimas berikan.


“Aku mencintaimu” Ucap Dimas sambil menghujani ciuman di seluruh wajah Inez.


“Aku juga mencintaimu, Sayang.” Jawab Inez dan semakin mengeratkan pelukannya.


Setelah itu Dimas kembali mencium bibir Inez. Namun ciumannya kali ini semakin menuntut dan penuh napsu. Kemudian ciuman itu turun ke leher jenjang Inez. Dimas memberikan beberapa tanda cinta disana. Inez merasakan sensasi berbeda saat Dimas memberikan tanda itu.


Suara desahann Inez lolos begitu saja. Setelah bekerja di leher jenjang Inez dengan meninggalkan banyak tanda cinta, Dimas mulai membuka kancing piyama Inez hingga menampakkan dua buah asset berharga milik Inez yang kini sudah menajdi hak paten Dimas.


Inez menggelengkan kepala sambil menutup dua buah asetnya dengan lengannya. Dia masih sangat malu. Namun Dimas bisa meyakinkannya, akhirnya Inez pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Dimas selanjutnya.


Kini tubuh mereka sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang. Inez sudah tidak lagi merasa malu karena kini dirinya sudah semakin terbakar api asmara dan menginginkan yang lebih. Bahkan dia sendiri yang meminta Dimas agar segera melakukannya, karena dia sudah sangat tidak tahan dengan sentuhan Dimas.


Perlahan Dimas membenarkan posisinya, dengan membuka pahaa Inez. Kemudian dia mengarahkan miliknya yang sudah berdiri kokoh untuk segera menembus benteng pertahanan milik istrinya.


“Sayang, mungkin ini akan sakit. Tapi coba tahan sebentar, ya?” ucap Dimas.


“Iya, lakukanlah sekarang!” jawab Inez dengan tidak sabar.


Akhirnya setelah beberapa kali berusaha keras, milik Dimas mampu menembus milik Inez yang masih sangat sempit itu. Bahkan saat awal percobaan tadi Inez sudah mengerang kesakitan, namun Dimas selalu bisa menenangkan dengan memberikan lummatan lembut pada bibirnya. dan dengan sedikit memaksa, akhirnya Dimas berhasil memiliki tubuh Inez seutuhnya.


“Maafkan aku!” ucap Dimas setelah menyelesaikan penyatuannya.


Inez hanya mengangguk. Karena tubuhnya masih sangat lemas. Namun dia juga merasakan puas meski awalnya sangat menyakitkan.


“Istirahatlah sebentar, sebentar lagi kita sarapan di dalam kamar saja.” Ucap Dimas.


“Iya, Kak. Badanku rasanya remuk semua.” Jawab Inez lirih.

__ADS_1


“Tapi kamu nggak kapok kan untuk mengulanginya lagi? Bukankah kamu sendiri yang sudah tidak sabar tadi?” tanya Dimas menggoda.


Inez menutup tubuhnya dengan selimut. Jujur dia sangaat malu dengan ucapan suaminya. Memang benar tadi dia yang terkesan buru-buru. Tapi jika sekarang diminta untuk melakukannya lagi, dia masih belum sanggup.


Dimas tersenyum melihat istrinya yang tanpak malu-malu. Namun yang paasti dia sangat bahagia karena dialah yang pertama yang mengambil mahkota milik istrinya.


***


Jika pagi ini pasangan pengantin baru Inez dan Dimas sangat bahagia karena sudah menunaikan kewajibannya sebagai suami istri, tapi tidak untuk pasangan Axel dan Gita. pagi ini wajah Axel terlihat murung. Bahkan untuk sarapan saja dia tidak berselera.


“Kamu sakit?” tanya Nia saat melihat Axel hanya mengaduk-aduk makanannya.


Sementara Gita pagi ini tidak ikut turun karena dia mengeluh kepalanya sangat pusing. dan karena hal itulah yang menyebabkan Axel kehilangan moodnya.


“Kemana Gita? apa kalian bertengkar?” tanya Nia yang sudah merubah raut wajahnya.


“Mama jangan berburuk sangka dulu dong! Gita sedang istirahat, semalam dia mengeluh kepalanya pusing.” jawab Axel.


“Istri sedang sakit kok kamu malah yang uring-uringan? Cepat bawakan makannya ke kamar setelaah itu suruh minum obat. Atau,, jangan jangan menantu Mama sedang hamil ya?” tanya Nia kegirangan.


“Ishh, nggak Ma. Gita sekarang sedang datang bulan.” Jawab Axel.


“Oh jadi itu masalahnya. Kamu gagal mendapat jatah karena Gita sedang datang bulan, jadi kamu yang uring-uringan begini? Hmm… persisi sekali dengan Papa kamu.” Ucap Nia sambil melirik Felix yang sejak tadi terlihat tidak peduli dengan obrolan antara anak dan istrinya.


“Kenapa bawa bawa Papa juga sih?” tanya Felix tidak terima.


Axel menggelengkan kepalanya saat mendengar perdebatan antara Mama dan Papanya. Kemudian dia mengambil makanan untuk istrinya dan bergegas meninggalkan meja makan.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2